mim.or.id – Kembali kami menyajikan Khutbah Jum’at dengan tema ‘Selalu Ada Harapan di Balik Krisis’ (Edisi 113, 29 Syawal 1447 H).
Untuk selengkapnya:

‘SELALU ADA HARAPAN DI BALIK KRISIS‘
KHUTBAH PERTAMA
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.
اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Kita bersyukur pada Allah Ta’ala atas kesempatan berharga di hari mulia ini, kesempatan untuk bersujud kepada Allah. Kesempatan untuk merawat kembali ketakwaan kita pada Allah Ta’ala.
Maka, kami ingatkan kembali diri kami dan jamaah sekalian, bahwa tidak kekayaan paling berharga melebihi ketakwaan pada Allah. Takwa pada Allah sajalah satu-satunya bekal paling berguna untuk kitab bawa pulang ke Negeri Akhirat, kampung halaman kita yang sesungguhnya.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Aku wasiatkan kepada diriku dan kepada kalian semua untuk senantiasa bertakwa kepada Allah ﷻ dengan sebenar-benar takwa. Karena hanya dengan takwa, hati menjadi hidup, langkah menjadi lurus, dan kehidupan kita mendapatkan arah yang benar.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Di antara hakikat kehidupan dunia yang sering kita lupakan adalah bahwa dunia ini adalah tempat ujian, tempat kepayahan, tempat penuh tantangan. Allah Ta’ala telah menegaskan hal ini dalam firman-Nya:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. Al-Balad: 4).
Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa kesulitan, tekanan hidup, ujian ekonomi, konflik keluarga, kegelisahan hati—semua itu bukan sesuatu yang aneh. Justru itulah tabiat dunia. Maka siapa yang berharap hidup tanpa masalah, sejatinya ia sedang berharap sesuatu yang bertentangan dengan sunnatullah.
Namun, di tengah realitas ini, setan menanamkan racun yang sangat berbahaya: putus asa. Ketika seseorang melihat banyaknya masalah, ia mulai berkata dalam hatinya: “Tidak ada harapan… tidak ada jalan keluar…”
Padahal, seorang mukmin sejati tidak pernah hidup dalam keputusasaan. Mengapa? Karena ia beriman kepada takdir Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَاعْلَمْ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ، وَمَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ
“Ketahuilah, apa yang luput darimu tidak akan pernah menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan pernah luput darimu.” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Al-Arnauth).
Hadits ini adalah pondasi ketenangan. Ketika seseorang yakin bahwa semua sudah ditakdirkan oleh Allah, maka hatinya akan stabil. Ia tidak hancur oleh masa lalu, dan tidak panik menghadapi masa depan.
Jamaah sekalian,
Harapan dalam Islam bukan sekadar perasaan kosong. Harapan adalah buah dari iman. Allah Ta’ala berfirman:
وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Janganlah kalian merasa lemah dan jangan bersedih hati, padahal kalian paling tinggi (derajatnya) jika kalian beriman.” (QS. Ali Imran: 139).
Perhatikan, Allah mengaitkan kekuatan mental dengan iman. Semakin kuat iman seseorang, semakin kuat pula harapannya.
Kemudian Allah menanamkan optimisme dalam Surah Asy-Syarh:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا * إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh: 5–6).
Para ulama menjelaskan, pengulangan ayat ini menunjukkan bahwa satu kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan. Bahkan Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه berkata:
“Seandainya kesulitan masuk ke dalam sebuah lubang, niscaya kemudahan akan masuk mengejarnya.”
Inilah cara pandang seorang mukmin: di balik kesempitan, ia melihat jalan keluar; di balik kesedihan, ia melihat rahmat Allah.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
النَّصْرُ مَعَ الصَّبْرِ، وَالْفَرَجُ مَعَ الْكَرْبِ، وَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Pertolongan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bersama kesulitan ada kemudahan.” (Dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 6806).
Jamaah yang dirahmati Allah,
Teladan terbesar dalam menumbuhkan harapan adalah Rasulullah ﷺ sendiri. Beliau berdakwah di Makkah selama 13 tahun, menghadapi ejekan, penyiksaan, penolakan—namun tidak pernah kehilangan harapan.
Ketika para sahabat disiksa, beliau tetap mengatakan dengan penuh keyakinan:
“Berpencarlah kalian di muka bumi, sesungguhnya Allah akan mengumpulkan kalian kembali.”
