mim.or.id – Alhamdulillah, kita telah memasuki 10 hari terakhir bulan suci Ramadan salah satu amalan yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan pada 10 hari terakhir Ramadan ini adalah apa yang disebut sebagai iktikaf.
Iktikaf adalah sebuah momentum di mana sebagai seorang hamba, mari menepi dari kehidupan dunia yang selama ini kita geluti. Iktikaf sebuah momentum di mana kita memfokuskan pikiran, hati dan seluruh anggota tubuh kita untuk beribadah kepada Allah di masjid.
Itulah sebabnya para ulama ketika mendefinisikan tentang iktikaf itu adalah luzumul masjid atau melazimi rumah Allah subhanahu wa taala yang bernama masjid untuk beribadah kepada Allah di dalam Al-Qur’an Allah berpesan kepada kita:
وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ
“(tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid.” (Al Baqarah: 187).
Baca Juga: Tetap Istiqamah, Jangan Sia-Siakan 10 Hari Terakhir Ramadhan
Ayat ini menunjukkan bahwa proses iktikaf itu hanya bisa disebut sebagai iktikaf Ketika dilakukan di masjid. Sebagian besar ulama kemudian mempersyaratkan bahwa masjid tempat di mana melakukan iktikaf itu haruslah masjid yang di situ ditunaikan salat berjamaah dan salat Jumat.
Tujuannya apabila bertemu dengan waktunya untuk menunaikan salat Jumat maka sang hamba ini tidak perlu keluar dari masjid itu tidak perlu meninggalkan momentum iktikafnya. Dalam hadits yang lain diriwayatkan dari Sayyidah ‘Aisyah telah disampaikan:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْلِطُ الْعِشْرِينَ بِصَلَاةٍ وصَوْمٍ وَنَوْمٍ، فَإِذَا كَانَ الْعَشْرُ شَمَّرَ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ
Artinya, “Dari ‘Aisyah ra, dia berkata, ‘Pada 20 hari yang pertama (di bulan Ramadhan), Nabi saw biasa mengkombinasikan antara shalat, puasa dan tidurnya. Namun jika telah masuk 10 hari terakhir, beliau bersungguh-sungguh dan mengencangkan sarungnya (menjauhi istri-istrinya).” (HR Ahmad).
Pada bulan Ramadhan, beliau selalu melakukan iktikaf dan meninggalkan seluruh aktivitas dunianya bahkan rumah tempat tinggalnya untuk melakukan iktikaf di masjidnya pada 10 hari terakhir dari bulan suci Ramadan.
Kebiasaan ini dilakukan sampai beliau diwafatkan oleh Allah. Dari sini kita bisa melihat bagaimana seorang manusia mulia seperti Rasulullah yang kita sendiri tidak akan pernah meragukan kualitas ibadah dan penghambaan sepanjang kehidupan beliau.
Tetapi di atas itu semua, beliau tetap merasa perlu untuk melakukan iktikaf, bahkan tetap merasa perlu untuk betul-betul meninggalkan semua urusan yang berbau keduniaan itu dan fokus tinggal di masjid beribadah kepada Allah.
Baca Juga: Ramadhan Bulan yang Mulia, 3 Nasihat Agung dari Rasulullah!
Jika sosok mulia seperti Rasulullah saja yang seperti yang kita gambarkan tadi kehidupan sepenuhnya ibadah tetapi beliau tetap melakukan iktikaf sebagaimana yang diceritakan oleh ibunda kaum beriman yaitu Aisyah Radhiallahu taala anha.
Salah satu hikmah terpenting dari iktikaf ini adalah iktikaf ini mengingatkan kita bahwa di sana ada kehidupan abadi yang harus dipersiapkan bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah tempat singga untuk sementara dan mengumpulkan sebanyak mungkin bekal untuk pulang ke negeri akhirat.
Maka kalau kesibukan bisnis, aktivitas atau pekerjaan kita selama ini menyibukkan dan melalaikan kita dari kehidupan akhirat maka dengan melakukan iktikaf kita diingatkan kembali bahwa ada sesuatu yang harus dipersiapkan menuju kehidupan akhirat yang abadi menuju negeri kampung halaman kita yang sesungguhnya.
Sumber: Ust. Dr. Muh. Ihsan Zainuddin, Lc. M.Si (Disadur dari Program Ramadhan Healing Episode. 22).