mim.or.id – Rasulullah, kekasih Allah, pernah dihadapkan pada sebuah pilihan agung oleh Allah: antara menjadi nabi sekaligus raja atau menjadi hamba sekaligus rasul, namun pilihan hidup sederhana dipilih oleh Rasulullah.
Pilihan ini bukanlah tanpa preseden, mengingat ada pendahulu beliau dari kalangan nabi dan rasul yang juga memegang kekuasaan raja, seperti Nabi Daud dan putranya Nabi Sulaiman yang mewarisi kekuasaan.
Penolakan Duniawi dan Dorongan Ketawadhu’an
Rasulullah sendiri pernah menceritakan kepada para sahabat bahwa Tuhannya pernah menawarkan kepadanya sebuah lembah di Kota Mekah, yang dikenal dengan nama BAB, untuk diisi penuh dengan emas dan dijadikan miliknya.
Namun, dengan tegas beliau berkata, “Tidak ya Allah, Biarkan saya lapar sehari dan kenyang sehari”. Beliau menjelaskan bahwa jika kenyang, beliau bersyukur kepada Allah, dan jika lapar, beliau bersabar.
Ketika tawaran menjadi nabi-raja atau hamba-rasul itu diberikan, Jibril AS menurunkan sayapnya sebagai isyarat agar Nabi memilih jalan yang lebih dekat kepada ketawadhu’an. Akhirnya, beliau memilih untuk menjadi hamba dan rasul.
Baca Juga: 5 Nasihat Penting sebelum Berbuat Maksiat
Alasan di Balik Pilihan: Empati untuk Umat dan Fokus pada Akhirat
Salah satu alasan utama di balik pilihan Nabi untuk hidup sederhana adalah karena beliau tahu bahwa mayoritas umatnya kelak akan menjadi orang-orang miskin. Dengan memilih jalan ini, beliau memberikan hiburan dan penguatan kepada mereka.
Beliau ingin umatnya memahami bahwa jika mereka merasa susah dengan kehidupan yang pas-pasan, ketahuilah bahwa orang yang dicintai Allah di dunia pun mengalami kesulitan, bahkan yang lebih dahsyat.
Contoh nyata adalah ketika para sahabat diblokade dan diboikot di Mekkah hingga tidak bisa makan; mereka mengikat batu di perut untuk mengganjal lapar, dan Nabi Muhammad pun melakukan hal yang sama.
Rasulullah Tidur Beralaskan Tikar Kasar dari Pelepah Kurma
Kesederhanaan Nabi seringkali membuat para sahabat terharu. Umar bin Khattab pernah menangis melihat Rasulullah tidur beralaskan tikar kasar dari pelepah kurma. Umar membandingkan dengan raja-raja besar seperti Kaisar dan Kisra yang bergelimang kemewahan.
Sementara Rasulullah, kekasih Allah, dalam kondisi yang sangat sederhana.Menanggapi hal ini, Nabi bersabda, “Apakah engkau tidak rela wahai Ibnu Khattab? Biarkan mereka mendapatkan dunia, dan Allah akan memberikan kepada kita akhirat”.
Sabda ini menggarisbawahi prioritas beliau terhadap kehidupan akhirat, sebagaimana firman Allah dalam Surat Ad-Dhuha Ayat 4:
وَلَلْءَاخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ ٱلْأُولَىٰ
Artinya: Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).
Pilihan hidup sederhana Rasulullahbukan hanya menunjukkan kerendahan hati yang luar biasa, tetapi juga menjadi sumber kekuatan dan motivasi bagi umatnya. Beliau mengajarkan untuk tidak terlalu terpaut pada kemewahan dunia, melainkan fokus pada persiapan menuju kehidupan abadi di sisi Allah.



