mim.or.id – Kembali kami menyajikan sebuah Khutbah Jum’at dengan tema ‘Perbaiki Shalatmu’ (Edisi 132, 15 Rabiul Awal 1448 H).
Naskah selengkapnya:

‘PERBAIKI SHALATMU‘
KHUTBAH PERTAMA
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.
اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Saya berwasiat kepada diri saya pribadi dan kepada seluruh jamaah agar senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa. Ketakwaan yang bukan hanya terdengar indah dalam nasihat, tetapi tampak nyata dalam kehidupan; dalam cara kita mencari rezeki, memperlakukan keluarga, menjaga lisan, menundukkan pandangan, memenuhi amanah, serta terutama dalam cara kita menjaga hubungan dengan Allah melalui shalat.
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Kehidupan di dunia tidak selalu berjalan seperti yang kita rencanakan.
Ada orang yang pada pagi hari masih tersenyum bersama keluarganya, lalu sore hari menerima kabar yang membuat dadanya sesak. Ada yang setiap malam memikirkan rezeki untuk keluarganya. Ada yang sedang menghadapi persoalan rumah tangga yang tidak kunjung selesai. Ada orang tua yang sulit tidur karena memikirkan masa depan anak-anaknya.
Ada pula yang badannya tampak sehat, tetapi jiwanya lelah; wajahnya terlihat tenang di hadapan manusia, sementara hatinya menyimpan kecemasan yang hanya diketahui oleh Allah.
Allah telah menjelaskan hakikat kehidupan manusia dalam firman-Nya:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. Al-Balad: 4).
Allah juga berfirman:
يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَى رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ
“Wahai manusia, sesungguhnya engkau telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka engkau akan menemui-Nya.” (QS. Al-Insyiqaq: 6).
Ayat-ayat ini mengingatkan kita bahwa dunia memang bukan tempat istirahat yang sempurna. Selama kita masih hidup, akan selalu ada tugas yang harus diselesaikan, amanah yang harus dipikul, kehilangan yang harus diterima, dan ujian yang harus dihadapi.
Maka pertanyaan penting bagi seorang mukmin bukanlah bagaimana supaya kehidupan sama sekali bebas dari masalah, sebab hal itu tidak mungkin terjadi, tetapi ke mana kita kembali ketika masalah datang, dari mana kita mendapatkan kekuatan ketika diri kita lemah, dan kepada siapa kita mengadukan kegelisahan ketika manusia tidak mampu memahami keadaan kita.
Jawabannya adalah kembali kepada Allah.
Salah satu pintu terbesar untuk memperbaiki hubungan seorang hamba dengan Allah ialah memperbaiki shalatnya. Allah Ta’ala berfirman:
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ
“Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat.” (QS. Al-Baqarah: 45).
Perhatikanlah, jamaah sekalian.
Allah tidak menjanjikan bahwa orang yang shalat tidak akan diuji. Para nabi adalah manusia yang paling baik ibadahnya, tetapi justru mereka pula yang menghadapi ujian paling berat. Akan tetapi, shalat menjadikan seorang mukmin memiliki tempat kembali.
Ketika dunia terasa sempit, ia masih memiliki tempat untuk bersujud. Ketika manusia tidak memahami air matanya, ia masih dapat bermunajat kepada Rabb-nya. Ketika berbagai pintu seakan tertutup, ia mengetahui bahwa pintu Allah tidak pernah tertutup bagi hamba yang kembali kepada-Nya dengan penuh ketundukan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الصَّلَاةُ نُورٌ
“Shalat adalah cahaya.”
Shalat adalah cahaya bagi hati, cahaya dalam menentukan pilihan, cahaya ketika menghadapi fitnah, serta cahaya yang mengingatkan manusia ketika hawa nafsu menariknya kepada keburukan. Karena itulah Allah Ta’ala berfirman:
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
“Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45).
