Di tengah keasikannya menimati film tak beradab itu, tiba-tiba pintu kamar terbuka, dia menoleh dan Nampak anaknya yang kecil menatapnya di sana.

“Duhai Ayahku, bertakwalah kepada Allah, sungguh perbuatanmu itu aib yang nyata.” diulanginya kalimat itu, dan pria tersebut hanya bisa mematung di tempatnya tanpa kata.

Sampai anaknya meninggalkannya, dia masih saja tak mampu bergerak dan bicara. kalimat itu terus berulang di kepalanya, sampai akhirnya terputus oleh sebuah seruan,” Allahu Akbar…Allahu Akbar…” Adzan Subuh!

Entah apa yang menggerakkan kakinya beranjak masuk wc, lalu berwudhu. Bersegera dia melangkah ke masjid. Ruku’, sujud. Sampai dia terduduk dengan tumpahan air mata. Dia ditanya oleh salah seorang jama’ah,”Apa yang mebuatmu menangis?”

“Sungguh, tujuh tahun saya tak pernah bersujud kepada Allah.” jawabnya.

Pagi harinya dia berangkat ke kantor, menyelesaikan semua pekerjaannya lalu kembali ke rumah dan menunaikan shalat Dhuhur. Ketika dia memasuki rumahnya, didapati istrinya tengah menangis, putri mereka dipanggil Allah Jalla wa ‘Alaa. Putrinya meninggal.

Pria ini tak sanggup menahan tumpahan airmatanya. Dia berkata kepada orang-orang yang hadir di pemakaman putrinya,”Demi Allah, saya tidak memakamkan putri saya. Tapi saya memakamkan cahaya yang dengannya saya mendapat hidayah dan jalan menuju bahagia.”

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”(QS.Ali Imran:135)

***

Kisah Kedua

Seorang pria yang sangat menyukai musik dan nyanyian. Cinta yang sangat besar. Dia punya seorang tetangga yang sudah tua, selalu mengingatkan dan menasehatinya di tiap waktu. Setiap mendengar nasehat, pria ini menangis dan menyesal, tapi dalam waktu dekat dia akan kembali ke kebiasaannya dengan musik dan nyanyian.

Sampai suatu hari pria ini menemuinya dan membawa kaset-kaset musik. Dia meminta tetangganya membakar semuanya. Hidayah telah menghampirinya melalui mimpi. Seorang lelaki asing menjumpainya dan membacakan sepenggal ayat padanya. Dia terus mengulanginya sampai terbangun dan menangis.

“Maka apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih banyak mendapatkan petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?”(QS.Al Mulk:22) 

( Wahai anak Adam ! Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli.) Hadits


*Ringkasan materi ini dibuat oleh Ustadzah Ummu Faari’ AR dan menjadi hak cipta dari Div. Muslimah Markaz Imam Malik. Semoga bermanfaat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.