بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Diantara sebab rezeki ditambahkan dan diberkahi oleh Allah Subhanahu wata’ala adalah:

  1. Senangtiasa mensyukuri nikmat Allah Subhanahu wata’ala

Allah Subhanahu wata’ala Berfirman:

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nahl: 18).

Dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga) ketika Rabbmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.”(QS. Ibrahim: 7).

Bagaimana cara mensyukuri nikmat Allah Subhanahu Wata’ala. Allah Subhanahu Wata’ala menjelaskan dalam Al-Qur’an dan sekaligus menyampaikan kepada Nabi Daud Alaihissalam.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْراً وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

Wahai keluarga Dawud beramallah sebagai bentuk syukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali di antara para hamba-Ku yang bersyukur”.(QS. Saba’: 13).

Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan keluarga daud untuk memperbanyak amalan sebagai bentuk kesyukuran kepada Allah Subhanahu wata’ala. Kemudian Nabi kita Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam banyak melakukan ibadah kepada Allah Subhanahu wata’ala sampai kaki beliau bengkak sebagaimana diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, dia berkata:

Jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan shalat, beliau berdiri hingga kedua telapak kaki beliau merekah, lalu ‘Aisyah bertanya, ‘Kenapa engkau melakukan semua ini, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan ampunan bagimu atas dosa-dosa-mu yang telah lalu dan yang akan datang?’ Lalu beliau menjawab:

أَفَلاَ أَكُوْنُ عَبْدًا شَكُوْرًا

Apakah tidak boleh jika aku termasuk hamba yang bersyukur”.(HR. Al-Bukhari).

Jadi kesyukuran kita adalah:

a. Dengan hati dan keyakinan bahwa nikmat yang kita rasakan semua datangnya dari Allah Subhanahu wata’ala

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala:

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)”. (QS. An Nahl : 53).

Dari ’Ubaidillah bin  Mihshan  Al Anshary dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.”(HR. Tirmidzi no. 2346, Ibnu Majah no. 4141).

b. Bersyukur dengan lisan dengan memperbanyak memuji Allah Subhanahu wata’ala.

Allah Subhanahu wata’ala mensematkan salah satu sifat kepada Nuh Alaihissalam sebagai hamba yang banyak bersyukur kepada Allah karna disebutkan dalam sebagian buku tafsir tidaklah Nabi Nuh Alaihissalam menyuapkan makanan ke dalam mulutnya melainkan ia mengucapkan “Alhamdulillah”, begitupula dengan Imam Ahmad Rahimahullah tidaklah beliau menimba Air pada sebuah sumur kecuali mengucapkan “Alhamdulillah” kemudian beliau ditanya mengapa setiap kali anda menimba disumur dan mendapatkan Air dan engkau mengucapkan “Alhamdulillah Ya Imam”, ia kemudian berkata:“Saya mengingat Firman Allah Subhanahu wata’ala dalam Al-Qur’an:

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَصْبَحَ مَاؤُكُمْ غَوْرًا فَمَنْ يَأْتِيكُمْ بِمَاءٍ مَعِينٍ

Katakanlah:”Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering; maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?“.(QS. Al Mulk : 30)

وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ ۚ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ

“Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” (QS. Asy-Syura: 28).

  1. Memperbanyak taubat dan istighfar kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Karna sesungguhnya dosa- dosa itu menghambat datangnya rezeki dan sesungguhnya musibah itu diturunkan disebabkan karna maksiat / dosa, dengan dosa – dosa keberkahan itu ditahan oleh Allah Subhanahu wata’ala dan dengan taubat keberkahan itu diturunkan oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Sebagaimana  Hasan Al basri Rahimahullah suatu ketika beberapa orang yang datang kepada beliau mengadukan berbagai macam masalahnya, ada yang datang kepada beliau berkata:”Ya Imam saya  merasakan kefakiran dan kemiskinan terus menerus, beliau menjawab :”Perbanyak Istighfar kepada Allah Subhanahu wata’ala”, kemudian datang lagi yang lain dan berkata:”Ya Imam saya belum dikaruniai keturunan sedangkan saya sudah lama menikah:” beliau menjawab :”Perbanyak Istighfar kepada Allah Subhanahu wata’ala”, kemudian datang lagi yang lain mengadukan kemarau yang panjang hujan tidak kunjung turun, beliau menjawab :”Perbanyak Istighfar kepada Allah Subhanahu wata’ala”, kemudian yang lain mengadukan bahwasanya ia terlilit banyak utang, beliau menjawab :”Perbanyak Istighfar kepada Allah Subhanahu wata’ala”, kemudian muridnya heran dan berkata:”Wahai Imam, betapa banyak orang yang datang mengadukan masalahnya kepada anda kemudian jawabannya hanyalah satu (perbanyak istighfar kepada Allah Subhanahu wata’ala), Al Hasan Al Basri kemudian menjawab dengan firman Allah Subhanahu wata’ala:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (12)

Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَكْثَرَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Barang siapa yang memperbanyak beristighfar, maka Allah pasti akan selalu memberikannya jalan keluar dari setiap kesempitan dan kelapangan dari segala kegundahan serta Allah akan memberikan rizki kepadanya dari arah yang tidak ia sangka-sangka.”

  1. Perbanyak Silaturahim.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ (رواه البخاري ومسلم)

Barangsiapa ingin dilapangkan baginya rezekinya dan dipanjangkan untuknya umurnya hendaknya ia melakukan silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam hadist lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

تَعَلَّمُوا مِنْ أَنْسَابِكُمْ مَا تَصِلُونَ بِهِ أَرْحَامَكُمْ، فَإِنَّ صِلَةَ الرَّحِمِ مَحَبَّةٌ فِي الأَهْلِ، مَثْرَاةٌ فِي المَالِ، مَنْسَأَةٌ فِي الأَثَرِ

Pelajarilah garis keturunan kalian agar kalian dapat menyambung hubungan silaturahmi, karena sesungguhnya menyambung hubungan silaturahmi memberi kecintaan kepada kerabat, manambah harta, dan memanjangkan umur“. (HR. Tirmidzi ).

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”.(QS. An Nisa : 1).

Wallahu a’lam Bish Showab.

InsyaAllah akan dilanjutkan pembahasan berikutnya.


 

Oleh : Ustadz Harman Tajang,Lc., M.H.I حَفِظَهُ اللهُ

(Direktur Markaz Imam Malik)

Ahad, 06 Safar 1438 H

@Masjid Al Jauharatul Khadra, Hertasning Baru

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.