Dari Abu Hurairah ‘Abdurrahman bin Shakr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ، وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ مَنْ قَبْلَكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلاَفُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ . رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

“Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Apa-apa yang aku larang hendaknya kalian menjauhinya dan apa-apa yang aku perintahkan kepada kalian hendaknya kalian melakukannya semampu kalian, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah binasa karena banyaknya pertanyaan mereka dan perselisihan mereka kepada Nabi-Nabi mereka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)


BACA JUGA: Darah dan Harta Seorang Muslim – Pembahasan Kitab Arba’in Nawawiyah Hadits Kedelapan

Hadits ini diriwayatkan oleh sahabat Nabi yang lebih sering dikenal dengan nama Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Nama asli beliau adalah Abdurrahman bin Shakr seperti yang disebutkan didalam hadits ini. Kata “Hurairah” artinya adalah “kucing kecil”, sebab beliau dipanggil dengan nama tersebut karena ketika beliau masih remaja, ada seekor kucing kecil yang selalu membersamai beliau ketika hendak menggembala kambingnya. Abu Hurairah sendiri pernah mengatakan bahwa beliau lebih senang dipanggil Abu Hur karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam biasanya memanggil Abu Hurairah denggan Panggilan Abu Hur.

Abu Hurairah berasal dari Kabilah Daus, salah satu kabilah Arab yang berasal dari Yaman. Beliau masuk Islam sebelum bertemu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tepatnya ketika seorang sahabat dari kabilah yang sama pulang dari kampung halamannya untuk mendakwahkan Islam sehingga Abu Hurairah masuk ke Agama Allah Subhanahu wa ta’ala. Pada tahun ke-7 Hijiryah, ketika perang Khaibar terjadi, Abu Hurairah berhijrah ke Madinah dan disitulah beliau dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Perlu dicatat bahwa tidak seperti sahabat-sahabat yang telah membersamai Rasulullah selama bertahun-tahun, pertemuan Abu Hurairah dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hanya sekitar 3 tahun, tetapi satu fakta yang sangat penting adalah meskipun pertemuannya dengan Rasulullah tidak berlangsung lama, sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu disebut sebagai sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Hal ini dikarenakan Abu Hurairah nyaris tidak pernah berpisah dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sejak ia betemu dengan Rasulullah sampai Rasulullah wafat. Abu Hurairah rela hidup dalam kemiskinan demi menuntut ilmu dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Di masa Kekhalifahan Umar bin Al-Khatthab, Abu Hurairah pernah diangkat menjadi gubernur di wilayah Al-Bahrain. Meskipun begitu, beliau dikenal sebagai sahabat yang sangat kuat ibadahnya kepada Allah. Konon, biasanya beliau beristigfhar kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dalam satu hari sekurang-kurangnya sebanyak 10.000 kali.


Dari Abu Hurairah ‘Abdurrahman bin Shakr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ، وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ،

“…Apa-apa yang aku larang hendaknya kalian menjauhinya dan apa-apa yang aku perintahkan kepada kalian hendaknya kalian melakukannya semampu kalian…”

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan suatu panduan beramal sebagai seorang muslim bahwa hidup menjadi seorang hamba yang shaleh, mengharapkan ampunan Allah Subhanahu wa ta’ala dan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat langkahnya sangat mudah. Pertama “Apa yang aku (Rasulullah) larang jauhi”. Kedua “Apa yang aku (Rasulullah) perintahkan kerjakan sesuai kesanggupan kalian”. Ya, hanya sesimpel itu.

Jadi cari tahulah apa yang dilarang oleh Allah dan Rasulullah maka tinggalkanlah dan cari tahu apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasulullah maka kerjakanlah semampu kalian. Di dalam hadits ini, para Ulama mengatakan pernyataan ini menunjukkan bahwa yang dilarang di dalam Islam itu lebih sedikit daripada apa yang telah disyariatkan karena Nabi tidak mengatakan jauhi perkara yang dilarang “semampu kalian”. Sebaliknya Nabi memberi catatan untuk mengerjakan sesuatu yang telah disyariatkan “sesuai dengan kemampuan kalian”.

Pada hadits diatas, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membedakan antara larangan dengan perintah. Untuk larangan, beliau memerintahkan kita untuk menjauhinya secara mutlak. Sedangkan untuk perintah, beliau memerintahkan kita untuk melakukan perintah tersebut semampu kita.
Perlu diingat bahwa jangan tidak mengerjakan apa-apa yang telah diperintahkan Allah (kewajiban-kewajiban di dalam Agama ini) dengan beralasan “tidak mampu mengerjakannya” padahal “Dia memang tidak mau mengerjakannya”. Jangan menutupi “ketidakmauan” kita mengerjakan sesuatu dengan beralasan “saya tidak bisa”.

Poin lainnya yang dapat dipetik pada hadits diatas adalah semua yang diperintahkan dan dilarang oleh Allah adalah hal-hal yang berada dalam ruang lingkup jangkauan kemampuan kita. Secara umum, tidak ada perintah dan larangan Allah yang tidak bisa dikerjakan.

Rasulullah menutup hadits ini dengan mengatakan

فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ مَنْ قَبْلَكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلاَفُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ

“…karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah binasa karena banyaknya pertanyaan mereka dan perselisihan mereka kepada Nabi-Nabi mereka.”

Potongan hadits diatas merujuk kepada Bani Israil. Salah satu ciri khas kaum Bani Israil adalah banyak bertanya kepada Nabi yang diutus kepada mereka. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengingatkan tentang suatu penyakit yang berbahaya yaitu banyak bertanya (apalagi menanyakan sesuatu yang tidak perlu ditanyakan). Sesungguhnya banyak bertanya itu sebenarnya akan menyulitkan kita sendiri.
Kita boleh bertanya dengan adab; bertanyalah kalau kita ingin tahu dan ingin mengamalkan suatu amalan, janganlah bertanya untuk menunjukkan diri ini berwawasan luas apalagi bertanya karena ingin menjatuhkan orang yang ditanya.

Perintah Allah subhanahu wa ta’ala sudah jelas dan larangan Allah juga sudah jelas, tugas kita adalah tinggal mengeksekusinya.

Wallahu a’lam bisshowab

Oleh : Ustadz Dr. Ihsan Zainuddin, Lc., M.Si Hafidzahullahu Ta’ala
Ta’lim Kajian Kitab Arbain Nawawiyah – Masjid Nurul Hikmah MIM (Kamis, 06 Februari 2020)

BACA JUGA: Bagaimana Hukumnya Main HP di dalam WC?


TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.