Marilah kita merenung sejenak…
Sebagian dari kita mungkin telah mengerjakan shalat selama puluhan tahun. Sejak kecil kita telah belajar berdiri, rukuk, sujud, membaca Al-Fatihah, dan mengucapkan salam.
Namun ada pertanyaan yang lebih dalam daripada sekadar, “Apakah saya sudah shalat?” Pertanyaan itu adalah, “Apa yang telah dilakukan shalat terhadap diri saya?” Apakah shalat membuat lisan kita semakin terjaga? Apakah shalat membuat pandangan kita semakin takut kepada Allah?
Apakah shalat menjadikan kita semakin jujur dalam bekerja, semakin lembut kepada keluarga, semakin hati-hati terhadap hak manusia, dan semakin malu melakukan maksiat ketika tidak ada seorang pun yang melihat?
Setiap hari kita berkali-kali mengucapkan الله أكبر, Allah Mahabesar.
Namun kita perlu bertanya kepada diri sendiri, apakah setelah mengucapkan kalimat itu Allah benar-benar menjadi lebih besar dalam hati kita daripada pekerjaan, uang, jabatan, pujian manusia, dan seluruh urusan dunia? Jangan sampai lisan kita mengatakan Allah Mahabesar, tetapi ketika panggilan shalat datang, pekerjaan terasa lebih besar, perdagangan terasa lebih penting, telepon terasa lebih mendesak, dan urusan dunia selalu mendapatkan prioritas pertama.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah…
Boleh jadi problem kita bukan karena kita sama sekali tidak shalat, tetapi karena kita belum sungguh-sungguh mendirikan shalat. Tubuh kita telah menghadap kiblat, namun hati masih berjalan ke mana-mana. Lisan kita membaca Al-Fatihah, tetapi pikiran sedang berada di kantor. Tubuh kita sedang sujud, sementara hati memikirkan pesan yang masuk di telepon genggam. Baru beberapa detik takbiratul ihram diucapkan, urusan dunia yang tadi ditinggalkan kembali memenuhi pikiran.
Inilah salah satu ujian manusia pada zaman kita…
Perhatian kita terpecah oleh begitu banyak hal. Pesan, notifikasi, pekerjaan, berita, video, percakapan, dan berbagai kesibukan saling berebut tempat di dalam hati. Ketika waktu shalat tiba, tidak jarang semua kesibukan itu kita bawa ke hadapan Allah. Karena itulah shalat harus diperjuangkan dan dijaga, bukan hanya dikerjakan.
Allah Ta’ala berfirman:
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ
“Peliharalah seluruh shalat dan shalat wustha, dan berdirilah karena Allah dengan khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 238).
Allah menggunakan kata حَافِظُوا, “jagalah”. Ini menunjukkan bahwa shalat membutuhkan penjagaan. Waktunya harus dijaga, wudhunya harus dijaga, rukun dan kewajibannya harus dijaga, kekhusyukannya perlu diperjuangkan, dan bagi laki-laki yang mampu serta tidak memiliki uzur, shalat berjamaah di masjid harus mendapatkan perhatian yang besar.
Jangan sampai perkara dunia selalu mendapatkan persiapan terbaik, sementara shalat hanya menerima sisa waktu dan sisa perhatian kita.
Allah memuji hamba-hamba-Nya dengan firman-Nya:
رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ
“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah dan mendirikan shalat.” (QS. An-Nur: 37).
Mereka bukanlah orang-orang yang meninggalkan dunia. Mereka tetap bekerja, berdagang, mencari nafkah, mengurus keluarga, dan menjalankan tanggung jawab. Akan tetapi, dunia berada di tangan mereka dan tidak menguasai hati mereka. Ketika panggilan Allah datang, mereka mengetahui bahwa ada panggilan yang jauh lebih tinggi daripada seluruh urusan manusia.
