بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Orang yang menyambung tali silaturrahim Allah Subhanahu wata’ala menjanjikan kepada mereka surga kemudian diberikan tambahan keutamaan berikut:

  1. Rezekinya akan dibentangkan, ditambahkan dan diluaskan oleh Allah Subhanahu wata’ala
  2. Umurnya akan dipanjangkan oleh Allah Subhanahu wata’ala
    Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

    مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

    Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi”. (HR. Bukhari no. 5985 dan Muslim no. 2557)

Mungkin ada yang bertanya:”Bukankah umur dan rezeki telah ditentukan oleh Allah Subhanahu wata’ala lalu mengapa bisa berubah ketika seseorang menyambung tali silaturrahim berupa dipanjangkan umurnya dan dilapangkan rezekinya padahal Allah telah berfirman:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya”. (QS. Al-A’raf: 34).

Sedetikpun manusia tidak mampu memundurkan ajal yang telah ditentukan untuknya, sebaliknya dia tidak bisa memajukannya, dari sini ulama kita memberikan jawaban diantaranya:

  1. Maksud ditambahkan umur bagi orang yang menyambung tali silaturrahim adalah  umurnya diberkahi oleh Allah Subhanahu wata’ala disebabkan karena taufik dan petunjuk dari Allah agar orang yang menyambung tali silaturrahim senantiasa taat kepada Allah Subhanahu wata’ala, mengisi waktunya dengan hal – hal yang bermanfaat yang menjadikannya ia semakin dekat dengan Allah Subhanahu wata’ala, kita bisa melihat banyak dikalangan para ulama dimana mereka diberikan umur singkat akan tetapi Allah memberikan keberkahan kepada umurnya sehingga mereka bisa mempersembahkan sesautu yang sangat bermanfaat untuk ummat sebagaimana Imam Nawawi Rahimahullah ta’ala beliau meninggal diusia yang sangat belia kurang lebih 40 tahun namun sampai hari ini kitabnya kita baca karena ilmu dan karya yang beliau tinggalkan, Allah Subhanahu wata’ala telah memberikan keberkahan kepada umur beliau bahkan sebelum beliau dari kalangan para sahabat, salah seorang sahabat yang bernama Saad ibn Muadz beliau adalah pemuka kaum anshar yang sebab beliau masuk islam maka semua penduduk madinah masuk islam, beliau adalah kepala suku yang  masuk islam karena dakwah Mus’ab bin Umair,  beliau masuk islam bersama dengan As’ad ibn Surarah, setelah beliau masuk islam maka berbondong – bondonglah penduduk madinah juga masuk ke dalam agama islam, mereka menjadi kaum anshar yang menerima kaum muhajirin bersama dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau masuk islam ketika beliau masih berumur 30 tahun dan beliau meninggal diusia 36 tahun.Dalam perang ahzab beliau terkena panah sampai – sampai Nabi menyuruh para sahabat untuk membuatkan tenda khusus didekat masjid tempat dimana beliau dirawat agar Rasulullah mudah menjenguknya setelah sholat, Rasulullah sangat cinta kepada Saad ibn Muadz dan dihari kematiannya Rasulullah kaget sambil keluar dari rumahnya tergesa -gesa, ketika ditanya oleh sahabat:“Mengapa anda tergesa – gesa”, beliau berkata:”Jangan sampai saya didahului oleh malaikat untuk memandikannya sebagaimana malaikat memandikan hanzalah“, kemudian Rasulullah berkata:”Arsy Allah bergetar dengan kematian sa’ad”,  bisa dibayangkan kebersamaan beliau dengan Rasulullah hanya 6 tahun namun kematiannya menggetarkan arsynya Allah, Arsy Allah bergetar karena Allah sangat bergembira dengan kematian hamba yang sholeh kembali kepadanya.

