mim.or.id – Kembali kami menyajikan sebuah Khutbah Jum’at terbaru dengan tema ‘Keberkahan dari Rumahmu’ (Edisi 138, 27 Rabiul Akhir 1448 H).
Untuk selengkapnya:

‘KEBERKAHAN DARI RUMAHMU’
KHUTBAH PERTAMA
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.
اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار
Jamaah Jum’at yang berbahagia,
Aku berwasiat kepada diriku dan kepada seluruh jamaah agar senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Takwa adalah bekal terbaik dalam perjalanan hidup seorang mukmin. Dengan takwa hati mendapatkan arah, langkah mendapatkan penjagaan, dan kehidupan memperoleh keberkahan.
Rumah adalah tempat kita kembali setelah menjalani kepenatan hidup. Di sanalah tubuh beristirahat, anak-anak bertumbuh, suami dan istri berbagi kehidupan, serta berbagai cerita tentang bahagia dan luka disimpan. Karena itulah manusia selalu berharap rumahnya menjadi tempat yang paling menenangkan. Kita ingin pulang dengan hati yang lapang, disambut oleh wajah-wajah yang kita cintai, dan merasakan bahwa di balik pintu rumah itu ada tempat untuk mengadu, memaafkan, beristirahat, dan menguatkan diri sebelum kembali menghadapi dunia.
Namun kenyataan tidak selalu demikian.
Ada rumah yang besar tetapi terasa sempit bagi hati. Ada keluarga yang tinggal di bawah satu atap tetapi hidup seperti orang-orang asing. Mereka bertemu setiap hari, makan di meja yang sama, bahkan mungkin duduk di ruangan yang sama, tetapi hati mereka berjauhan.
Ada suami yang pulang ke rumah hanya membawa kelelahan dan kemarahan, ada istri yang menyimpan luka bertahun-tahun tanpa pernah benar-benar didengar, dan ada anak-anak yang tumbuh di tengah rumah yang ramai tetapi merasa sendiri.
Di zaman kita, keadaan ini bahkan semakin mudah terjadi. Orang-orang duduk berdampingan, tetapi pandangan mereka tenggelam pada layar masing-masing. Tubuh berada dalam satu ruangan, tetapi pikiran dan hati berjalan ke arah yang berbeda-beda.
Karena itu, saudara-saudaraku, kita perlu merenungkan kembali apa arti rumah bagi seorang mukmin. Rumah bukan sekadar bangunan tempat berlindung dari panas dan hujan. Rumah seharusnya menjadi sakan, tempat jiwa menemukan ketenteraman. Rumah semestinya menjadi tempat seseorang merasa aman dari penghinaan, kekerasan lisan, dan permusuhan.
Di sanalah seorang suami berusaha menjadi pemimpin yang bertanggung jawab, seorang istri menjadi pendamping dalam kebaikan, anak-anak dibesarkan dalam kasih sayang dan tauhid, serta orang tua dimuliakan. Jika semua itu dibangun di atas ketakwaan, maka rumah yang sederhana sekalipun dapat terasa lebih lapang daripada istana yang dipenuhi pertengkaran.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menunjukkan salah satu rahasia keberkahan itu dalam firman-Nya:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan bagi mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’raf: 96).
Ayat ini mengajarkan bahwa keberkahan tidak dapat dipisahkan dari iman dan takwa. Karena itu, ketika seseorang menginginkan rumah yang penuh berkah, janganlah yang pertama kali dipikirkan hanya bagaimana menambah luas tanah, memperindah bangunan, atau menaikkan penghasilan.
Semua itu boleh diusahakan, tetapi ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar: bagaimana hubungan keluarga ini dengan Allah? Apakah shalat dijaga? Apakah rezeki dicari dari yang halal? Apakah dosa-dosa dibiarkan masuk tanpa rasa takut? Apakah suami dan istri masih saling mengingatkan kepada Allah? Apakah anak-anak melihat di rumah mereka contoh ketundukan kepada syariat, atau justru melihat bahwa agama hanya tampak ketika berada di masjid?
Keberkahan tidak selalu berarti memiliki harta berlimpah. Kadang-kadang keberkahan justru tampak ketika sesuatu yang sedikit terasa cukup, rezeki yang sederhana menghadirkan syukur, dan masalah yang datang membuat sebuah keluarga semakin dekat satu sama lain.
Ada rumah yang penghasilannya biasa-biasa saja, tetapi penghuninya mudah bersyukur, saling berbagi, dan tidak saling menuntut di luar kemampuan. Sebaliknya, ada keluarga yang hartanya berlimpah tetapi terus diliputi kecemasan, pertengkaran, dan perasaan tidak pernah cukup. Karena itu, ukuran keberkahan bukan sekadar banyak atau sedikitnya harta, tetapi sejauh mana nikmat itu mengantarkan kita kepada ketaatan dan ketenteraman.
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Di antara sebab besar hadirnya keberkahan di dalam rumah adalah menghidupkannya dengan Al-Qur’an. Allah berfirman:
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Ini adalah sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh berkah, agar mereka merenungkan ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” (QS. Shad: 29).
Al-Qur’an adalah kitab yang penuh berkah. Ketika ia dibaca, direnungkan, dan diamalkan, pengaruhnya tidak hanya menyentuh pembacanya, tetapi juga membentuk suasana sebuah rumah. Karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ، إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ
“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya Surah Al-Baqarah.” (HR. Muslim).
Hadits ini mengingatkan kita bahwa: rumah seorang mukmin jangan sampai menjadi tempat yang sunyi dari bacaan Al-Qur’an. Tidak berarti setiap anggota keluarga harus menjadi penghafal Al-Qur’an terlebih dahulu. Yang diminta adalah menghadirkan firman Allah dalam kehidupan kita. Seorang ayah dapat membaca beberapa ayat setelah shalat, seorang ibu membiasakan tilawah, dan anak-anak tumbuh dengan telinga yang akrab mendengar kalam Allah. Dari kebiasaan-kebiasaan kecil itulah sebuah rumah perlahan-lahan memiliki suasana yang berbeda.
Marilah kita perhatikan kehidupan kita hari ini…
Suara dari televisi, telepon genggam, video pendek, permainan, dan berbagai hiburan dapat memenuhi rumah berjam-jam setiap hari. Meski semua itu tidak serta-merta selalu haram, tetapi menjadi masalah ketika suara-suara tersebut jauh lebih dominan daripada suara Al-Qur’an. Sangat disayangkan apabila seorang anak mengenal banyak nama tokoh dari dunia hiburan, menghafal berbagai lagu, dan mengetahui banyak permainan, tetapi merasa asing ketika mendengar nama surah-surah dalam Al-Qur’an. Karena itu, teknologi jangan dijadikan musuh, tetapi jangan pula dibiarkan menjadi penguasa rumah. Kita yang harus mengendalikannya, bukan hati dan perhatian keluarga kita yang dikendalikan olehnya.
Di antara sunnah yang tampak sederhana tetapi memiliki pengaruh besar adalah membiasakan salam ketika memasuki rumah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً
“Maka apabila kalian memasuki rumah-rumah, hendaklah kalian memberi salam kepada diri kalian sendiri, sebagai penghormatan yang penuh berkah dan baik dari sisi Allah.” (QS. An-Nur: 61).
Perhatikan bagaimana Allah menyebut salam sebagai ucapan yang mubarakah thayyibah, penuh berkah dan kebaikan. Karena itu, seorang mukmin tidak memasuki rumahnya dengan bentakan sebagai ucapan pertama. Ia tidak pulang membawa kemarahan dari luar lalu menumpahkannya kepada orang-orang yang tidak bersalah.
