Bismillahirrahmanirrahiim, segala puji bagi Allah Rabbil ‘alamiin, salam dan shalawat kepada Nabiullah rasul utusan, kepada keluarga, sahabat, dan siapa saja yang berpegang pada sunnah beliau sampai hari akhir.

Muslimah yang dirahmati Allah, insyaallah …

Kita akan berbicara tentang sebuah materi yang tak sekadar teori, melainkan lebih ke pemetikan ibrah. Karena manusia seluruhnya pandai memetik ibrah dari apa yang ada di sekitarnya. Dan sungguh bijaklah mereka yang mampu untuk saling berbagi manfaat.

Maka seorang dari kita jangan mengatakan,”saya tidak membutuhkan materi ini. Alhamdulillah saya sudah beriman.” Karena sungguh Allah memerintahkan kepada seluruh mukminin.” Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah.”(QS.At Tahrim:8), maka siapa pun membutuhkan taubat!

Seorang yang jujur membutuhkan taubat, seorang yang rajin bangun shalat malam membutuhkan taubat, seorang yang rajin berpuasa di siang hari membutuhkan taubat, pembaca al-qur’an membutuhkan taubat, lalu bagaimana kita yang masih sering lalai dari Allah?! Bagaimana yang masih senang melanggar aturan Allah?! Bagaimana dengan yang masih hobi mendengarkan musik-musik?! Bagaimana dengan yang masih berbuat maksiat dan mengira Allah tak melihatnya?! Bukankah kita semua butuh dengan taubat?!

” Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah.”(QS.At Tahrim:8). Kepada siapa kita bertaubat? kepada siapa kita kembali? kepada siapa kita pulang? kepada Allah!

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS.At Tahrim:8)

 

***

Muslimah yang dimuliakan Allah …

Mari kita simak beberapa penggalan kisah tentang mereka yang diberi nikmat taubat oleh Allah sebelum mereka pulang kepada-Nya dengan sebenar-benarnya kepulangan. Semoga kita salah satu dari mereka yang mau membuka hati dan memetik ibrah dari setiap kisah yang Allah takdirkan di bumi ini.

***

Kisah Pertama

Seorang pria beristri dan sudah dikaruniai seorang putri berumur lima tahun. Sayangnya, pria ini tak mengenal hidupnya kecuali dengan seluruh kesenangan duniawi. Dia tak mampu menjaga kesucian dirinya. Dia setiap malam keluar meninggalkan istri dan putrinya mencari teman-teman yang buruk, wanita-wanita yang bisa memuaskan nafsunya. Dan terjadilah malam itu, dengan penuh penyesalan dia pulang ke rumahnya karena ditinggal oleh teman-temannya. Dia memutuskan duduk di ruang keluarga, membuka tv, dan menghabiskan malamnya dengan memutar film-film porno. Istri dan anaknya telah terlelap di ruang tidur. Sedang dia…terlupa bahwa di waktu itu ada Allah yang turun dari langit mendekati tiap hamba untuk mendengar munajatnya. Andai ruhnya dicabut saat itu, maka bagaiamana dia akan dibangkitkan? Wallahul musta’anu.

bersambung …


*Ringkasan materi ini dibuat oleh Ustadzah Ummu Faari’ AR dan menjadi hak cipta dari Div. Muslimah Markaz Imam Malik. Semoga bermanfaat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.