Adakah penduduk langit merasakan kehilangan seorang hamba yang sholeh atau bumi menangisi hamba yang sholeh atau jutru langit dan bumi senang dengan kematian orang yang buruk..? Allah Subhanahu wata’ala menceritakan kematian fir’aun ketika ditenggalamkan dilaut sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:

فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ وَمَا كَانُوا مُنْظَرِينَ

“Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan merekapun tidak diberi tangguh”. (QS. Ad-Dukhan :29)

Ibnu Abbas mengatakan:”Dari sini bisa difahami jika yang meninggal adalah orang – ornag yang sholeh maka langit dan bumi akan menangis”, bumi menangis karena kehilangan seorang hamba yang sholeh yang selama ini qiyamullail, berjalan ke tempat – tempat yang baik atau ke rumah – rumah Allah, langit juga demikian karena setiap saat yang keluar dari mulutnya adalah ucapan yang baik, perkataan yang baik, amalan – amalan yang baik, sebgaimana Allah berfirman didalam Al-Qur’an:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا ۚ إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ ۚ وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ ۖ وَمَكْرُ أُولَٰئِكَ هُوَ يَبُورُ

“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. Dan rencana jahat mereka akan hancur”. (QS. Fathir: 10).

Boleh jadi ada seorang hamba yang tidak terkenal didunia namun karena kebaikan dan kesholehannya, dzikirnya, tasbihnya, bacaan Al-Qur’annya, ibadahnya ditengah keheningan malam sehingga ia dikenal oleh penduduk langit, ketika ia meninggal maka langit bersedih dengan kematiannya dan Allah Subhanahu wata’ala kemudian berkata kepadanya:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (27) ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً (28) فَادْخُلِي فِي عِبَادِي (29) وَادْخُلِي جَنَّتِي (30)

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku”. (QS. Al-Fajr: 27-30).

Kemudian apa yang kita telah sebutkan diatas diterangkan oleh Rasulullah dengan jelas bahwasanya umur ummat ini berkurang dari setiap generasi ke generasi terutama ketika dakhir zaman dibanding dengan umur ummat terdahulu, adapun umur ummat terdahulu sampai ratusan tahun atau ribuan tahun sebagaimana contoh Nabi Nuh yang disebutkan didalam firman Allah:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا فَأَخَذَهُمُ الطُّوفَانُ وَهُمْ ظَالِمُونَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim”. (QS. Al ‘Ankabut : 14)

Yang disebutkan dalam ayat ini adalalah usia dakwah Nabi Nuh bukan usianya sejak lahir sampai ia meninggal, walaupun Allah mengatakan tidak ada yang beriman kepada Nabi Nuh kecuali hanya sedikit, adapun ummat terakhir ummat Rasulullah hanya 60 sampai 70 tahun namun Allah memberikan kemuliaan ummat Rasulullah dengan adanya lailatur qadr, jadi ini adalah keberkahan yang Allah berikan kepada ummat ini, lailatur qadr yang lebih baik dari pada 1000 bulan kurang lebih 83 tahun, ulama kita berkata siapa yang beribadah  pada malam lailatur qadr seakan ia beribadah selama 83 tahun, jadi jika seseorang sejak balik berjumpa dengan lailatur qadr, kemudian di tahun depannya ia kembali berjumpa dengan malam lailatur qadr, kemudian tahun depannya ia berjumpa lagi, jika Allah memberikan umur sampai 30 tahun dan ia terus mendapatkan lailatur qadr setiap tahunnya sama saja jika ia hidup ratusan bahkan ribuan tahun.

Yang kedua, penambahan umur dan rezeki yang disebutkan oleh Nabi adalah sifatnya hakiki bukan kinayah, para ulama kita mengatakan bahwasanya apa yang tercatat disisi Allah di lauh mahfudz tidak diketahui oleh siapapun bahkan malaikat pun juga tidak mengetahuinya, adapun yang disampaikan oleh Allah kepada malaikat misalkan fulan ajalnya 60 tahun dan tertulis di lauh mahfudz fulan akan meninggal ketika berumur 60 tahun karena ia melakukan hubungan silaturrahim maka Allah menambahkan umurnya 10 tahun sehingga menjadi 70 tahun dan semuanya itu ada pada ilmunya Allah, beda yang ada di ilmunya malaikat yang Allah sampaikan kepadanya, rezekinya juga demikian, dalam ayat Allah mengatakan:”Allah mengubah keputusannya sesuai dengan keinginannya dan menetapkan keputusannya”, tetapi diakhir ayat Allah mengatakan:”Dan semua penetapan dan perubahan tersebut ditulis dilauh Al Mahfudz“, yang tidak diketahui kecuali Allah Subhanahu wata’ala, bergembiralah ketika diberi petunjuk oleh Allah untuk menyambung tali silaturrahim karena itu pertanda Allah menginginkan kebaikan kepada kita dan diantara yang dapat mengubah takdir adalah doa. Rasulullah bersabda:

ﻻ ﻳﺮﺩ ﺍﻟﻘﺪﺭ ﺇﻻ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ

“Tidaklah merubah suatu takdir melainkan doa”. (HR. Al Hakim, dihasankan Syaikh Al Albani)

Pertanyaan adakah diantara kita sering berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala, dan tidak semua orang diberi petunjuk untuk berdoa, Umar bin Khattab pernah berkata:”Tidak penting bagi saya apakah doa saya dikabulkan atau tidak, yang penting bagi saya adalah sudahkah saya berdoa atau tidak”, karena jika kita berdoa Allah telah menakdirkan dan menginginkan kebaikan untuk kita, doa tidak akan di sia – siakan oleh Allah sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah tidak terlepas dari 3 kemungkinan.

  1. Dikabulkan secara langsung
  2. Dipalingkan darinya marabahaya misalkan ia menginginkan sesuatu yang ia inginkan tetapi Allah menggantikan dengan yang lebih baik dari apa yang ia minta berupa dijaga dari keburukan, dll. Contoh ada orang yang menginginkan pekerjaan tertentu dan Allah tahu jika hamba bekerja ditempat tersebut ia akan menjadi rusak, Allah maha tahu sampai dalam kekayaan dan kefakiran, olehnya dalam hadist qudsi dikatakan:”Ada diantara hambaku yang tidak cocok kecuali kekayaan jika saya menjadikan miskin maka ia akan rusak dan ada diantara hambaku yang tidak cocok kecuali miskin dan jika saya jadikan dia kaya maka dia jadi rusak”.
  3. Disimpankan baginya sampai hari kiamat

Sekedar kita berdoa itu sudah menjadi ibadah disisi Allah Subhanahu wata’ala, itulah mengapa Allah marah kepada hamba yang tidak pernah berdoa kepadanya, jika ada manusia yang terus dimintai maka kelak ia akan menjadi bosan bahkan marah adapun Allah semakin kita meminta kepadanya atau merengek dalam doa maka Allah semakin suka.

Yang ketiga, Orang yang selalu menyambung tali silaturrahim adalah orang – orang yang berjiwa besar, orang – orang yang mengharapkan keridhoan disisi Allah Subhanahu wata’ala apalagi jika sempat terjadi masalah dengan saudaranya, walaupun di Indonesia dikatakan silaturrahmi maka itu makna secara umum akan tetapi makna yang sebenarnya adalah menyambung hubungan yang masih ada hubungan kekerabatan orang tersebut dan terutama kepada kedua orang tua, Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

تَعَلَّمُوا مِنْ أَنْسَابِكُمْ مَا تَصِلُونَ بِهِ أَرْحَامَكُمْ، فَإِنَّ صِلَةَ الرَّحِمِ مَحَبَّةٌ فِي الأَهْلِ، مَثْرَاةٌ فِي المَالِ، مَنْسَأَةٌ فِي الأَثَرِ

Pelajarilah garis keturunan kalian agar kalian dapat menyambung hubungan silaturahmi, karena sesungguhnya menyambung hubungan silaturahmi memberi kecintaan kepada kerabat, manambah harta, dan memanjangkan umur”(HR. Tirmidzi).

Kita harus tahu siapa kakek kita dari jalur bapak dan jalur ibu, siapa paman kita, siapa bibi kita, siapa sepupu kita, siapa keponakan kita, sepupu sekali kita, sepupu 2 kali kita dan seterusnya, orang arab sangat perhatian dengan ilmu nasab dan diantara sahabat yang paling masyur dengan ilmu nasab adalah Abu Bakar As Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu.

Seseorang yang rajin menuntut ilmu harus terdepan mendamaikan saudaranya yang berselisih jangan biarkan perpecahan  terjadi ditengah – tengah keluarga kita hanya karena warisan dan harta, hanya masalah yang sepele kemudian kita mengorbankan hubungan silaturrahim yang tidak ada nilainya disisi Allah,

Dari Sahl bin Sa’id as-Sa’idi Radhiyallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَوْ كَانَت الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ الله جَنَاحَ بَعُوضَةٍ ، مَا سَقَى كَافِراً مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ

Seandainya dunia ini di sisi Allah senilai harganya dengan sayap nyamuk niscaya Allah tidak akan memberi minum barang seteguk sekalipun kepada orang kafir”. (HR. Tirmidzi, dan dia berkata: ‘hadits hasan sahih’).

Wallahu a’lam Bish Showaab 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.