بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Syeikh Umar Al Muqbil Hafidzahullah mengambil sebuah contoh Qai’dah bagaimana mengamalkan dan mengaplikasikan untuk membiasakan berkata baik walaupun setiap kondisi dan keadaan dan dengan siapa pun dan kepada siapa pun untuk kita berkata baik kepanya, Beliau mengatakan didalam Al-Qur’an Allah Subhanahu wata’ala mengkhususkan perintah untuk mengutamakan perkataan baik  kepada mereka diantaranya adalah:

  1.  Berkata baik kepada kedua orang tua

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’(QS. Al-Israa’ : 23-24).

Ulama kita mengatakan bahkan bentakan yang paling sederhana seperti Ah, Uff dan ulama kita juga mengatakan walaupun jika keduanya tidak sengaja membuat engkau marah. Karena kedua orang tua bukan malaikat dan tidak selamanya benar, mungkin sebagian kita sedih dalam suatu masalah dan kita yakin bahwa kita yang benar. Tapi sampai pada kondisi seperti itu kata para ulama ketika keduanya membuat engkau marah jangan mengangkat suara didepan mereka atau jangan engkau menampakkan pandangan yang tajam yang menunjukkan kemarahan. Bahkan ada seorang ulama yang masih hidup sampai sekarang jika orang tuanya berada di lantai satu maka ia tidak naik dilantai dua, ada juga seorang salaf yang tidak mau makan bersama ibunya alasanya karena dia khawatir makanan yang di niatkan oleh ibunya untuk ia ambil didahului oleh tangannya walaupun hal tersebut bukan dosa, dan begitulah para salaf berbakti kepada kedua orang tuanya dan disitulah keberkahan hidup seseorang apalagi ia diperhadapkan dengan kedua orang tua yang tidak berbuat baik kepadanya mungkin hatinya disakiti oleh kedua orang tuanya disinilah ujian yang paling berat tapi hal tersebut tidak menjatuhkan hak mereka bahkan andai kedua orang tua non muslim mereka tetap mendapatkan hak bakti dari anaknya.

Ketika Asma Bintu Abu Bakar Radhiyallahu ‘anha datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengatakan:”Ya Rasulullah ibuku datang kepadaku (Istri Abu Bakar yang lain_penj) dia membutuhkan sesuatu, boleh aku menyambung silatuhrahim dengan ibuku sedangkan dia non muslim Ya Rasulullah, Rasulullah kemudian berkata kepadanya:”Sambung silatuhrahim dengan ibumu walaupun dia non muslim dan  jadilah sebab hidayah untuknya”.

Berbakti kepada kedua orang tua bisa menggugurkan dosa – dosa bahkan dosa besar. Suatu ketika Sahabat Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu didatangi oleh seorang lelaki dia mengatakan:”wahai Ibnu Abbas saya pernah membunuh seorang manusia dia seorang wanita”, Ibnu Abbas bertanya:”Mengapa hal itu bisa terjadi dan mengapa engkau melakukannya“. Ia kemudian berkata:”saya jatuh cinta kepadanya dan saya pernah melamarnya namun lamaran saya ditolak dan ketika ia dilamar oleh lelaki lain dia menerimanya sehingga membuat saya sakit hati kepadanya, Ibnu Abbas berkata:”Apakah ibumu masih hidup”. Ia kemudian berkata:” tidak, ibu saya telah meninggal”, kemudian Ibnu Abbas Bekata:”Bertaubatlah kepada Allah dengan sebenar benar tobat dan perbanyaklah amalan sholeh”, ketika orang tersebut pergi, orang – orang kemudian bertanya kepada Ibnu Abbas yang hadir dimajelis dan berkata:”Ya Ibnu Abbas mengapa engkau menanyakan tentang ibunya..?”. Ibnu Abbas kemudian berkata:”Saya tidak melihat bahwasanya amalan yang paling menghapuskan dosa dari berbakti kepada kedua orang tua”.

Orang tua tidak mengharapkan sesuatu yang lebih dari anaknya ia hanya butuh dihargai, diperhatikan, orang tua menginginkan perkataan baik dari anak – anaknya, apalagi ketika anaknya sudah berkeluarga jangan sampai kemudian orang tua ada yang merasa  bahwa dengan menikahnya sang anak, Anaknya diambil oleh orang lain, jika ada orang tua yang berfirkiran seperti itu maka sebagai  anaknya hendaknya mengubah  persepsi orang tuanya tersebut kemudian yakinkan kepada kedua orang tua bahwa pernikahan saya dengannya akan membuat anak ibu semakin bertambah bukan berkurang wahai ibu.

Sebaik – baik suami adalah yang membantu istrinya berbakti kepada kedua orang tuanya dan sebaik – baik istri adalah yang mampu membantu suaminya berbakti kepada kedua orang tuanya, seburuk – buruk istri adalah yang menjadi sebab seorang suami putus hubungan dengan orang tuanya dan seburuk – buruk suami adalah yang menjadi sebab seorang istri putus hubungan dengan orang tuanya. Naudzubillah Min dzalik

Dan saya pernah mendapati langsung dan orang tersebut saya kenal baik dia sudah tua renta, saya mengunjunginya sedang terbaring sakit lalu saya bertanya:”Mana Anaknya ?”, kemudian ada seorang yang mengatakan:”Dia tidak bisa kesini Ustadz padahal dekat rumahnya”, saya berkata:”kenapa”, orang tersebut menjawab:”Dilarang sama istrinya Ustadz”, naudzubillah. Jika ada istri yang memiliki sifat demikian maka cari penggantinya dengan yang lebih baik karena hal tersebut mudah bagi kita untuk mencari penggantinya adapun ibu dimana kita akan bisa mencari penggantinya hal tersebut adalah mustahil mencari pengganti seorang ibu yang melahirkan kita, walaupun mengganti istri haruslah dilakukan dengan baik dan bijak. (ujar. Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I).

Penah suatu ketika Imam Malik Rahimahullah ditanya tentang seorang lelaki yang bapak ibunya bercerai dimana bapaknya tinggal di dekat Afrika sedangkan anak dan ibunya tinggal dimadinah bapaknya mengirim surat kepada anaknya dengan mengatakan:”Datanglah kepadaku” akan tetapi ibunya melarang anaknya tersebut akhirnya ia meminta fatwa kepada Imam Malik, Imam Malik kemudian berkata:”Taat kepada bapakmu dan jangan engkau menyakiti ibumu”. Terkadang hal tersebut pernah dialami oleh sebagian orang dan disinilah dibutuhkan kecerdasan seorang suami “ikuti keinginan istrimu dan jangan bermaksiat kepada ibumu” dan orang cerdas faham isyarat.

  1. Berkata baik kepada peminta – minta, anak yatim dan fakir miskin 

Allah Subhahanu wata’ala berfirman:

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ مُعْرِضُونَ

“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.” (QS. Al-Baqarah: 83).

Jika tidak mampu memberi sesuatu kepada fakir miskin jangan membentak dan menghardiknya. terkadang kita curiga kepada peminta – minta namun hendaklah memberi nasehat yang baik kepadanya atau mendoakan kebaikan untuknya dan  As Sail menurut para ulama ada dua yaitu peminta – minta atau yang bertanya, dan hal ini menjadi ujian bagi para Ulama, Ustadz, Kiai karena terkadang banyak pertanyaan yang masuk. pernah suatu ketika saya pernah di SMS oleh salah seorang penanya dalam SMS nya ia berkata:”Ustadz jangan Sombong pertanyaan saya sudah lama tidak dijawab,” kemudian saya berkata: berkata:”Mana pertanyaan ta” ternyata pertanyaannya bertumpuk diantara inbox yang masuk, pernah suatu ketika saya tidak buka inbox ketika saya baru lihat ada puluhan dan bahkan Ratusan inbox yang masuk bagaimana cara saya menjawab semua pertanyaan yang masuk jadi mari kita saling memaklumi dan saling memahami”. (Ujar Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I).

  1.  Berkata baik kepada Orang Jahil yang berkata buruk atau berbuat buruk kepada kita

Allah Ta’ala berfirman :

ٱدْفَعْ بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُۥ عَدَٰوَةٌ كَأَنَّهُۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ

Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia(QS. Fushilat : 34). ini adalah sifat dan ciri ibadurrahman.

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan”. (QS. Al Furqan :63)

وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ ۖ وَلَئِنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِلصَّابِرِينَ

“Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. (QS. An-Nahl 126).

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Asy-Syura: 40).

Dan hal ini pernah dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, seorang yahudi yang bertetangga dengan Rasulullah yang selalu mengganggunya namun ketika orang yahudi itu sakit siapa yang pertama kali menjenguknya dialah Rasululah Shallallahu ‘alaihi wasallam sampai ia ditawari masuk islam dia meminta padangan dan pendapat bapaknya, bapaknya kemudian mengangguk dan berkata:”Penuhi ajakan bapak Qasim Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam”, akhirnya ia bersyahadat dan masuk islam, wajah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian berseri – seri dan mengatakan segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari neraka disebabkan karena diriku”. Itulah merupakan Akhlak seorang yang berjiwa besar seperti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, bukan orang yang berjiwa kerdil, pendendam yang  sulit melupakan kesalahan dan keburukan orang lain, namun jika kita sulit melupakannya usahakan jangan lebih dari 3 hari, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وعن أبي أيوب رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال لا يحل لمسلم أن يهجر أخاه فوق ثلاث ليال يلتقيان فيعرض هذا ويعرض هذا وخيرهما الذي يبدأ بالسلام متفق عليه

Dari Abu Ayyub Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“Tidak halal bagi seorang muslim memboikot (tidak bertegur) dengan saudaranya di atas tiga hari, mereka bertemu, sebaik-baik mereka adalah yang memulai dengan salam (HR Muttafaq ‘alaihi).

Abu Bakar As Siddiq Radhiyallahu ‘anhu pernah memegang lidahnya kemudian mengatakan:”ini yang bisa membinasakan saya”, lidah tidak bertulang akan tetapi bisa menjadi sebab seseorang dimasukkan ke dalam surga atau dimasukkan ke dalam neraka.

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Senin , 05  Rabiul Akhir 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi :
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/channel/UCIGoaFDkENVOY187i92iRqA

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE : mim.or.id

PIN BBM : D23784F8

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.