Takdir Allah kembali menetapkan Salman harus melanjutkan perjalanan ke Nashibin(kota Aljazair) setelah kematian alim yang tinggal bersamanya. Lalu ke Amuria(kota Romawi), kota terakhir sebelum dia dijual oleh pedagang dari Kalb, hingga menjadi budak di Madinah. Di sanalah dia mendengar kedatangan Rasulullah, seorang yang telah dia peroleh informasi tentangnya dan sangat ingin ditemuinya.

Salman al Farisi, adalah seorang perindu kebenaran. Perjalanan Panjang dan berliku yang dilaluinya, adalah bukti kerinduannya pada keabadian yang sebenarnya. Rasa cinta pada pencipta, kerinduan yang mendalam akan kebenaran, menjadikan dia rela menjadi budak di kota orang, sedang dia adalah putra raja di kotanya sendiri.

Rasulullah mencintai Salman, dia seorang sahabat yang teguh dalam perjalanan menjemput hidayahnya. Rasulullah menyeru kepada segenap sahabat untuk membantu Salman terbebas dari perbudakan. Bahkan beliau sendiri memberikan emas sebesar telur untuk menebus Salman. Sejak itu, kerinduan Salman terpenuhi. Tak pernah sejenak pun dia meninggalkan Rasulullah. Dia mengikuti semua peperangan Bersama kekasihnya yang mulia, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sayangnya, sebagian kita merindukan hidayah tapi menyandarkannya pada beberapa orang shalih. Sehingga saat orang shalih ini pergi atau wafat, keimanannya pun menurun bahkan ditinggalkannya. Sebagaimana kisa orang-orang murtad di zaman rasulullah, yang semasa hidup beliau mereka rajin shalat dan shaum, tapi ketika wafatnya, mereka berpaling dari Islam. Hingga Abu Bakr berkata: “ barang siapa yang menyembah Muhammad shallallahu alaihi wasallam, maka Muhammad shallallahu alaihi wasallam, sekarang telah wafat. Barang siapa yang menyembah Allah subhaanahu wata’aala, maka sesungguhnya Allah Maha hidup dan tidak akan mati.”

Ya, Allah Maha hidup dan tidak akan mati, Dia mendengar semua doa-doa kita. Menerima semua taubat-taubat kita. Saat kita mendekat kepada-Nya, Dia mendekap. Saat kita lari dan jauh, Dia menanti kedatangan kita. Siapa di antara kita berazzam akan keimanan, maka Allah senantiasa menanunginya dengan rahmat, walau ujian demi ujian didatangkan kepadanya sebagai bukti cinta Allah.

Pemuda Perindu Keimanan
Adalah kerinduan Rasulullah dan para shahabatnya di Madinah setelah hijrah untuk berumrah di Ka’bah. Sayangnya, kaum Quraisy menghalangi mereka masuk ke Mekah dan menahannya di Hudaibiyah(wilayah antara Mekah-Madinah). Suhail bin Amr sebagai utusan Quraisy membuat perjanjian Bersama Rasulullah. Mereka tidak boleh berumrah tahun itu, kembali ke Madinah dan boleh berumrah tahun berikutnya. Salah satu perjanjiannya adalah orang-orang Quraisy yang ingin masuk Islam dan datang ke Madinah harus mereka pulangkan, jika diminta. Dan orang-orang dari Madinah yang ke Mekah tidak boleh kembali ke Madinah lagi. Perjanjian Hudaibiyah pun disepakati kedua belah pihak.


*Ringkasan materi ini dibuat oleh Ustadzah Ummu Faari’ AR dan menjadi hak cipta dari Div. Muslimah Markaz Imam Malik. Semoga bermanfaat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.