بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ ». أَوْ قَالَ « الْعُشْبَ

“Hati-hatilah kalian dari hasad, karena sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar atau semak belukar (rumput kering)“. (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah).

Hadist ini menjadi peringatan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam akan bahaya hasad yang biasa kita terjemahkan dengan iri atau dengki, hasad adalah dosa yang pertama kali dilakukan dan dikerjakan dilangit dan dosa yang pertama kali dilakukan dibumi adapun dilangit yaitu ketika Iblis hasad kepada Adam, Iblis berkata:

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

“Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (QS. Al-A’raf : 12).

Olehnya berhati –hatilah jika dalam diri kita ada perasaan bahwa kita yang lebih baik dari orang lain, ini adalah sifatnya iblis, Allah berfirman:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir”. (QS. Al-Baqarah: 34). Dengan hasadnya tersebut Allah mengusirnya dari surga.

Adapun hasad yang pertama terjadi di bumi yaitu hasadnya anak Adam kepada saudaranya yang bernama Qabil dan Habil sebagaimana disebutkan pada sebagian atsar dan Allah menceritakan hal itu dalam surah Al-Maidah, Allah berfirman:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. Berkata Habil:”Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al-Maidah: 27).

Dahulu untuk mengetahui apakah qurban diterima atau tidak bisa langsung kita tahu mengeluarkan qurban di tanah lapang kemudian ada api yang membakar dari langit jika qurban itu dibakar maka qurban itu dterima, Anak adam berqurban dengan mengeluarkan hewan ternak yang paling gemuk dari yang ia miliki sehingga diterima oleh Allah, adapun anak Adam yang lain tidak diterima karena ia sengaja mengambil hewan buruk untuk ia qurbankan. Karena dia hasad Qabil berkata kepada saudaranya:”Aku pasti membunuhmu!”, Habil berkata:“Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”. Hasad termasuk diantara dosa besar dengan hasad seseorang dibutakan bahkan dia sulit dan tidak mau menerima kebenaran.

Kisah Nabi Yusuf ‘Alaihissalam yang mana saudara – saudaranya hasad kepadanya hanya karena mimpi yang ia ceritakan kepada bapaknya dan mereka hasad kepada Yusuf karena Yusuf lebih disayang dan dicintai oleh bapaknya Yaqub ‘Alaihissalam daripada saudara – saudaranya, saudara Yusuf kemudian membuat makar dengan meminta izin kepada bapaknya untuk membawa Yusuf bermain disuatu tempat yang jauh, setelah mereka sampai pada tujuan lalu dimasukkan Yusuf ke dalam sumur sebagaimana kisahnya yang masyur yang terdapat dalam surah Yusuf.

Hasad dapat menghalangi sesorang dari kebenaran sering kita mendengar tokoh orang – orang kafir seperti gembong orang munafik yang bernama Abdullah ibn Ubaid ibn Salul ia menampakkan keislaman tetapi menyembunyikan kebencian dan kekufuran, mengapa dia berbuat demikian karena sebelum Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam hijrah ke Madinah para penduduk kota madinah sudah mempersiapkan mahkota untuk dia untuk mengangkatnya sebagai raja namun ketika Nabi hijrah ke Madinah ia ditinggal oleh kaumnya dan mereka lebih memilih Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga ia menjadi hasad.

Kisah hasad yang lain yaitu seorang penyair di Makkah yang bernama Umayyah bin Abi Salh, ulama kita menyebutkan syair – syairnya mengajak kepada tauhid dan melarang penyembahan terhadap berhala-berhala yang merupakan sisa dari ajaran Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam namun ketika Nabi diutus menjadi Nabi dan Rasul justru ia tidak beriman kepada Rasulullah, ketika ia ditanya:”Wahai Umayyah apa yang engkau serukan dahulu sama dengan yang dibawa oleh Muhammad namun mengapa engkau tidak mengikuti Muhammad”, ia berkata:”Sebenarnya saya berharap agar Al-Qur’an diturunkan kepada saya, saya malu dari penduduk Makkah, saya lebih cerdas dari Muhammad tetapi kenapa dia diangkat menjadi Nabi dan Rasul”. Nabi berkata:”Syairnya masuk islam namun dia kufur kepada Allah Subhanahu wata’ala”.

Kemudian hasad yang lain yaitu pembesar kota Makkah yang bernama Al-Walid ibn Mughirah perkataannya diabadikan oleh Allah dalam surah As-Zukhruf ia berkata:

وَقَالُوا لَوْلَا نُزِّلَ هَٰذَا الْقُرْآنُ عَلَىٰ رَجُلٍ مِنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيمٍ

“Dan mereka berkata:”Mengapa Al Quran ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Thaif) ini?”. (QS. As-Zukhruf :31).

Adapun di kota Makkah yang dia maksudkan adalah dirinya karena dia adalah pembesar di kota Makkah dan yang ia maksuidkan di kota Thaif yang bernama Abu Mas’ud Amr ibn Umaid, Allah menjawab perkataanya pada ayat selanjutnya:

أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ ۚ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۚ وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا ۗ وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (QS. As-Zukhruf: 32).


Al Walid ibn Mughirah ini yakin bahwasanya apa yang dibawa oleh Rasulullah itu benar bahkan dia sembunyi – sembunyi datang ke rumah Rasulullah untuk mendengarkan Nabi membaca Al-Qur’an, pernah suatu ketika dia tidak bisa tahan ia kemudian menngungkapkan ketakjubannya terhadap Al-Qur’an kepada orang kafir Quraisy, ia berkata:”Saya baru saja mendengarkan apa yang dibaca oleh Muhammad saya yakin itu bukan perkataan manusia dan itu bukan perkataan jin, ini perkataan yang sangat lezat yang sangat indah”. Ia ibaratkan seperti pohon yang rindang buahnya dan naungannya dan akarnya itu subur, perkataan yang tinggi dan tidak ada yang mengalahkannya. Tapi dia tidak masuk islam karena hasad ia berharap Al-Qur’an diturunkan kepadanya.

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Kamis, 29 Dzulqai’dah 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.