spot_img

Pemuda Taat dan Keistimewaan Santri Penghafal Al-Qur’an

mim.or.id Patutlah bersyukur para pemuda taat dan santri penghafal Al-Qur’an. Pada usia ini, banyak anak lain yang menghabiskan waktu mereka untuk bermain game semalaman hingga mereka tertidur dan terlewat melaksanakan shalat Subuh, atau bahkan tidak shalat sama sekali.

Keistimewaan Lingkungan Ketaatan

Umumnya para santri dibangunkan bahkan sebelum Subuh, sudah berada di masjid. Kalian dibentuk untuk menjadi anak yang saleh, dan waktu-waktu kalian dihabiskan untuk Al-Qur’an. Semua harus banyak-banyak bersyukur. 

Banyak cerita tentang teman-teman Muslim di Eropa yang ditekan dan tidak bebas beribadah, sehingga mereka harus menghafal Al-Qur’an sembunyi-sembunyi di bawah bangker; jika ketahuan, mereka bisa dibunuh.

Saudara-saudara kita di Gaza, Palestina, walaupun mati satu demi satu karena kelaparan, semangat mereka sebagai penghafal Al-Qur’an tidak pernah surut.

Baca Juga: Pintu Surga: Berbakti Kepada Kedua Orang Tua

Naungan Allah di Hari Kiamat

Nabi shallallahu alaihi wasallam menyebutkan bahwa di Hari Kiamat nanti, ada tujuh golongan yang langsung mendapatkan naungan dari Allah di mana tidak ada naungan selain naungan-Nya. 

Kita harus membayangkan betapa mengerikannya Hari Kiamat, di mana matahari akan didekatkan di atas ubun-ubun kita. Jarak bumi dan matahari saja berjuta-juta kilometer, namun kita sudah merasakan panas dan gerah di bumii. Di Hari Kiamat, orang-orang akan berenang-renang di atas keringatnya.

Namun, di tengah kondisi yang sulit itu, ada golongan yang mendapatkan naungan Allah, merasakan sejuk seolah berada di ruang VVIP. Di antaranya adalah: Pemuda yang tumbuh di atas ketaatan kepada Tuhannya. Pemuda ini menghabiskan waktu-waktunya untuk beribadah kepada Allah.

Mengubah Mubah Menjadi Ibadah

Santri yang berada di masjid, asrama, kelas, kantin, dan lapangan dengan jadwal yang ketat, dikondisikan untuk beribadah kepada Allah 24 jam. Bahkan, tidur kalian pun bisa menjadi ibadah.

Hukum asal makan dan tidur adalah mubah (boleh), yang artinya tidak ada dosa dan tidak ada pahala di dalamnya. Namun, kebiasaan keseharian orang beriman yang selalu menghadirkan niat baik bisa mengubah yang mubah menjadi ibadah.

Baca Juga: Selalu Meminta Hidayah: Tidak Ada yang Aman dari Godaan Setan

Muadz Ibn Jabal pernah berkata: “Saya dalam tidurku mengharapkan pahala sebagaimana aku mengharapkan pahala saat aku terjaga”. Kita bisa meniatkan tidur untuk mengumpulkan kekuatan agar segar saat bangun dan kembali menghafal. 

Sebagaimana naik motor hukumnya mubah, tetapi jika diniatkan untuk pergi ke tempat maksiat menjadi haram, jika diniatkan pergi ke masjid, ia bernilai ibadah. 

Pahala Qur’an dan Bakti kepada Orang Tua

Pahala membaca Al-Qur’an adalah 10 kebaikan untuk setiap huruf. Nabi shallallahu alaihi wasallam menjelaskan bahwa Alif-Lam-Mim (ألم) bukanlah satu huruf, melainkan Alif satu huruf (10 pahala), Lam satu huruf (10 pahala), dan Mim satu huruf (10 pahala), sehingga totalnya 30 pahala.

Kalian di sini sedang mendulang pahala yang dituliskan di sisi Allah. Derajat kita di Surga nanti sesuai dengan banyaknya ayat Al-Qur’an yang kita baca di dunia. Amalan kalian di sini juga merupakan bentuk bakti (birrul walidain) kepada kedua orang tua.Kedua orang tua kalianlah yang menjadi sebab kalian berada di tempat ini.Santri akan menjadi sebab kedua orang tua kalian dipakaikan mahkota kehormatan dan kalian akan menarik tangan kedua orang tua kalian masuk ke dalam Surga, insyaallah.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.