Jangan Terlena, Dunia Tempat Mengumpulkan ‘Cahaya’!

mim.or.id – Kehidupan di dunia pada hakikatnya adalah sebuah perjalanan singkat yang diperuntukkan bagi manusia untuk mengumpulkan bekal terbaik.

Bekal paling berharga yang akan menerangi langkah seorang hamba di kegelapan alam kubur hingga hari kiamat adalah cahaya keimanan dan amal saleh.

setiap detik kehidupan yang dianugerahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan kesempatan emas yang kelak akan ditutup dengan kematian. Tanpa petunjuk dan cahaya dari Allah, manusia akan tersesat dalam kegelapan yang pekat pada hari pembalasan.

Hakikat Kehidupan Dunia dan Peringatan Kebangkitan

Manusia sering kali terlelap dalam kelalaian akibat disibukkan oleh urusan duniawi. Padahal, Allah senantiasa memberikan pengingat harian yang sangat dekat dengan kehidupan manusia, yaitu melalui peristiwa tidur dan terbangun di pagi hari.

Setiap malam manusia mengalami peristiwa luar biasa yang kerap dianggap sekadar rutinitas fisik. Rasulullah menegaskan bahwa tidur adalah saudara dari kematian (Annaumu akhul maut).

Baca Juga: PQ MIM Tempa Mental dan Kedisiplinan Santri Lewat Outing Class

Dalam Al-Qur’an, Allah menjelaskan bahwa Dialah yang memegang jiwa manusia saat ajalnya tiba dan mematikan jiwa yang belum mati dalam tidurnya.

Tidur berfungsi sebagai penenang jiwa (subatan) untuk memulihkan stamina fisik dan kesegaran pikiran setelah seharian beraktivitas.  Namun, lebih dari sekadar istirahat, momen terlepas dan kembalinya ruh saat terbangun adalah miniatur nyata dari hari kebangkitan.

Amalan-Amalan Utama Pengumpul Cahaya di Dunia

Cahaya di hari kiamat tidak didapatkan secara spontan, melainkan dihimpun melalui amalan-amalan riil yang dikerjakan selama hidup di dunia. Beberapa ibadah utama yang menjadi sumber penerang utama bagi seorang hamba.

Pertama, Melangkahkan Kaki ke Masjid dalam Kegelapan, Melakukan perjalanan menuju masjid di waktu-waktu gelap, seperti saat Subuh atau Isya, membutuhkan perjuangan melawan rasa kantuk dan dingin.

Kedua, Doa Memohon Cahaya dan Penjagaan Lisan, Ketika seorang hamba melangkahkan kaki menuju rumah Allah, Rasulullah mengajarkan doa khusus agar seluruh dimensi dirinya dipenuhi cahaya.

Baca Juga: Perluas Wawasan Santri, PQMIM Gelar Outing Class Bersejarah

Hamba tersebut memohon cahaya pada hatinya, pendengarannya, penglihatannya, arah depan, belakang, atas, serta bawahnya.

Ketiga, Keagungan Sujud dan Kedekatan dengan Rasulullah, Salat adalah sumber cahaya utama (Was-shalatu nur). Di dalam salat, gerakan sujud merupakan puncak ketundukan seorang hamba kepada Sang Pencipta.

Saat bersujud, manusia meletakkan anggota tubuhnya yang paling mulia yaitu wajah dan keningnya sejajar dengan tempat berpijak kaki, seraya mengagungkan Allah yang Maha Tinggi (Subhana rabbiyal a’la).

Menyeberangi Titian Sirat dan Peringatan Bahaya Kemunafikan

Puncak dari kebutuhan manusia akan cahaya terjadi ketika seluruh umat manusia diperintahkan melintasi sirat—sebuah jembatan yang membentang di atas neraka Jahanam.

Para ulama menggambarkan bahwa titian sirat memiliki karakter yang sangat menegangkan: lebih tipis dari sehelai rambut dan lebih tajam dari sebilah pedang (aminasy sya’ri wa ahaddu minas saif).

Kecepatan manusia dalam menyeberangi sirat sangat bergantung pada intensitas cahaya yang mereka kumpulkan sewaktu di dunia. Ketika manusia meninggal dunia, ada tiga golongan yang mengantarkannya ke kubur: hartanya, keluarganya, dan amalnya.

Harta dan keluarga hanya mengantar sampai ke liang lahat lalu kembali ke rumah masing-masing. Hanya amal saleh yang tetap tinggal mengawal dan menjadi teman setia di alam kubur hingga hari berbangkit.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.