Pengajian rutin Senin malam Markaz Imam Malik 4 April 2016 diisi oleh ketua MIUMI SULSEL Ustadz DR. H. Rahmat Abdul Rahman, Lc., MA. Tema pengajian kali ini adalah Siksa Kubur “Penyebab dan Kisah-kisah”Ustadz Rahmat, Siksa Kubur (4)

Beliau memulai pengajiannya dengan membacakan firman Allah

ٱلنَّارُ يُعۡرَضُونَ عَلَيۡهَا غُدُوّٗا وَعَشِيّٗاۚ وَيَوۡمَ تَقُومُ ٱلسَّاعَةُ أَدۡخِلُوٓاْ ءَالَ فِرۡعَوۡنَ أَشَدَّ ٱلۡعَذَابِ ٤٦

Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir´aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras” (QS. Ghafir : 46)

Setelah itu, ia menyebutkan bahwa ulama-ulama tafsir menganggap ayat di atas menjadi penjelas tentang adanya azab kubur atau siksa di dalam kubur. Karena Allah menyebutkan 2 bentuk siksaan di dalam ayat tersebut.

  1. Azab atau siksaan pasca hari kiamat
  2. Siksaan berupa api yang membakar sebelum hari kiamat.

Pasca hari kiamat adalah kehidupan akhirat dimana hanya ada dua tempat kembali manusia, yaitu tempat yang dipenuhi dengan kenikmatan bagi orang-orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah, sedangkan tempat yang kedua adalah tempat yang dipenuhi siksaan dan penderitaan yang disiapkan bagi orang-orang yang ingkar atau membangkan dari perintah dan larangan-larangan Allah.

Sedangkan sebelum hari kiamat, Allah menyebutkan tentang Fir’aun dalam ayat di atas bahwa ia mengalami siksaan berupa api yang membakar tubuhnya, pagi dan sore hari. Sedangkan kita mengetahui bahwa Fir’aun telah meninggal dunia sehingga ayat tersebut memaksudkan bahwa siksaan ia terima di alam kuburnya.

Alam kubur yang dimaksud adalah alam Barzakh atau alam yang memisahkan  antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Sedangkan arti kata Barzakh itu sendiri adalah pemisah.

Tetapi alam Barzakh sudah menjadi bagian dari kehidupan akhirat. Bukan lagi kehidupan dunia berdasarkan hadits dari Rasulullah yang artinya “Alam Kubur itu menjadi tempat pertama dari kehidupan Akhirat”.

Kehidupan akhirat atau alam kubur dan yang menjadi bagian kehidupan akhirat, mengukurnya atau melihatnya berbeda dengan ukuran dan penglihatan terhadap kehidupan dunia, tidak bisa disamakan karena sudah berbeda. Sehingga orang tidak boleh mengatakan siksa kubur tidak ada, begitupun juga dengan nikmat kubur.

Sudah kita ketahui bahwa kehidupan alam kubur telah menjadi bagian dari kehidupan akhirat sehingga tidak akan ditemukan perubahan yang terjadi pada kuburan, tidak bertambah luas dan ukurannya tetap sama.

Kehidupan dunia berbeda dengan kehidupan akhira. Kondisinya berbeda, bahkan hitungan hari dikehidupan akhirat berbeda hitungan hari pada kehidupan dunia.

Ada yang menolak nikmat kubur dan azab kubur karena mereka mengukur dengan kasat mata manusia. Ia menolak azab dan nikmat kubur karena tidak adan perbedaan, kuburannya tetap sama.Ustadz Rahmat, Siksa Kubur (8)

Ustadz Rahmat kembali menekankan bahwa yang dimaksud dengan alam kubur bukan hanya dirasakan atau dilalui oleh orang-orang yang meninggal dunia dan dikuburkan secara wajar atau secara normal. Jadi alam kubur itu adalah kehidupannya bukan tempatnya karena ada orang yang setelah meninggal dunia, ia tidak dikuburkan. Ada yang jasadnya tidak ditemukan, ada yang telah rusak karena tenggelam dan dikoyak-koyak binatang buas, ada jasadnya habis karena terbakar. Tetapi, semua orang yang meninggal dunia pasti masuk di alam kubur. Maka yang dimaksud dengan alam kubur bukan tempatnya atau lokasi kuburannya itu.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَرَّ النَّبِيُّ n بِقَبْرَينِ فَقَالَ: إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنَ الْبَوْلِ وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ. فَأَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً فَشَقَّهَا نِصْفَيْنِ فَغَرَزَ فِي كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً. فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، لِمَا فَعَلْتَ هَذَا؟ قَالَ: لَعَلَّهُ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati dua kuburan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya keduanya sedang diadzab, dan tidaklah keduanya diadzab disebabkan suatu perkara yang besar (menurut kalian). Salah satunya tidak menjaga diri dari percikan air kencing, sedangkan yang lain suka mengadu domba antara manusia.” Beliau lalu mengambil sebuah pelepah kurma yang masih basah, kemudian beliau belah menjadi dua bagian dan beliau tancapkan satu bagian pada masing-masing kuburan. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan hal ini?” Beliau menjawab: “Mudah-mudahan diringankan adzab tersebut dari keduanya selama pelepah kurma itu belum kering.” (Muttafaqun ‘alaih dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma). []

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.