بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezkinya, dan ingin dipanjangkan usianya, maka hendaklah dia menyambung silaturrahmi”. (HR. Al-Bukhari no. 5986).

Hadist ini perintah dan sekaligus Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan keutamaan silaturrahim.

اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.(QS. Al Ankabut :62).

Dan Allah Subhanahu wata’ala menyebutnya secara khusus dalam Al-Qur’an dalam surah An Nisa:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. (QS. An Nisa : 1).

Dalam ayat diatas disebutkan “Arham (Peliharalah hubungan silaturrahim)” menunjukkan pentingnya menyambung silaturrahim karena semua kita berasal dari satu tubuh yaitu Adam ‘Alaihissalam.

Wasiat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau pertama tiba di kota madinah, Dari Abdullah bin Salam, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai sekalian manusia, tebarkanlah salam di antara kalian, berilah makan, sambunglah tali silaturrahmi dan shalatlah ketika manusia tidur malam, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad).

Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh kita untuk mempelajari nasab untuk mengetahui kerabat – kerabat kita, Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

تَعَلَّمُوا مِنْ أَنْسَابِكُمْ مَا تَصِلُونَ بِهِ أَرْحَامَكُمْ، فَإِنَّ صِلَةَ الرَّحِمِ مَحَبَّةٌ فِي الأَهْلِ، مَثْرَاةٌ فِي المَالِ، مَنْسَأَةٌ فِي الأَثَرِ

Pelajarilah garis keturunan kalian agar kalian dapat menyambung hubungan silaturahmi, karena sesungguhnya menyambung hubungan silaturahmi memberi kecintaan kepada kerabat, manambah harta, dan memanjangkan umur“. (HR. Tirmidzi)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika dihibur oleh istrinya Khadijah bintu Khuwailid dalam peristiwa pertama kali Rasulullah menerima wahyu di gua hira dan melihat secara langsung wujud malaikat jibril ‘Alaihissalam, dimana jibril dengan wujud aslinya 600 lembar sayap. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pulang kerumahnya dalam kondisi dan keadaan menggigil beliau kemudian berkata kepada istrinya Khadijah:”Selimuti aku, Selimuti aku”, Khadijah kemudian menghibur suaminya yang ketakutan dengan berkata:”Demi Allah wahai suamiku Allah tidak akan menghinakan engkau, jangan khawatir“, Khadijah terus menyebutkan kebaikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:”Engkau adalah orang yang banyak menyambung silaturrahim, engkau memuliakan tamu dan engkau memikul beban orang lain dan senantiasa membantu sesama dalam kebaikan“. Menyambung silaturrahim merupakan sebab Allah Subhanahu wata’ala memuliakan hambanya.

Barangsiapa yang memiliki sifat – sifat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam diatas maka ketika ia dalam keadaan kondisi membutuhkan pertolongan dan bantuan, maka Allah Subhanahu wata’ala  yang akan menolong dan membantunya, jadi Khadijah mengingatkan kekasihnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan hal tersebut bahwa engkau adalah orang yang senantiasa menyambung silaturrahim.

Pernah suatu ketika Abu Sofyan sebelum masuk islam menghadap kepada heraklius penguasa romawi, kemudian Heraklius bertanya kepada Abu Sofyan:”Bagaimana lelaki itu (Rasulullah) ditengah – tengah kalian?, Abu Sofyan mengatakan:”Dia orang yang senang menyambung silaturrahim“. Inilah akhlak yang mulia dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepada kita untuk menyambung silaturrahim dan sebaliknya orang yang memutuskan silaturrahim maka dia dilaknat oleh Allah Subhanahu wata’ala melalui lisan Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sebagaimana dalam hadist Dari Jubair bin Mut’im Radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ

Tidaklah masuk surga orang yang suka memutus, ( memutus tali silaturahmi)”. (Muttafaqun ‘alaihi).

Dan didalam Al-Qur’an Allah Subhanahu wata’ala menyebutkan 3 ayat yang menunjukkan keburukan bahkan laknat yang menimpa orang – orang yang memutuskan Silaturrahim.

Dalam surah Muhammad:

فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَىٰ أَبْصَارَهُمْ

Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?, Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka“. (QS. Muhammad :22-23).

Dalam surah Ar Rad:

وَالَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ ۙ أُولَٰئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ

“Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam)”.(QS. Ar Rad : 25).

Apatah lagi mereka melakukan kerusakan dimuka bumi  begitu pula orang yang mengadu domba untuk memutuskan silaturrahim, dan memutus hubungan silaturrahim termasuk dosa besar dan dosa terbagi menjadi 2 ada dosa besar dan ada dosa kecil. Dosa kecil bisa berguguran dengan amalan – amalan sholeh yang dikerjakan adapun dosa besar membutuhkan taubat secara khusus kepada Allah Subhanahu wata’ala, mereka yang memutuskan silaturrahim akan mendapatkan tempat yang buruk kelak dihari kiamat sebagaimana dijelaskan dalam ayat diatas.

Dalam surah Al-Baqarah:

الَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“(yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi”. (QS. Al Baqarah :27)

Jangan sampai kita termasuk orang – orang yang memutuskan silaturrahim sehingga kita termasuk golongan orang – orang yang diancam dan dilaknat dalam 3 ayat diatas.

