بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Nabi Musa pernah ceramah di depan kaumnya (Bani Israil), Israil merupakan keturunan Nabi Yaqub, Nabi Musa berceramah, Rasulullah berkata:”Ceramahnya menyentuh sampai – sampai orang pada menangis, hatinya semakin takut, Nabi Musa mengingatkan mereka dengan hari – hari Allah, dengan nikmat Allah, dengan musibah sehingga mereka tersentuh, setelah ceramah Nabi Musa di ikuti oleh seorang dari Bani Israil ia bertanya:”Wahai Musa adakah orang yang lebih ‘alim darimu di dunia ini”,

Faidah, dalam kajian sebagian ulama itu benci dengan pertanyaan dimajelis yang di dalamnya membanding – bandingkan antara seorang ustadz dengan ustadz yang lain,. Misalnya ada yang bertanya:“Apa hukumnya ini”, setelah diberitahu jawabannya ia berkata:”Tapi ustadz ini berkata begini”, maka hal ini tidak boleh dan ini kurang adab terhadap seorang ustadz kecuali jika dimajelis ilmiah, tapi jika misalnya hanya sekedar untuk mencari – cari kesalahan dan kekurangan ustadz yang lain atau juga mencari – cari keringanan maka ini tidak boleh, jadi ada orang yang bertanya mencari – cari keringanan sesuai hawa nafsunya jika sesuai hawa nafsunya dia mengambilnya dan ini dikhawatirkan oleh sebagaian ulama seperti Sulaiman At Taimi Rahimahullah berkata:

“Siapa yang sengaja mencari – cari ketergelinciran para ulama atau keringanan – keringanan mereka maka dia sudah zindik atau hampir zindiq atau berkumpul pada dirinya seluruh keburukan”, jadi dia bertanya hanya untuk mencari keringanan saja sesuai hawa nafsunya. Yang kedua untuk mengetes dan ini juga tidak boleh dan pertanyaan seperti ini mazmum.

Jadi orang ini bertanya kepada Nabi Musa:”Adakah yang lebih ‘alim dari anda di dunia ini“. Nabi Musa kemudian menjawab:”Saya tidak tahu ada orang yang lebih ‘alim dari saya di dunia ini”, ucapan Nabi Musa ini sebenarnya bukan dimaksudkna untuk ujub dan sombong tetapi beliau menjawab sesuai dengan apa yang beliau ketahui karena beliau mengira bahwa hanya beliau yang diutus menjadi Nabi pada saat itu, Jadi beliau menjawab normatif saja karena beliau tahu bahwasanya cuma beliau yang diutus oleh Allah sebagai Nabi dan disinilah Allah Subhanahu wata’ala menegur Nabi Musa ‘Alaihissalam dan menyampaikan kepada beliau bahwasanya disana ada seorang hamba yang sholeh yang memiliki ilmu yang engkau tidak miliki wahai Musa, Allah tidak mengatakan dia lebih ‘alim darimu wahai Musa tapi Allah mengatakan:”Dia memiliki ilmu yang engkau tidak miliki wahai Musa“. karena terkadang ada sesuatu yang kita dapati di sungai tidak kita dapatkan dilaut, laut lebih luas dari sungai makanya Imam Bukhari menyebutkan bahwasanya seseorang belum dikatakan muhaddist sebelum dia mengambil dari seseorang yang lebih tinggi dari dia, yang lebih rendah dari dia dan dari yang selevel dari dia, inilah ketawadhuan penuntut ilmu, mengambil ilmu dari orang yang lebih ‘alim darinya, lebih rendah darinya atau yang selevel dengannya makanya Allah menyampaikan kepada Nabi Musa bahwasanya disana ada seorang hamba yang memiliki ilmu yang tidak engkau ketahui wahai Musa siapa nama hamba tersebut beliau bernama Khadir yang biasa kita sebut Khidir namun yang shahih yaitu Khadir atau dari kata ahdar (hijau), disini Nabi Musa bertekad bahwasanya saya harus mendatangi orang itu, disinilah dimulai perjalanan ilmiah Nabi Musa menuntut ilmu yang Allah ceritakan di dalam Al-Qur’an:

Musa bersama dengan anak muda yang bernama Yusha bin Nun mencari hamba yang sholeh tersebut yang bernama Khadir

Dan faidah yang kita bisa ambil bahwasanya disunnahkannya ketika kita melakukan safar atau bepergian itu bersama dengan orang lain, itu lebih baik dan lebih aman, Nabi Musa dengan tekad yang kuat mengatakan:”Saya tidak akan berhenti untuk berjalan atau bersafar sebelum tiba ditempat itu yang bernama Majma Al Bahrain yang kata Allah disitulah Khadir berada walaupun saya harus berjalan selama waktu yang lama“, dan ini pelajar bagi para penuntut ilmu dalam menuntut ilmu atau menghafal Al-Qur’an katakan kepada diri kita:”Saya tidak akan berhenti sebelum meraih cita – cita saya”, tidak boleh putus semangat, tidak boleh kendor, futur boleh sekali – sekali tetapi tidak boleh berhenti harus terus berjalan sampai cita –cita itu terwujudkan dan ini azzam yang dicontohkan oleh Nabi Musa ‘Alaihissalam, beliau mengatakan:” Saya tidak akan berhenti untuk berjalan atau bersafar sebelum tiba ditempat ….”, Nabi Musa bertanya kepada Allah :”Ya Rabb bagaimana saya bisa mengenali orang itu atau bagaimana saya bisa tahu bahwasanya saya sudah sampai ditempat itu, Allah Azza Wajalla berkata:

“Bawalah bersama-sama kamu seekor ikan di dalam sangkar dan sekiranya ikan tersebut hilang, di situlah kamu akan bertemu dengan hamba-Ku itu”.

Faidah yang bisa kita ambil bahwasanya dalam menuntut ilmu dibutuhkan yang namanya azzat (perbekalan) makanya banyak dikalangan para ulama diantaranya Hisyam yang terkenal salah seorang perawi bahkan dari ulama qiraat sampai ibunya menjual rumahnya untuk membiayai anaknya menuntut ilmu menuju Madinah berjumpa dengan Imam Malik, olehnya butuh perbekalan dan jangan selalu mencari yang gratisan, harus ada usaha, ini bagian dari pengorbanan, bahkan ada yang sampai kelaparan seperti Abu Hurairah yang bermulazamah kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menuntut ilmu

Jadi Nabi Musa disuruh untuk berbekal dan bekalnya adalah seekor ikan (ikan mati yang diolah dan bisa tahan lama) ikan tersebut disimpan disebuah tempat yang dibawa oleh pembantunya Yusha, Allah mengatakan dimana ikan itu tiba – tiba hidup disitulah tempatnya dan ini mu’jizat dari Allah Subhanahu wata’ala yang bisa menghidupkan sesuatu yang mati tidak ada yang mustahil bagi Allah Subhanahu wata’ala dan ini yang dijadikan sebagai tanda, Nabi Musa ‘Alaihissalam berbekal dengan se’ekor ikan diberikan kepada muridnya Yusha, Yusha yang membawa ikan itu dan Yusha tidak diberitahu oleh Musa bahwasanya nanti ikan ini hidup dan jika hidup disitulah tempat yang kita tuju.

Ketika mereka sampai di Majma’ah Bahrain mereka singgah beristirahat, Nabi Musa tertidur, Yusha berjaga duduk disebuah batu yang besar tiba – tiba Yusha dikagetkan dengan bergeraknya tempat ikan itu dengan kuat dan ikan yang berada di dalam tempat itu tiba – tiba loncat keluar dan kejadian ini dipinggir pantai, ikan berjalan atau masuk ke laut, dia kaget namun dia tidak membangunkan gurunya Musa ‘Alaihissalam, Yusha mengatakan:”Nanti saya ceritakan karena guru saya lagi beristirahat”, jadi ini adab bagi seorang murid ketika ustadz lagi beristirahat jangan diganggu.

Saya ketika baru tiba dari Saudi saya sangat capek dan sudah jam 11 malam, saya matikan hp tiba – tiba ada yang kedor pintu, saya merasa terganggu, saya bersiap – siap keluar untuk memberikan pelajaran, ketika saya buka pintu kamar ternyata di depan pintu ada Ustadz Fakhrurrazi Anshar, beliau baru pulang dari ceramah, singgah beli roti maros dengan kue banyak beliau bawa, dia berkata:”Ustadz saya tidak mau ganggu lama – lama, saya tahu ustadz baru tiba, ini yang saya mau kasi singgah silahkan istrahat ustadz”, saya tidak jadi marah justru saya bikin teh dan menikmati roti maros itu.

Setelah Nabi Musa terbangun keduanya melanjutkan perjalanan, Nabi Musa tidak tahu apa yang terjadi, keduanya melanjutkan perjalanan sampai ketika keduanya melewati Majmaah Bahrain yang mana ditempat itulah semestinya Nabi Musa bertemu dengan Khadir, Nabi Musa merasa letih dan capek dan mau makan, akhirnya ia berkata kepada Yusha, keluarkan bekal kita, kita makan siang sekarang.

Sebagian ulama tafsir mengatakan keduanya sudah berjalan setengah hari ada yang mengatakan sudah hampir masuk waktu malam melewati tempat itu, Musa berkata:” Sungguh kita telah mendapatkan dalam perjalanan ini keletihan yang luar biasa“, safar kata Rasulullah adalah bagian dari azab, olehnya mengapa doa yang bersafar itu makbul karena dia sedang tidak bersama dengan keluarganya, makan tidak seperti ketika dia berada dirumahnya, ketika Nabi Musa berkata seperti itu maka teringatlah Yusha dengan kejadian aneh tadi yang belum ia ceritakan kepada gurunya, ini hikmah dari Allah menjadikan yusha lupa akan hal tersebut.

Faidah bagaimana ketawadhuan seseorang ustadz kepada muridnya padahal sudah berjalan setengah hari baru kemudian Yusha mengatakan:”Ada kejadian aneh tadi kita harus kembali Karena disanalah bekal kita itu hilang”. Tapi Nabi Musa tidak memarahi Yusha, Yusha berkata:”Sebaiknya kita kembali ke batu besar tempat kita beristirahat tadi yaitu di Majma’ah Bahrain sesungguhnya aku lupa ikan disana yang menjadi bekal kita dan saya lupa menceritakan kejadian aneh kepada anda dan tidak ada yang membuat saya lupa kecuali syaithan untuk mengingatnya, sungguh ikan itu wahai musa dia turun kelaut dengan sungguh aneh dan menakjubkan”. Musa berkata itulah tempat yang kita hendak tuju, keduanya kemudian kembali.  

………………………………………………

Wallahu a’lam bisshowab

Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Sabtu, 17 Rabiul Akhir 1441 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

                

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.