Perkataan Imam Ibnu Mubarak Rahimahullah:

“ Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar nilainya disisi Allah subhanahu wata’ala karna niatnya sebaliknya betapa banyak amalan yang besar menjadi kecil nilainya disisi Allah subhanahu wata’ala karna niatnya ”.

Terkadang ibadah yang kita kerjakan dengan begitu capek namun tidak bernilai disisi Allah subhanahu wata’ala karena niatnya bukan semata mata karna Allah subhanahu wata’ala.

Dalam Hadits Qudsi, Allah Subhanahu Wa Ta’ala Berfirman, “Aku adalah dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa yang melakukan amalan seraya mempersekutukan di dalamnya antara aku dengan selainku, maka aku tinggalkan dia dan syiriknya itu.” (HR. Muslim).

Di hadist lain  Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

“Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil, yaitu riya’. Allah akan mengatakan kepada mereka pada hari kiamat tatkala memberikan balasan atas amal-amal manusia “Pergilah kepada orang-orang yang kalian berbuat riya’ kepada mereka di dunia. Apakah kalian akan mendapat balasan dari sisi mereka?”. (HR Ahmad, V/428-429).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala Berfirman :

“ Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, “Sungguh, jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi”. (QS. Az Zumar : 65).

Jangan sampai seseorang takut karna riya ia kemudian meninggalkan amalan, sebagaimana yang dikatakan oleh seorang tabi’in Fudhail Bin Iyadh rahimahullah,:

Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’ sedangkan beramal untuk dipersembahkan kepada manusia merupakan kemusyrikan. Adapun ikhlas itu adalah tatkala Allah menyelamatkan dirimu dari keduanya.” (lihat Adab al-’Alim wa al-Muta’allim, hal. 8).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR. Muslim no. 1718).

Syarat diterimanya amalan ibadah ada 2 (dua) :

  1. Ikhlas karna Allah Subhanahu Wa Ta’ala
  2. Mengikuti contoh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

Dalam  Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang berbunyi :

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“(Allah-lah) yang menciptakan kematian dan kehidupan supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalannya. Dia adalah Al ‘Aziz (Maha Perkasa), Al Ghafur (Maha Pengampun .” (QS. Al Mulk: 2).

Fudhail Bin Iyadh Rahimahullah berkata mengenai Firman Allah tersebut ,

Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al Mulk: 2), Beliau mengatakan, “Yaitu amalan yang paling ikhlas dan paling showab (sesuai tuntunan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam).”

Niat dalam beramal memegang peranan penting. Ketika suatu kaum disiksa dan siksaan tersebut menimpa pula orang-orang sholih, maka nanti yang diperhatikan adalah niatan mereka. Di dunia, mereka bisa jadi mendapatkan azab yang sama. Namun di akhirat, mereka akan dibangkitkan sesuai dengan niat mereka.

‘Aisyah berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

يَغْزُو جَيْشٌ الْكَعْبَةَ ، فَإِذَا كَانُوا بِبَيْدَاءَ مِنَ الأَرْضِ يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ . قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ ، وَفِيهِمْ أَسْوَاقُهُمْ وَمَنْ لَيْسَ مِنْهُمْ . قَالَ « يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ ، ثُمَّ يُبْعَثُونَ عَلَى نِيَّاتِهِمْ

Akan ada satu kelompok pasukan yang hendak menyerang Ka’bah, kemudian setelah mereka berada di suatu tanah lapang, mereka semuanya dibenamkan ke dalam perut bumi dari orang yang pertama hingga orang yang terakhir.” ‘Aisyah berkata, saya pun bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah semuanya dibenamkan dari yang pertama sampai yang terakhir, sedangkan di tengah-tengah mereka terdapat para pedagang serta orang-orang yang bukan termasuk golongan mereka (yakni tidak berniat ikut menyerang Ka’bah)?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Mereka semuanya akan dibenamkan dari yang pertama sampai yang terakhir, kemudian nantinya mereka akan dibangkitkan sesuai dengan niat mereka.” (HR. Bukhari no. 2118 dan Muslim no. 2884, dengan lafazh Bukhari). Wallahu ‘Alam Bisshowab.

………………………………………………………………………………………

Intisari Ta’lim Pentingnya Niat Dan Keiklasan Sesi 2

Kitab Riyadhussholihin

Ustadz Harman Tajang. Lc., M.H.I

@Masjid Al Ihsan / Alauddin – Makassar

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.