Tiba-tiba datang seorang pemuda berlari menghempas badannya di hadapan Rasulullah, berlumur darah. Dialah Abu Jandal anak dari Suhail yang lari dari penjara ayahnya sendiri karena masuk Islam. Dengan sangat berang ayahnya menarik tubuhnya, menyeretnya pulang ke Mekah. Rasulullah tak bisa berbuat apa-apa karena perjanjian telah disepakati. Rasa kecewa yang mendalam di hati kaum muslimin.

Setiba di Mekah, penderitaan bertambah berat dirasakan Abu Jandal dan shabatnya Abu Bashir. Namun kali ini, Abu Bashir yang berhasil meloloskan diri dan berlari menuju Madinah. Melewati jalan yang penuh dengan rintangan. Sampai kakinya robek dan berdarah. Kerinduan yang sangat berjumpa Rasulullah dan kaum muslimin di sana. Kerinduan akan keimanan yang menenangkan. Dia rindu menikmati lezatnya iman Bersama para shahabat lainnya.

Takdir Allah berkata lain, baru saja dia tiba di hadapan Rasulullah, tiba pula dua pemuda utusan Quraisy. Sama halnya Abu Jandal, Rasulullah pun hanya bisa menyuruhnya bersabar. Perjanjian telah disepakati, dan Rasulullah tidak akan melanggarnya sedikit pun, walau hatinya sangatlah hancur melihat shahabatnya menderita.

Abu Bashir pun dibawa pulang ke Mekah oleh kedua pemuda Quraisy. Selepas kota Madinah, mereka berhenti sejenak menunaikan hajat. Salah seorang dari pemuda Quraisy meninggalkan temannya bersama Abu Bashir beberapa waktu. Abu Bashir melihat kesempatan baginya untuk meloloskan diri, maka dengan sedikit kepcerdasannya, dia berhasil membunuh pemuda itu dengan pedangnya sendiri. Setiba pemuda satunya dari tempat menunaikan hajat, dia melihat kepala temannya telah terpenggal dan pedang di tangan Abu Bashir, maka dia berlari kembali ke Madinah menjumpai Rasulullah untuk meminta bantuan. Tak lama Abu Bashir menyusulnya, tapi dia harus bersabar melihat Rasulullah tidak berpihak dengannya.

Abu Bashir akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Madinah, namun juga tak kembali ke Mekah. Dia menetap di pesisir pantai antara Mekah dan Madinah. Mendengar berita itu, Abu Jandal pun berhasil lari dari penjara ayahnya dan menyusu Abu Bashir. Mereka berdua berjuang mempertahankan keimanannya di tempat itu.

Semua kafilah dagang Quraisy ditahannya, sampai pihak Quraisy merasakan kerugian dan meminta Rasulullah untuk membatalkan perjanjian Hudaibiyah dan memanggil Abu Jandal dan Abu Bashir ke Madinah. Berita gembira. Bagaiman dua orang yang merindu akhirnya menemukan waktu yang dinanti. Sayang beribu sayang, Abu Jandal mengalami sakit yang mendekatkan dia dengan kematian. Belum sempat dia berkumpul dengan Rasulullah di Madinah, belum sempat dia menghabiskan kerinduannya, Allah memanggilnya.

Abu Bashir wafat di akhir perjalanan rindunya. Dia telah membuktikan cintanya pada Allah dan Rasul-Nya.dia telah memperjuangkan agamanya. Dia beristirahat dari segala siksa dan penderitaan yang diberikan kaumnya, dia menanti perjuampaan dengan Rabbnya yang sangat dirindunya.


*Ringkasan materi ini dibuat oleh Ustadzah Ummu Faari’ AR dan menjadi hak cipta dari Div. Muslimah Markaz Imam Malik. Semoga bermanfaat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.