mim.or.id – Kembali kami menyajikan Khutbah Idul Fitri dengan tema ‘Mengukuhkan Langkah di Akhir Zaman’ (Edisi, 1 Syawal 1447 H).

‘MENGUKUHKAN LANGKAH DI AKHIR ZAMAN’
KHUTBAH PERTAMA
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.
اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil hamd…
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!
Bersama dengan lebih dari 2 milyar kaum muslimin di penjuru dunia ini, hari ini kita semua bersyukur setinggi-tingginya hanya kepada Allah Azza wa Jalla, kita mengagungkan NamaNya, dan memuliakan syariatNya.
Hari ini, sedalam-dalamnya rasa syukur kita haturkan hanya kepada Allah Ta’ala atas sekali lagi kesempatan yang Dia berikan agar kita semua dimampukan untuk membuktikan penghambaan kita padaNya, melalui sujud kita pagi ini, melalui takbir, tahlil dan tahmid. Karena sesungguhnya, setinggi-tinggi nikmat dan karunia bagi kita adalah karunia kesempatan untuk beribadah kepada Allah Azza wa Jalla.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil hamd…
Kaum muslimin yang berbahagia!
Baru beberapa hari yang lalu kita berada di bulan kebaikan. Baru beberapa hari yang lalu kita hidup di musim taat. Baru beberapa hari yang lalu kita menahan lapar karena Allah, menahan dahaga karena Allah, menahan syahwat karena Allah, menahan lisan karena Allah. Siang kita hidup dengan puasa, malam kita hidup dengan qiyam, mushaf dekat dengan tangan kita, dzikir basah di lisan kita, dan doa terasa begitu hangat di dada kita.
Tetapi lihatlah, Ramadhan telah pergi. Ia telah berlalu. Ia melintas begitu cepat seakan hanya sekelebat bayangan. Malam-malamnya telah berangkat meninggalkan kita. Hari-harinya telah digulung dan ditutup. Dan yang lebih perlu kita renungkan: yang berlalu itu bukan sekadar Ramadhan. Yang berlalu itu adalah bagian dari umur kita. Yang pergi itu adalah jatah kehidupan kita. Yang habis itu adalah lembaran waktu yang tidak akan pernah dikembalikan lagi.
Begitulah hakikat umur manusia. Hari-hari kehidupan ini hanyalah marhalah demi marhalah. Satu tahap selesai, kita masuk tahap berikutnya. Satu musim berlalu, kita mendekat ke musim berikutnya. Sampai akhirnya seluruh perjalanan ini bermuara kepada satu tujuan yang pasti: negeri akhirat. Kita semua sedang berjalan ke sana. Cepat atau lambat. Siap atau tidak siap. Suka atau tidak suka.
Karena itu, wahai kaum muslimin, Ramadhan telah pergi membawa amal-amal kita. Ia pergi sambil membawa apa yang telah kita isi di dalamnya. Ia menjadi saksi atas shalat kita, atas tilawah kita, atas tangisan kita, atas kelalaian kita, atas dosa-dosa yang sempat kita lakukan, atas taubat-taubat yang sempat kita panjatkan.
Maka siapa yang selama Ramadhan masih bergelimang kelalaian, hendaklah ia segera menyusul dengan taubat sebelum pintu tertutup, sebelum kitab amal dilipat, sebelum datang hari yang tidak berguna lagi penyesalan. Dan siapa yang Allah beri taufik untuk taat di bulan Ramadhan, maka janganlah ia merasa aman. Hendaklah ia bersyukur kepada Allah dan melanjutkan kebaikan itu sampai berjumpa dengan-Nya.
Jamaah Idul Fitri yang dimuliakan Allah,
Orang-orang yang cerdas bukan hanya sibuk beramal. Orang-orang yang cerdas lebih sibuk lagi memikirkan: diterima atau ditolakkah amal itu di sisi Allah? Sebab tidak semua yang tampak besar di mata manusia bernilai besar di sisi Allah. Tidak semua amal yang ramai dibicarakan itu diterima di langit. Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
“Sesungguhnya Allah hanyalah menerima dari orang-orang yang bertakwa.” (Surah al-Ma’idah: 27).
Maka perhatian kita setelah Ramadhan bukan sekadar mengenang betapa indahnya Ramadhan, tetapi lebih dari itu: apakah Allah menerima amal-amal kita di dalamnya?
Dan para ulama menyebutkan bahwa di antara tanda diterimanya satu amal adalah Allah memberikan taufik untuk melakukan amal shalih sesudahnya. Jika setelah Ramadhan seseorang tetap menjaga shalatnya, tetap dekat dengan Al-Qur’annya, tetap hidup dengan dzikir dan istighfarnya, tetap ringan bersedekah, tetap menjaga matanya, lisannya, dan hatinya, maka itu tanda kebaikan. Itu alamat yang menggembirakan. Itu pertanda bahwa kebaikan belum terputus.
Sebaliknya, jika sesudah Ramadhan mushaf ditutup, masjid mulai ditinggalkan, lisan kembali kasar, pandangan kembali liar, tangan kembali ringan menebar dosa, maka itu keadaan yang menakutkan. Itu bukan kemenangan. Itu kemunduran. Itu bukan fitri, tetapi kemunduran dari fitrah. Karena itu Allah berfirman:
إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ
“Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu menghapuskan keburukan-keburukan.” (Surah Hud: 114).
Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Takutlah kepada Allah dimanapun kamu berada, dan ikutkanlah perbuatan dosa dengan kebaikan yang dapat menghapusnya, serta perlakukanlah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi; dihasankan Al-Albani).
Maka ikutilah kebaikan dengan kebaikan. Ikutilah Ramadhan dengan istiqamah. Ikutilah puasa Ramadhan dengan puasa-puasa sunnah. Ikutilah qiyam Ramadhan dengan tahajud di malam-malam setelahnya. Ikutilah bacaan Al-Qur’an di Ramadhan dengan wirid harian yang tidak ditinggalkan. Ikutilah sedekah di Ramadhan dengan tangan yang tetap ringan memberi. Ikutilah tangisan di Ramadhan dengan muhasabah yang terus hidup sesudahnya.
Kaum Muslimin yang berbahagia,
Taat itu bukan milik Ramadhan semata. Taat bukan musiman. Taat bukan tamu bulanan. Taat adalah hak Allah atas kita sepanjang nafas masih berhembus. Maka siapa yang merasakan manisnya berdiri malam di bulan Ramadhan, lanjutkanlah. Siapa yang merasakan nikmatnya membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan, lanjutkanlah. Siapa yang merasakan lembutnya hati ketika berdoa di bulan Ramadhan, lanjutkanlah. Siapa yang merasakan ringan menahan dosa di bulan Ramadhan, lanjutkanlah.
Karena itu, janganlah kita menjadi seperti orang yang membangun sebuah bangunan, lalu meruntuhkan sendiri bangunannya. Jangan seperti orang yang menenun dengan kuat, lalu mengurai sendiri tenunannya sesudah kokoh. Allah berfirman:
وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا
“Dan janganlah kalian seperti perempuan yang menguraikan benangnya kembali setelah dipintal dengan kuat.” (Surah al-Nahl: 92).
Kita sudah membangun bangunan keshalihan kita, dan memintal tenunan ketaatan selama Ramadhan dengan sangat indah; jangan sampai kita hancurkan dan rusak dengan kemaksiatan paska bulan Ramadhan.
Kaum muslimin rahimakumullah,
Sesudah Ramadhan, pintu amal masih terbuka lebar. Puasa tidak berhenti di Ramadhan. Nabi kalian telah mensyariatkan puasa enam hari di Syawal. Beliau juga menganjurkan puasa tiga hari setiap bulan. Beliau juga membiasakan puasa Senin dan Kamis. Artinya, siapa yang jujur ingin tetap dekat dengan Allah, jalannya masih terbuka. Jalannya tidak pernah ditutup. Yang ditutup hanya hati yang malas dan jiwa yang memang ingin kembali kepada dosa.
Begitu pula Al-Qur’an. Al-Qur’an bukan kitab Ramadhan saja. Al-Qur’an adalah kitab hidup. Petunjuk sepanjang umur. Cahaya sepanjang jalan. Obat sepanjang luka. Maka barangsiapa selama Ramadhan telah hidup bersama Al-Qur’an, hendaklah ia menetapkan untuk dirinya wirid harian, sedikit tapi terus menerus.
Sedikit tapi istiqamah. Sebab amal yang paling dicintai Allah adalah yang terus menerus meskipun sedikit. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang berkelanjutan, meskipun sedikit.” (HR. Muslim).
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Hanya saja pada hari-hari ini kita tidak hanya diuji dengan syahwat dan kelalaian. Kita juga sedang hidup di zaman fitnah dan ujian. Fitnah yang datang dari segala arah. Fitnah yang mengetuk rumah-rumah kita melalui layar-layar kecil di tangan kita. Fitnah yang memasuki hati manusia lewat potongan berita, komentar, propaganda, amarah, fanatisme, dan kebingungan yang tak bertepi.
Kita menyaksikan dunia bergolak. Kita melihat peperangan, permusuhan, ketegangan, dan pembantaian. Kita melihat konflik besar yang menyeret nama-nama besar, seperti konflik Iran dengan Amerika dan Israel. Dan banyak kaum muslimin kemudian terseret ke dalam dua sikap yang sama-sama berbahaya: ada yang tenggelam dalam fanatisme buta, dan ada yang hanyut dalam kebingungan tanpa pegangan aqidah.
Di sinilah pentingnya kepada al-Qur’an dan Sunnah. Di sinilah pentingnya kita menimbang peristiwa dengan cahaya wahyu, bukan dengan kobaran emosi. Kita harus memahami bahwa al-wala’ wal-bara’ adalah bagian dari aqidah.
Yaitu bahwa kita mencintai orang-orang beriman karena iman mereka. Kita berlepas diri dari kekufuran, kesyirikan, penyimpangan, dan kezhaliman. Tetapi kita tidak diajarkan untuk bertaklid buta. Kita tidak diajarkan fanatik tanpa ilmu. Kita tidak diajarkan menukar timbangan syariat dengan slogan-slogan politik.
Maka, ketika melihat konflik besar di dunia, seorang muslim harus tetap tegas bahwa ia tidak loyal kepada kekufuran dan permusuhan terhadap Islam. Ia tidak ridha kepada kezhaliman. Ia tidak simpati kepada penjajahan, pembunuhan, dan keangkuhan musuh-musuh Islam. Tetapi dalam waktu yang sama, ia juga tidak menjadikan setiap pihak yang berseberangan dengan musuh-musuh Islam itu lalu otomatis berada di atas kebenaran secara mutlak. Tidak. Kita, Ahlussunnah, harus tetap bersikap adil dan mengedapankan dalil serta argumentasi.
Maka wala’/loyalitas kita adalah kepada Islam, kepada tauhid, kepada sunnah, kepada kaum mukminin sesuai kadar iman dan istiqamah mereka. Dan bara’/anti loyalitas kita adalah terhadap kekufuran, syirik, bid’ah, nifaq, kezhaliman, dan permusuhan kepada Allah sesuai kadar penyimpangannya.
Dengan prinsip ini kita tidak mudah ditipu. Ini membuat kita tidak mudah diperalat. Ini membuat kita tidak mematikan akal sehat hanya atas nama semangat, atau propaganda sebagai “satu-satunya negara yang membela Palestina” misalnya.
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah,
Fitnah di akhir zaman akan banyak. Akan datang silih berganti. Satu fitnah pergi, fitnah lain datang. Satu kegaduhan reda, kegaduhan lain muncul. Satu peperangan berlalu, peperangan lain menyusul. Karena itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita fondasi-fondasi keselamatan.