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Shalat juga menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa kecil seorang mukmin. Rasulullah ﷺ memberikan perumpamaan tentang seseorang yang memiliki sungai mengalir di depan rumahnya, lalu ia mandi di dalamnya lima kali sehari. Apakah masih tersisa kotoran pada tubuhnya?
Para sahabat menjawab bahwa tidak akan tersisa sedikit pun kotoran. Rasulullah ﷺ kemudian menjelaskan bahwa demikianlah perumpamaan shalat lima waktu; dengannya Allah menghapus kesalahan-kesalahan.
Renungkanlah kasih sayang Allah kepada kita…
Kita melakukan kesalahan, lalu Allah memanggil kita kembali pada Subuh. Beberapa jam kemudian, Allah kembali memanggil kita pada Zuhur. Kemudian Asar, Magrib, dan Isya.
Seakan-akan Allah tidak membiarkan hati seorang mukmin terlalu lama tenggelam dalam dunia. Lima kali dalam sehari ia dipanggil untuk kembali membersihkan hati, memperbarui penghambaan, meminta ampun, dan menyadari bahwa hidup ini pada akhirnya akan kembali kepada Allah.
Namun terkadang justru kitalah yang memperlakukan panggilan itu sebagai gangguan. Pekerjaan dianggap penting, sedangkan shalat merasa boleh ditunda. Rapat dianggap mendesak, sedangkan azan dibiarkan berlalu. Telepon segera diangkat, tetapi panggilan menuju masjid tidak segera disambut.
Maka pada hari Jumat ini, marilah kita membawa sebuah pertanyaan yang jujur ke dalam hati: bagaimana kedudukan shalat di dalam kehidupan kita?
Jangan terlebih dahulu menilai shalat orang lain. Jangan sibuk memeriksa anak, istri, suami, tetangga, atau orang lain. Periksalah shalat diri sendiri.
Apakah kita termasuk orang yang menunggu waktu shalat atau justru shalat yang selalu menunggu kita?
Apakah kita mendatangi shalat dengan kerinduan atau sekadar menunaikannya agar kewajiban segera selesai?
Apakah kita menemukan ketenteraman ketika sujud atau justru selalu ingin cepat sampai kepada salam?
Saudara-saudaraku,
Jika hidup terasa semakin jauh dari ketenangan, jangan hanya melihat keadaan di luar diri kita. Periksalah pula hubungan kita dengan Allah. Periksalah shalat kita.
Boleh jadi masalah dunia tidak langsung hilang setelah kita memperbaiki shalat, tetapi dengan shalat yang baik, insya Allah kita akan menjadi manusia yang lebih kuat menghadapi masalah, lebih sabar ketika diuji, lebih jernih mengambil keputusan, lebih tawakal terhadap ketentuan Allah, lebih takut kepada dosa, serta lebih dekat kepada pertolongan-Nya.
Karena itu, ketika kita memulai shalat dengan mengucapkan الله أكبر, hendaknya kalimat itu tidak hanya keluar dari lisan. Latihlah hati untuk memahami bahwa Allah benar-benar lebih besar daripada seluruh urusan kita. Allah lebih besar daripada pekerjaan yang belum selesai. Allah lebih besar daripada kekhawatiran tentang rezeki. Allah lebih besar daripada komentar manusia. Allah lebih besar daripada rasa takut kepada masa depan. Allah lebih besar daripada segala sesuatu yang sejak tadi memenuhi pikiran kita.
Kemudian ketika membaca Al-Fatihah, jangan hanya mengejar selesainya bacaan. Pahamilah maknanya. Ketika membaca الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ, ingatlah berbagai nikmat yang selama ini Allah berikan. Ketika membaca الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ, ingatlah luasnya kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya.
Ketika membaca مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ, ingatlah hari ketika tidak ada jabatan, harta, atau keluarga yang dapat menolong seseorang kecuali dengan izin Allah. Ketika mengucapkan إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ, tanyakan kepada diri sendiri apakah kita benar-benar hidup sebagai hamba Allah dan benar-benar menjadikan-Nya tempat meminta pertolongan.
Ketika rukuk, rukuklah dengan thuma’ninah dan ketundukan. Ketika mengucapkan سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ, hadirkan dalam hati kebesaran Allah. Ketika sujud, jangan terburu-buru mengangkat kepala, karena justru sujud adalah salah satu keadaan paling agung bagi seorang hamba. Rasulullah ﷺ bersabda:
أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ
“Keadaan seorang hamba yang paling dekat dengan Rabb-nya adalah ketika ia sedang sujud. Maka perbanyaklah doa.” (HR. Muslim).
Saudara-saudaraku,
di antara keindahan penghambaan adalah bahwa ketika manusia meletakkan bagian tubuhnya yang paling mulia, yaitu wajahnya, di tempat yang rendah, justru ketika itu ia berada dalam keadaan yang sangat dekat dengan Rabb-nya.
Karena itu bawalah kegelisahan kita ke dalam sujud. Bawalah harapan kita. Bawalah persoalan keluarga, anak-anak, pekerjaan, dan masa depan. Bawalah penyesalan atas dosa-dosa kita. Allah telah mengetahui semua itu sebelum kita mengucapkannya, tetapi seorang hamba tetap diperintahkan berdoa agar ia menyadari kelemahannya dan ketergantungannya kepada Allah.
Perbaikan shalat juga harus dimulai sebelum takbiratul ihram. Berwudhulah dengan baik, jangan terburu-buru, lalu kenakan pakaian yang bersih dan pantas. Allah Ta’ala berfirman:
يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ
“Wahai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah setiap memasuki masjid.” (QS. Al-A’raf: 31).
Bagi kaum laki-laki yang tidak memiliki uzur, hidupkan kembali kecintaan kepada shalat berjamaah di masjid. Datanglah lebih awal apabila memungkinkan. Jangan selalu datang ketika iqamah hampir selesai. Berikan waktu kepada hati untuk berpindah dari kesibukan dunia menuju ibadah. Jika kita biasa mempersiapkan diri beberapa menit sebelum pertemuan penting dengan manusia, maka sudah sepantasnya kita juga mempersiapkan diri sebelum berdiri menghadap Rabb semesta alam.
Termasuk bagian dari memperbaiki shalat pada zaman ini adalah mengendalikan gangguan yang datang dari perangkat digital. Ketika masuk masjid, diamkan telepon genggam. Jangan biarkan sebuah benda kecil menguasai perhatian kita ketika sedang menghadap Allah Yang Mahabesar. Beberapa menit tanpa melihat layar tidak akan menghancurkan dunia kita. Justru boleh jadi beberapa menit menghadirkan hati kepada Allah itulah yang menyelamatkan hati kita dari tenggelam terlalu dalam dalam urusan dunia.
Jangan pula berputus asa apabila kekhusyukan belum sempurna. Allah Ta’ala berfirman:
Allah Ta’ala berfirman:
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَّحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ
“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu; Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat yang baik adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 132).
Kata وَاصْطَبِرْ menunjukkan bahwa menjaga shalat membutuhkan perjuangan. Bangun untuk Subuh membutuhkan perjuangan. Datang berjamaah membutuhkan perjuangan. Menundukkan pikiran yang berkelana ketika shalat membutuhkan perjuangan. Memahami bacaan membutuhkan proses. Memperbaiki thuma’ninah membutuhkan latihan. Namun tidak ada perjuangan menuju Allah yang sia-sia.
Allah sudah menjanjikan, jika kita bersungguh-sungguh berusaha melakukan itu semua, di ujung jalannya nanti Allah akan berikan jalan dan kemudahan untuk kita semua. Allah Ta’ala berfirman:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-‘Ankabut: 69).
Semoga Allah memperbaiki shalat kita, mengampuni kelalaian kita, menerima ibadah kita, dan menjadikan shalat sebagai cahaya bagi hati dan kehidupan kita.
بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Sekali lagi saya berwasiat kepada diri saya dan seluruh jamaah untuk bertakwa kepada Allah. Sesungguhnya bekal terbaik ketika seseorang meninggalkan dunia ini bukanlah banyaknya harta, tingginya jabatan, luasnya pengaruh, atau panjangnya gelar, melainkan hati yang bertakwa dan amal saleh yang diterima oleh Allah.
Rasulullah ﷺ mengajarkan agar seorang hamba menghadirkan kesadaran yang mendalam ketika berdiri untuk shalat. Di antara nasihat beliau adalah:
إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ
“Apabila engkau berdiri untuk shalat, maka shalatlah seperti shalatnya seseorang yang hendak berpisah.”
Bayangkan seandainya seseorang mengetahui bahwa shalat yang sedang ia kerjakan adalah shalat terakhirnya. Setelah salam ia akan meninggalkan dunia dan tidak ada lagi kesempatan untuk menambah satu rakaat pun. Apakah ia akan tergesa-gesa ketika rukuk? Apakah ia akan membiarkan pikirannya berjalan ke mana-mana ketika membaca Al-Fatihah? Apakah ia akan sujud sekadarnya lalu segera mengangkat kepala? Tentu tidak. Kesadaran tentang akhir kehidupan akan membuat seseorang menghadirkan hati dengan cara yang berbeda.
Maka saudara-saudaraku, mulai hari ini perbaikilah shalat kita. Jangan menunggu sampai seluruh persoalan kehidupan selesai, sebab masalah kehidupan tidak akan pernah benar-benar habis. Jangan menunggu sampai kesibukan berkurang, sebab boleh jadi setelah satu kesibukan selesai akan datang kesibukan yang lain.
Semoga Allah menjadikan kita dan keluarga kita termasuk hamba-hamba yang menjaga shalat sampai akhir kehidupan. Semoga Allah menjadikan shalat sebagai cahaya di dunia, ketenteraman di dalam hati, serta sebab keselamatan ketika kita berdiri di hadapan-Nya.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.” (QS. Al-Ahzab: 56).
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا، وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dosa pasangan kami, anak-anak kami, keluarga kami, guru-guru kami, dan seluruh kaum Muslimin dan Muslimat, yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
Ya Allah, karuniakanlah kepada kami hati yang sejuk dengan iman, lisan yang basah dengan zikir, amal yang ikhlas, rezeki yang halal, dan kehidupan yang dipenuhi keberkahan.
Ya Allah, lindungilah kami dari api neraka dan segala ucapan, keyakinan, serta perbuatan yang mendekatkan kepadanya.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ.
Ya Allah, turunkanlah keberkahan-Mu kepada negeri kami. Jauhkanlah negeri kami dari kekeringan, kebakaran, banjir, gempa bumi, wabah penyakit, kerusuhan, perpecahan, dan seluruh keburukan yang tampak maupun yang tersembunyi.
Ya Allah, perbaikilah para pemimpin kami. Bimbinglah mereka agar memimpin dengan adil, amanah, takut kepada-Mu, menyayangi rakyat, melindungi kaum lemah, menjaga agama, serta memelihara keamanan dan kebaikan negeri.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَارْزُقْهُمُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ النَّاصِحَةَ.
Ya Allah, jagalah para ulama yang istiqamah di atas Al-Qur’an dan Sunnah. Karuniakan kepada mereka keikhlasan, ilmu yang bermanfaat, kesehatan, keberanian menyampaikan kebenaran, serta kelembutan dalam membimbing umat.
Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami yang tertindas di mana pun mereka berada. Berilah makan kepada yang kelaparan, pakaian kepada yang kekurangan, tempat tinggal kepada yang kehilangan rumah, obat kepada yang sakit, keamanan kepada yang ketakutan, dan kebebasan kepada yang dizalimi.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ



