بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Semakin tinggi keimanan dan ketakwaan seorang hamba kepada Allah Subhanahu wata’ala bukan menjadi ukuran bahwasanya ia terbebas dari godaan syaithan, akan tetapi selama manusia masih hidup syaithan akan senantiasa selalu berusaha untuk menggelincirkan dalam perbuatan dosa dan maksiat yang dibenci oleh Allah Subhanahu wata’ala. Dan bahkan semakin tinggi keimanan dan ketakwaan seseorang maka semakin berat ujian dan cobaan yang akan ia hadapi, oleh karenanya selama kita masih hidup didunia senantiasalah untuk meminta perlindungan dari Allah Subhanahu wata’ala agar kita termasuk orang – orang yang dijauhkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dari godaan syaithan.

Dalam sebuah kisah dimana seorang ahli ibadah yang rajin mengerjakan amalan sholeh selama bertahun – tahun namun diakhir hidupnya ia mati dalam keadaan sujud kepada syaithan hal ini termasuk dosa besar (Syirik) yang tidak akan diampuni oleh Allah Subhanahu wata’ala. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya”. (QS. An Nisa’: 48).

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

كَمَثَلِ الشَّيْطَانِ إِذْ قَالَ لِلْإِنْسَانِ اكْفُرْ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِنْكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ

(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) syaithan ketika dia berkata kepada manusia: “Kafirlah kamu”, maka tatkala manusia itu telah kafir, maka ia berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta Alam“.(QS. Al-Hasyr : 16).

Sebuah kisah yang disebutkan  oleh ulama tafsir seperti Imam at Thabari, Imam Ibnul Jauzy dan Imam Ibnul Qayyim ketika menjelaskan ayat diatas beliau mengatakan: “Syaithan tidak langsung berkata kafirlah kepada Allah Subhanahu wata’ala  akan tetapi ada proses”.

Dikisahkan oleh para ulama bahwa dizaman dahulu ada seorang sholeh beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala selama 70 tahun lamanya yang tidak pernah sekalipun bermaksiat kepada Allah Subhanahu wata’ala secara zhahir ia bernama Barsisa memiliki tempat ibadah yang khusus untuk bertakarrub kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Se zaman dengan Barsisa ada 3 orang pemuda (sebagian riwayat mengatakan dia adalah anak raja atau anak seorang pembesar yang telah meninggal dunia_penj) dan ketiga pemuda ini memiliki adik yang masih gadis, ketiga pemuda ini adalah orang – orang sholeh mereka bertiga hendak keluar bersamaan untuk sebuah kepentingan yang mendesak  (ada yang mengatakan untuk jihad fisabilillah) namun mereka diperhadapkan pada sebuah masalah siapa yang menjaga anak gadis mereka.

Mereka kemudian berdiskusi akhirnya salah satu dari mereka berkata:”kita titip pada seorang  ahli ibadah yang sholeh disana ia akan aman yaitu Barsisa”, akhirnya mereka mendatangi Barsisa dan berkata:”Ya Barsisa kami hendak keluar untuk keperluan yang sangat penting tolong jaga adik kami”, Barsisa kemudian berkata:”Nauzubillah bagaimana saya bersama dengan seorang wanita”. ketiga pemuda kemudian berkata:”Ya Barsisa tidak ada orang lain yang kami amanahkan atau kami akan membuatkan sebuah tempat untuk adik kami dibelakang tempat ibadahmu kami hanya meminta anda membawakan makanan setiap hari untuknya letakkan di depan pintunya kemudian tinggalkan”. Barsisa kemudian mengatakan:”Kalau begitu boleh“.

Berangkatlah ketiganya dan adiknya yang masih gadis ditinggal dibelakang rumah ibadahnya Barsisa, setiap hari Barsisa mengantarkan makanan untuknya diletakkan di depan pintu rumahnya kemudian ia meninggalkannya hal demikian dilakukan Barsisa dalam waktu yang begitu lama lalu syaithan kemudian mulai menggodanya dengan berkata kepada Barsisa:”Ya Barsisa apakah engkau tidak kasihan pada gadis itu cobalah beri salam kepadanya hanya sekedar untuk mendengarkan suaranya  dia begitu kasihan sudah lama kesepian agar engkau juga mengetahui bahwa dia dalam keadaan sehat”, akhirnya Barsisa mengatakan:”Baiklah“, ia kemudian membawakan makanan tersebut sambil memberi salam kepada wanita tersebut setelah mendengarkan suara dan kabarnya Barsisa kemudian pergi“ hal inipun lalukan setiap hari.

Syaithan kemudian datang lagi dan berkata:” Ya Barsisa ini bisa menimbulkan fitnah ketika engkau berbicara dengannya dari  balik pintu, orang kemudian akan berkata ketika melihatmu:”Barsisa ini ahli ibadah kemudian berbicara dengan seorang wanita dibalik pintu, lebih baik masuk Barsisa tidak ada yag lihat”, Barsisa mengatakan:”betul juga”, Barsisa kemudian mulai mengetuk pintu dan memberi salam kemudian masuk mengantarkan makanan sekedar bicara setelah itu ia keluar lagi.

