mim.or.id – Nikmat terbesar yang Allah karuniakan kepada kita adalah nikmat di mana diberikan kita kesempatan untuk beribadah kepada-Nya. Ada banyak nikmat tentu saja yang Allah berikan kepada kita dalam kehidupan ini sampai-sampai Allah dalam Al-Qur’an:
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nahl: 18).
Tetapi di antara semua nikmat itu, karunia Allah yang paling berharga karunia yang paling istimewa adalah nikmat-nikmat yang akan berlanjut dengan nikmat-nikmat Keabadian yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya di dalam surga dan itu adalah nikmat hidayah serta kesempatan untuk beribadah kepada Allah.
Kita tidak bisa bayangkan, Bagaimana seandainya Allah lapangkan kehidupan dunia, harta yang berlimpah, kehidupan dunia yang menyenangkan tetapi pada saat yang sama Allah tidak karuniakan hidayah dan kesempatan untuk beribadah kepada-Nya maka bisa dibayangkan seperti apa akhir mirisnya kehidupan manusia yang seperti itu.
Karena itu ketika karuniakan kepada kita Ramadan pada tahun ini, maka inilah yang terindah dari Allah untuk kita. Ada banyak hamba-hamba Allah yang merindukan kehadiran Ramadan dalam kehidupan mereka, bermimpi dapat dikaruniai Ramadan sekali lagi tetapi mereka tidak lagi mendapatkan itu karena mereka telah kehabisan waktunya di dunia ini mereka telah meninggalkan kehidupan dunia ini.
Baca Juga: Penghujung Ramadhan, Maksimalkan Iktikaf dan Tinggalkan Dunia Sejenak
Tetapi Allah memilih kita sebagai salah satu hamba-Nya yang mendapatkan kesempatan dan karunia Ramadan tahun ini sekali lagi. Karena itu pada hari-hari terakhir bulan suci Ramadan ini jika momentum Ramadan 2/3 yang berlalu ini tanpa meninggalkan jejak terbaik maka momentum 10 hari terakhir Ramadan ini adalah kesempatan terakhir kita untuk memperbaiki semuanya.
Jika kita ingin melewati Ramadan yang tersisa pada hari-hari ini dengan cara yang terbaik, maka letakkan dalam pikiran, hati serta keyakinan bahwa ini adalah Ramadan terakhir yang akan dikaruniakan oleh Allah subhanahu wa taala kita.
Seperti suatu ketika Rasulullah memimpin salat, beliau mengatakan kepada para sahabatnya:
إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ غَدًا وَاجْمَعْ الْإِيَاسَ مِمَّا فِي يَدَيْ النَّاسِ
“Jika kamu hendak melaksanakan shalat, shalatlah seperti shalat terakhir, jangan mengatakan sesuatu yang membuatmu minta maaf di kemudian hari dan kumpulkan keputus-asaan terhadap apa yang ada pada manusia”.
Keyakinan bahwa ini adalah salat dan ibadah kita yang terakhir akan memberikan motivasi yang untuk memanfaatkannya dengan sebaik-baik mungkin. Maka sebaliknya, kita bayangkanlah seandainya ini adalah Ramadan terakhir yang hadir dalam kehidupan kita.
Bayangkanlah bagaimana jika seandainya setelah ini tidak ada lagi Ramadan dalam kehidupan kita. Bukan Ramadhannya yang pergi tetapi kita yang pergi dari kehidupan ini dan kita tidak bisa lagi melewati salat tarawih, siang hari berpuasa melewati hari-hari Ramadan dalam tilawatul Qur’an dalam membaca ayat-ayat Allah.
Baca Juga: Tetap Istiqamah, Jangan Sia-Siakan 10 Hari Terakhir Ramadhan
Olehnya, mungkin sudah sangat tepat kalau kita mengatakan berpuasalah di bulan Ramadan dan nikmatilah bulan Ramadan serta beribadahlah di bulan Ramadan ini seperti beribadahnya seorang hamba yang sebentar lagi akan mengucapkan selamat tinggal kepada dunia.
Seperti diketahu dan menyadari bahwa kematian adalah rahasia Allah dsn kematian adalah misteri yang hanya diketahui oleh-Nya. Kapan pun dan dimana pun jika ajal kita tiba dengan sangat mudah Allah mengambil kehidupan kita dan kita pergi dari dunia ini.
Maka selagi masih ada Ramadan mari manfaatkan dan nikmatilah kesempatan ini dengan beribadah penuh kesungguhan kepada Allah karena sekali lagi boleh jadi ini adalah Ramadan yang terakhir dalam kehidupan, semoga Allah memberikan kemuliaan-Nya.
Sumber: Ust. Dr. Muh. Ihsan Zainuddin, Lc. M.Si (Disadur dari Program Ramadhan Healing Episode. 23).