Sebagian kita Mungkin ada  yang pernah berselisih kepada kerabat atau keluarganya sehingga menjadi penyebab terputusnya hubungan silaturrahim, kemudian berusaha untuk menyambung tali silaturrahim yang terputus tersebut namun dia tidak menerima niat baik yang kita lakukan dan hal ini pernah disampaikan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, Diriwayatkan, telah datang seorang lelaki kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِي قَرَابَةً أَصِلُهُمْ وَيَقْطَعُونِي وَأُحْسِنُ إِلَيْهِمْ وَيُسِيئُونَ إِلَيَّ وَأَحْلُمُ عَنْهُمْ وَيَجْهَلُونَ عَلَيَّ فَقَالَ لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمْ الْمَلَّ وَلَا يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللَّهِ ظَهِيرٌ عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلَى ذَلِكَ

Wahai Rasulullah, aku mempunyai kerabat. Aku menyambung hubungan dengan mereka, akan tetapi mereka memutuskanku. Aku berbuat baik kepada mereka, akan tetapi mereka berbuat buruk terhadapku. Aku berlemah lembut kepada mereka, akan tetapi mereka kasar terhadapku,” maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila engkau benar demikian, maka seakan engkau menyuapi mereka pasir panas, dan Allah akan senantiasa tetap menjadi penolongmu selama engkau berbuat demikan”. (Muttafaq ‘alaihi).

Karena hal ini merupakan sesuatu yang berat, membalas keburukan dengan kebaikan adalah sesuatu yang berat apatahlagi jika kita mengetahui bahwa dia yang salah dan kita telah berusaha untuk berbuat baik dengannya dan kita telah minta maaf tetapi dia menolak permintaan maaf kita sehingga untuk menyambung tali silaturrahim menjadi sulit.  Ulama kita memberi tingkatan dalam menyambung tali silaturrahim dengan 4 tingkatan:
  1. Menyambung tali silaturrahim kepada orang yang memutuskannya

Menyambung tali silahturrahim kepada orang yang memutuskannya merupakan perkara yang berat dan hal ini tidak didapatan kecuali orang – orang yang bersabar dan orang – orang yang mengharapkan pahala yang besar disisi Allah Subhanahu wata’ala .

Pentingnya menyambung silaturrahim yang telah putus disebutkan dalam hadist Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

Bukanlah penyambung adalah orang yang hanya membalas. Tetapi penyambung adalah orang yang apabila diputus rahimnya, dia menyambungnya”. (HR. Al-Bukhari no. 5991).

2. Menyambung tali silaturrahim kepada orang yang mau menyambung tali silaturrahim dengan kita.

3. Memutuskan silaturrahim dengan orang yang memutuskan silaturrahim dengan kita

Balasan keburukan adalah keburukan yang serupa walaupun hal ini bagaimana kita berusaha untuk menghindarinya karena menyambung tali silaturrahim manfaat dan keutamaannya sangat besar dan memutuskankannya akan mendatangkan laknat dari Allah Subhanahu wata’ala.

4. Memutuskan silaturrahim dengan orang yang menyambung silaturrahim kepada kita

Oleh karena itu jika ada diantara kita yang pernah memutus tali silahturrahim kepada saudaranya hendaknya beristighfar kepada Allah Subhanahu wata’ala karena jangan sampai hal tersebut menjadi penyebab amalan kita tertahan ketika diangkat oleh Allah Subhanahu wata’ala sebagaimana kata Allah Subhanahu wata’ala kepada para malaikatnya ketika amalan seorang hamba akan diangkat  Allah Subhanahu wata’ala berkata kepada para malaikatnya:”Tangguhkan amalan fulan dan fulan sampai ia berbaikan“, sebagaimana diterangkan dalam hadist Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata, saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“Sesungguhnya perbuatan anak cucu adam diperlihatkan pada setiap kamis malam jumat, maka tidak akan diterima amalnya orang yang memutus tali silaturahmi.” (HR Ahmad).

Adapun jika kita sudah berusaha  dan ia menolak maka akan menjadi tanggungan dan urusan dia kepada Allah Subhanahu wata’ala, adapun kita telah berlepas diri dari tanggung jawab dihadapan Allah Subhanahu wata’ala walaupun orang tersebut masih memilki hubungan kekerabatan dengan kita.

Namun sebisa mungkin bagaimana kita berusaha untuk menyambung tali silaturrahim yang telah putus sehingga reski dan umur kita dipanjangkan oleh Allah Subhanahu wata’ala, dan hendaknya kita tidak termasuk orang – orang yang sengaja memutus tali silaturrahim dengan saudara muslim kita yang menyebakan hubungan komunikasi dan pembicaraan kita terhenti dan terputus agar kita tidak termasuk yang diancam dalam hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang melarang ummatnya untuk memboikot saudaranya selama 3 hari sebagaimana dalam hadist, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ

“Tidak halal bagi seorang muslim untuk memboikot (tidak menyapa) saudaranya lebih dari 3 hari.” (HR. Bukhari 6237 dan Muslim 2560). Batas yang diberikan ummat Rasulullah dalam memboikot saudaranya selama 3 hari apabila lewat dari 3 hari maka akan menjadi haram seseorang memboikot saudaranya. oleh karenanya semua kita berasal dari satu tubuh yaitu Adam “Alaihissalam maka hendaknya kita memperbaiki hubungan diantara kita baik hubungan komunikasi, hubungan silaturrahim, hubungan saudara muslim apabila terjadi perselisihan diantara kita dan sepantasnya kita menjaga hubungan kita diatas ukhuwah persaudaraan sesama muslim.

Wallahu A’lam Bish Showaab


Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Selasa, 24 Jumadil Awal 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi :
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE : mim.or.id

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.