Ketika Khabbab bin Al-Arat radhiyallahu ‘anhu datang mengadu karena siksaan yang berat, Nabi ﷺ tidak langsung mendoakan kehancuran musuh. Beliau justru mengajarkan kesabaran dan optimisme. Dalam hadits riwayat Bukhari, beliau bersabda bahwa agama ini akan sempurna, hingga seorang pengendara dapat berjalan dengan aman dari Shan’a ke Hadramaut tanpa rasa takut kecuali kepada Allah.
Subhanallah… di saat kondisi sangat lemah, beliau berbicara tentang masa depan yang gemilang.
Bahkan dalam peristiwa hijrah, ketika beliau dan Abu Bakar berada di dalam gua, sementara musuh sudah di depan mata, beliau berkata:
لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا
“Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS. At-Taubah: 40).
Inilah puncak pembuktian tauhid seorang hamba: ketika kondisi paling genting, yang diucapkan dan terhunjam dalam jiwanya adalah keyakinan kepada pertolongan Allah.
Jamaah sekalian yang berbahagia,
Maka marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing: mengapa kita mudah putus asa? Mengapa kita merasa hidup ini gelap?
Jawabannya karena lemahnya iman dan kurangnya husnuzhan kepada Allah.
Padahal harapan adalah ibadah hati. Harapan adalah tanda bahwa kita mengenal Allah sebagai Ar-Rahman, Ar-Rahim, Al-Hakim.
Maka langkah praktis yang harus kita lakukan:
Perbaiki iman kepada takdir Allah. Perbanyak membaca ayat-ayat harapan dalam Al-Qur’an. Biasakan berdoa dan bergantung kepada Allah. Jangan biarkan hati kosong dari dzikir. Karena hati yang kosong dari iman, akan mudah dipenuhi oleh keputusasaan.
Jamaah yang berbahagia,
Umat Islam sudah berkali-kali melewati masa-masa sulit sepanjang sejarah. Tapi kalau kita sungguh-sungguh melihat sejarah, pola itu selalu sama: ketika umat ini masih punya harapan, tetap optimis, mau berbuat baik, dan serius bekerja—mereka bangkit lagi, bahkan lebih kuat dari sebelumnya.
Lihatlah Masjidil Al-Aqsa. Pernah dijajah hampir delapan puluh tahun. Tapi Nuruddin Zanki tidak menunggu “situasi ideal”—dia sudah siapkan mimbar untuk Al-Aqsa, padahal belum dibebaskan. Itu bukan sekadar simbol, itu keyakinan. Lalu datang Shalahuddin, membebaskannya, dan mimbar itu benar-benar dipasang di haribaan Masjidil Aqsa.
Harapan seorang mukmin itu bukanlah ilusi. Itu adalah bukti keimanan pada janji Allah.
Allah sendiri sudah membongkar cara pandang kita yang sering keliru:
إِنَّهُمْ يَرَوْنَهُ بَعِيدًا * وَنَرَاهُ قَرِيبًا
“Sesungguhnya mereka memandangnya jauh, sedangkan Kami memandangnya dekat.” (QS. Al-Ma’arij: 6–7).
Kita seringkali merasa perubahan itu jauh, mustahil, atau lama. Tapi dari sudut pandang Allah, itu sangat dekat. Jadi yang bermasalah bukan realitasnya, tapi cara kita melihatnya.
Allah juga sudah ingatkan satu hukum yang tidak pernah gagal: kekuasaan yang zalim tidak akan bertahan selamanya. Tinggal tunggu waktunya.
وَكَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَرْيَةٍ بَطِرَتْ مَعِيشَتَهَا فَتِلْكَ مَسَاكِنُهُمْ لَمْ تُسْكَنْ مِنْ بَعْدِهِمْ إِلَّا قَلِيلًا وَكُنَّا نَحْنُ الْوَارِثِينَ
“Berapa banyak negeri yang telah Kami binasakan karena mereka hidup dalam kesombongan dan kemewahan; kini itu hanya jadi tempat tinggal yang hampir tidak dihuni lagi, dan Kami-lah yang mewarisinya.” (QS. Al-Qashash: 58).
Allah meningatkan lagi:
وَتِلْكَ الْقُرَى أَهْلَكْنَاهُمْ لَمَّا ظَلَمُوا وَجَعَلْنَا لِمَهْلِكِهِمْ مَوْعِدًا
“Negeri-negeri itu Kami binasakan ketika mereka berbuat zalim, dan Kami sudah tetapkan waktu kehancuran mereka.” (QS. Al-Kahfi: 59).
Dan dalam ayat lain, Allah Kembali menegaskan sunnatuLlah itu:
وَإِنْ مِنْ قَرْيَةٍ إِلَّا نَحْنُ مُهْلِكُوهَا قَبْلَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ أَوْ مُعَذِّبُوهَا عَذَابًا شَدِيدًا كَانَ ذَلِكَ فِي الْكِتَابِ مَسْطُورًا
“Tidak ada satu negeri pun melainkan pasti akan Kami binasakan sebelum hari kiamat atau Kami azab dengan azab yang keras; itu semua sudah tertulis.” (QS. Al-Isra: 58).
Jadi berhentilah melihat keadaan hari ini seolah-olah final. Berhentilah menyangka bahwa semua krisis yang sedang terjadi adalah akhir segala-galanya. Tidak sama sekali. Sejarah belum selesai. Sejarah manusia akan terus berputar sesuai dengan kehendak Sang Penguasa alam semesta ini, Allah Azza wa Jalla.
Maka, yang menjadi pertanyaan sekarang bukan “apakah keadaan akan berubah,” tapi “kita ada di posisi mana ketika perubahan itu datang?”. Apakah kita dalam keadaan taat pada Allah, atau sementara tenggelam dalam kekufuran dan kemaksiatan padaNya?
بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Marilah kita lanjutkan khutbah ini dengan kembali menguatkan satu pesan penting: jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah.
Karena putus asa bukan sekadar masalah psikologis, tetapi juga masalah akidah. Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ
“Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang kafir.” (QS. Yusuf: 87).
Ayat ini sangat tegas mengingatkan kita semua, bahwa putus asa adalah sifat yang bertentangan dengan iman. Maka setiap kali hati kita mulai gelap, segera kembalikan kepada Allah.
Jamaah sekalian rahimahukumullah,
Kita hidup di zaman yang penuh tekanan: ekonomi sulit, informasi menyesatkan, fitnah syahwat dan syubhat tersebar di mana-mana. Semua ini bisa melemahkan hati jika tidak dihadapi dengan iman.
Namun ingat, solusi Islam yang paling utama adalah kembali kepada tauhid. Tentu saja tanpa mengabaikan ikhtiar-ikhtiar duniawi lainnya. Tapi meneguhkan tauhid tetaplah yang paling utama.
Ketika seseorang yakin bahwa Allah yang mengatur hidupnya, maka ia tidak akan hancur oleh keadaan. Ia mungkin menangis, tapi tidak putus asa. Ia mungkin lelah, tapi tidak menyerah.
Sebagaimana ucapan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu dalam suratnya:
“Sesungguhnya tidaklah suatu kesulitan menimpa seorang mukmin, melainkan Allah akan menjadikan setelahnya kemudahan. Dan satu kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan.”
Ini adalah prinsip hidup: setiap kesulitan pasti ada akhirnya.
Kaum Muslimin yang berbahagia,
Mari kita jadikan hidup ini penuh dengan amal shalih, kebaikan dan Kebajikan. Perbanyak istighfar. Perbanyak shalat dan doa. Jaga lisan dari keluhan yang berlebihan. Tanamkan optimisme yang bersumber dari iman.
Dan yang paling penting, ajarkan keluarga kita untuk tidak mudah putus asa. Karena generasi yang kehilangan harapan adalah generasi yang mudah terseret dalam maksiat dan penyimpangan.
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ . وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،يَا سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ
اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ غَزَّةَ، اَللَّهُمَّ احْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ، وَارْزُقْهِمْ مِنْ حَلاَلِكَ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى الْيَهُوْدِ الْغَاصِبِيْنَ وَمَنْ عَاوَنَهُمْ فِيْ عُدْوَانِهِمْ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أ نْتَ الْوَهَّابُ
رَبَّنَا تَقَبَّل مِنَّا وَقِيَامَنَا وَسَائِرَ أَعمَالِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا
رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ لْمُسلِمِين وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ وَأَعدَاءَكَ يَا عَزِيزٌ يَا قَهَّارٌ يَا رَبَّ العَالَمِينَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ



