بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Puji syukur kita penjatkan kehadirat Allah Subhanahu wata’ala yang senantiasa mencurahkan kepada kita begitu banyak nikmat yang tidak mampu kita hitung, Allah berfirman didalam Al-Qur’an:

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. An-Nahl : 18).

Dialah Allah Subhanahu wata’ala yang mencurahkan kepada kita begitu banyak nikmatnya baik nikmat yang dzahir maupun yang batin, kewajiban kita sebagai seorang hamba adalah senantiasa mensyukurinya agar Allah senantiasa menambahkannya dan memberkahinya, Allah berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim : 07).

Diantara cara mensyukuri nikmat Allah Subhanahu wata’ala adalah dengan meningkatkan keimanan dan kualitas kita kepada Allah Subhanahu wata’ala, senantiasa mengerjakan amalan – amalan sholeh sebagaimana doa dari Nabi Sulaiman ‘Alaihissalam yang diabadikan oleh Allah didalam Al-Qur’an:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. (QS. Al-Ahqaf : 15).

Allah Subhanahu wata’ala senantiasa memberikan kepada kita ampunannya, senantiasa mensucikan hamba – hambanya dari pebuatan noda dan dosa, Allah berfirman didalam Al-Qur’an:

وَاللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَنْ تَمِيلُوا مَيْلًا عَظِيمًا

“Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran)”. (QS. An-Nisa : 27).

Allah maha tahu akan kelemahan hamba – hambanya, kita hamba yang lemah dan fakir dihadapan Allah, senantiasa terjatuh dalam dosa dan kesalahan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan didalam hadist:

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ

“Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertaubat”. (HR.Tirmidzi 2499, Shahih at-Targhib 3139).

Momen bulan suci ramadhan adalah salah satu cara Allah Subhanahu wata’ala membersihkan hamba – hambanya dalam hadist Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ

“Shalat lima waktu. Ibadah Jum’at yang satu dengan ibadah jum’at berikutnya. Puasa Ramadhan yang satu dengan puasa Ramadhan berikutnya. Itu semua merupakan penghapus dosa antara keduanya, selama dosa-dosa besar dijauhi”. (HR. Muslim [233]).

Dalam hadist yang lain, Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا ، وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

Antara umrah yang satu dan umrah lainnya, itu akan menghapuskan dosa di antara keduanya. Dan haji mabrur tidak ada balasannya melainkan surga.” (HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349).

Jadi dosa diampuni selama menjauhi dosa besar, oleh karena itu dibulan suci ramadhan Allah Subhanahu wata’ala mensyariatkan kepada kita sekalian serangkaian ibadah yang dengannya Allah Subhanahu wata’ala menggugurkan dosa – dosa kita dimasa silam, sekurang- kurangnya ada 3 amalan dibulan suci ramadhan yang menjadi penghapus dosa – dosa:

Mengerjakan puasa

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda didalam hadistnya

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni”.  (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760).

Qiyam di Malam Hari

Yaitu sholat tarawih yang ditutup dengan witir, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni”. (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759).

Lailatul Qadr

10 malam terakhir bulan suci ramadhan atau yang disebut dengan malam lailatul qadr sebagaimana yang Allah sebutkan dalam Al-Qur’an lebih baik dari 1000 bulan yang kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

فِيهِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

Di bulan Ramadhan ini terdapat lailatul qadar yang lebih baik dari 1000 bulan. Barangsiapa diharamkan dari memperoleh kebaikan di dalamnya, maka dia akan luput dari seluruh kebaikan”. (HR. Ahmad 2/385, dari Abu Hurairah. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Dalam hadist yang lain beliau bersabda:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إَيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barang siapa berdiri (shalat) pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR. Bukhari 4/217 dan Muslim 759)

Dari sinilah Jibril pernah datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam meminta beliau untuk mengaminkan doanya dan bisa kita bayangkan bagaimana kualitas doa tersebut, yang berdoa adalah Jibril ‘Alihissalam yang merupakan kepercayaan Allah dilangit, pemimpin para malaikat dan yang mengaminkan adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pemimpin para Nabi dan Rasul dan doa Jibril ‘Alaihissalam tersebut adalah:

رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ – أَوْ بَعُدَ – دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ

Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadhan kemudian Ramadhan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni“. (HR. Ahmad, dishahihkan al-Hakim, adz-Dzahabi dan al-Albani)

Oleh karenanya semoga Allah menjadikan kita termasuk orang – orang yang dibebaskan dari api neraka dibulan yang mulia ini sebagaimana dalam hadist dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إنَّ للهِ في كلِّ يومٍ وليلةٍ عُتَقاءَ مِنَ النَّارِ في شهرِ رمضانَ وإنَّ لكلِّ مسلمٍ دَعوةً يدعو بها فيُسْتجابُ له

“Sesungguhnya di setiap hari dan malam bulan Ramadhan dari Allah ada pembebasan dari api neraka. dan bagi setiap Muslim ada doa yang jika ia berdoa dengannya maka akan diijabah”. (HR. Ahmad 2/254, Al Bazzar 3142, Al Haitsami berkata: “semua perawinya tsiqah”).

Allah berfirman didalam Al-Qur’an:

فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”.  (QS. Ali ‘Imran [3]: 185).

Jangan sampai kita mengira kemenangan dan kesuksesan adalah ketika kita meraih dunia beserta isinya sekali kali tidak karena Allah telah menegaskan sesungguhnya kesuksesan yang hakiki dan kemenangan yang sebenarnya adalah ketika kita dibebaskan dari api neraka dan dimasukkan oleh Allah didalam surganya.

Wallahu a’lam Bish Showaab 


Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Selasa, 23 Ramadhan 1440 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.