بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  1. Kisah Imam Hasan Al Basri Rahimahullah

Suatu ketika pernah datang 3 orang kepada Imam Hasan Al Basri Rahimahullah mengadukan masalahnya, orang pertama datang dengan mengaduhkan musim paceklik, kemudian Imam Hasan Al Basri Rahimahullah berkata kepadanya:” Istighfarlah engkau kepada Allah“.

Kemudian orang kedua datang mengadukan kemiskinannya, kemudian Imam Hasan Al Basri Rahimahullah tetap berkata kepadanya:” Istighfarlah engkau kepada Allah“,

Datang lagi orang ketiga mengadu kondisinya yang tidak kunjung dikaruniai anak, kemudian Imam Hasan Al Basri Rahimahullah berkata kepadanya:” Istighfarlah engkau kepada Allah“,

Datang lagi orang keempat mengadukan tentang kebunnya yang kering, kemudian Imam Hasan Al Basri Rahimahullah berkata kepadanya:” Istighfarlah engkau kepada Allah“,

Semua keluhan dan masalah yang diadukan kepada Imam Hasan Al Basri Rahimahullah beliau hanya menjawab semua keluhan dan aduhannya dengan:”Istighfarlah engkau kepada Allah“.

Melihat hal tersebut, murid Imam Hasan Al Basri Rahimahullah heran dan berkata:”Tadi orang-orang berdatangan kepadamu mengadukan berbagai permasalahan, dan engkau memerintahkan mereka semua agar beristighfar, mengapa demikian?”,

Hasan Al-Bashri Rahimahullah menjawab:”Aku tidak menjawab dari diriku pribadi, karena Allah Subhanahu wata’ala telah mengatakan dalam firman-Nya (yang artinya):

Maka, Aku katakan kepada mereka, Mohonlah ampunan kepada Rabb-mu, sesunnguhnya dia adalah Maha Pengampun, niscaya dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai”. (QS. Nuh : 10-12).
2. Kisah Imam Ahmad bin Hambal Rahimahulah

Kisah yang lain dinukil dari Kitab Manakib Imam Ahmad, Kisah Inspiratif ini dikemukakan oleh Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah (murid Imam Sya fi’i) dikenal juga sebagai Imam Hambali. Dimasa akhir hidup beliau bercerita:“Satu waktu (ketika saya sudah usia tua) saya tidak tahu kenapa ingin sekali menuju satu kota di Irak”. Padahal tidak ada janji sama orang dan tidak ada hajat.

Akhirnya Imam Ahmad Rahimahullah pergi sendiri menuju ke kota Bashrah. Beliau bercerita:“Begitu tiba disana waktu Isya’, saya ikut shalat berjamaah isya di masjid, hati saya merasa tenang, kemudian saya ingin istirahat“.

Begitu selesai shalat Imam Ahmad Rahimahullah ingin tidur di masjid, tiba-tiba Marbot masjid datang menemui Imam Ahmad sambil bertanya:“kamu mau ngapain disini.”

Marbot tidak tau kalau beliau adalah Imam Ahmad Rahimahullah. Imam Ahmad menjawab:“Saya ingin istirahat, saya musafir.” Kata marbot:“tidak boleh, tidak boleh tidur di masjid !“.

Imam Ahmad bercerita:“Saya didorong-dorong oleh orang itu disuruh keluar dari masjid, Setelah keluar masjid, dikunci pintu masjid. Lalu saya ingin tidur di teras masjid“.

Ketika sudah berbaring di teras masjid Marbotnya datang lagi, marah-marah kepada Imam Ahmad:“Mau ngapain lagi syaikh?” Kata marbot. “Mau tidur, saya musafir” kata imam Ahmad.

Lalu marbot berkata:“di dalam masjid gak boleh, di teras masjid juga gak boleh.” Imam Ahmad diusir. Imam Ahmad bercerita:“Saya didorong-dorong sampai jalanan”.

Disamping masjid ada penjual roti (rumah kecil sekaligus untuk membuat dan menjual roti). Penjual roti ini sedang membuat adonan, sambil melihat kejadian Imam Ahmad didorong-dorong oleh marbot tadi. Ketika Imam Ahmad sampai di jalanan, penjual roti itu memanggil dari jauh, “mari syaikh, anda boleh nginap ditempat saya, saya punya tempat, meskipun kecil”.

Kata imam Ahmad “baik” Imam Ahmad masuk ke rumahnya, duduk dibelakang penjual roti yang sedang membuat roti (dengan tetap tidak memperkenalkan siapa dirinya, hanya bilang sebagai musafir).

Penjual roti ini punya perilaku khas, kalau Imam Ahmad ajak bicara dijawabnya. Kalau tidak, dia terus membuat adonan roti sambil melafalkan istighfar, “Astaghfirullah“.

Saat memberi garam, Astaghfirullah, menecah telur Astaghfirullah, mencampur gandum Astaghfirullah. Dia senantiasa mendawamkan istighfar. Sebuah kebiasaan mulia. Imam Ahmad memperhatikan terus.

Lalu imam Ahmad bertanya “sudah berapa lama kamu lakukan ini?” Orang itu menjawab, “sudah lama sekali syaikh, saya menjual roti sudah 30 tahun, jadi semenjak itu saya lakukan“.

Imam Ahmad bertanya “maa tsamarotu fi’lik?”, “apa hasil dari perbuatanmu ini?”
Orang itu menjawab:“(lantaran wasilah istighfar) tidak ada hajat yang saya minta,kecuali pasti dikabulkan Allah. semua yang saya minta ya Allah….,langsung diwujudkan.

Lalu orang itu melanjutkan:“Semua dikabulkan Allah kecuali satu, masih satu yang belum Allah beri.

Imam Ahmad penasaran lantas bertanya: “apa itu?”
Kata orang itu:“Saya minta kepada Allah supaya dipertemukan dengan Imam Ahmad”.

Seketika itu juga Imam Ahmad bertakbir:“Allahu Akbar..! Allah telah mendatangkan saya jauh dari Bagdad pergi ke Bashrah dan bahkan sampai didorong-dorong oleh marbot masjid itu sampai ke jalanan, ternyata karena istighfarmu..

Penjual roti itu terperanjat, memuji Allah, ternyata yang didepannya adalah Imam Ahmad…

Ia pun langsung memeluk dan mencium tangan Imam Ahmad…

3. Diantara Dalil Keutaman Istighfar dan Taubat

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ ۖوَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ

Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat“.(QS. Hud :03)

وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَىٰ قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ

Dan (dia berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa”. (QS. Hud :52)

Dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَكْشَرَ الْاِسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجَا، وَمِنْ كُلِّ ضِيْقٍ مَخْرَ جًَا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْشُ لاَ يَحْتَسِبُ

Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah), niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan untuk setiap kesempitannya kelapangan dan Allah akan memberinya rizki (yang halal) dari arah yang tidak disangka-sangka”. (Imam Ahmad, Abu Daud, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Al-Hakim)

Dari Abdullah bin Busr Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِى صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا

“Sunngguh beruntung bagi orang yang mendapatkan dalam buku catatan amalnya, banyak istighfar.” (HR. Ibn Majah 3950, dan dishahihkan al-Albani).

Wallahu A’lam Bish Showaab


Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Kamis, 21 Sya’ban 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR