mim.or.id – Kisah perjalanan menuntut ilmu Nabi Musa Alaihissalam, yang terdapat dalam Surah Al-Kahfi, menjadi inspirasi dan penyemangat bagi para penuntut ilmu.
Kisah ini diambil dari potongan ketiga dari empat kisah utama yang terdapat dalam Surah Al-Kahfi, yaitu kisah Ashabul Kahfi, Ashabul Jannatain, Nabi Musa dengan Nabi Khidir, dan Zulkarnain.
Perjalanan dan Tekad yang Kuat dalam Menuntut Ilmu
Musa segera menyatakan kesiapannya untuk menunaikan perintah Allah. Beliau membawa bekal berupa ikan kering. Allah berpesan bahwa di mana Musa kehilangan ikan itu, di situlah ia akan bertemu dengan hamba Allah yang dimaksud, yaitu Khidir alaihissalam.
Nabi Musa, bersama muridnya/pelayannya yang bernama Yusya bin Nun, menyiapkan perjalanan. Nabi Musa mengucapkan tekadnya yang mulia, sebagaimana difirmankan dalam Surah Al-Kahfi ayat 60:
وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَىٰهُ لَآ أَبْرَحُ حَتَّىٰٓ أَبْلُغَ مَجْمَعَ ٱلْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِىَ حُقُبًا
Artinya: Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun”.
Baca Juga: Bukti Keimanan Sejati Melalui Kisah Wahsyi bin Harb
Tekad ini menunjukkan bahwa seorang penuntut ilmu harus memiliki kesiapan dan kesungguhan yang tinggi.
Tanda-tanda dan Pelajaran Keletihan
Singkat cerita, setelah berjalan (mungkin setengah hari atau beberapa hari), mereka singgah untuk istirahat di dekat sebongkah batu besar. Ketika Nabi Musa tidur, Yusya bin Nun melihat kejadian aneh: ikan kering yang mereka jadikan bekal tiba-tiba hidup kembali, bergerak, melompat, dan mengambil jalannya masuk ke laut.
Laut di tempat ikan itu melompat seakan-akan kering dan menjadi jalan yang dilewati oleh ikan. Peristiwa ini adalah tanda bahwa di situlah mereka akan bertemu Nabi Khidir.
Namun, Yusya bin Nun lupa menceritakan peristiwa itu kepada Nabi Musa ketika Musa terbangun, karena ia dibuat lupa oleh setan. Mereka pun melanjutkan perjalanan, melewati tempat tujuan itu.
Baru setelah mereka melewati tempat pertemuan dua lautan (tempat yang dituju), Nabi Musa merasakan capek dan keletihan yang luar biasa. Pelajaran di sini adalah ketika ada semangat yang tulus mengejar impian atau target, kita tidak akan merasa capek atau letih, kecuali jika kita sudah melewati target tersebut.
Ketika Nabi Musa meminta makan siang, barulah Yusya teringat dan menceritakan bahwa ikan bekal telah hilang di batu tadi, dan ia lupa memberitahukannya.
Nabi Musa, dengan akhlaknya yang istimewa, tidak memarahi pelayannya. Justru Nabi Musa menghiburnya dan mengatakan, “Itulah yang kita inginkan,” sebab di situlah Allah berpesan bahwa mereka akan bertemu Khidir.
Adab Seorang Murid yang Mulia
Mereka pun kembali ke tempat itu dan bertemu Nabi Khidir. Meskipun kedudukan Nabi Musa lebih tinggi dibandingkan Nabi Khidir, Nabi Musa tidak memperlihatkan keistimewaannya atau kesombongan ilmunya.
Dengan penuh adab dan sopan santun, Nabi Musa meminta izin untuk mengambil ilmu. Kata-kata Nabi Musa kepada Nabi Khidir adalah:
“Bolehkah aku mengikutimu agar aku agar engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang telah Allah ajarkan kepadamu?”.
Baca Juga: Prestasi dan Aksi Lapangan: Futsal Kuttab Qur’an MIM Juara 3
Adab ini menunjukkan kerendahan hati seorang penuntut ilmu. Nabi Musa juga menyatakan kesiapan dan kesungguhannya di depan gurunya: “Engkau akan mendapati diriku Sabar, dan aku tidak akan memaksiatimu atau melanggar perintahmu”.
Ini mengajarkan bahwa kita, setinggi apapun ilmu yang kita miliki, harus semakin merendah, seperti peribahasa: semakin padi berisi, semakin dia merunduk.
Penuntut ilmu sejati harus mencari ilmu untuk mendapatkan kedudukan di mata Allah, bukan di mata manusia, agar terhindar dari kekecewaan. Guru adalah orang yang paling berberkah dalam kehidupan kita, setelah orang tua.



