بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Kejujuran membuat kita mulia disisi Allah Subhanahu wata’ala dan kedustaan membuat kita hina di dunia dan diakhirat dan Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan kita didalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”.  (QS. At Taubah: 119).

Jika kita mentadabburi ayat ini maka ayat ini diturunkan dalam sebuah kisah indah yang menimpa salah seorang sahabat  yang bernama Ka’ab bin Malik Radhiyallahu ‘anhu begitupula sahabat yang mulia Hilal bin Umayyah dan Murarah bin ar-Rabi’ Radhiyallahu anhum dalam surah At Taubah dikisahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala:

Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam diperintahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala untuk berjihad mendatangi kota tabuk yang sangat jauh dan beliau mengajak seluruh sahabat kecuali sahabat yang memiliki udzur syar’i namun sahabat Ka’ab bin Malik Radhiyallahu ‘anhu beliau telah mempersiapkan pembekalannya dan membeli kendaraan akan tetapi beliau selalu menunda – nunda untuk berangkat.

Dan inilah bahayanya menunda – nunda kebaikan olehnya jangan kita sebagai orang muslim selalu menunda – nunda kebaikan. Jika ada kebaikan maka segerakan jangan menunda – nunda akan tetapi selisihi hawa nafsu dan ikuti kata hati, kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam :

 عَنْ أَبِى يَعْلٰى شَدَّادِ بنِ أَوْسٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ عن النَّبِىِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم قَالَ: الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ , وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا , وَتَمَنَّى عَلَى الله . رَوَاهُ التُّرْمُذِى, وقال : حَدِيْثٌ حَسَنٌ . قَالَ التُّرْمُذِى وَغَيْرُهُ مِنَ الْعُلَمَاء : مَعْنَى دَانَ نَفْسَهُ حَاسَبَهَا

Dari Abi Ya’la Syaddad bin Aus Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda: “Orang yang cerdas adalah yang bisa mengendalikan hawa nafsunya dan berbuat untuk (kepentingan) masa setelah kematiannya. Orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya, dan berangan-angan pada (kemurahan) Allah”. (HR Tirmudzi, dia berkata: Hadits ini hasan).

Akhirnya sahabat Ka’ab bin Malik Radhiyallahu ‘anhu benar – benar terlambat dan ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah berada dalam tabuk kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata:”Mana Ka’ab bin Malik kenapa dia tidak bersama dengan kita”, ada diantara mereka yang mengatakan:”Ya Rasulullah dia tergiur dengan dunianya“. karena pada saat itu dimadinah sudah siap panen kurma, namun subhanallah Muadz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu ketika mendengarkan seorang sahabat berkata demikian ia kemudian menyangkal ucapan sahabat tersebut.

Ini sebuah kaidah jika ada saudara kita yang dilanggar disebuah majelis bela dia jangan justru mencari cari kesalahan dan aibnya serta  mengaminkan berita yang sampai kepada kita tentang saudara kita.

Muadz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu kemudian mengatakan:”Seburuk – buruk yang engkau katakan, Ya Rasulullah kami tidak mengenal Ka’ab bin Malik kecuali kebaikan”, oleh karenanya berilah udzur kepada saudara kita yang dilanggar kehormatan dan nama baiknya agar kita termasuk orang – orang yang dibela oleh Allah Subhanahu wata’ala dihari kemudian, jangan kita termasuk orang – orang yang suka mencari aib serta kesalahan saudara kita dan termasuk yang ikut membenarkan apa yang dikatakan oleh orang – orang tentang keburukan dan aib saudara kita.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kembali dari perang tabuk dan kebiasaan beliau sebelum tiba dimadinah dari safar beliau ke masjid terlebih dahulu maka maka berdatanganlah orang – orang yang tidak ikut berjihad kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam termasuk orang – orang munafik menyampaikan udzur dan alasannya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, datanglah mereka satu persatu menyampaikan udzur dan alasannya dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menerima udzur mereka, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menerima dzahir nya yang ia sampaikan dan Nabi berkata:”Aku maafkan akan tetapi engkau yang akan bertanggung jawab dihadapan Allah Subhanahu wata’ala”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menghukumnya secara zhahir adapun batinnya ia kembalikan kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Masuklah Sahabat Ka’ab bin Malik Radhiyallahu ‘anhu beliau berkata saya melihat Rasulullah senyum sinis yang menahan kemarahan, ia kemudian memberi salam kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mempersilahkan beliau duduk kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata:”Mengapa engkau tertinggal? Bukankah engkau sudah membeli kendaraan?“, Ka’ab bin Malik kemudian berkata:”Betul. Sungguh, demi Allah, wahai Rasulullah. Seandainya aku duduk dengan orang lain di dunia ini, pastilah Anda melihat saya akan lolos dari kemarahannya dengan satu alasan. Sungguh, demi Allah, saya diberi kemampuan berdebat. Tetapi demi Allah, seandainya saya berbicara kepada Anda hari ini dengan satu kebohongan, lalu Anda meridhai saya, pastilah Allah Subhanahu wata’ala akan membuat Anda marah kepada saya. Sungguh, seandainya saya berbicara kepada Anda dengan jujur, niscaya Anda melihatnya ada pada saya. Saya betul-betul berharap pemaafan Allah Subhanahu wata’ala dalam masalah ini. Tidak. Demi Allah, saya tidak punya uzur sama sekali. Saya tidak pernah merasa lebih kuat dan lebih mudah sama sekali dibandingkan ketika saya tertinggal dari Anda.”

Padahal andaikan ia punya alasan seperti dengan orang lain Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam akan menerimanya dan memintakan ampun untuknya dan boleh jadi diampuni oleh Allah Subhanahu wata’ala akan tetapi beliau tidak melakukannya beliau mengatakan:”Demi Allah saya tidak memiliki udzur”.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada sahabat – sahabat yang lain: “Adapun dia ini, sudah berbuat jujur. Berdirilah sampai Allah Subhanahuwata’ala memberi keputusan tentangmu”. sampai di pintu masjid Ka’ab bin Malik dihampiri oleh orang-orang Bani Salimah menyusul sambil mengatakan:“Demi Allah, kami tidak pernah lihat engkau berbuat kesalahan sebelum ini, engkau sungguh lemah. Mengapa engkau tidak meminta uzur kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana orang-orang yang tertinggal meminta uzur kepada beliau? Sudah cukup dosamu itu dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memintakan ampun untukmu.”

Demi Allah, mereka terus-menerus mendorong saya sampai saya berkeinginan rujuk dan mendustakan diri sendiri. Kemudian saya katakan kepada mereka:“Apakah ada orang yang mengalami keadaan seperti ini bersama saya?”. Meraka menjawab:”Ya, ada dua orang. Mereka mengucapkan hal yang sama seperti engkau dan dikatakan kepada mereka seperti yang diucapkan kepadamu“. Ka’ab bin Malik berkata:“Siapa Mereka?”.

Mereka kemudian berkata:”Hilal bin Umayyah dan Mararah bin Ar Rabi”, akhirnya beliau berkata:”Kalau begitu baik saya tetap tidak mau datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mencabut perkataan saya”, inilah pentingnya ukhuwah saling menguatkan antara yang satu dengan yang lain.

Sebagai hukuman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyerukan kepada sahabat agar tidak berbicara kepada Ka’ab bin Malik“, bahkan beliau ketika memberi salam tidak dijawab salamnya hingga pada akhirnya sahabat yang paling akrab dengannya datang mengunjunginya lalu Ka’ab bin Malik berkata:”Ya akhi engkau adalah orang yang paling mengenalku dan saya jujur dan tidak mungkin saya berdusta”, sahabatnya tersebut berikata:” Wallahu A’lam” akhirnya beliau tidak bisa lagi ke masjid karena bumi sudah terasa sempit berjalan 40 hari sampai  50 hari dan turunlah taubatnya dari Allah Subhanahu wata’ala, beliau kemudian dipuji oleh Allah Subhanahu wata’ala didalam Al-Qur’an dan disampaikan berita itu kepada beliau sampai – sampai yang menyampaikan kabar gembira itu langsung diberi hadiah ia membuka pakaian yang ia kenakan dan diberikan kepada orang yang menyampaikan berita tersebut dan hal ini merupakan sunnah memberikan hadiah kepada orang yang menyampaikan kepada  kita kabar gembira, akhirnya beliau datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tersenyum melihatnya kemudian mengatakan:”Berbahagialah wahai Ka’ab dengan kebahagiaan ini sejak engkau dilahirkan oleh ibumu“, maka turunlah firman Allah Subhanahu wata’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”.  (QS. At Taubah: 119).

Pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah diatas adalah hendaknya kita senantiasa berlaku jujur kepada manusia maupun kepada Allah Subhanahu wata’ala karena tingkat kejujuran yang paling tinggi adalah ketika kita dalam keadaan dan kondisi dimana tidak ada yang menyelamatkan kita kecuali berdusta namun kita tetap memilih untuk jujur. Sahabat Ka’ab bin Malik memiliki banyak peluang untuk berdusta dan membuat alasan agar beliau tidak dihukum oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam walaupun pada akhirnya beliau memilih untuk berkata jujur kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga kejujuran beliau dipuji oleh Allah Subhanahu wata’ala dalam Al-Qur’an dan Allah Subhahahu wata’ala menerima tobat beliau. Olehnya orang yang senantiasa berlaku jujur adalah orang – orang yang senantiasa mengharapkan ampunan dari Allah Subhanahu wata’ala sebagaimana Allah Subhanahu wata’ala mengampuni Ka’ab bin Malik karena kejujuran beliau kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Wallahu A’lam Bish Showaab


Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Senin, 05 Jumadil Akhir 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.