mim.or.id – Seperti diketahui Nikmat, bakti, dan harta merupakan tiga hal penting yang saling berkaitan dalam kehidupan seorang Muslim.
Nikmat yang diberikan Allah seharusnya disyukuri, bakti kepada orang tua perlu diutamakan, sedangkan harta hendaknya dimanfaatkan di jalan yang diridai Allah.
Bahaya Sifat ‘Al-Kanut’: Antara Kufur Nikmat dan Kekikiran
sifat dasar manusia yang disebut dalam Surah al-Adiyat sebagai al-kanut, yaitu kecenderungan untuk selalu mengingat musibah namun melupakan ribuan nikmat yang telah Allah berikan.
Baca Juga: Larangan Kezaliman: Renungan tentang Rahmat dan Keadilan Allah
Sifat ini juga berkaitan erat dengan kekikiran yang luar biasa, di mana seseorang tidak hanya enggan berbagi harta, tetapi juga merasa berat untuk bersyukur atas nikmat-nikmat kecil maupun besar.
Pada akhirnya, orang yang kikir akan merasa jauh dari Allah, manusia, dan surga, serta lebih dekat dengan neraka.
Bakti kepada Orang Tua sebagai Prioritas Utama Jihad
Melalui kisah seorang pemuda bernama Kilab, ini menyoroti bahwa berkhidmat kepada orang tua memiliki kedudukan yang sangat tinggi, bahkan melampaui jihad di medan perang yang bersifat fardu kifayah.
Baca Juga: Keteguhan Akidah dalam Menghadapi Tantangan Zaman
Umar bin Khattab memerintahkan Kilab pulang dari perbatasan karena tangisan dan kerinduan orang tuanya yang buta, menegaskan pesan Rasulullah bahwa surga terletak pada bakti kepada ayah dan ibu.
Namun tetap ditekankan pentingnya mencari keberkahan hidup melalui doa dan kebahagiaan orang tua.
Filosofi Harta dan Kaidah Penggantian dari Allah
Harta sejati bukanlah apa yang disimpan, melainkan apa yang diinfakkan di jalan Allah sebagai tabungan akhirat.
Mengacu pada kisah Nabi Sulaiman yang menyembelih kuda-kuda kesayangannya karena melalaikan zikir, berlaku kaidah: siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah.
Maka Allah akan menggantikannya dengan yang jauh lebih baik. Harta diibaratkan seperti air; jika terus dialirkan melalui sedekah, ia akan menjadi pembersih diri dan akan terus digantikan dengan yang lebih jernih oleh Allah.



