mim.or.id – Kembali kami menyajikan sebuah Khutbah Jum’at terbaru dengan tema ‘Banyak yang Lebih Susah’ (Edisi 135, 6 Rabiul Akhir 1448 H).
Naska selengkapnya:

‘BANYAK YANG LEBIH SUSAH’
KHUTBAH PERTAMA
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.
اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار
Jamaah Jum’at yang berbahagia,
Saya berwasiat kepada diri saya sendiri dan kepada seluruh jamaah agar senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Takwa adalah menjalankan perintah-Nya, meninggalkan larangan-Nya, membenarkan berita-Nya, serta mempersiapkan diri untuk hari ketika seluruh manusia kembali kepada-Nya.
Kaum Muslimin yang berbahagia,
Ada satu hal yang sering terjadi dalam kehidupan kita. Ketika mendapatkan masalah, kita merasa seolah-olah masalah itulah yang paling berat. Ketika badan sedikit tidak enak, kita merasa hari itu begitu panjang. Ketika pekerjaan menumpuk, kita merasa hidup sedang menghimpit. Ketika uang berkurang, pikiran kita dipenuhi kekhawatiran. Ketika kendaraan rusak, ketika rumah bocor, ketika anak membuat masalah, ketika usaha sedang sepi, kita mudah merasa bahwa kehidupan sedang tidak berpihak kepada kita.
Padahal, kalau kita berhenti sejenak dan melihat kehidupan orang lain, kita akan menemukan pemandangan yang berbeda.
Ada orang yang hari ini bukan sedang memikirkan cicilan, tetapi sedang memikirkan bagaimana mendapatkan kembali tempat tinggalnya setelah rumahnya rusak karena gempa. Ada orang yang bukan sedang mengeluhkan harga makanan di pasar, tetapi sedang mencari anggota keluarganya yang belum ditemukan. Ada orang yang bukan sedang memilih menu makan siang, tetapi sedang bersyukur karena hari itu masih mendapatkan air bersih dan makanan untuk anak-anaknya di pengungsian atau di tengah dampak kebakaran hutan.
Beberapa waktu lalu, saudara-saudara kita di Flores, Nusa Tenggara Timur, mengalami gempa bumi besar. Pada 15 Agustus 2026, gempa berkekuatan M7,7 mengguncang wilayah Flores dan menimbulkan dampak di sejumlah daerah. Hari-hari setelahnya bukan hanya tentang satu kali guncangan. Gempa susulan terus terjadi, masyarakat mengungsi, rumah dan fasilitas umum mengalami kerusakan, dan banyak keluarga harus menjalani hari-hari dalam keadaan yang jauh dari kenyamanan yang selama ini mereka rasakan.
Di Kalimantan, saudara-saudara kita juga menghadapi keadaan yang tidak ringan. Kebakaran hutan dan lahan terjadi di sejumlah wilayah. Asap memenuhi udara, jarak pandang menurun, kualitas udara memburuk, dan masyarakat harus berhadapan dengan gangguan kesehatan. Di Kalimantan Barat, misalnya, BNPB melaporkan kondisi udara yang berbahaya dan ribuan kasus ISPA pada awal September 2026.
Kita mungkin mendengar berita itu sambil duduk di rumah. Kita melihat gambar dan video di layar telepon. Setelah beberapa menit, kita kembali kepada kesibukan masing-masing. Tetapi bayangkan jika keadaan itu terjadi di rumah kita sendiri. Bayangkan malam yang biasanya kita habiskan di kamar yang nyaman, tiba-tiba harus dilewati di tempat pengungsian. Bayangkan anak-anak yang biasanya tidur di tempat tidur mereka, sekarang harus tidur bersama banyak orang dalam suasana yang penuh ketidakpastian. Bayangkan udara yang setiap hari kita hirup dengan tenang, tiba-tiba menjadi sesuatu yang membuat kita khawatir ketika anak-anak mulai batuk dan sesak.
Di situlah kita belajar satu perkara yang sering hilang dari perhatian kita: nikmat Allah ternyata jauh lebih banyak daripada yang kita sadari.
Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ
“Dan segala nikmat yang ada pada kalian, maka semuanya berasal dari Allah. Kemudian apabila kalian ditimpa kesusahan, maka hanya kepada-Nya kalian meminta pertolongan.” (Surah al-Nahl: 53).
