mim.or.id – Di era kehidupan yang penuh permasalahan ini, pentingnya kita memiliki karakter kuat berlandaskan tauhid. Untuk berikut beberapa uraian tentang pembahasan ini.
Keutamaan Iman dan Tauhid
Menjadi seorang muslim yang mengesakan Allah (bertawhid) adalah sebuah pencapaian terbaik dan kebanggaan terbesar yang tidak dapat dibandingkan dengan pencapaian atau kebanggaan duniawi manapun.
Segala puji hanya bagi Allah yang telah memuliakan kita dengan Islam dan memilih kita yang merupakan golongan minoritas di antara miliaran manusia untuk menerima hidayah Tauhid.
Nikmat inilah yang menjadi penentu kebahagiaan dan kesuksesan perjalanan hidup kita di dunia hingga akhirat kelak. Sehebat apapun pencapaian seseorang di dunia, jika ia tidak dikaruniai iman dan tauhid, pencapaian itu tidak akan pernah menyelamatkannya di dunia dan akhirat.
Bahkan, Allah Ta’ala mengingatkan Rasulullah bahwa jika beliau sampai menyekutukan Allah (syirik), amalan beliau pasti akan terhapus, dan beliau akan termasuk orang-orang yang merugi.
Sebagaimana firman Allah dalam Surah al-Zumar: 65:
وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَيْكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ
Artinya: Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.
Baca Juga: Saatul Usrah: Pelajaran Agung dari Perang Tabuk
Karakter Muslim yang Teguh
Bermodalkan keimanan dan tauhid, seorang muslim seharusnya menjadi sosok yang memiliki karakter dan kepribadian yang kuat. Ia tidak boleh mudah terseret dalam pemikiran, tradisi, ide, dan tren yang tidak sejalan dengan agama Tauhid yang telah Allah karuniakan kepadanya.
Seorang muslim harus hidup secara sadar di zamannya, mengetahui apa yang terjadi di sekelilingnya, dan sama sekali tidak boleh dianggap “kudet” (kurang update).
Namun, di saat yang sama, seorang muslim bukanlah manusia “pembeo” yang hanya bisa latah ikut-ikutan dengan apa pun yang beredar di sekelilingnya.
Dengan iman dan tauhid yang tertanam kuat di jiwanya, seorang muslim harus memiliki pegangan dan standar hidup yang berfungsi sebagai saringan untuk memilih ide, pemikiran, tradisi, dan tren yang berkembang.
Hal ini penting karena sudah pasti, tidak semua yang ada dan trend itu benar semuanya.Seorang muslim yang bertauhid seharusnya memiliki media penyaring yang sangat dahsyat.
Sehingga ia hanya akan memilih dan melakukan hal-hal yang dapat dipastikan menjadi jalan kebahagiaan dan kesuksesan dunia-akhiratnya. Ia tidak akan ikut-ikutan pada hal yang justru menjerumuskan dan menyengsarakannya.
Panduan Syariat dan Peringatan untuk Tidak Latah
Baca Juga: Menyikapi Perbedaan: Pelajaran dari Sirah Nabi Muhammad
Prinsip hidup ini dipertegas oleh firman Allah Azza wa Jalla dalam Surah al-Jatsiyah ayat 18:
ثُمَّ جَعَلْنَٰكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِّنَ ٱلْأَمْرِ فَٱتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَآءَ ٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
Artinya: Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.
Allah telah mengaruniakan Syariat Islam sebagai panduan hidup terbaik yang memandu kita menuju jalan Tauhid. Inilah satu-satunya jalan keselamatan dan kebahagiaan bagi umat manusia.
Kita diperintahkan untuk mengikutinya (fāttabi’hā) jika menginginkan keselamatan, kesuksesan, dan kebahagiaan yang langgeng di dunia dan akhirat.
Kita diperingatkan untuk tidak mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui (lā ya‘lamūn). Jangan pernah mau menjadi budak atau hamba bagi manusia yang hidupnya jauh dari Allah, yang tidak meyakini adanya kehidupan akhirat, atau yang berpikir hidup hanya di dunia ini saja.
Seseorang tidak boleh mengagumi (ngefans) manusia yang mereka sendiri tidak tahu apa itu kebahagiaan, seperti para influencer atau selebritas yang viral. Allah menjelaskan alasannya: mereka tidak akan mampu melindungimu dari azab Allah sedikit pun.
Jika seseorang menghambakan diri pada manusia-manusia seperti itu, kelak ia akan menyesal karena mereka tidak akan bisa menyelamatkannya dari azab Allah.
Oleh karena itu, seorang muslim sejati harus menjadikan keimanan dan Tauhid sebagai daya saring yang terbaik dan terkuat terhadap segala hal yang ada di sekelilingnya.



