spot_img

Menyikapi Perbedaan: Pelajaran dari Sirah Nabi Muhammad

mim.or.id – Mempelajari Sirah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam merupakan hal yang penting, salah satunya untuk memahami bagaimana Nabi menyikapi dan mengelola perbedaan pandangan di kalangan para sahabatnya.

Perbedaan pendapat (ikhtilaf) merupakan bagian alami dari dinamika umat, dan melalui sirah, kita dapat melihat bagaimana Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam memberikan kelapangan dalam ajaran Islam.

Kisah Bani Quraizah: Perbedaan dalam Implementasi

Salah satu kisah masyhur yang menunjukkan manajemen perbedaan pendapat oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam adalah ketika para sahabat diperintahkan untuk mendatangi perkampungan Yahudi Bani Quraizah. 

Perintah ini dikeluarkan karena Yahudi Bani Quraizah mulai menunjukkan tingkah yang tidak kondusif di Madinah.Ketika para sahabat berangkat, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam menitipkan pesan yang tegas: 

“Jangan seorang pun di antara kalian yang mengerjakan salat asar kecuali di kampung Bani Quraidah”.

Baca Juga: Hijrah: Pekerjaan Seumur Hidup dan Berkelanjutan

Dalam perjalanan, menjelang waktu Asar hampir habis, terjadi perbedaan pendapat di antara rombongan sahabat.

Kelompok Pertama:, Berpandangan bahwa mereka harus salat Asar sekarang juga karena waktunya hampir habis. Mereka menafsirkan pesan Nabi sebagai dorongan untuk bergegas-gegas (bercepat-cepat) agar segera sampai ke Bani Quraizah, bukan larangan harfiah untuk menunda salat. Mereka kemudian salat Asar di tengah perjalanan.

Kelompok Kedua:, Berpandangan bahwa mereka harus menaati perintah Nabi secara harfiah. Mereka memutuskan untuk tidak salat Asar hingga tiba di Bani Quraizah, meskipun waktu Asar habis di perjalanan.

Ketika kasus ini disampaikan kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, beliau tidak menyalahkan satu pun dari kedua kelompok sahabat ini.

Perbedaan Sahabat adalah Rahmat

Peristiwa di atas menunjukkan bagaimana Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengelola dan menyikapi perbedaan pendapat. Memang, jika kita membaca lebih lanjut, para sahabat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam sering berbeda pendapat dalam banyak masalah fikih, dalam memahami hadis, dan dalam menyimpulkan suatu hadis.

Perbedaan pendapat di antara para sahabat ini adalah rahmat bagi kita. Khalifah Umar Ibnu Abdul Aziz rahimahullahu taala pernah menyatakan bahwa beliau tidak bisa membayangkan betapa sulitnya Islam ini seandainya para sahabat Nabi tidak berbeda pendapat.

Baca juga: Keajaiban Doa dan Hakikat Ujian Kehidupan

Perbedaan di kalangan sahabat menjadi bagian dari kelapangan Islam dan keluasan ajaran Islam. Sebab, jika para sahabat telah sepakat tentang satu masalah (disebut ijma), maka siapapun yang menyelisihinya bisa dianggap kafir. 

Karena sahabat tidak ber-ijma untuk semua masalah, perbedaan pendapat yang mereka tunjukkan memberikan bentuk kelapangan. 

Hal ini penting karena di satu tempat, pendapat tertentu mungkin tidak cocok dengan situasi dan kondisinya, sementara di tempat lain, pendapat yang berbeda mungkin lebih sesuai.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.