Perhatikan kehidupan kita hari ini…
Kita bangun pagi, mata masih bisa melihat. Kita berdiri, kaki masih bisa membawa kita berjalan. Kita berbicara, lidah masih bisa mengucapkan kata-kata. Kita membuka pintu rumah, ternyata rumah masih berdiri. Kita menyalakan lampu, listrik masih menyala. Kita membuka keran, air masih mengalir. Kita masuk ke dapur, masih ada makanan.
Kita melihat anak-anak, mereka masih ada di hadapan kita. Kita melihat orang tua, masih bisa mendengar suaranya. Kita berangkat ke masjid dengan kendaraan atau berjalan kaki tanpa harus memikirkan apakah tempat tinggal kita masih ada ketika kita pulang.
Berapa banyak dari semua itu yang kita anggap sebagai nikmat?
Sering kali kita baru menyadari nilai sebuah nikmat setelah nikmat itu hilang.
Orang yang sehat tidak terlalu memikirkan nikmat kesehatan. Tetapi ketika sakit datang, ia baru memahami betapa mahalnya satu malam tidur tanpa rasa sakit. Orang yang memiliki keluarga lengkap mungkin menganggap makan bersama sebagai rutinitas biasa. Tetapi orang yang telah kehilangan ayah dan ibunya tahu bahwa satu kali duduk bersama keluarga adalah kenangan yang tidak bisa dibeli dengan uang sebanyak apa pun.
Allah berfirman:
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ
“Jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Surah al-Nahl: 18).
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Masalahnya bukan karena Allah terlalu sedikit memberikan nikmat kepada kita. Sering kali masalahnya adalah mata kita terlalu lama melihat apa yang belum kita miliki, sampai kita lupa melihat apa yang sudah Allah berikan.
Kita melihat rumah orang lain, lalu rumah kita terasa kecil. Kita melihat kendaraan orang lain, lalu kendaraan kita terasa kurang bagus. Kita melihat pekerjaan orang lain, lalu pekerjaan kita terasa tidak berarti. Kita melihat penghasilan orang lain, lalu kita merasa rezeki kita sempit. Kita membuka media sosial, melihat perjalanan orang lain, rumah orang lain, makanan orang lain, kehidupan orang lain, lalu tanpa terasa hati kita dipenuhi perasaan kurang.
Padahal boleh jadi, kehidupan yang kita anggap biasa-biasa saja adalah kehidupan yang sedang didambakan oleh orang lain.
Ada orang yang ingin sekali memiliki rumah kecil seperti rumah kita.
Ada orang yang ingin sekali memiliki keluarga yang masih utuh seperti keluarga kita.
Ada orang yang ingin sekali memiliki tubuh sehat seperti tubuh kita.
Ada orang yang ingin sekali bisa berjalan sendiri ke masjid seperti kita.
Ada orang yang sedang berada di rumah sakit dan hanya berharap bisa kembali menikmati makanan sederhana yang selama ini kita anggap biasa.
Rasulullah ﷺ memberikan sebuah nasihat yang sangat dalam. Beliau bersabda:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلُ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَلَّا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
“Lihatlah orang yang berada di bawah kalian, dan janganlah kalian melihat orang yang berada di atas kalian. Yang demikian itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian.” (HR. al-Tirmidzi, dengan sanad yang shahih).
Hadis ini bukan mengajarkan kita untuk merendahkan orang yang lebih miskin, lebih lemah, atau lebih menderita. Bukan itu maksudnya. Rasulullah ﷺ sedang mengajarkan cara menjaga hati agar tidak terus-menerus merasa kekurangan.
Kalau kita terus melihat ke atas dalam urusan dunia, keinginan kita tidak akan pernah selesai. Selalu ada rumah yang lebih besar, kendaraan yang lebih bagus, pekerjaan yang lebih tinggi, penghasilan yang lebih banyak, dan kehidupan yang tampak lebih sempurna. Tetapi ketika pandangan kita diarahkan untuk mengingat mereka yang keadaannya lebih sulit, kita mulai menyadari bahwa selama ini Allah telah memberi kita begitu banyak.
Bukan untuk mengatakan bahwa kesusahan kita tidak penting. Bukan pula untuk menyuruh orang yang sedang mengalami masalah agar berhenti menangis. Tidak. Kesedihan tetap kesedihan. Kehilangan tetap kehilangan. Ujian tetap ujian.