Syaithan terus bersabar, Barsisa kemudian kembali ketempat ibadahnya dan mulai rusak konsentrasinya dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala, akhirnya yang terjadi selanjutnya adalah sesuatu yang tidak di inginkan oleh Barsisa sebelumnya, akhirnya terjadilah perzinahan dan setelah berzina wanita tersebut hamil dan dia melahirkan seorang bayi.

Syaithan kemudian datang lagi dan berkata:”Ya Barsisa, apakah engkau merasa aman dengan bayi itu, nanti saudaranya akan datang dan mengetahui hal tersebut maka engkau akan dibunuh maka dari itu bunuh bayinya”. Akhirnya bayi tersebut dibunuh oleh Barsisa.

Syaithan datang lagi dan berkata:”Ya Barsisa, apakah engkau merasa aman dari wanita itu nanti dia akan beritahu kepada saudaranya tentang perbuatanmu dan engkau akan dibunuh, maka dari itu bunuh dia”. akhirnya Barsisa membunuh wanita tersebut dan ia kuburkan ditempat yang sama dengan bayinya.

Setelah ketiga orang pemuda tersebut kembali dari hajatnya mereka datang untuk menjemput adiknya, Barsisa kemudian berkata dengan nada sedih:”Adik kalian sakit sehingga ia meninggal dunia kuburannya ada disana“, ketiga lelaki ini kemudian percaya kepada Barsisa Karena  kesholehannya yang tidak memungkinkan baginya untuk berdusta, akhirnya ketiga lelaki ini kembali kerumahnya dalam keadaan  bersedih, ketika mereka istrahat dan tidur akhirnya syaithan masuk dalam mimpi mereka dan menyampaikan kejadian yang sebenarnya mereka kemudian kembali ketempat tersebut dan menggali kubur adiknya dan ternyata ia melihat jazad bayi yang ada dekat adiknya, akhirnya mereka kemudian mengatakan:”Apa yang kita lihat dalam mimpi tersebut benar”. Mereka kemudian mengikat Barsisa ditiang gantungan.

Syaithan kemudian datang lagi dan menawarkan bantuan kepada Barsisa dengan berkata:”Ya Barsisa, Apakah engkau tahu siapa saya” , Barsisa kemudian berkata:”Ya, engkau adalah Iblis disebabkan karena engkau aku diperlakukan seperti ini”, Iblis kemudian berkata:”Karena saya yang menggelincirkanmu maka saya juga yang akan menyelamatkanmu  ya Barsisa”, Barsisa kemudian bertanya:”Bagaimana caranya.?”, Iblis kemudian berkata:”Kafirlah engkau kepada Allah dan sujudlah kepadaku sekali saja”, Akhirnya ketika Barsisa sujud kepada iblis”, Iblis kemudian berkata:”Saya berlepas diri darimu dan saya juga takut kepada Allah Subhanahu wata’ala”. Barsisa kemudian meninggal dalam keadaan syirik kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Dari kisah diatas kita bisa mengambil beberapa pelajaran :

  1. Syaithan begitu sabar dalam menggoda dan menggelicirkan anak cucu adam sekalipun dia adalah orang yang sholeh yang taat beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala.
  1. Ketika seseorang tejatuh dalam satu dosa maka syaitham akan berusaha untuk menggelincirkan seseorang tersebut pada dosa yang lain, sehingga dosa yang ia kerjakan menjadi dosa yang besar.
  1. Wanita merupakan senjata dan fitnah yang paling ampuh bagi syaithan untuk menggelincirkan anak cucu adam kedalam dosa dan maksiat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

Aku tidak meninggalkan satu fitnah pun yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita”. (HR. Bukhari: 5096 dan  Muslim: 2740).

Sufyan Ats Tsauri Rahimahullah mengatakan: “Silakan kau suruh aku menjaga rumah mewah penuh harta melimpah, namun jangan kau suruh aku menjaga wanita yang tidak halal bagiku meskipun berupa budak yang hitam legam”.

  1. Ketika anak cucu adam terjatuh dalam dosa dan maksiat maka syaithan kemudian berusaha bagaimana membuat pelaku dosa dan maksiat tersebut berputus asa dari rahmat Allah Subhanahu wata’ala, sehingga pelaku dosa dan maksiat tersebut tidak lagi bergantung kepada Allah Subhanahu wata’ala. Oleh karenanya puncak keberhasilan syaithan dalam menggeincirkan anak cucu adam adalah bagaimana pelaku dosa dan maksiat berputus asa dari rahmat Allah Subhanahu wata’ala sehingga ia mati dalam keadaan kufur kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Oleh sebab itu apabila kita terjerumus ke dalam suatu dosa dan maksiat maka kembali kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan bertaubat dan memperbaiki diri karena, Allah Subhanahu wata’ala maha pengampun dan maha luas rahmat-Nya, karena apabila seseorang berputus asa dari rahmat Allah Subhanahu wata’ala dari dosa yang ia kerjakan maka tidak ada lagi harapan baginya untuk kebaikan dunia dan akhirat dan ketika seseorang berputus asa dari rahmat Allah Subhanahu wata’ala maka syaithan berusaha bagaimana ia mati dalam keadaan kufur kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Kamis , 05 Jumadil Awal 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi :
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE : mim.or.id

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.