Dari  sahabat  Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ:  قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: “حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ: إذَا لَقِيْتــَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَإِذَا دَعَاك فَأَجِبْهُ، وَإِذَا اسْتَنْصَحَك  فَانْصَحْهُ،  وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ، وَ إِذاَ  مَرِضَ  فَعُدْهُ، وَإِذاَ  ماَتَ فاتـْبَعْهُ”.

 “Hak seorang muslim atas muslim yang lain ada enam: Jika engkau bertemu dengannya maka ucapkanlah salam, jika dia mengundangmu maka datanglah, jika dia meminta nasehat kepadamu maka berilah nasehat, jika dia bersin lalu mengucapkan Alhamdulillah maka doakanlah, jika dia sakit maka jenguklah, dan jika ia meninggal maka iringilah jenazahnya “. (HR. Muslim).

Kita Telah Membahas 2 Point Pekan sebelumnya  Sekarang Kita Masuk Pada Point Ke (3 – 5).

  1. Hak Memberikan Nasehat Jika Ia Meminta Nasehat

Sebagaimana dalam potongan hadist Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

وَإِذَا اسْتَنْصَحَك  فَانْصَحْهُ

“Jika dia meminta nasehat kepadamu maka berilah nasehat” .

Al Hafidz Ibnu Rajab Al-Hambali Rahimahullah mengatakan :”Nasehat yaitu menginginkan kebaikan untuk orang yang dinasehati”.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Tidak sempurna keimanan seseorang dari kalian, sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”. (HR. Bukhari).

Diantara beberapa hal yang dapat  menghalangi seseorang untuk mendapatkan nasehat adalah :

  1. Malu
  2. Kesombongan

Diantara  bukti cinta kepada saudara kita adalah menyampaikan nasehat kebaikan kepadanya dan mencegah saudara kita  dari keburukan.

Firman Allah Subhanahu wata’ala:

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُدَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ (٧٨) كَانُوا لا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ (٧٩)

Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israel dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat, Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu”. (QS. Al Maidah : 78-79).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam Bersabda:

اُنْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُوْمًا ، فقال رجل يا رسول الله أنصره إذا كان مظلوما أفرأيت إذا كان ظالما كيف أنصره ؟ قال : تُحْجِزُهُ أَوْ تَمْنَعُهُ مِنَ الظُّلْمِ فَإِنَّ ذَلِكَ نَصْرُهُ

Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim atau yang dizalimi, maka seorang laki-laki berkata: Wahai Rasulullah aku menolongnya jika dia dizalimi, apa pendapat anda jika ia berbuat zalim, bagaimana aku menolongnya? Rasulullah menjawab menghalangi atau mencegahnya dari kezaliman, begitulah menolongnya.”(HR. Bukhari).

Seseorang yang saling menasehati merupakan cara untuk melepaskan diri dari kerugian. Sebagaimana dalam Firman Allah Subhanahu wata’ala:

وَالْعَصْرِ  إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ  إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran”. (QS. Al ‘Ashr : 1-3).

Untuk menasehati seseorang  dibutuhkan dua hal yaitu SABAR dan IKHLAS :

  1. Memberi nasehat dengan kesabaran

Jika kita memberi nasehat kepada saudara kita hendaklah disertai dengan kesabaran karena kesabaran adalah kunci dari segala kebaikan, sebagaimana dalam Hadist, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَمَنْ يَتَصَبَّرَ يُصَبِّرُهُ اللهُ، مَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ. (متفق عليه)

“Barangsiapa yang berusaha untuk bersabar maka Allah akan menjadikannya bersabar. Sesungguhnya tak ada suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas dari pada sikap sabar”. (Muttafaqun Alaihi).

Kesabaran dibutuhkan terhadap tiga hal diantarnya adalah:

  1. Kesabaran dalam ketaa’atan kepada Allah Subhanahu wata’ala

Karna jika kesabaran telah dimiliki maka semua kebaikan itu akan mudah untuk dilakukan.

2. Kesabaran dalam meninggalkan maksiat

Karna seseorang yang telah mengerjakan dosa kemudian dia bertaubat maka akan lebih mudah ia mengulangi dosa tersebut sebagai ujian dari Allah Subhanahu wata’ala, olehnya itu tinggalkan segala bentuk yang dapat menjerumuskan ke dalam dosa dan maksiat.

3. Bersabar dengan takdir Allah Subhanahu wata’ala

Menasehati saudara kita yang dilanda musibah dan bersabar dengan musibah yang Allah takdirkan kepada kita.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عن أبي رقية تميم بن أوس الداري رضي الله عنه, أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ» قلنا: لمن؟ قال: «لله, ولكتابه, ولرسوله, لأئمة المسلمين وعامتهم». رواه مسلم

Agama itu nasihat, Kami pun bertanya, Hak siapa (nasihat itu)? . Beliau menjawab, Nasihat itu adalah hak Allah, kitabNya, RasulNya, pemerintah kaum muslimin dan rakyatnya (kaum muslimin)”.(HR. Muslim).

2. Memberi nasehat dengan keikhlasan dalam hati

Jangan pernah bosan dalam memberi nasehat dengan ikhlas kepada saudara kita karna bisa jadi nasehat yang disampaikan kepada saudara kita dapat membuat keadaannya menjadi lebih baik (berubah). Dan jangan menjadi penyebab pintu rahmat Allah ditutup kepada seseorang dengan mengatakan orang ini tidak pantas mendapatkan hidayah. Sebagaimana kisah umar bin khattab yang dulunya sangat benci dengan islam dan berusaha untuk membunuh Rasulullah namun setelah ia mendapatkan hidayah dan masuk islam ia menjadi pembela islam dan menjadi sahabat yang terkenal.

  1. Hak Mendoakan Jika Dia Bersin

Sebagaimana dalam potongan hadist Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam

وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ

Jika dia bersin lalu mengucapkan alhamdulillah maka doakanlah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللهَ سبحانه و تعالى يُحِبُّ الْعُطَاسَ وَيَكْرَهُ التَّثَاؤُبَ، فَإِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ وَحَمِدَ اللهَ، كَانَ حَقًّا عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ سَمِعَهُ أَنْ يَقُوْلَ لَهُ: يَرْحَمُكَ اللهُ، وَأَمَّا التَّثَاؤُبُ، فَإِنَّمَا هُوَ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَإِذَا تَثَاءَ بَ أَحَدُكُمْ، فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا تَثَاءَ بَ، ضَحِكَ مِنْهُ الشَّيْطَانُ. 

Sesungguhnya Allah menyukai “bersin” dan membenci “menguap,” apabila salah seorang dari kalian bersin dan memuji Allah (dengan mengatakan Alhamdulillah) maka sungguh menjadi kewajiban bagi orang yang mendengarnya untuk mengucapkan yarhamukallah (semoga Allah merahmatimu). Sedangkan “menguap” adalah berasal dari setan, apabila salah seorang dari kamu menguap maka hendaklah dia menahannya semampunya, karena apabila salah seorang dari kalian menguap niscaya setan menertawainya.” (HR. Bukhari).

 Dalam hadist Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ، فَلْيَقُلْ: اَلْحَمْدُ لله، وَلْيَقُلْ لَهُ أَخُوْهُ أَوْ صَاحِبُهُ: يَرْحَمُكَ اللهُ، فَإِذَا قَالَ لَهُ: يَرْحَمُكَ اللهُ، فَلْيَقُلْ: يَهْدِيْكُمُ اللهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ. 

Apabila salah seorang di antara kalian bersin, maka hendaklah mengucapkan, ‘Alhamdulillah,’ (Segala puji bagi Allah), dan hendaklah saudaranya atau temannya (yang mendengarnya) menjawab untuknya ‘yarhamukallah’ (semoga Allah merahmatimu), apabila dia mengucapkan ‘yarhamukallah’ maka hendaklah dia menjawab doanya ‘Yahdikumullah wa yuslih balakum’ (semoga Allah memberimu petunjuk dan memperbaiki kondisimu).” (HR. Bukhari).

Diantara adab – adab yang berkaitan dengan bersin adalah :

  1. Makruh mengucapkan “Yarhamukallah” kepada orang yang tidak mengucapkan “Alhamdulillah” namun hendaknya mengajarkan kepada saudara kita tersebut untuk mengucapkan Alhamdulillah.

 Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَحَمِدَ اللهَ سبحانه و تعالى، فَشَمِّتُوْهُ، فَإِنْ لَمْ يَحْمَدِ اللهَ، فَلاَ تُشَمِّتُوْهُ. 

Apabila salah seorang di antara kalian bersin, lalu bertahmid kepada Allah (mengucapkan Alhamdulillah), maka ucapkan, (yarhamukallah) kepadanya. Dan apabila dia tidak bertahmid kepada Allah, maka jangan bertasymit kepadanya”(HR. Muslim).

  1. Jika ia bersin sampai tiga kali dan mengucapkan “Alhamdulillah” sampai tiga kali maka jawablah sampai tiga kali dengan Yarhamukallah.
  1. Jika dia bersin sampai empat kali maka doakan dia dengan mengucapkan “Syafakallah” agar dia sembuh.
  1. Hak Menjenguknya Jika Sakit

 Sebagaimana dalam potongan hadist Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

وَ إِذاَ  مَرِضَ  فَعُدْهُ

“jika dia sakit maka jenguklah”.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Tidaklah seorang muslim yang menjenguk muslim lainnya di pagi hari kecuali ada 70  ribu malaikat yang mendoakannya hingga sore hari. Dan jika menjenguknya di sore hari, ada 70 ribu malaikat yang mendoakannya hingga pagi, dan baginya satu kebun di surga”. (HR. Tirmidzi).

Dalam hadist Qudsi Allah Subhanahu wata’ala berfirman :

« يَا ابْنَ آدَمَ مَرِضْتُ فَلَمْ تَعُدْنِي . قَالَ : يَارَبِّ ،كَيْفَ أَعُودُكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعِزَّةِ ؟ فَيَقُولُ : أَمَاعَلِمْتَ أَنَّ عَبْدِي فُلانًا مَرِضَ فَلَمْ تَعُدْهُ ، وَلَوْ عُدْتَهُ لَوَجَدْتَنِي عِنْدَهُ 

Wahai anak Adam, Aku sakit namun kamu tidak menjenguk Ku, Ia berkata : “Wahai Tuhan saya, bagaimana saya menjenguk Mu sedang Engkau adalah Tuhan semesta alam ?”. Dia berfirman : “Tidakkah kamu mengetahui bahwa hambaKu Fulan sakit, namun kamu tidak menjenguknya ?, Tidakkah kamu mengetahui, seandainya kamu menjenguknya niscaya kamu mendapati Aku di sisi nya.”(HR. Muslim).

Jadi menjenguk orang sakit maka kita akan mendapatkan keutamaan dan pahala dan sekaligus juga merupakan meringankan beban saudara kita tersebut dan dipercepat kesembuhannya jika ia ditakdirkan untuk sembuh, dia terhibur dengan siarah saudara – saudaranya. Jika saudara kita tidak mampu kita jenguk karna ada urusan penting atau perjalanan yang jauh maka minimal kita menanyakan kabarnya lewat telepon dan semisalnya sebagai bentuk kepedulian kita kepadanya.

Disunnahkan menjenguk orang sakit dengan mendoakannya kemudian manasehatinya dengan mengingatkannya kepada Allah Subhanahu wata’ala. Kemudian orang yang sakit hendaknya ia tetap mengerjakan sholat, apabila dia tidak mampu untuk berwudhu maka hendaklah ia bertayammum. Karena sholat wajib selama ia masih berakal dan ia tetap melaksanakan sholat sampai ia kembali kepada Allah Subhanahu wata’ala , adapun sholatnya adalah:

  1. Jika ia tidak mampu berdiri maka ia duduk,
  2. Jika tidak mampu duduk maka ia baring
  3. Jika tidak mampu baring maka dengan isyarat
  4. Jika tidak mampu dengan isyarat maka dengan hati

Wallahu a’lam Bish Showab.

InsyaAllah akan dilanjutkan pada pembahasan point selanjutnya pada sesi 3 (tiga).



Rekap Ta’lim Rutin Pembahasan Kitab Bulughul Maram “Hak Seorang Muslim Dengan Muslim Lainnya Sesi II”.

Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.i

@Masjid Al Ikhlas_Alauddin

Rabu, 25 Muharram 1438 H

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.