بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Nabi Musa dan Khadir berada dipinggir pantai hendak mendatangi sebuah tempat dan membutuhkan kendaraan atau tumpangan disana ada perahu yang dibawa oleh pemiliknya, perahu yang bagus, cantik dan indah dan pemiliknya ini mengenal Khadir sebagai hamba yang sholeh makanya keduanya dipersilahkan untuk naik diatas perahu gratis tidak perlu bayar, ini sebagai bentuk berkhidmah kepada ahlul ilmu dan ini juga menunjukkan tentang bolehnya seorang ahlu ilmu menerima sesuatu dari orang lain selama dia tidak meminta dan selama dia tidak berharap sebelumnya, jadi ketika dia menawarkan tumpangan dan Khadir ini adalah hamba yang sholeh keduanya dipersilahkan naik diatas perahu secara gratisl, maka naiklah keduanya dan ketika keduanya telah naik diatas perahu diujung perahu ada seekor burung yang mematuk – matuk air laut dan ada air yang ikut diparuhnya, Khadir berkata kepada Musa:”Wahai Musa ketahuilah sesungguhnya ilmu ku jika dikumpul dengan ilmu mu dibandingkan dengan ilmunya Allah hanya seperti burung yang mematuk laut yang ada di depan kita ini dan air yang ikut diparuhnya itulah ilmu kita berdua dibandingkan dengan ilmunya Allah Subhanahu wata’ala, Allah berfirman:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. (QS. Al-Isra: 85).

Oleh karenanya jangan pernah sombong dengan ilmu, Imam Al Mawardi Rahimahumullah salah seorang ulama yang terkenal, beliau pernah duduk dimajelis dan tiba – tiba datang was – was dan bisikan syaithan di dalam hatinya dia mengatakan:”Tidak ada lagi orang yang lebih ‘alim dari mu di tempat ini kecuali engkau“, namun Subhanallah belum selesai bisikan itu di dalam hatinya tiba – tiba muncul seorang wanita membawa anaknya yang masih kecil atau putrinya dia bertanya kepada Imam Mawardi tentang suatu perkara yang berkaitan dengan masalah haid, Imam Mawardi dengan keilmuwannya tidak bisa menjawab pertanyaan itu, ketika wanita ini pergi dalam keadaan tidak mendapatkan jawaban dia berjumpa dengan muridnya Imam Mawardi yang baru mau masuk, dia bertanya kepadanya dan dia mendapatkan jawaban yang sempurna padahal dia adalah murid Imam Mawardi disini Allah hendak menegur beliau, oleh karennya jangan pernah merasa cukup dengan apa yang Allah berikan kepada kita dan teruslah menuntut ilmu.

Tiba – tiba Khadir melubangi perahu beliau mengambil kapak dan melubangi perahu dari dalam dan tentu hal ini diingkari oleh Nabi Musa dan Nabi Musa lupa dengan syarat yang disampaikan oleh Nabi Khadir tentang jangan bertanya sebelum disampaikan alasannya, tiba –tiba Nabi Musa berkata sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah:

فَانْطَلَقَا حَتَّىٰ إِذَا رَكِبَا فِي السَّفِينَةِ خَرَقَهَا ۖ قَالَ أَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ أَهْلَهَا لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا إِمْرًا

“Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhr melobanginya. Musa berkata:”Mengapa kamu melobangi perahu itu akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?” Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar”. (QS. Al-Kahfi: 71).

Pertanyaan:“Nabi Musa dan Khadir berada diluar perahu atau di dalam perahu pada saat Nabi Khadir melubangi perahu. ?”, jawabannya beliau di dalam perahu, tapi disini Nabi Musa mengatakan:“Mengapa kamu melobangi perahu itu akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?“, Musa tidak berkata:”Mengapa kamu melobangi perahu itu akibatnya kamu menenggelamkan kita ”, jadi Musa lupa bahwasanya dia juga akan tenggelam, Musa lupa dirinya karena dia memikirkan ummat atau memikirkan orang lain dari pada dirinya sendiri.

Nabi Khadir kemudian menjawab perkataan Nabi Musa:

قَالَ أَلَمْ أَقُلْ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا

“Dia (Khidhr) berkata: “Bukankah aku telah berkata: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku”. (QS. Al-Kahfi: 72).

Seakan akan Khadir berkata:“Engkau sudah lupa wahai Musa, ini syarat antara aku dengan engkau agar engkau bisa mengikutiku“. Pada peristiwa ini beliau betul – betul lupa, akhirnya beliau berkata:

قَالَ لَا تُؤَاخِذْنِي بِمَا نَسِيتُ وَلَا تُرْهِقْنِي مِنْ أَمْرِي عُسْرًا

“Musa berkata: “Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku”. (QS. Al-Kahfi: 73).

Musa spontan dan reflex mengingkarinya, beliau kemudian dimaafkan oleh Khadir, keduanya melanjutkan perjalanan tiba – tiba khadir melihat ada sekelompok anak yang sedang bermain dia mencari anak yang paling ganteng parasnya kemudian anak itu dia bawa ke balik sebuah batu besar dan dibunuh ditempat itu, Nabi Musa harus mengingkari kemungkaran tersebut, jadi yang pertama Musa sudah lupa adapun peristiwa yang kedua ini dia tidak lupa dan dia melihat hal tersebut karena dia seorang Nabi maka beliau harus mengingkari perbuatan Khadir, beliau kemudian berkata:

فَانْطَلَقَا حَتَّىٰ إِذَا لَقِيَا غُلَامًا فَقَتَلَهُ قَالَ أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةً بِغَيْرِ نَفْسٍ لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا نُكْرًا

“Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata: “Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar”. (QS. Al-Kahfi: 74).

Disini Khadir kembali mengingatkan Musa, Faidah:”Coba perhatikan di mushaf pada peritiwa yang pertama Khadir mengatakan:

قَالَ أَلَمْ أَقُلْ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا

“Dia (Khidhr) berkata: “Bukankah aku telah berkata: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku”.(QS. Al-Kahfi: 72).

Adapun pada peristiwa yang kedua Beliau berkata:

 قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا

“Khidhr berkata:”Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?”. (QS. Al-Kahfi: 75).

Pada ucapan khadir yang kedua ada tambahan kata “Laka” dalam ayat, adapun pada perkataan khadir yang pertama tidak ada, jadi perkataan Khadir yang kedua sebagai bentuk penegasan agar Musa tidak bertanya lagi.

Akhirnya Musa kembali minta maaf dengan berkata:

قَالَ إِنْ سَأَلْتُكَ عَنْ شَيْءٍ بَعْدَهَا فَلَا تُصَاحِبْنِي ۖ قَدْ بَلَغْتَ مِنْ لَدُنِّي عُذْرًا

“Musa berkata:”Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku”. (QS. Al-Kahfi: 76).

Beliau dimaafkan oleh Khadir dan diberikan kesempatan sekali lagi oleh khadir dan disinilah ketika Rasulullah menceritakan kisah ini Rasulullah berkata:”Rahimallahu Musa andaikan beliau bisa sedikit bersabar saja maka masih banyak ilmu yang lain yang bisa kita pelajari dari Khadir tapi Nabi Musa tidak bersabar”. Ini pelajaran bahwasanya jika kita tidak bersabar maka bisa menjadi sebab kita tidak mendapatkan apa yang kita cita – citakan, jadi harus kita bersabar.

Bersambung….

………………………………………………

Wallahu a’lam bisshowab

Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Rabu, 21 Rabiul Akhir 1441 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.