Tetapi ada kalanya hati kita perlu diajak keluar sebentar dari lingkaran masalah kita sendiri.
Kita sedang mengeluhkan rumah yang sempit, sementara ada saudara kita yang rumahnya telah runtuh.
Kita sedang mengeluhkan makanan yang tidak sesuai selera, sementara ada saudara kita yang sedang menunggu bantuan makanan.
Kita sedang mengeluhkan panasnya cuaca, sementara ada saudara kita yang harus menghadapi kepungan asap akibat karhutla.
Kita sedang mengeluhkan antrian BBM, sementara ada orang yang sedang mencari kabar keluarganya di daerah bencana.
Kita sedang kesal karena tidur terganggu beberapa jam, sementara ada keluarga yang sudah berhari-hari tidak mendapatkan tidur yang tenang karena harus berada di pengungsian.
Ketika kita melihat semua itu, bukan berarti masalah kita tiba-tiba hilang. Tetapi ukuran pandangan kita berubah.
Dan perubahan pandangan itulah yang sering kali melahirkan syukur.
Allah Ta’ala berfirman:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepada kalian. Tetapi jika kalian mengingkari nikmat, sungguh azab-Ku sangat berat.” (Ibrahim: 7).
Syukur bukan sekadar mengucapkan “alhamdulillah”.
Lisan mengatakan alhamdulillah, tetapi hati terus mengeluh. Lisan mengatakan alhamdulillah, tetapi mata tidak pernah puas melihat milik orang lain. Lisan mengatakan alhamdulillah, tetapi nikmat Allah justru digunakan untuk bermaksiat. Maka kita perlu bertanya kepada diri sendiri: seperti apa sebenarnya syukur kita?.
Ketika Allah memberikan kesehatan, apakah kesehatan itu kita gunakan untuk taat?
Ketika Allah memberikan harta, apakah harta itu kita gunakan untuk membantu orang lain?
Ketika Allah memberikan ilmu, apakah ilmu itu membuat kita semakin rendah hati?
Ketika Allah memberikan keluarga, apakah keluarga itu kita jaga?
Ketika Allah memberikan waktu luang, apakah waktu itu kita isi dengan sesuatu yang bermanfaat?
Allah menyebutkan:
اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
“Beramallah wahai keluarga Dawud sebagai bentuk syukur. Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (Saba’: 13).
Maka syukur bukan hanya perasaan di dalam dada. Syukur harus terlihat dalam kehidupan.
Kalau kita bersyukur karena memiliki rezeki, jangan sampai rezeki itu hanya habis untuk memenuhi keinginan diri sendiri sementara tetangga kita kesulitan.
Kalau kita bersyukur karena diberikan kesehatan, jangan sampai tubuh yang sehat itu justru dipakai berjalan menuju maksiat dan menjauh dari ketaatan.
Dan kalau hari ini Allah masih memberikan kepada kita keamanan, kesehatan, makanan, keluarga, dan kesempatan untuk datang ke masjid, maka jangan anggap semuanya sebagai sesuatu yang biasa.
Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا
“Barang siapa di antara kalian memasuki pagi dalam keadaan aman di tempat tinggalnya, sehat tubuhnya, dan memiliki makanan untuk hari itu, seakan-akan dunia telah dikumpulkan untuknya.” (HR. al-Tirmidzi).
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Hadits ini mengajak kita bahwa hari ini, sebelum mengeluhkan apa yang belum kita punya, lihatlah terlebih dahulu apa yang sudah Allah berikan.
Bangun dalam keadaan sehat. Ada tempat tinggal.
Ada makanan. Ada keluarga.
Ada pekerjaan. Ada kesempatan untuk beribadah.
Bukankah itu semua nikmat?
Dan kalau kita mempunyai kelebihan, jangan berhenti pada rasa syukur. Ingatlah saudara-saudara kita yang sedang mengalami kesulitan.
Mungkin kita tidak bisa datang ke Flores. Mungkin kita tidak bisa turun langsung ke daerah karhutla. Tetapi kita masih bisa berdoa. Kita masih bisa membantu melalui lembaga yang amanah. Kita masih bisa menyisihkan sebagian rezeki. Kita masih bisa memberikan perhatian kepada tetangga yang kesusahan. Kita masih bisa berhenti mengeluh tentang hal-hal kecil dan mulai menggunakan nikmat Allah untuk sesuatu yang lebih berarti.
Sebab salah satu tanda syukur adalah ketika nikmat yang Allah titipkan kepada kita menjadi jalan datangnya kebaikan kepada orang lain.
Dan mungkin, ketika nanti kita berdiri di hadapan Allah, pertanyaan terbesar bukanlah mengapa kita tidak memiliki semua yang kita inginkan, tetapi bagaimana kita menggunakan semua yang telah Allah berikan.
Allah berfirman:
ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
“Kemudian pada hari itu kalian benar-benar akan ditanya tentang kenikmatan.”
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang pandai mengenali nikmat, pandai mensyukurinya, dan pandai menggunakan nikmat itu untuk ketaatan.
بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Kembali saya berwasiat kepada diri sendiri dan kepada seluruh jamaah agar bertakwa kepada Allah. Sesungguhnya dunia yang sedang kita tempati ini mempunyai batas. Kehidupan manusia mempunyai batas. Kekuatan mempunyai batas. Kenikmatan mempunyai batas. Bahkan bumi dan langit yang menjadi tempat berlangsungnya kehidupan ini pun berada di bawah ketetapan Allah dan akan sampai pada akhir yang telah ditentukan-Nya.
Kita menutup khutbah ini dengan satu pertanyaan yang sederhana, tetapi mudah-mudahan terus hidup di dalam hati kita: sudahkah kita menyadari bahwa ternyata banyak orang yang keadaannya lebih sulit daripada kita?
Ketika melihat orang yang kehilangan rumah, kita bersyukur karena masih memiliki tempat berteduh dan sekaligus tergerak untuk membantu.
Ketika melihat orang yang sakit, kita bersyukur atas kesehatan dan menggunakan kesehatan itu untuk ketaatan.
Ketika melihat orang yang kekurangan makanan, kita bersyukur atas rezeki dan membuka tangan untuk berbagi.
Semoga musibah yang menimpa saudara-saudara kita di Flores, Nusa Tenggara Timur, dan masyarakat yang terdampak karhutla di Kalimantan menjadi sebab tumbuhnya kepedulian di antara kaum muslimin.
Semoga Allah melindungi mereka, memberikan kesabaran kepada keluarga yang kehilangan, menyembuhkan mereka yang sakit, memudahkan evakuasi dan pemulihan, serta mengganti kehilangan mereka dengan sesuatu yang lebih baik.
Dan marilah kita berdoa:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.” (QS. Al-Ahzab: 56).
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا، وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dosa pasangan kami, anak-anak kami, keluarga kami, guru-guru kami, dan seluruh kaum Muslimin dan Muslimat, yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
Ya Allah, karuniakanlah kepada kami hati yang sejuk dengan iman, lisan yang basah dengan zikir, amal yang ikhlas, rezeki yang halal, dan kehidupan yang dipenuhi keberkahan.
Ya Allah, lindungilah kami dari api neraka dan segala ucapan, keyakinan, serta perbuatan yang mendekatkan kepadanya.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ.
Ya Allah, turunkanlah keberkahan-Mu kepada negeri kami. Jauhkanlah negeri kami dari kekeringan, kebakaran, banjir, gempa bumi, wabah penyakit, kerusuhan, perpecahan, dan seluruh keburukan yang tampak maupun yang tersembunyi.
Ya Allah, perbaikilah para pemimpin kami. Bimbinglah mereka agar memimpin dengan adil, amanah, takut kepada-Mu, menyayangi rakyat, melindungi kaum lemah, menjaga agama, serta memelihara keamanan dan kebaikan negeri.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَارْزُقْهُمُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ النَّاصِحَةَ.
Ya Allah, jagalah para ulama yang istiqamah di atas Al-Qur’an dan Sunnah. Karuniakan kepada mereka keikhlasan, ilmu yang bermanfaat, kesehatan, keberanian menyampaikan kebenaran, serta kelembutan dalam membimbing umat.
Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami yang tertindas di mana pun mereka berada. Berilah makan kepada yang kelaparan, pakaian kepada yang kekurangan, tempat tinggal kepada yang kehilangan rumah, obat kepada yang sakit, keamanan kepada yang ketakutan, dan kebebasan kepada yang dizalimi.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ



