بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Jiwa yang suci itulah yang menuntun langkah langkah kita ketempat yang baik begitu pula dengan amalan yang lain seperti sedekah, berbakti kepada kedua orang tua oleh karenanya jiwa yang suci merupakan sumber kebaikan adapun jiwa yang buruk dan kotor maka dia akan membawa pemiliknya ketempat yang kotor dan mengerjakan perbuatan yang kotor, jiwa yang suci inilah yang ketika berpisah dengan jasadnya maka akan diseru dengan seruan ilahiah yang diabadikan didalam Al-Qur’an:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (27) ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً (28) فَادْخُلِي فِي عِبَادِي (29) وَادْخُلِي جَنَّتِي (30)

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27-30).

وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ۖ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)“. (QS. Al-Baqarah :281)

Kita akan meninggalkan kehidupan ini dengan segala isinya namun bagaimanakah kondisi kita ketika kembali kepada Allah apakah seperti kata Hasan Al Basri Rahimahullah:

Seorang musafir yang bepergian kemudian ia kembali kepada keluarganya maka itulah orang yang beriman”.

Jiwa yang suci itulah jiwa yang bermanfaat pada hari kiamat bukan harta benda yang kadang membuat kita sombong dan bangga dengannya, dalam firman allah tatkala ibarahim berkata:

يَوْمَ لاَيَنفَعُ مَالٌ وَلاَبَنُونَ إِلاَّ مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih“. (QS. Asy-Syu’ara 26 : 88-89).
Jiwa yang suci akan senantiasa rindu untuk bertemu dengan tuhannya, inilah menjadi sebab kita mensucikan jiwa-jiwa kita dalam menyambut bulan ramadhan, jiwa yang suci menjadi pendorong bagi kita untuk mengerjakan amalan sholeh dan jiwa yang penuh dengan keburukan akan sulit untuk mengerjakan amalan sholeh dan jiwa yang suci adalah merupakan taufik dari Allah Subhanahu wata’ala.

۞ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۚ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَىٰ مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui“. (QS. An Nur : 21).

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا، وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا

Sungguh beruntung orang –orang yang mensucikan jiwanya dan sungguh merugi yang mengotori jiwanya“. (QS. Asy-Syams: 9-10)

Diantara Cara Mensucikan Jiwa Adalah:

  1. Memperbanyak doa kepada Allah Subhanahu wata’ala

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam banyak mengucapkan doa:

اللَّهُمَّآتِنَفْسِىتَقْوَاهَاوَزَكِّهَاأَنْتَخَيْرُمَنْزَكَّاهَاأَنْتَوَلِيُّهَاوَمَوْلاَهَا

“Ya Allah.., berikanlah ketakwaan kepada jiwaku, sucikanlah ia, sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik Dzat yang dapat mensucikannya, Engkaulah yang menguasai dan yang menjaganya”.

Dalam  rangka mensucikan jiwa butuh kesabaran karena syaithan menginginkan agar jiwa kita menjadi kotor, syaithan tidak akan melepaskan kita jadi tujuan kita hidup didunia adalah bagaimana masuk surga.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan:”Pada setiap jiwa manusia ada surga barangsiapa yang tidak memasukinya maka ia tidak akan dimasukkan surga akhirat yaitu kondisi hati dan jiwa”.

Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu mengatakan:“Sesungguhnya ketaatan itu kepada Allah Subhanahu wata’ala akan mewariskan cahaya diwajah orang yang melakukannya dan cahaya didalam hatinya akan diberi kekuatan pada jazadnya dilapangkan reskinya dan rasa cinta mahkluk – makhluk Allah”.

  1. Banyak Membaca Al-Qur’an

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata“.(QS. Ali ‘Imran: 164).

Untuk mengikis keburukan dan kesombongan dalam hari kita adalah dengan Al-Qur’an.

لَوْ أَنْزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۚ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir“. (QS. Hashr : 21).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam diutus dengan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan inilah yang meruntuhkan kesombongan dan kerasnya Umar bin Khattab sehingga ia masuk islam begitu pula Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mentarbiyah para sahabat dengan membacakan Al-Qur’an.

Jiwa yang sucilah yang diselamatkan oleh Allah Subhanahu wata’ala, jiwa yang sucilah yang berhak memasuki surganya Allah Subhanahu wata’ala, jiwa yang sucilah yang berhak mendapatkan keridhaan kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Sucikan Jiwa Kita Dengan menjauhi Kesyirikan

Kesyrikan adalah najis. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلَا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَٰذَا ۚ وَإِنْ خِفْتُمْ عَيْلَةً فَسَوْفَ يُغْنِيكُمُ اللَّهُ مِنْفَضْلِهِ إِنْ شَاءَ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karunia-Nya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana“. (QS. At Taubah : 28).

Hal lain yang menunjukkan bahwa fisiknya tidak najis akan tetapi aqidahnya adalah Rasulullah pernah menanggap seorang suku dari bani hanifah yang bernama Sumamah Ibnu Utsal beliau dibawa ke madinah di ikat ditiang masjid untuk melihat apa yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya.

Bersihkan jiwa kita dari pelangggaran aqidah dan tauhid karena inilah kunci utama Allah Subhananahu wata’ala memasukkan kita kedalam surga, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kita doa:

اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِك أَنْ أُشْرِكَ بِك وَأَنَا أَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُك لِمَا لَا أَعْلَمُ

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik (menyekutukan-Mu) sedangkan aku mengetahuinya. Dan aku memohon ampun kepada-Mu terhadap kesyirikan yang tidak aku ketahui. (HR. Ahmad dan Shahih Abi Hatim serta yang lainnya, shahih).

Menjelang bulan ramadhan mari mensucikan jiwa kita dan memperbaiki tauhid kita kepada Allah Subhanahu wata’ala agar semua dosa-dosa kita diampuni oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Diantara perkara yang harus kita muhasabah yang berkaitan dengan tazkiyah nafs dalam menyambut ramadhan adalah

  1. Bagaimana hubungan kita kepada sesama muslim.

تُعْرَضُ أَعْمَالُ النَّاسِ فِى كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّتَيْنِ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ مُؤْمِنٍ إِلاَّ عَبْدًا بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ فَيُقَالُ اتْرُكُوا – أَوِ ارْكُوا – هَذَيْنِ حَتَّى يَفِيئَا

Amalan manusia dihadapkan pada setiap pekannya dua kali yaitu pada hari Senin dan hari Kamis. Setiap hamba yang beriman akan diampuni kecuali hamba yang punya permusuhan dengan sesama. Lalu dikatakan, ‘Tinggalkan mereka sampai keduanya berdamai’.(HR. Muslim no. 2565).

Dari Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

يَطَّلِعُ اللَّهُ إِلَى جَمِيعِ خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

Allah mendatangi seluruh makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban. Dia pun mengampuni seluruh makhluk kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan“.

Oleh karenanya siapa yang saling benci hendaklah ia berbaikan jangan sampai amalan tertahan karena arogansi kita dan kesombongan kita walaupun kita yang salah tetap kita yang datang meminta maaf kepadanya, mengucapkan salam kepadanya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An Nur :22). Siapa yang memiliki jiwa pemaaf diampuni dosa dosanya oleh Allah Subhanahu wata’ala.

2. Hubungan kita dengan orang tua kita

Jangan sampai kita sudah giat beribadah baik yang wajib maupun yang sunnah namun kedua orang tua murka kepada kita, orang tua kita bukan malaikat terkadang mereka salah dan janganlah kita memperlihatkan muka yang sangar dihadapan kedua orang tua kita tatkala orang tua kita melakukan kesalahan, selalulah memberi nasehat dan perkataan yang baik, tidak ada kebaikan pada diri seseorang jika ia durhaka kepada kedua orang tuanya.

3. Pernah Melakukan Kedzaliman

Salah seorang salaf pernah sakit dan memanggil anaknya kemudian berkata:”Nak, tolong kerumah tetangga sebelah, mintakan saya maaf darinya, anaknya kemudian berkata:”Apa kesalahanmu kepada tetangga kita”, ia berkata:”Dulu pernah tangan saya berminyak atau memakan sesuatu yang berlemak untuk membersihkannya saya mengusapkan didinding tetangga kita dan debunya berjatuhan, jangan sampai itu adalah kedzaliman yang akan dihisab  pada hari kiamat. Jika kita pernah melakukan kedzaliman kepada sesama muslim hendaklah kita meminta kehalalan darinya atau minta maaf darinya agar amal ibadah kita dibulan ramadhan tidak sia sia disisi Allah Subhanahu wata’ala. Semoga kita termasuk hamba Allah yang beruntung dibulan ramadhan yang ketika datangnya bulan ramadhan kemudian berlalunya bulan ramadhan dosa dosa kita diampuni oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Wallahu A’lam Bish Showaab


Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Ahad, 2 Ramadhan 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.