Yang pertama, banyak berdoa memohon perlindungan dari fitnah yang tampak maupun tersembunyi. Jangan remehkan doa. Di zaman ini, doa bukan pelengkap. Doa adalah benteng. Doa adalah perlindungan. Doa adalah senjata. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ، وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ، وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ، وَأَنْ تَغْفِرَ لِي وَتَرْحَمَنِي وَتَتُوبَ عَلَيَّ، وَإِنْ أَرَدْتَ بِعِبَادِكَ فِتْنَةً فَاقْبِضْنِي إِلَيْكَ غَيْرَ مَفْتُونٍ
“Ya Allah, anugerahkan kepada kami kemampuan melakukan kebaikan, meninggalkan kemungkaran, cinta kepada orang-orang miskin, ampunilah kami, rahmatilah kami, terimalah taubat kami, dan jika Engkau menghendaki fitnah menimpa hamba-hamba-Mu, maka wafatkan kami dalam keadaan tidak terseret oleh fitnah itu.” (HR. Ahmad dan al-Tirmidzi).
Lihatlah, bahkan dalam doanya Nabi mengajarkan bahwa yang paling ditakutkan bukan sekadar beratnya peristiwa, tetapi rusaknya agama karena fitnah itu.
Yang kedua, perkuat tauhid. Sebab di masa fitnah yang menyelamatkan bukan kecerdasan politik, bukan kelincahan analisis, tetapi hati yang bertauhid. Hati yang tahu bahwa semua kejadian berada di bawah qadar Allah. Hati yang tahu bahwa kemenangan dan kekalahan, keamanan dan ketakutan, hidup dan mati, semua di tangan Allah. Allah berfirman:
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa kecuali dengan izin Allah. Dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (Surah al-Taghabun: 11).
Hati yang dipenuhi tauhid akan lebih tenang. Ia tidak mudah putus asa. Ia tidak mudah liar. Ia tidak mudah histeris. Ia tahu bahwa yang Allah minta darinya adalah iman, sabar, dan amal shalih.
Yang ketiga, pegang erat Al-Qur’an dan Sunnah serta lazimi jamaah kaum muslimin di atas kebenaran. Sebab perpecahan adalah makanan empuk bagi fitnah. Allah berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Dan berpegangteguhlah kalian semuanya dengan tali Allah dan janganlah kalian berpecah-belah…” (Surah Ali Imran: 103)
Maka jangan jadikan isu-isu besar dunia sebagai bahan bakar untuk bertengkar di rumah, bermusuhan di masjid, atau saling membenci sesama penuntut kebenaran. Jangan jadikan perbedaan penilaian politik membuat kita lupa bahwa ukhuwah imaniyyah itu agung. Persatuan umat dibangun di atas tauhid dan sunnah, bukan di atas hawa nafsu dan slogan.
Yang keempat, perbanyak ibadah di masa fitnah. Ini sangat penting. Sebab banyak orang menyangka solusi fitnah hanyalah membaca berita lebih banyak, menonton analisis lebih lama, dan mengikuti perkembangan lebih rapat. Padahal Nabi mengajarkan sebaliknya: ibadah di masa huru-hara seperti hijrah kepada beliau.
Artinya, di tengah kegaduhan dunia, keselamatan seorang mukmin justru ada pada sujudnya, dzikirnya, tilawahnya, istighfarnya, taubatnya, dan tangisannya di hadapan Allah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ…
“Bersegeralah beramal sebelum datang fitnah seperti potongan malam yang gelap gulita…” (HR. Muslim).
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الْعِبَادَةُ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ
“Ibadah di masa huru-hara seperti hijrah kepadaku.” (HR. Muslim).
Bentuk aplikatifnya jelas. Jagalah shalat berjamaah. Jangan jadikan media sosial lebih menguasai hidup kita daripada adzan. Jagalah wirid Al-Qur’an setiap hari walau sedikit. Jagalah dzikir pagi dan petang. Jagalah puasa sunnah. Jagalah sedekah. Jagalah qiyamul lail walau dua rakaat. Sebab istiqamah yang kecil tapi terus hidup lebih bernilai daripada ledakan semangat yang cepat padam.
Maka semakin dunia gaduh, semakin seorang mukmin mendekat kepada Allah. Semakin berita menakutkan, semakin ia memperpanjang sujudnya. Semakin banyak manusia terpancing, semakin ia menenangkan diri dengan Al-Qur’an. Inilah jalan keselamatan.
Yang kelima, milikilah ilmu syar’i dan kembalilah kepada ulama Ahlus Sunnah. Sebab fitnah itu sangat mudah mempermainkan orang-orang yang dangkal ilmunya. Semangat tanpa ilmu melahirkan kebodohan. Keberanian tanpa bimbingan melahirkan kerusakan. Dan slogan tanpa manhaj melahirkan kesesatan.
Yang keenam, bersikap tenang, tidak tergesa-gesa, dan memikirkan akibat. Tidak semua yang benar harus diucapkan di setiap tempat. Tidak semua yang kita ketahui harus disebarkan. Tidak semua yang tampak menarik harus diikuti. Para ulama Salaf banyak meninggalkan hal-hal yang sebenarnya mereka sukai, demi menjaga keselamatan agama dan melihat akibat yang lebih luas. Inilah ilmu. Inilah kedewasaan iman.
Allah berfirman:
وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar.”.
Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut adanya zaman sabar, zaman yang orang berpegang teguh pada agama seperti menggenggam bara. Maka siapa yang bersabar, dialah yang menang. Menang di sisi Allah.
Yang Ketujuh, didik keluarga kita di atas tauhid dan sunnah. Jangan sampai anak-anak kita lebih hafal nama senjata, nama tokoh politik, nama kelompok, dan peta konflik, tetapi tidak mengenal Rabb mereka, tidak mencintai Nabi mereka, tidak mengerti tauhid, dan tidak paham adab Islam. Itu musibah besar.
Didik anak-anak kita untuk mencintai para Sahabat dan Ahlul bait Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena itu adalah salah satu simbol sekaligus bukti keimanan kita. Waspadai semua bentuk pemikiran dan pemahaman yang mengajarkan kebencian, apalagi sampai mengkafirkan para Sahabat dan keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sudah pasti itu adalah kesesatan, bahkan kekufuran.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لا يُحِبُّهم إلَّا مُؤْمِنٌ، ولا يُبغِضُهم إلَّا مُنافِقٌ، من أحَبَّهم أحَبَّه اللهُ، ومَن أبغَضَهم أبغَضَه اللهُ
“Tidak mencintai mereka (para Sahabat) kecuali orang mukmin, dan tidak membenci mereka kecuali orang munafik. Siapa yang mencintai mereka (para Sahabat), Allah akan mencintainya. Namun siapa yang membenci mereka, Allah pasti membencinya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Maka ingatlah pesan ini, kaum muslimin, kita akan selalu mendukung siapapun untuk meluluhlantakkan penjajah Zionis Yahudi, tapi pada saat yang sama kita harus ingat satu hal, yaitu bahwa negara atau siapapun yang membenci bahkan mengkafirkan para Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak akan pernah menjadi pembebas Masjidil Aqsha dan bumi al-Quds yang dahulu telah dibebaskan oleh para Sahabat Rasululillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِه وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa liLlahilhamd…
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Sesungguhnya di antara tanda taufik Allah kepada seorang hamba adalah ia tetap lurus di atas agamanya sepanjang hidupnya. Ia tidak menjadi hamba Allah hanya saat senang, lalu ketika keadaan berubah ia pun berubah. Ia tidak menjadi orang baik hanya ketika suasana mendukung, lalu ketika fitnah datang ia kehilangan kompas. Tidak. Hamba yang diberi taufik adalah hamba yang tetap teguh di atas kebenaran dalam lapang maupun sempit, dalam nikmat maupun musibah, dalam ketenangan maupun kegaduhan.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah meninggalkan kita di atas jalan yang terang. Beliau telah menunjukkan seluruh kebaikan kepada umat ini, dan telah memperingatkan seluruh keburukan yang membahayakan umat ini. Beliau tidak wafat sampai agama ini sempurna. Karena itu, siapa yang mencari keselamatan di tengah fitnah, hendaklah ia kembali kepada jalan Rasulullah dan para sahabatnya. Tidak ada jalan lain yang lebih aman selain jalan itu.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa liLlahilhamd…
Kaum muslimin yang berbahagia!
Akhirnya, marilah kita menundukkan hati dan segenap diri kita untuk memohon dengan sepenuh jiwa kepada Allah, Sang Maha Mendengar, Sang Maha Melihat, Sang Maha Mengetahui, Satu-satuNya Dzat yang Mahakuasa untuk mengabulkan semua doa, pinta dan harapan kita.
Rabbana, lihatlah kami para hamba-Mu yang lemah dan penuh dosa ini. Setiap hari, bahkan di setiap hembusan nafas ini, kami tak luput dari kelam dosa yang melalaikan. Tapi, RahmatMu tak putus-putusnya hadir untuk kami. AmpunanMu selalu terbuka untuk kedurhakaan kami. Maka ampunilah kami, ya Allah…Ampuni kami hamba-hambaMu yang payah ini. Ampuni kami hamba-hambaMu yang selalu lupa dan lupa ini, ya Allah…
Rabbana, wahai Dzat yang Maha Pengasih, kasihilah kedua orang tua kami. Rahmati perjalanan mereka di dunia ini hingga tiba di Surga Firdaus-Mu, ya Allah…Liputi mereka dengan ampunanMu. Ampuni kami, ya Allah, yang selalu payah dalam membahagiakan ayah-bunda kami. Ampuni kami yang selalu payah mengukir jejak bakti kepada mereka, ya Allah.
Ya Allah, izinkan kami agar berkumpul kembali bersama mereka di dalam Jannah-Mu yang abadi…
Rabbana, Semua yang ada pada kami hari ini: harta-benda kami, karir dan jabatan kami, capaian-capaian kami, jasmani yang menawan, bahkan karunia iman dan Islam kami; semuanya tanpa kecuali adalah karunia dan pemberianMu kepada kami. Karuniakan kami kekuatan untuk mensyukurinya. Tolonglah kami, ya Allah, agar dapat menggunakan semua karunia itu di jalan perjuangan Agama-Mu ini.
Rabbana, kami titipkan negeri indah tanah air kami ini padaMu. Lindungilah negeri ini dari segala keburukan dan kejahatan. Jauhkan kami, rakyat negeri ini, dari kezhaliman dan tipu daya. Anugrahkan untuk kami para pemimpin yang menegakkan keadilan, yang ikhlas bekerja untuk kesejahteraan rakyatnya.
Rabbana, kami titipkan saudara-saudara kami yang hari ini masih terpuruk dalam derita, dalam penjajahan kaum Zionis di Palestina, dan di manapun mereka, saudara-saudara kami itu melewati hari-hari penuh duka. Kami mohon lindungilah mereka dengan kasih-sayangMu, ya Allah. Anugrahkan kesabaran dan kekuatan tak habis-habisnya untuk mereka, ya Allah.
Rabbana, dengan segala keMahaperkasaanmu kami meminta hancurkanlah kekuasaan para Zhalimin di muka bumi ini. Hancurkanlah kekuasaan Zionis Yahudi dengan semua pendukungnya. Hancurkanlah semua tangan dan kekuatan yang telah menumpahkan darah kaum muslimin di bumi Palestina, di Suriah, di Irak dan di manapun juga. Dan jagalah seluruh negeri kaum muslimin dari marabahaya dan krisis, ya Rabbana…
Rabbana, kami titipkan anak-anak kami kepadaMu, ya Allah. Kami titipkan generasi muda kami kepadaMu, ya Allah. Tarbiyahlah mereka dengan kasih sayangMu. Tuntunlah mereka berjalan di atas jejak hamba-hambaMu yang shalih. Jagalah mereka dari semua bentuk kekufuran dan kenistaan. Ya Allah, ya Rabbana, perkenankan kami, hamba-hambaMu yang penuh kekurangan ini, kelak tetap dapat menikmati doa-doa indah dari anak-anak kami meski jasad ini telah terkubur dalam kelam dan gelapnya alam kubur.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،يَا سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أ نْتَ الْوَهَّابُ
رَبَّنَا تَقَبَّل مِنَّا وَقِيَامَنَا وَسَائِرَ أَعمَالِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا
رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ لْمُسلِمِين وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ وَأَعدَاءَكَ يَا عَزِيزٌ يَا قَهَّارٌ يَا رَبَّ العَالَمِينَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ



