mim.or.id – Kembali kami menyajikan sebuah Khutbah Jum’at terbaru dengan tema ‘Takkan Luput dari Allah’ (Edisi 140, 12 Jumadil Awal 1448 H).
Untuk selengkapnya:

‘TAKKAN LUPUT DARI ALLAH’
KHUTBAH PERTAMA
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.
اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار
Jamaah Jum’at yang berbahagia,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Hendaklah kita menyadari bahwa kehidupan yang sedang kita jalani ini bukanlah kehidupan yang berlangsung tanpa pengawasan. Setiap langkah yang kita ambil, setiap keputusan yang kita buat, bahkan setiap niat yang tersembunyi di dalam dada, semuanya berada dalam pengetahuan Allah. Tidak ada satu pun yang luput dari-Nya, betapapun rapatnya manusia berusaha menyembunyikannya.
Saudara-saudaraku yang dimuliakan Allah,
Dalam beberapa bulan terakhir, kita semua menjadi saksi tentang kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah Indonesia. Hamparan pepohonan yang semula hijau berubah menjadi tanah hitam. Asap mengepul dan mengganggu kehidupan masyarakat. Anak-anak, orang tua, dan mereka yang memiliki gangguan pernapasan menjadi kelompok yang paling rentan. Sebagian petani kehilangan sumber penghidupan, sementara petugas pemadam dan masyarakat setempat harus berjuang menghadapi api yang tidak mudah dikendalikan.
Di tengah kenyataan seperti ini, hati kita tentu bertanya: mengapa kerusakan terus berulang, padahal manusia telah mengetahui akibatnya? Mengapa kepentingan ekonomi terkadang terasa lebih diutamakan daripada keselamatan manusia dan kelestarian alam?
Pertanyaan yang lebih dalam pun mungkin muncul dalam benak sebagian orang. Mengapa ada pelaku kezaliman yang seolah-olah tetap hidup tenang? Mengapa orang yang merugikan masyarakat terkadang masih dapat tersenyum, menikmati kekayaan, dan mempertahankan kedudukannya? Apakah Allah tidak melihat penderitaan orang-orang yang dizalimi? Apakah Allah membiarkan begitu saja orang yang mengambil hak sesamanya?
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Al-Qur’an menjawab kegelisahan itu dengan sebuah ayat yang sangat agung. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ
“Dan janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim. Sesungguhnya Allah hanya menangguhkan mereka sampai hari ketika mata mereka terbelalak.” (QS. Ibrahim: 42).
Perhatikanlah bagaimana Allah membuka ayat ini dengan sebuah larangan: jangan sekali-kali mengira bahwa Allah lalai. Seakan-akan Allah sedang mengingatkan hati manusia yang mulai gelisah menyaksikan kezaliman, bahwa tidak semua perkara harus selesai menurut waktu yang kita inginkan. Manusia mempunyai keterbatasan dalam mengetahui sesuatu, sedangkan Allah tidak. Manusia dapat tertipu oleh penampilan, kedudukan, dan kata-kata yang indah, sedangkan Allah mengetahui segala sesuatu sampai pada hakikat yang paling tersembunyi.
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah ketika menjelaskan ayat ini menerangkan bahwa Allah memberitahukan bahwa Dia mengetahui perbuatan orang-orang zalim. Penangguhan yang Allah berikan bukanlah karena kelalaian, melainkan karena hikmah-Nya. Akan datang hari ketika seluruh manusia dihadapkan kepada pengadilan yang tidak mungkin mengandung sedikit pun ketidakadilan.
Karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan dalam sebuah hadis sahih:
إِنَّ اللَّهَ لَيُمْلِي لِلظَّالِمِ، حَتَّى إِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ
“Sesungguhnya Allah benar-benar memberi penangguhan kepada orang zalim. Namun, apabila Dia telah menghukumnya, Dia tidak akan melepaskannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, betapa dalam pesan hadis ini.
Seseorang mungkin mengira dirinya telah selamat hanya karena perbuatan buruknya belum diketahui manusia. Ia merasa aman karena belum ada yang mempersoalkan tindakannya. Bahkan, ketika kekayaannya semakin bertambah dan kedudukannya semakin tinggi, ia mungkin mulai menganggap bahwa segala sesuatu yang dilakukannya tidak mempunyai akibat.
Padahal, tidak adanya hukuman hari ini sama sekali bukan jaminan keselamatan pada hari esok. Allah dapat memberikan kesempatan kepada seseorang untuk bertobat, tetapi jika kesempatan itu terus disia-siakan, betapa berat penyesalan yang akan dihadapinya.
Marilah kita membawa peringatan ini ke dalam kehidupan berbangsa. Korupsi yang terus menjadi persoalan di negeri kita bukan sekadar urusan angka dalam laporan keuangan negara. Ketika seseorang menyalahgunakan jabatan untuk mengambil harta yang bukan haknya, sesungguhnya ia sedang mengkhianati amanah. Ketika anggaran yang semestinya digunakan untuk kepentingan masyarakat dialihkan demi keuntungan pribadi atau kelompok, ada hak-hak manusia yang terancam terabaikan. Uang negara bukanlah harta tanpa pemilik. Di dalamnya terdapat kepentingan rakyat yang harus dijaga dan dipertanggungjawabkan.
Cobalah kita renungkan…
Di satu sisi, negeri kita dikaruniai Allah kekayaan alam yang melimpah. Di dalam tanahnya terdapat berbagai hasil tambang, di hutannya tumbuh pepohonan yang bermanfaat, dan di lautnya tersimpan begitu banyak sumber kehidupan. Semua itu merupakan nikmat yang seharusnya dikelola dengan penuh tanggung jawab.
Tetapi apabila kekayaan tersebut justru menjadi sarana memperkaya segelintir orang melalui cara-cara yang batil, sementara masyarakat di sekitarnya tetap hidup dalam kesulitan, di manakah rasa takut kepada Allah? Apakah seseorang benar-benar mengira bahwa harta yang diperoleh dengan menzalimi orang lain akan mendatangkan keberkahan?
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memperingatkan:
وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Dan janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan jalan yang batil, dan janganlah kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim, dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 188).
Ayat ini mengajarkan bahwa tidak semua harta yang berhasil dikuasai manusia menjadi halal baginya. Ada harta yang secara lahiriah berada di tangan seseorang, tetapi hakikatnya diperoleh dengan jalan yang diharamkan Allah. Ada kekayaan yang tampak mengagumkan dalam pandangan manusia, tetapi menjadi beban pertanggungjawaban yang sangat berat di akhirat. Bahkan, seseorang mungkin mampu menyembunyikan asal-usul hartanya dari pemeriksaan manusia, tetapi tidak akan pernah mampu menyembunyikannya dari Allah Yang Maha Mengetahui.
Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah.
Persoalan yang sama juga mengingatkan kita ketika melihat kebakaran hutan dan lahan yang kembali terjadi di negeri ini. Berdasarkan laporan penanggulangan bencana pada Agustus 2026, puluhan ribu hektare lahan telah mengalami kebakaran di sejumlah wilayah prioritas. Dampaknya bukan hanya kerusakan pepohonan dan tanah, melainkan juga ancaman terhadap kesehatan, lingkungan, serta kehidupan masyarakat yang berada di sekitarnya.
Kita mengetahui bahwa kebakaran hutan merupakan persoalan yang tidak sederhana. Kondisi cuaca yang kering dapat memperbesar risiko kebakaran. Akan tetapi, aktivitas manusia, termasuk pembakaran lahan yang tidak bertanggung jawab, kerusakan ekosistem gambut, dan lemahnya pengawasan, juga dapat menambah besar persoalan. Oleh sebab itu, upaya pencegahan dan penegakan hukum merupakan bagian penting dari tanggung jawab semua pihak, terutama mereka yang diberi kewenangan untuk mengatur dan melindungi kepentingan masyarakat.
Di sinilah kita perlu berbicara tentang kezaliman dengan lebih jernih.
Kezaliman tidak selalu berbentuk tindakan langsung mengambil atau merampas hak seseorang. Dalam keadaan tertentu, kezaliman juga dapat terjadi ketika seseorang dengan sengaja mengabaikan kewajiban yang berada dalam tanggung jawabnya, padahal ia mengetahui akibat buruk dari kelalaiannya dan memiliki kemampuan untuk mencegahnya. Seorang pemegang kekuasaan yang mengetahui adanya pelanggaran berbahaya, tetapi sengaja membiarkannya demi kepentingan tertentu, tidak dapat begitu saja melepaskan diri dari tanggung jawab moral dan agama.
Tentu tidak adil jika seluruh pejabat dan aparat disamaratakan. Banyak di antara mereka yang bekerja dengan sungguh-sungguh, bahkan mempertaruhkan keselamatan untuk mengatasi kebakaran. Kita patut menghargai kerja keras mereka. Namun, penghargaan kepada orang-orang yang menunaikan amanah tidak boleh membuat kita berhenti mengingatkan pihak-pihak yang lalai. Sebab dalam Islam, kedudukan dan kekuasaan bukanlah alasan untuk mendapatkan pengecualian dari kewajiban berlaku adil.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali.” (QS. Ar-Rum: 41).
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa kemaksiatan manusia menjadi salah satu sebab munculnya kerusakan dalam kehidupan. Ayat ini tidak boleh dijadikan alasan untuk menuduh para korban bencana sebagai orang-orang yang sedang dihukum karena dosanya, karena orang-orang yang menderita harus kita bantu dan lindungi. Namun, ayat ini mengingatkan bahwa perbuatan manusia memiliki konsekuensi, dan manusia tidak boleh bertindak seolah-olah alam serta kehidupan orang lain dapat diperlakukan sesuka hatinya.
Bayangkanlah seorang anak kecil yang harus menghirup udara tercemar akibat kebakaran lahan. Ia tidak mengetahui apa-apa tentang izin pengelolaan kawasan, keuntungan perusahaan, atau keputusan para pejabat. Ia hanya mengetahui bahwa udara yang semestinya menyegarkan kini membuatnya sulit bernapas.
Bayangkan pula seorang ayah yang setiap hari bekerja di luar rumah untuk menafkahi keluarganya, tetapi harus berhadapan dengan asap yang mengancam kesehatannya. Bukankah mereka juga memiliki hak untuk hidup dengan aman? Bukankah melindungi hak-hak mereka termasuk amanah yang wajib diperhatikan?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Hadis ini seharusnya menjadi pengingat bagi setiap orang yang menerima tanggung jawab, terutama mereka yang memegang urusan masyarakat. Kekuasaan bukan sekadar kesempatan untuk membuat keputusan, melainkan kewajiban untuk mempertanggungjawabkan akibat dari keputusan tersebut. Seorang pemimpin bukan hanya akan ditanya tentang apa yang telah dilakukannya, tetapi juga tentang amanah yang seharusnya ia tunaikan. Jika ada hak rakyat yang sengaja diabaikan, atau bahaya yang dibiarkan karena kepentingan pribadi, maka semua itu merupakan perkara yang tidak ringan di hadapan Allah.
Saudara-saudaraku, sejarah yang dikisahkan Al-Qur’an telah memberikan banyak pelajaran tentang bagaimana kekuasaan dapat menipu manusia. Fir’aun pernah memiliki kerajaan yang besar, pasukan yang kuat, dan kekuasaan yang membuat banyak orang takut kepadanya. Namun karena kezhaliman dan kekufurannya, Allah Ta’ala menghancurkan dan membinasakan Firaun beserta semua kezhalimannya.
Allah berfirman:
فَأَخَذَهُ اللَّهُ نَكَالَ الْآخِرَةِ وَالْأُولَىٰ
“Maka Allah menghukumnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia.” (QS. An-Nazi’at: 25).
Kisah Fir’aun bukanlah sekadar cerita tentang seorang penguasa pada masa lampau. Ia menjadi peringatan sepanjang zaman bahwa kekuasaan sebesar apa pun tidak dapat menjadikan manusia berada di luar pengawasan Allah.
Karena itu, seseorang boleh saja berhasil menghindari pemeriksaan manusia, tetapi tidak akan mampu menghindari hisab Allah. Ia mungkin memiliki banyak orang yang membelanya di dunia, tetapi tidak ada seorang pun yang dapat mengubah ketetapan Allah pada hari pengadilan nanti. Ia mungkin sanggup membeli berbagai kemewahan dengan harta yang diperolehnya secara batil, tetapi tidak akan mampu membeli keselamatan di akhirat dengan harta tersebut.
Tapi, kita juga hanya pandai mengecam kezaliman orang lain, sementara kezaliman yang kita lakukan sendiri justru kita anggap ringan. Kezhaliman kepada pasangan, anak-anak, keluarga, tetangga atau rekan kerja di kantor. Karena kezhaliman tetaplah sebuah kezhaliman.
Orang beriman seharusnya paling dahulu takut terhadap dosa yang dilakukannya sendiri. Ia tidak merasa lebih suci daripada orang lain, dan tidak pula menjadikan kesalahan orang lain sebagai alasan untuk meremehkan kesalahannya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Takutlah kalian terhadap kezaliman, karena kezaliman adalah kegelapan-kegelapan pada hari kiamat.” (HR. Muslim).
Sesungguhnya, betapa besar kebutuhan kita terhadap cahaya pada hari ketika manusia dibangkitkan untuk mempertanggungjawabkan amalnya. Jangan sampai kehidupan yang sebentar ini kita gunakan untuk mengumpulkan berbagai bentuk kezaliman yang kelak berubah menjadi kegelapan bagi diri kita sendiri.
Oleh karena itu, marilah kita membangun kehidupan yang lebih jujur, mulai dari diri sendiri, keluarga, pekerjaan, dan lingkungan kita. Para pemimpin hendaklah menjaga amanah dan mendengarkan kebutuhan rakyatnya. Para penegak hukum hendaklah menegakkan keadilan tanpa membeda-bedakan kedudukan. Para pengusaha hendaklah mencari keuntungan dengan cara yang halal dan tidak merusak kehidupan masyarakat. Sementara kita semua hendaklah saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, mendukung upaya pencegahan kerusakan, serta membantu saudara-saudara kita yang mengalami kesulitan.
Dan apabila hari ini kita menyaksikan kezaliman yang belum mendapatkan penyelesaian, janganlah kita kehilangan kepercayaan kepada keadilan Allah. Teruslah menempuh jalan yang benar untuk memperjuangkan hak, tanpa melakukan kezaliman baru. Sebab Allah tidak pernah lalai, sekalipun manusia tidak selalu memahami waktu dan hikmah ketetapan-Nya.
Ingatlah, saudara-saudaraku, kehidupan manusia akan berakhir, kekuasaan akan berpindah, kekayaan akan ditinggalkan, dan semua jabatan akan dilepaskan. Tetapi perbuatan yang pernah kita lakukan akan tetap menyertai kita sampai hari ketika setiap manusia berdiri sendiri di hadapan Allah.
Segala kezaliman yang tersembunyi dari mata manusia, takkan pernah terluput dari Allah.
بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Salah satu perkara yang sering dilupakan oleh orang yang berbuat zalim ialah bahwa hak orang lain tidak akan hilang hanya karena waktu telah berlalu. Seseorang mungkin telah melupakan uang yang pernah diambilnya secara tidak benar. Ia mungkin tidak lagi mengingat siapa yang pernah dirugikan oleh keputusannya. Ia bahkan mungkin telah menikmati hasil perbuatannya selama bertahun-tahun. Akan tetapi, sesuatu yang telah dilupakannya itu tidak pernah hilang dari catatan Allah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ، فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ، قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ
“Barang siapa memiliki tanggungan kezaliman terhadap saudaranya, baik mengenai kehormatannya maupun sesuatu yang lain, hendaklah ia meminta penyelesaian darinya pada hari ini, sebelum datang hari ketika tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR. Al-Bukhari).
Betapa besar kasih sayang Allah yang masih memberi kita kesempatan untuk memperbaiki kesalahan sebelum datangnya kematian. Selama seseorang masih hidup, pintu tobat masih terbuka.
Namun, tobat dari kezaliman terhadap manusia tidak cukup hanya dengan ucapan istigfar. Ia harus disertai penyesalan yang tulus, penghentian perbuatan zalim, tekad untuk tidak mengulanginya, dan pengembalian hak kepada pemiliknya sesuai kemampuan serta ketentuan syariat.
Kepada saudara-saudara kita yang sedang mengalami penderitaan, baik akibat korupsi, kesewenang-wenangan, maupun kerusakan lingkungan, hendaklah kita memberikan bantuan sesuai kemampuan. Kita tidak boleh hanya menjadi penonton atas penderitaan mereka. Adapun bagi orang-orang yang diberikan kekuasaan dan tanggung jawab, hendaklah mereka menyadari bahwa jabatan adalah amanah yang harus dipergunakan untuk menjaga kemaslahatan manusia, bukan sarana untuk memperoleh keuntungan dengan mengorbankan hak masyarakat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ، فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ
“Dan takutlah terhadap doa orang yang dizalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Semoga hadis ini melembutkan hati setiap orang yang memegang amanah.
Jangan sampai seseorang begitu sibuk mempertahankan kedudukannya hingga lupa mendengarkan penderitaan orang-orang yang berada di bawah tanggung jawabnya. Sebab suara orang-orang yang lemah mungkin tidak selalu didengar oleh mereka yang berkuasa, tetapi tidak ada doa yang tersembunyi dari pendengaran Allah.
Akhirnya, saudara-saudaraku, marilah kita menutup khutbah ini dengan harapan dan doa. Semoga Allah memperbaiki keadaan kita, membimbing para pemimpin kita, menolong saudara-saudara kita yang sedang tertimpa kesulitan, dan menjadikan negeri ini tempat tumbuhnya kejujuran, keadilan, serta kebaikan.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.” (QS. Al-Ahzab: 56).
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا، وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dosa pasangan kami, anak-anak kami, keluarga kami, guru-guru kami, dan seluruh kaum Muslimin dan Muslimat, yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
Ya Allah, karuniakanlah kepada kami hati yang sejuk dengan iman, lisan yang basah dengan zikir, amal yang ikhlas, rezeki yang halal, dan kehidupan yang dipenuhi keberkahan.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِلْعَدْلِ وَالْحَقِّ، وَارْزُقْهُمُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ النَّاصِحَةَ.
Ya Allah, perbaikilah keadaan para pemimpin kami. Bimbinglah mereka untuk menegakkan keadilan, menjaga amanah, dan melindungi hak-hak rakyat. Karuniakanlah kepada mereka penasihat yang jujur dan hati yang takut kepada-Mu. Jauhkanlah mereka dari godaan korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan segala keputusan yang menimbulkan penderitaan bagi masyarakat.
Ya Allah, lindungilah negeri kami dari berbagai bencana dan kerusakan. Selamatkanlah hutan, sungai, tanah, dan seluruh kekayaan alam yang Engkau amanahkan kepada kami. Tolonglah saudara-saudara kami yang menjadi korban kebakaran hutan dan lahan. Sembuhkanlah mereka yang sakit, lapangkanlah rezeki mereka yang kehilangan penghidupan, dan berikanlah kekuatan kepada orang-orang yang bekerja dengan tulus untuk menyelamatkan kehidupan.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ.
Ya Allah, turunkanlah keberkahan-Mu kepada negeri kami. Jauhkanlah negeri kami dari kekeringan, kebakaran, banjir, gempa bumi, wabah penyakit, kerusuhan, perpecahan, dan seluruh keburukan yang tampak maupun yang tersembunyi.
Ya Allah, perbaikilah para pemimpin kami. Bimbinglah mereka agar memimpin dengan adil, amanah, takut kepada-Mu, menyayangi rakyat, melindungi kaum lemah, menjaga agama, serta memelihara keamanan dan kebaikan negeri.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَارْزُقْهُمُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ النَّاصِحَةَ.
Ya Allah, jagalah para ulama yang istiqamah di atas Al-Qur’an dan Sunnah. Karuniakan kepada mereka keikhlasan, ilmu yang bermanfaat, kesehatan, keberanian menyampaikan kebenaran, serta kelembutan dalam membimbing umat.
Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami yang tertindas di mana pun mereka berada. Berilah makan kepada yang kelaparan, pakaian kepada yang kekurangan, tempat tinggal kepada yang kehilangan rumah, obat kepada yang sakit, keamanan kepada yang ketakutan, dan kebebasan kepada yang dizalimi.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ



