spot_img

Khutbah Jum’at: Ramadhan Sudah Hampir Pergi (Edisi 108, 23 Ramadhan 1447 H)

mim.or.id – Kembali kami menyajikan Khutbah Jum’at dengan tema ‘Ramadhan Sudah Hampir Pergi’ (Edisi 108, 23 Ramadhan 1447 H).

Naskah selengkapnya:

‘RAMADHAN SUDAH HAMPIR PERGI’

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.
اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Hari-hari Ramadhan yang kita jalani hampir sampai pada penghujungnya. Malam-malamnya yang penuh keberkahan sedikit demi sedikit telah berlalu. Puasa yang kita lakukan, qiyamul lail yang Nkita kerjakan, tilawah yang kita baca, sedekah yang kita keluarkan—semuanya kini telah tercatat dalam lembaran amal kita.

Namun ingatlah, wahai kaum muslimin… Ramadhan yang pergi tidak sekadar meninggalkan kenangan. Ia meninggalkan kesaksian.
Hari-hari dan malam-malam Ramadhan akan menjadi saksi di hadapan Allah atas apa yang kita lakukan di dalamnya. Allah Ta’ala berfirman:

يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا وَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوءٍ

“Pada hari ketika setiap jiwa mendapati segala kebaikan yang telah dikerjakannya dihadirkan, dan demikian pula keburukan yang pernah ia lakukan.” (Ali ‘Imran: 30).

Maka setiap rakaat yang kita lakukan, setiap air mata yang menetes dalam doa, setiap ayat Al-Qur’an yang kita baca, semuanya tidak akan hilang. Allah menghitungnya satu per satu. Sebagaimana dalam hadits qudsi, Allah berfirman:

يَا عِبَادِي، إِنَّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوَفِّيكُمْ إِيَّاهَا، فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ، وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ

“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya itu hanyalah amal-amal kalian yang Aku hitung untuk kalian, lalu Aku sempurnakan balasannya. Siapa yang mendapati kebaikan maka hendaklah ia memuji Allah, dan siapa yang mendapati selain itu maka janganlah ia menyalahkan kecuali dirinya sendiri.” (HR. Muslim).

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah…

Betapa banyak orang yang tahun lalu masih bersama kita di bulan Ramadhan, tetapi kini mereka telah berada di alam kubur. Betapa banyak orang yang berharap dapat bertemu Ramadhan kembali, namun Allah tidak menakdirkannya.
Karena itu, sangat mungkin Ramadhan yang sedang kita jalani ini adalah Ramadhan terakhir dalam hidup kita.
Ramadhan akan pergi… tetapi amal kita akan tetap tinggal dalam catatannya.

Oleh sebab itu para ulama selalu mengingatkan bahwa nilai sebuah amal tidak hanya ditentukan oleh awalnya, tetapi juga oleh akhirnya. Nabi ﷺ bersabda:

وَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا

“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada penutupnya.” (HR. Bukhari).

Pesan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini menunjukkan betapa pentingnya akhir amal manusia; bahwa keberhasilan hidup seorang mukmin sangat ditentukan oleh bagaimana ia mengakhirinya dengan ketaatan kepada Allah.

Ma’asyiral Muslimin…

Ramadhan adalah bulan pembebasan dari neraka. Betapa banyak hamba Allah yang dibebaskan dari api neraka di dalam bulan ini.
Namun orang yang benar-benar beruntung adalah mereka yang Allah beri taufik untuk memanfaatkan kesempatan itu. Dan apakah kita termasuk salah satu di antaranya? Tentu hanya Allah yang mengetahuinya. Karena itu, pada sisa-sisa Ramadhan ini, perbanyaklah berdoa penuh kesungguhan agar mendapatkan karunia itu: karunia pembebasan dari neraka.

Sementara manusia yang paling merugi hidupnya adalah mereka yang dibiarkan oleh Allah mengikuti hawa nafsunya hingga Ramadhan berlalu tanpa perubahan. Hingga Ramadhan berlalu dan pergi, namanya tidak termasuk dalam mereka yang dibebaskan Allah dari nerakaNya.

Karena itu, selama Ramadhan belum benar-benar pergi, selama masih tersisa malam-malamnya, selama masih ada kesempatan untuk sujud dan berdoa, maka janganlah kita menyia-nyiakannya. Terlebih lagi pada sepuluh malam terakhir yang tersisa ini. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ

“Dan tahukah kamu apakah malam Lailatul Qadar itu?” (Al-Qadr: 2).

Karena itu, Nabi kita Muhammad ﷺ pada sepuluh malam terakhir tidak hanya beribadah sendiri. Beliau juga membangunkan keluarganya.
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa beliau mengetuk pintu rumah Ali dan Fathimah radhiyallahu ‘anhuma seraya berkata:

أَلَا تَقُومَانِ فَتُصَلِّيَانِ

“Mengapa kalian tidak bangun lalu shalat?”

Beliau mengetuk pintu sambil membaca firman Allah:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا

“Perintahkan keluargamu untuk shalat dan bersabarlah dalam menjaganya.” (Thaha: 132).

Ini menunjukkan bahwa Ramadhan bukan hanya momentum ibadah pribadi, tetapi juga momentum menghidupkan iman di dalam keluarga.

Jamaah Jumat rahimakumullah…

Karena itu, marilah kita memohon perlindungan kepada Allah dari sifat lemah dan malas. Marilah kita meminta kepada-Nya taufik dan pertolongan. Marilah kita bertawakal kepada Allah. Mari kita lipatgandakan amal kebaikan, memperbanyak perbuatan baik, mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala, serta memperbanyak doa dan merendahkan diri memohon kepada-Nya.Itulah sebabnya salah satu amalan paling agung di akhir Ramadhan adalah memperbanyak doa kepada Allah.

Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ:

“Wahai Rasulullah, jika aku mendapati Lailatul Qadar, apa yang harus aku baca?”

Beliau menjawab:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.” (HR. Tirmidzi).

Karena itu, wahai kaum muslimin… perbanyaklah doa. Perbanyaklah berdoa, bersungguh-sungguhlah dalam doa. Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka mendapatkan petunjuk.” (Al-Baqarah: 186).

Tidak ada kenikmatan yang lebih besar bagi seorang mukmin daripada bermunajat kepada Allah.
Sebaliknya, ketika hati kehilangan rasa nikmat dalam berdoa dan beribadah, itu adalah salah satu bentuk hukuman yang paling berat.
Karena itu, jangan berhenti berdoa. Jangan bosan mengetuk pintu langit.

Sesungguhnya Rabb kita – Subhanahu wa Ta‘ala – tidak pernah menolak orang yang berdoa kepada-Nya, dan tidak pernah mengecewakan orang yang berharap kepada-Nya. Dialah tempat berlindung bagi orang-orang yang memohon pertolongan, penolong bagi mereka yang meminta bantuan, dan pengabul doa bagi siapa saja yang berdoa kepada-Nya.

Betapa besar kedudukan doa itu. Betapa dahsyat pengaruhnya dalam menghadirkan akhir yang baik, memperbaiki keadaan hidup seseorang, memperbaiki nasib akhirnya, memberi keberkahan dalam amal, serta melapangkan dan memberkahi rezeki.

Maka janganlah tergesa-gesa menunggu jawaban doa. Karena Rabbmu senang ketika kita merendahkan diri memohon kepada-Nya. Dia mencintai kesabaranmu. Dia mencintai keridhaanmu terhadap takdir-Nya.

Nabi kalian, Muhammad ﷺ bersabda:

يُسْتَجابُ لأحَدِكُمْ ما لَمْ يَعْجَلْ، يقولُ: دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي.

“Doa salah seorang di antara kalian akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa, dengan berkata: ‘Aku sudah berdoa, tetapi belum juga dikabulkan.’” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dan sebaik-baik doa adalah doa kebaikan yang dipanjatkan untuk saudara kita tanpa sepengetahuannya.
Doa yang paling didengar adalah doa pada sepertiga malam terakhir, pada waktu sahur, pada saat terakhir di hari Jumat, ketika berbuka puasa, ketika sedang sujud, dan ketika seseorang berada dalam keadaan sangat membutuhkan pertolongan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَقْرَبُ ما يَكونُ العَبْدُ مِن رَبِّهِ، وهو ساجِدٌ، فأكْثِرُوا الدُّعاءَ

‘Keadaan seorang hamba yang paling dekat dengan Rabbnya adalah ketika ia sedang sujud. Maka perbanyaklah doa pada saat itu.’ (HR. Muslim).

Maka, di hari-hari terakhir Ramadhan ini, perbanyaklah doa. Doa apapun untuk meminta apa saja, terutama kebaikan dunia dan akhirat, kebaikan negeri kita dan seluruh negeri kaum Muslimin.

بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah…

Dalam khutbah pertama kita telah mengingatkan diri kita bahwa Ramadhan hampir berpisah dengan kita.
Maka pertanyaan besar bagi kita adalah: apa yang harus kita lakukan setelah Ramadhan pergi?

Yang pertama: memperbaiki penutup Ramadhan dengan amal terbaik.

Karena Nabi ﷺ telah menegaskan:

“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada penutupnya.” (HR. Bukhari).

Jika seseorang memperbaiki akhir Ramadhannya dengan taubat, doa, qiyam, sedekah dan istighfar, maka kita berharap Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Yang kedua: bersungguh-sungguh dalam taubat.

Ramadhan seharusnya meninggalkan perubahan dalam diri kita. Jika setelah Ramadhan kita kembali kepada dosa yang sama, maka itu tanda bahwa kita belum benar-benar memanfaatkan Ramadhan.
Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang tulus.” (At-Tahrim: 8).

Yang ketiga: menjaga ibadah dengan konsisten setelah Ramadhan.

Rabb yang kita sembah di bulan Ramadhan adalah Rabb yang sama yang kita sembah setelah Ramadhan.
Allah berfirman:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Beribadahlah kepada Tuhanmu sampai datang kepadamu kematian.” (Al-Hijr: 99).

Karena itu, jangan jadikan Ramadhan sebagai satu-satunya musim ketaatan dalam hidup kita.
Jika di Ramadhan kita rajin membaca Al-Qur’an, maka lanjutkanlah.
Jika di Ramadhan kita menjaga shalat berjamaah, maka pertahankanlah.
Jika di Ramadhan kita menjaga lisan dari dosa, maka teruskanlah.
Karena tanda diterimanya suatu amal adalah ketika kita dimudahkan untuk melakukan amal-amal shalih berikutnya.

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ . وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،يَا سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ
اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ غَزَّةَ، اَللَّهُمَّ احْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ، وَارْزُقْهِمْ مِنْ حَلاَلِكَ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى الْيَهُوْدِ الْغَاصِبِيْنَ وَمَنْ عَاوَنَهُمْ فِيْ عُدْوَانِهِمْ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أ نْتَ الْوَهَّابُ
رَبَّنَا تَقَبَّل مِنَّا وَقِيَامَنَا وَسَائِرَ أَعمَالِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا
رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ لْمُسلِمِين وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ وَأَعدَاءَكَ يَا عَزِيزٌ يَا قَهَّارٌ يَا رَبَّ العَالَمِينَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.