spot_img

Khutbah Jum’at: Selamat Jalan Ramadhan (Edisi 109, 30 Ramadhan 1447 H)

mim.or.id – Kembali kami menyajikan Khutbah Jum’at dengan tema ‘Selamat Jalan Ramadhan’ (Edisi 109, 30 Ramadhan 1447 H).

Naskah selengkapnya:

‘SELAMAT JALAN RAMADHAN’

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.

اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ،  وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Hari-hari ini, ada satu kalimat yang terasa berat untuk diucapkan oleh hati orang beriman: “Selamat jalan, Ramadhan…” Dahulu sebelum ia datang, kita berkata: ahlan ya Ramadhan, selamat datang wahai bulan mulia. Lalu ketika ia mulai berjalan meninggalkan kita, seakan hati berkata: pelan-pelan wahai Ramadhan, jangan terlalu cepat berlalu. Dan kini, dengan dada yang sesak, kita pun harus berkata: wada’an Ramadhan, selamat jalan wahai Ramadhan.

Betapa cepat ia datang, dan betapa cepat ia pergi. Betapa lama kita merindukannya, namun betapa singkat kita menemaninya. Ia datang sebagai tamu agung, tamu yang tidak membawa kegaduhan, tapi membawa keberkahan. Ia datang dengan puasa di siang hari, qiyam di malam hari, tilawah yang menghidupkan jiwa, istighfar yang melembutkan hati, doa yang membasahi pelupuk mata, sedekah yang membersihkan harta, dan masjid yang kembali hidup oleh langkah-langkah hamba menuju Rabb-nya.

Selamat jalan, Ramadhan…

Betapa banyak mata yang menangis karena perpisahan denganmu. Engkau datang setelah kerinduan panjang. Engkau datang sebagai tamu yang mulia. Engkau masuk ke rumah-rumah kaum muslimin, lalu engkau ubah suasana rumah itu.

Engkau pergi membawa ruhaniyah tarawih, kekhusyukan tahajud, nikmatnya sahur, hangatnya berbuka, merdunya tilawah, dan akrabnya hati-hati yang bertaut di rumah-rumah Allah. Maka wajar jika ada hati yang sedih. Wajar jika ada mata yang berkaca. Wajar jika ada jiwa yang berat melepaskanmu. Sebab yang pergi bukan sekadar satu bulan. Yang pergi adalah satu musim besar ketaatan. Yang pergi adalah satu madrasah jiwa. Yang pergi adalah satu kesempatan emas yang belum tentu kita jumpai lagi.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Sesungguhnya ada pelajaran yang sangat besar saat kita mengucapkan selamat jalan kepada Ramadhan. Pelajaran itu adalah bahwa semua yang ada di dunia ini akan berlalu. Semua yang kita cintai di dunia ini akan meninggalkan kita atau kita yang akan meninggalkannya. Setiap pertemuan pasti akan diakhiri dengan perpisahan. Setiap kebersamaan akan diakhiri dengan perlepasan. Bahkan usia kita pun sesungguhnya sedang berkata kepada kita setiap hari: aku sedang berkurang, aku sedang habis, aku sedang mendekatkanmu ke kubur, aku sedang membawamu menuju hari perhitungan.

Allah Ta’ala berfirman:

رَبَّنَا إِنَّكَ جَامِعُ النَّاسِ لِيَوْمٍ لَا رَيْبَ فِيهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ

“Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau akan mengumpulkan manusia pada hari yang tidak ada keraguan padanya. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.” (Ali ‘Imran: 9).

Karena itu, ketika Ramadhan pergi, sesungguhnya ia sedang mengajarkan kepada kita hakikat umur. Ia datang lalu pergi. Begitu pula hidup kita. Ia berjalan lalu habis. Begitu pula jatah usia kita. Kita semua menunggu Ramadhan, tetapi kita tidak tahu, apakah tahun depan kita masih berdiri menyambutnya, atau justru kita telah dipisahkan oleh tanah kubur, dipisahkan oleh ajal, dipisahkan dari keluarga, dan telah berpindah ke alam yang amal di dalamnya tidak lagi bisa ditambah.

Maka, pertanyaan paling penting setelah Ramadhan bukanlah: “Lebaran nanti kita makan apa?” Pertanyaan paling penting setelah Ramadhan adalah: “Apa yang Ramadhan tinggalkan di hati kita?” Apakah ia meninggalkan takwa? Apakah ia meninggalkan cinta kepada Al-Qur’an? Apakah ia meninggalkan kebiasaan shalat berjamaah? Apakah ia meninggalkan kelembutan hati? Apakah ia meninggalkan tangisan taubat? Ataukah ia hanya meninggalkan kenangan, tetapi tidak meninggalkan perubahan?

Kaum muslimin rahimakumullah,

Ramadhan telah mendidik kita bahwa tidak ada kemuliaan kecuali dengan iman. Tidak ada keselamatan kecuali dengan takwa. Tidak ada keberuntungan kecuali dengan ketaatan. Tidak ada kemuliaan hakiki kecuali bagi orang yang tunduk kepada Allah dan mengikuti Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukumi di antara mereka hanyalah ucapan: ‘Kami mendengar dan kami taat.’ Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (An-Nur: 51).

Inilah pelajaran terbesar Ramadhan. Bahwa agama ini bukan sekadar semangat sesaat. Agama ini adalah kepatuhan. Agama ini adalah istiqamah. Agama ini adalah kesungguhan untuk terus berjalan di atas jalan lurus, bukan hanya ketika suasana sedang lembut, tetapi juga ketika godaan dunia kembali datang.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Lalu bagaimana cara kita mengucapkan selamat jalan kepada Ramadhan dengan benar?

Jawabannya: jangan ucapkan selamat jalan kepada Ramadhan dengan maksiat. Jangan ucapkan selamat jalan kepada Ramadhan dengan meninggalkan masjid

Ucapkan selamat jalan kepada Ramadhan dengan meneruskan warisannya.

Warisannya adalah shalat yang lebih baik.

Warisannya adalah Al-Qur’an yang lebih dekat.

Warisannya adalah doa yang lebih sering.

Warisannya adalah hati yang lebih lembut.

Warisannya adalah tangan yang lebih ringan bersedekah.

Warisannya adalah jiwa yang lebih mudah menangis karena takut kepada Allah.

Warisannya adalah hidup yang lebih tertata di atas iman dan takwa.

Kaum muslimin rahimakumullah,

Sebagian salaf terdahulu, pada hari Idul Fitri justru tampak sedih. Lalu dikatakan kepada mereka: “Ini hari bahagia.” Mereka menjawab: “Benar, tetapi aku adalah seorang hamba. Tuanku telah memerintahkan kepadaku sebuah amal, dan aku tidak tahu apakah amal itu diterima atau tidak.”

Lihatlah betapa dalam rasa takut mereka. Mereka tidak mabuk oleh perasaan telah beramal. Mereka takut apakah amal mereka diterima. Mereka tidak tertipu oleh banyaknya ibadah, sebab mereka tahu bahwa yang menjadi ukuran bukan banyaknya amal, tetapi diterima atau tidaknya amal di sisi Allah.

Karena itu, mari kita tanyakan kepada diri masing-masing:

Mata yang menangis karena takut kepada Allah di bulan Ramadhan, apakah kini akan kembali melihat yang haram?

Tangan yang dulu menjadi perantara sedekah, apakah kini akan kembali kaku dan kikir?

Wajah yang dulu bersujud di malam hari, apakah kini akan kembali tunduk kepada dunia?

Hati yang dulu lembut karena Al-Qur’an, apakah kini akan kembali keras oleh dosa?

Karena itu, setelah kita mengucapkan selamat jalan kepada Ramadhan, ada beberapa bekal yang harus kita jaga.

Yang pertama, terus menjaga semangat ibadah secara berkelanjutan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinu meskipun sedikit.” (HR. Muslim).

Hadits ini adalah kaidah besar setelah Ramadhan. Jangan berpikir bahwa karena Ramadhan telah berlalu maka ibadah pun ikut berlalu. Tidak. Yang Allah cintai bukan ledakan semangat yang sebentar, lalu padam. Yang Allah cintai adalah amal yang terus hidup. Sedikit, tapi istiqamah. Ringan, tapi tidak putus. Kecil di mata manusia, tetapi terus tersambung di sisi Allah.

Maka, teruskan puasa sunnah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan puasa-puasa sunnah sepanjang tahun. Ada Senin dan Kamis. Ada tiga hari setiap bulan. Ada Arafah. Ada ‘Asyura. Ada sembilan hari awal Dzulhijjah bagi yang dimudahkan. Orang yang telah merasakan latihan menundukkan hawa nafsu di Ramadhan hendaknya tidak kembali sepenuhnya menjadi budak perut dan syahwat setelah Ramadhan.

Yang kedua, jaga shalat. Ini sangat penting. Karena shalat adalah pembeda antara iman dan kekufuran, antara keselamatan dan kebinasaan, antara orang yang dekat dengan Allah dan orang yang menjauh dari-Nya. Tidak pantas seseorang menangis di malam-malam Ramadhan, tetapi kemudian meremehkan shalat fardhu setelah Ramadhan. Tidak pantas seseorang penuh semangat mengejar tarawih, tetapi lalai dari Subuh berjamaah. Tidak pantas seseorang menghidupkan malam-malam Ramadhan, tetapi kemudian mematikan kewajiban-kewajiban yang jauh lebih besar.

Yang ketiga, jangan tinggalkan Al-Qur’an. Ini warisan terbesar Ramadhan. Sangat menyedihkan bila mushaf yang di Ramadhan sering dibuka, setelahnya kembali tersimpan berdebu. Sangat menyedihkan bila lisan yang di Ramadhan akrab dengan ayat-ayat Allah, setelahnya akrab kembali dengan obrolan sia-sia. Sangat menyedihkan bila rumah yang di Ramadhan hidup dengan tilawah, setelahnya hidup dengan kebisingan dunia.

Yang keempat, teruskan sedekah dan kepedulian sosial. Ramadhan melatih kita menjadi orang yang lebih peka. Kita mudah memberi. Kita ringan membantu. Kita semangat berbagi. Maka jangan biarkan sifat ini hilang setelah Ramadhan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia paling dermawan, dan beliau semakin dermawan di bulan Ramadhan. Ini menunjukkan bahwa kedekatan dengan Allah seharusnya melahirkan kelembutan kepada sesama.

Tidak semua orang punya harta besar, tetapi semua orang punya pintu kebaikan. Kalau tidak mampu dengan uang yang banyak, maka bantulah dengan tenaga. Kalau tidak mampu dengan tenaga, maka bantulah dengan nasihat yang baik. Kalau tidak mampu dengan itu, maka tebarkan dzikir, senyum, kata-kata yang baik, amar ma’ruf, nahi mungkar dengan hikmah, membantu orang sakit, mengantar jenazah, memberi makan orang miskin, membahagiakan orang tua, menyambung silaturahim, memuliakan tetangga. Seluruh ini adalah ladang amal yang terbuka sepanjang tahun.

بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.

Jamaah Jumat rahimakumullah

Salah satu godaan besar setelah Ramadhan, adalah kembali berlomba-lomba dalam dunia. Di Ramadhan kita berlomba ke masjid. Setelah Ramadhan jangan sampai kita kembali sibuk berlomba kepada dunia semata. Di Ramadhan kita bersegera pada sedekah. Setelah Ramadhan jangan sampai kita kembali hanya bersegera pada keuntungan dunia. Di Ramadhan kita saling mendorong untuk tilawah. Setelah Ramadhan jangan sampai kita saling menyikut hanya untuk urusan dunia yang fana.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan bahwa yang beliau khawatirkan bukan kemiskinan, tetapi dunia yang dibentangkan lalu manusia berlomba-lomba memperebutkannya hingga dunia itu membinasakan mereka sebagaimana telah membinasakan umat-umat sebelum mereka.

Karena itu, jika engkau melihat orang berlomba dalam dunia, maka berlombalah engkau dalam akhirat. Jika engkau melihat orang saling mendahului dalam harta, maka berusahalah mendahului dalam amal. Jika engkau melihat orang berbangga-bangga dengan kenikmatan dunia, maka banggakanlah dirimu bila Allah memberimu taufik untuk istiqamah.

Allah Ta’ala memanggil kita:

سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ

“Berlomba-lombalah menuju ampunan dari Rabb kalian.” (Al-Hadid: 21).

Dan Allah berfirman:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ

“Bersegeralah menuju ampunan dari Rabb kalian dan surga.” (Ali ‘Imran: 133).

Inilah lomba yang harus terus dijaga setelah Ramadhan: lomba menuju ampunan, lomba menuju surga, lomba dalam shalat, lomba dalam birrul walidain, lomba dalam silaturahim, lomba dalam akhlak yang mulia, lomba dalam menahan amarah, lomba dalam memaafkan, lomba dalam menebar manfaat, lomba dalam menjadi teladan takwa bagi keluarga dan masyarakat.

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah,

Ramadhan telah melatih kita untuk menjadi muttaqin. Maka jaga takwa itu. Jadilah imam dalam takwa. Tidak harus menjadi imam di mihrab. Seseorang bisa menjadi imam dalam kesabaran, imam dalam kejujuran, imam dalam akhlak, imam dalam menjaga pandangan, imam dalam memuliakan orang tua, imam dalam menyambung rahim, imam dalam amanah, imam dalam kelembutan kepada keluarga, imam dalam menjaga lisan, imam dalam mengisi waktu dengan ketaatan, imam dalam pelayanan kepada sesama, imam dalam kebaikan.

Betapa beruntung seorang hamba yang selesai dari Ramadhan lalu orang-orang di sekitarnya merasakan bahwa ia berubah menjadi lebih baik. Lebih lembut lisannya. Lebih tertib shalatnya. Lebih jujur muamalahnya. Lebih hangat hubungan keluarganya. Lebih hidup rumahnya dengan Al-Qur’an. Lebih lapang tangannya dalam berbagi. Inilah buah Ramadhan yang sejati.

Selamat jalan, Ramadhan…

Engkau telah pergi, tetapi jangan biarkan semangatmu ikut pergi.

Engkau telah berlalu, tetapi jangan biarkan jejakmu ikut hilang.

Engkau telah meninggalkan kami, tetapi jangan biarkan hati kami meninggalkan Allah setelahmu.

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ . وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ الدّعَوَاتِ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

 رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً  إِنَّكَ أ نْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا تَقَبَّل مِنَّا وَقِيَامَنَا وَسَائِرَ أَعمَالِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

   رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا

رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ  اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ لْمُسلِمِين وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ وَأَعدَاءَكَ يَا عَزِيزٌ يَا قَهَّارٌ يَا رَبَّ العَالَمِينَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

 سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.