Ia memasuki rumah dengan salam, membawa doa keselamatan, rahmat, dan keberkahan bagi keluarganya. Ucapan “Assalamu’alaikum” mungkin hanya berlangsung beberapa detik, tetapi bila dihayati, ia mengingatkan kita bahwa orang-orang yang berada di dalam rumah bukan sasaran emosi, melainkan orang-orang yang kita doakan keselamatannya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan agar kita mengingat Allah ketika masuk rumah dan ketika makan. Beliau bersabda:
إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ فَذَكَرَ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ وَعِنْدَ طَعَامِهِ، قَالَ الشَّيْطَانُ: لَا مَبِيتَ لَكُمْ وَلَا عَشَاءَ
“Apabila seseorang masuk ke rumahnya lalu menyebut nama Allah ketika masuk dan ketika makan, setan berkata: Tidak ada tempat bermalam dan tidak ada makan malam bagi kalian.” (HR. Muslim).
Dengan demikian, keberkahan rumah sering kali dibangun melalui amalan-amalan yang tampak kecil. Membaca basmalah, mengucapkan salam, berdoa sebelum makan, mengingat Allah ketika masuk, dan mengajarkan kebiasaan itu kepada anak-anak adalah bagian dari penjagaan rumah. Jika dilakukan terus-menerus, perkara sederhana itu akan menjadi budaya keluarga. Anak-anak akan tumbuh dengan kesadaran bahwa setiap aktivitas mereka terhubung dengan Allah.
Saudara-saudaraku yang dimuliakan Allah,
Rumah juga hendaknya dihidupkan dengan shalat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
فَصَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِي بُيُوتِكُمْ، فَإِنَّ أَفْضَلَ صَلَاةِ الْمَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلَّا الصَّلَاةَ الْمَكْتُوبَةَ
“Wahai manusia, shalatlah kalian di rumah-rumah kalian. Sesungguhnya sebaik-baik shalat seseorang adalah di rumahnya kecuali shalat wajib.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Bagi seorang laki-laki, shalat wajib berjamaah di masjid memiliki kedudukan dan tuntunan tersendiri. Akan tetapi shalat-shalat sunnah justru dianjurkan untuk dihidupkan di rumah.
Apa hikmahnya? Hikmahnya adalah agar rumah tidak hanya menjadi tempat makan, tidur, dan beristirahat, tetapi juga menjadi tempat sujud. Anak-anak melihat ayahnya mengerjakan rawatib, melihat ibunya menjaga shalat, dan menyaksikan bahwa hubungan dengan Allah adalah sesuatu yang nyata dalam kehidupan orang tua mereka.
Pendidikan seperti ini sangat kuat. Seorang anak mungkin lupa sebagian nasihat panjang yang pernah disampaikan kepadanya, tetapi ia dapat mengingat sepanjang hidup pemandangan ayahnya yang bangun untuk shalat malam atau ibunya yang duduk membaca Al-Qur’an setelah Subuh. Teladan yang terus dilihat sering kali masuk ke hati lebih dalam daripada perintah yang hanya diucapkan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا قَضَى أَحَدُكُمُ الصَّلَاةَ فِي مَسْجِدِهِ فَلْيَجْعَلْ لِبَيْتِهِ نَصِيبًا مِنْ صَلَاتِهِ، فَإِنَّ اللَّهَ جَاعِلٌ فِي بَيْتِهِ مِنْ صَلَاتِهِ خَيْرًا
“Apabila salah seorang dari kalian telah menunaikan shalat di masjidnya, hendaklah ia memberikan bagian shalat untuk rumahnya, karena sesungguhnya Allah menjadikan kebaikan di rumahnya dengan sebab shalat tersebut.” (HR. Muslim).
Kalimat Nabi ini patut kita renungkan:
Allah menjadikan kebaikan di rumah melalui shalat yang dilakukan di dalamnya. Maka ketika seseorang merasa rumahnya kehilangan ketenteraman, janganlah ia hanya mencari sebab-sebab lahiriah.
Tanyakan pula kepada diri sendiri: sudahkah rumah ini mendapatkan keberkahan dari shalat-shalat kita? Sudahkah Al-Qur’an dibaca dan menjadi cahaya di rumah kita? Sudahkah dzikir terdengar? Sudahkah ucapan salam menjadi kebiasaan? Ataukah rumah kita hanya semakin penuh dengan materi dan kesibukan, tetapi semakin menjauhi ibadah?
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Tidak ada rumah yang bebas dari ujian. Keberkahan sebuah rumah dan keluarga bukan berarti sebuah keluarga tidak pernah sakit, tidak pernah mengalami kesulitan keuangan, atau tidak pernah berbeda pendapat. Para nabi dan orang-orang saleh pun menghadapi ujian. Akan tetapi ada perbedaan besar antara rumah yang diuji dalam keadaan hati para penghuninya bersatu dan rumah yang penghuninya saling menjadikan satu sama lain sebagai musuh.
Dalam rumah yang diberkahi, ketika rezeki menyempit, keluarga belajar bersabar dan menguatkan satu sama lain. Ketika salah seorang sakit, yang lain melayani dengan kasih sayang. Ketika seorang anak melakukan kesalahan, ia dididik tanpa dihancurkan harga dirinya. Ketika suami dan istri berbeda pendapat, keduanya berusaha menyelesaikan persoalan tanpa saling mempermalukan.
Ujian yang sama dapat menghancurkan sebuah keluarga, tetapi juga dapat membuat keluarga lain semakin dekat kepada Allah dan semakin erat satu sama lain. Perbedaannya terletak pada iman, ilmu, kesabaran, dan akhlak ketika menghadapi ujian itu.
Marilah kita merenung sejenak…
Betapa menyedihkan apabila kita mampu berbicara lembut kepada atasan, rekan kerja, pelanggan, dan teman, tetapi ketika tiba di rumah kita justru mudah membentak. Kita menjaga sopan santun di hadapan orang lain, tetapi merasa bebas menyakiti orang-orang terdekat karena menganggap mereka pasti akan tetap bersama kita. Padahal keluarga adalah orang yang paling berhak mendapatkan akhlak baik kita. Jika seseorang ingin mengetahui kualitas akhlaknya, lihatlah bagaimana ia memperlakukan orang yang tinggal satu rumah dengannya ketika tidak ada orang lain yang melihat.
Semoga Allah menjadikan rumah-rumah kita rumah keimanan, rumah Al-Qur’an, rumah shalat, rumah dzikir, rumah kasih sayang, dan rumah yang dipenuhi keberkahan.
بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Saya kembali berwasiat kepada diriku dan kepada seluruh jamaah agar bertakwa kepada Allah. Ketahuilah bahwa sebuah rumah tidak disebut hidup hanya karena di dalamnya terdapat banyak aktivitas. Dalam pandangan syariat, kehidupan sebuah rumah berkaitan erat dengan hadirnya dzikir kepada Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَثَلُ الْبَيْتِ الَّذِي يُذْكَرُ اللَّهُ فِيهِ، وَالْبَيْتِ الَّذِي لَا يُذْكَرُ اللَّهُ فِيهِ، مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ
“Perumpamaan rumah yang di dalamnya disebut nama Allah dan rumah yang di dalamnya tidak disebut nama Allah adalah seperti orang hidup dan orang mati.” (HR. Muslim).
Karena itu, hidupkanlah rumah kita dengan shalat, Al-Qur’an, doa, salam, dan dzikir. Tetapi jangan berhenti di sana.
Keberkahan juga tumbuh melalui cara para penghuni rumah berbicara satu sama lain. Betapa banyak persoalan keluarga yang sebenarnya bermula bukan dari masalah besar, melainkan dari lisan yang tidak dijaga. Sebuah kalimat sinis yang terus diulang dapat meninggalkan luka. Ejekan kepada pasangan, bentakan kepada anak, membuka kesalahan lama, membandingkan seseorang dengan orang lain, atau merendahkan kemampuan anggota keluarga dapat perlahan-lahan merusak kedekatan hati.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا
“Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sesungguhnya setan menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (QS. Al-Isra’: 53).
Ayat ini mengingatkan bahwa setan berusaha masuk melalui celah-celah hubungan antar manusia. Ketika perkataan buruk terlontar, kemarahan dibalas dengan kemarahan, dan tidak ada seorang pun yang mau mengalah, perselisihan kecil dapat tumbuh menjadi permusuhan. Karena itu Islam mengajarkan kita bukan sekadar berbicara yang baik, tetapi berbicara dengan cara yang paling baik. Nasihat boleh tegas, tetapi tidak menghina. Teguran boleh diberikan, tetapi tidak merendahkan. Perbedaan pendapat boleh terjadi, tetapi kehormatan orang yang kita cintai tetap harus dijaga.
Sebaliknya, ucapan yang baik dapat menjadi sebab pulihnya hati. Kadang-kadang sebuah rumah menjadi lebih hangat bukan karena ada perubahan besar, tetapi karena seseorang mulai berani mengatakan, “Saya salah, maafkan saya,” atau, “Terima kasih atas apa yang sudah engkau lakukan.” Seorang anak yang sering mendengar doa dari orang tuanya akan tumbuh berbeda dengan anak yang hanya mendengar kritik. Seorang pasangan yang merasa dihargai akan lebih mudah membuka hati daripada pasangan yang setiap hari hanya mendengar kekurangannya disebutkan.
Karena itu, jangan menunggu seluruh anggota keluarga berubah terlebih dahulu. Mulailah dari diri sendiri. Keberkahan sering kali dimulai dari satu orang yang bersedia memperbaiki dirinya karena Allah.
Dan marilah kita tutup khutbah ini dengan berdoa hanya kepada Allah Azza wa Jalla:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.” (QS. Al-Ahzab: 56).
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا، وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dosa pasangan kami, anak-anak kami, keluarga kami, guru-guru kami, dan seluruh kaum Muslimin dan Muslimat, yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
Ya Allah, karuniakanlah kepada kami hati yang sejuk dengan iman, lisan yang basah dengan zikir, amal yang ikhlas, rezeki yang halal, dan kehidupan yang dipenuhi keberkahan.
Ya Allah, lindungilah kami dari api neraka dan segala ucapan, keyakinan, serta perbuatan yang mendekatkan kepadanya.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ.
Ya Allah, turunkanlah keberkahan-Mu kepada negeri kami. Jauhkanlah negeri kami dari kekeringan, kebakaran, banjir, gempa bumi, wabah penyakit, kerusuhan, perpecahan, dan seluruh keburukan yang tampak maupun yang tersembunyi.
Ya Allah, perbaikilah para pemimpin kami. Bimbinglah mereka agar memimpin dengan adil, amanah, takut kepada-Mu, menyayangi rakyat, melindungi kaum lemah, menjaga agama, serta memelihara keamanan dan kebaikan negeri.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَارْزُقْهُمُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ النَّاصِحَةَ.
Ya Allah, jagalah para ulama yang istiqamah di atas Al-Qur’an dan Sunnah. Karuniakan kepada mereka keikhlasan, ilmu yang bermanfaat, kesehatan, keberanian menyampaikan kebenaran, serta kelembutan dalam membimbing umat.
Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami yang tertindas di mana pun mereka berada. Berilah makan kepada yang kelaparan, pakaian kepada yang kekurangan, tempat tinggal kepada yang kehilangan rumah, obat kepada yang sakit, keamanan kepada yang ketakutan, dan kebebasan kepada yang dizalimi.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ



