mim.or.id – Kembali kami menyajikan Khutbah Jum’at dengan tema ‘Mencintai Sahabat Nabi Itu Iman!’ (Edisi 116, 20 Dzulqa’dah 1447 H).
Untuk selengkapnya:

‘MENCINTAI SAHABAT NABI ITU IMAN!’
KHUTBAH PERTAMA
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.
اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benar takwa. Ketakwaan yang tidak berhenti pada lisan, tetapi meresap ke dalam hati, memengaruhi cara kita berpikir, dan membimbing setiap langkah kehidupan kita.
Karena ketakwaan itulah yang akan menjadi satu-satunya bekal pulang kita menuju perjalanan panjang dan abadi kita di Akhirat nanti. Allah Ta’ala mengingatkan:
وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ ۚ وَٱتَّقُونِ يَٰٓأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ
“Dan berbekallah kalian, karena sungguh sebaik-baik bekal adalah takwa, dan bertakwalah kalian kepada-Ku, wahai orang-orang yang berakal.” (Surah al-Baqarah: 187).
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Di antara pokok iman yang wajib dijaga oleh setiap muslim adalah mencintai Rasulullah ﷺ, mencintai keluarga beliau, dan mencintai para sahabat beliau. Cinta ini bukan sekadar perasaan, bukan pula slogan yang diucapkan di lisan, tetapi bagian dari aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Kita mencintai mereka karena Allah mencintai mereka, karena Rasulullah ﷺ memuliakan mereka, dan karena melalui merekalah agama ini sampai kepada kita.
Mereka adalah generasi yang menyaksikan turunnya wahyu. Mereka mendengar Al-Qur’an dibacakan langsung oleh Rasulullah ﷺ. Mereka belajar shalat, zakat, puasa, haji, adab, jihad, sabar, dan ikhlas dari lisan dan akhlak Nabi ﷺ. Mereka menanggung lapar, hijrah, luka, kehilangan keluarga, tekanan kaum musyrikin, dan berbagai ujian besar demi menolong agama Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda, sebagaimana terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Abdullah bin Mas‘ud رضي الله عنه:
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian yang setelah mereka, kemudian yang setelah mereka.”.
Hadits ini menunjukkan kemuliaan generasi sahabat, kemudian tabi’in, kemudian tabi’ut tabi’in. Mereka adalah generasi terbaik umat ini. Maka seorang muslim tidak layak memandang mereka dengan kecurigaan, kebencian, atau lisan yang lancang.
Bila kita menghormati guru yang mengajarkan satu ilmu kepada kita, maka bagaimana mungkin kita tidak menghormati para sahabat yang menjadi perantara sampainya Al-Qur’an dan Sunnah kepada umat?
Allah جل وعلا telah memuji mereka dalam kitab-Nya. Allah berfirman:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.” (QS. At-Taubah: 100).
Perhatikanlah, saudara-saudaraku. Allah tidak hanya menyebut nama mereka sebagai generasi terdahulu, tetapi Allah menyatakan ridha kepada mereka. Jika Allah telah ridha kepada mereka, maka hati seorang mukmin akan tunduk. Ia tidak akan menjadikan dirinya sebagai hakim yang lancang terhadap orang-orang yang telah dipuji oleh Rabb semesta alam.
Allah juga berfirman:
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ
“Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama beliau bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Engkau melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud.” (QS. Al-Fath: 29).
Ayat ini menggambarkan keseimbangan yang agung. Para sahabat tegas dalam membela kebenaran, tetapi penuh kasih sayang di antara sesama kaum beriman. Mereka bukan manusia tanpa dosa, karena yang ma‘shum hanyalah para nabi dalam penyampaian risalah. Namun mereka adalah manusia-manusia pilihan yang Allah muliakan, Allah puji, dan Allah jadikan sebagai pembawa agama ini.
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Di antara bentuk adab kita kepada para sahabat adalah menahan lisan dari mencela mereka. Lisan yang terbiasa merendahkan sahabat adalah lisan yang berbahaya. Ia bukan hanya menyakiti manusia biasa, tetapi menyakiti orang-orang yang telah menolong Rasulullah ﷺ.
Nabi ﷺ bersabda:
لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا، مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ
“Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud, niscaya tidak akan menyamai satu mud infak salah seorang dari mereka, bahkan tidak pula setengahnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Hadits ini terlalu jelas untuk diingkari. Larangan Rasulullah mencela dan menghina para sahabatnya sangat tegas. Amal besar orang setelah mereka tidak dapat menyamai keutamaan kecil mereka, karena mereka memiliki keutamaan zaman, keutamaan iman ketika manusia mendustakan, keutamaan menolong Nabi ﷺ ketika banyak orang memusuhi, dan keutamaan berkorban ketika Islam masih lemah.
Dalam riwayat lain disebutkan:
اللَّهَ اللَّهَ فِي أَصْحَابِي، لَا تَتَّخِذُوهُمْ غَرَضًا مِنْ بَعْدِي
“Bertakwalah kepada Allah, bertakwalah kepada Allah dalam urusan sahabat-sahabatku. Janganlah kalian menjadikan mereka sasaran celaan setelahku.”
Ini adalah peringatan keras dari Rasulullah ﷺ berpesan kepada umatnya: jangan jadikan para sahabatku sebagai sasaran permusuhan, bahan caci maki, bahan debat kusir, atau bahan kebencian.
Marilah kita merenung sejenak…
Di zaman kita, lisan tidak hanya berada di mulut. Lisan kini berpindah ke jari-jari. Orang mencela melalui komentar, status, video pendek, potongan ceramah, dan tulisan yang tersebar cepat.
Ada manusia yang mungkin tidak pernah membaca satu kitab aqidah dengan benar, tetapi berani mencela sahabat Nabi ﷺ.
Ada yang belum memahami sejarah dengan adil dan objektif, tetapi mudah menyebarkan tuduhan. Ada yang hatinya lebih cepat panas karena potongan narasi daripada tunduk kepada ayat dan hadits.
Ada yang karena over-dosis mencintai Ahlul Bait, lalu mengkafirkan para Sahabat. Padahal sejarah yang objektif menunjukkan bahwa para Sahabat dan Ahlul Bait itu saling mencintai dan menghormati.
Padahal keselamatan agama bukan dengan banyak komentar, tetapi dengan ilmu, adab, dan takwa. Tidak semua yang kita dengar harus kita sebar. Tidak semua yang membuat emosi harus kita ikuti. Seorang mukmin bertanya kepada dirinya: apakah ucapan ini membuat Allah ridha? Apakah tulisan ini akan aku pertanggungjawabkan di hadapan Allah? Apakah lisanku telah menyakiti orang-orang yang dicintai Rasulullah ﷺ?
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Ahlus Sunnah mencintai seluruh sahabat Nabi ﷺ. Kita mencintai Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin al-Khaththab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib رضي الله عنهم. Mereka adalah khulafaur rasyidin yang mendapat petunjuk.
Kita mencintai sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira dengan surga. Kita mencintai ahli Badar, peserta Bai‘atur Ridwan, kaum Muhajirin dan Anshar.
Kita mencintai keluarga Nabi ﷺ: istri-istri beliau, putri beliau Fathimah رضي الله عنها, Hasan dan Husain رضي الله عنهما, serta keluarga beliau yang beriman dan mengikuti petunjuk.
Kecintaan kepada sahabat tidak boleh dijadikan alasan untuk merendahkan keluarga Nabi. Dan kecintaan kepada keluarga Nabi tidak boleh dijadikan alasan untuk mencela sahabat Nabi. Inilah jalan pertengahan Ahlus Sunnah: mencintai semuanya sesuai kedudukan mereka, mendoakan kebaikan untuk semuanya, dan menahan diri dari perkara-perkara perselisihan yang terjadi di antara mereka.
Allah berfirman tentang istri-istri Nabi ﷺ:
النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ
“Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin daripada diri mereka sendiri, dan istri-istri beliau adalah ibu-ibu mereka.” (QS. Al-Ahzab: 6).
Maka para istri Nabi ﷺ adalah ummahatul mukminin, ibu-ibu kaum beriman. Seorang anak yang beradab tidak akan mencela ibunya. Maka bagaimana dengan ibu-ibu kaum mukminin yang telah Allah muliakan dalam Al-Qur’an?
Khusus tentang Aisyah رضي الله عنها, kaum muslimin wajib meyakini kesucian beliau dari tuduhan keji yang telah Allah bersihkan dalam Al-Qur’an. Para ulama menjelaskan bahwa menuduh beliau dengan tuduhan yang telah Allah bebaskan darinya adalah perkara yang sangat berbahaya dalam agama.
Saudara-saudaraku,
Bukan berarti kita mengatakan para sahabat tidak pernah berbeda pendapat. Sejarah mencatat adanya perkara-perkara yang terjadi di antara mereka. Tetapi jalan yang selamat adalah menahan lisan dari mencela, mendoakan rahmat untuk mereka, dan meyakini bahwa mereka berijtihad. Yang benar mendapat pahala, dan yang keliru tetap memiliki keutamaan iman, hijrah, jihad, ilmu, dan kedekatan dengan Rasulullah ﷺ.
Sikap kita bukan membongkar luka sejarah untuk menyalakan kebencian, tetapi mengambil pelajaran agar hati kita semakin takut kepada Allah. Bila generasi mulia saja diuji, maka kita lebih layak takut terhadap fitnah. Bila mereka yang hidup bersama Nabi ﷺ tetap membutuhkan rahmat Allah, maka bagaimana dengan kita yang penuh lalai, dosa, dan kelemahan?.
Marilah kita jaga hati. Jangan biarkan kebencian kepada orang saleh masuk ke dalam dada kita. Jangan biarkan algoritma media sosial mengajari aqidah kita. Jangan biarkan potongan-potongan provokatif menggantikan majelis ilmu yang tenang.
Cinta kepada sahabat dan keluarga Nabi harus melahirkan akhlak: lisan yang bersih, hati yang lapang, doa yang tulus, dan semangat mengikuti Sunnah.
بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Ringkasan nasihat pada hari ini adalah: muliakanlah orang-orang yang dimuliakan Allah. Cintailah sahabat Nabi ﷺ dan keluarga beliau. Jangan jadikan sejarah sebagai bahan kebencian. Jangan jadikan lisan sebagai alat untuk mencela orang-orang yang telah Allah puji. Sibukkan diri kita dengan memperbaiki iman, shalat, keluarga, akhlak, dan amal.
Rasulullah ﷺ bersabda tentang kaum Anshar:
آيَةُ الْإِيمَانِ حُبُّ الْأَنْصَارِ، وَآيَةُ النِّفَاقِ بُغْضُ الْأَنْصَارِ
“Tanda iman adalah mencintai Anshar, dan tanda kemunafikan adalah membenci Anshar.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Jika mencintai Anshar adalah tanda iman, maka cinta kepada para sahabat secara umum adalah bagian dari keselamatan hati. Semoga Allah menjadikan hati kita hati yang bersih, yang mencintai orang-orang beriman terdahulu, sebagaimana doa orang-orang beriman dalam Al-Qur’an:
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman daripada kami. Janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr: 10).
Inilah doa yang sangat indah. Ia mengajarkan kita agar tidak membawa dendam dalam hati. Ia mengajarkan kita agar tidak merasa suci di hadapan generasi terdahulu. Ia mengajarkan kita agar memohon ampun untuk diri sendiri dan kaum beriman sebelum kita.
Ya Allah, tanamkan di hati kami cinta kepada Nabi-Mu ﷺ, cinta kepada keluarga beliau, cinta kepada para sahabat beliau, dan cinta kepada orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari kiamat.
Ya Allah, bersihkan lisan kami dari dusta, ghibah, fitnah, celaan, dan ucapan yang menyakiti para Sahabat Nabi-Mu.
Ya Allah, jadikan kami hamba-hamba yang menjaga adab dalam ilmu, lembut dalam nasihat, kokoh dalam aqidah, dan ikhlas dalam amal.
Ya Allah, muliakan Islam dan kaum muslimin. Bimbinglah para pemimpin kaum muslimin kepada keadilan, kebenaran, dan kasih sayang kepada rakyatnya. Jagalah negeri kami dari fitnah yang tampak maupun tersembunyi.
Ya Allah, rahmatilah para ulama kami, para dai yang menyeru kepada tauhid dan Sunnah, dan seluruh penuntut ilmu yang jujur mencari ridha-Mu.
Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami kaum muslimin yang tertindas di mana pun mereka berada. Angkatlah kesulitan mereka, sembuhkan yang sakit, beri makan yang lapar, lindungi anak-anak dan wanita mereka, serta turunkan pertolongan-Mu kepada mereka.
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ . وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،يَا سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ
اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ غَزَّةَ، اَللَّهُمَّ احْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ، وَارْزُقْهِمْ مِنْ حَلاَلِكَ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى الْيَهُوْدِ الْغَاصِبِيْنَ وَمَنْ عَاوَنَهُمْ فِيْ عُدْوَانِهِمْ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أ نْتَ الْوَهَّابُ
رَبَّنَا تَقَبَّل مِنَّا وَقِيَامَنَا وَسَائِرَ أَعمَالِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا
رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ لْمُسلِمِين وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ وَأَعدَاءَكَ يَا عَزِيزٌ يَا قَهَّارٌ يَا رَبَّ العَالَمِينَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ



