بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  1. Cara Agar Tidak Termasuk Orang Yang Merugi

Allah Ta’ala berfirman:

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. (QS. Al ‘Ashr: 1-3).

Diantara manusia yang merugi adalah sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wata’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَلاَ تَوَلَّوْا عَنْهُ وَأَنتُمْ تَسْمَعُونَ ﴿٢٠﴾ وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّذِينَ قَالُوا سَمِعْنَا وَهُمْ لاَ يَسْمَعُونَ ﴿٢١﴾ إِنَّ شَرَّ الدَّوَابَّ عِندَ اللّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لاَ يَعْقِلُونَ ﴿٢٢﴾ وَلَوْ عَلِمَ اللّهُ فِيهِمْ خَيْرًا لَّأسْمَعَهُمْ وَلَوْ أَسْمَعَهُمْ لَتَوَلَّواْ وَّهُم مُّعْرِضُونَ ﴿٢٣﴾

“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling daripada-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintah-Nya), dan janganlah kamu menjadi sebagai orang-orang (munafik) yang berkata: “Kami mendengarkan, padahal mereka tidak mendengarkan.” Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apa pun. Kalau kiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. Dan jika Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu).” (QS. Al-Anfaal : 20-23).

Dalam ayat lain Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا

Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. Al-A’raaf: 179)

Syarat untuk keluar dari orang – orang yang merugi setelah beriman adalah dengan mengerjakan amalan amalan sholeh, keimanan kata Hasan Al Basri Rahimahullah:

“Keimanan bukan sekedar embel –embel bukan sekedar perhiasan bukan sekedar angan – angan akan tetapi apa yang terpatri dalam hati dan dibenarkan oleh amalan”, dan inilah yang dimiliki oleh Sahabat Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu dimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata:

Andaikan keimanan seluruh ummat diletakkan disebuah timbangan dan keimanan Abu Bakar Ash Shiddiq diletakkan pada timbangan yang lain maka keimanan Abu Bakar Ash Shiddiq mengalahkan keimanan – keimanan mereka”. Yang menyebabkan Abu Bakar Ash Shiddiq lebih mulia karena sesuatu yang telah terpatri didalam hatinya,  ketika semua manusia mendustkan Rasulullah beliau sendiri yang beriman kepada Rasulullah dari kalangan lelaki.

Iman adalah melafadzkan dengan lisan dan dibenarkan oleh hati dan dubuktikan dalam pengamalan oleh anggota tubuh, Hasan Al Basri Rahimahullah pernah ditanya:”Bukankah Lailahaillallahu kunci surga.? , beliau menjwab: Betul, tapi setiap kunci itu dia memiliki gigi, mata kunci itulah sholat, puasa, zakat, haji dan syariat – syariat yang lain“,

Inilah bukti keimanan kita kepada Allah Subhanahu wata’ala dan akan menjadi investasi akhirat kita yang kelak akan kita nikmati dalam kubur kita dan inilah yang akan mengundang rahmat Allah Subhanahu wata’ala.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda:

أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ « لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ » . قَالُوا وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « لاَ ، وَلاَ أَنَا إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِى اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ

Sesungguhnya Abu Hurairah berkata, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal seseorang tidak akan memasukkan seseorang ke dalam surga.” “Engkau juga tidak wahai Rasulullah?”, tanya beberapa sahabat. Beliau menjawab, “Aku pun tidak. Itu semua hanyalah karena karunia dan rahmat Allah.” (HR. Bukhari no. 5673 dan Muslim no. 2816).

Yang kita kejar mulai dari sekarang adalah bagaimana kita terlebih dahulu mengundang rahmat Allah Subhanahu wata’ala dengan amalan sholeh tersebut, Amalan sholeh inilah yang harus kita perbanyak dan jaga dengan baik serta berlomba – lomba didalamnya untuk menggapainya. Jika saja Allah Subhanahu wata’ala mengabarkan kepada Nabi – Nabinya:

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَىٰ وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami“. (QS al-Anbiyaa’: 90).

Jika saja Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu perawi hadist yang paling banyak dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan Rasulullah mendoakan beliau agar dicintai oleh seluruh manusia dimana tidak ada yang membencinya kecuali orang munafik dan seterusnya namun ketika beliau dalam sekarat beliau menangis orang – orang kemudian datang menghibur dan memuji beliau, beliau berkata:

Panjangnya perjalanan, perbekalan sedikit”. Tempat kembali kita hanya ada 2 kalau bukan surga maka neraka, jangan korbankan hidup kita yang sementara ini karena tempat kembali hanya ada dua sebahagian dimasukkan kesurga dan sebahagian dimasukkan ke neraka.

Setelah kita mengetahui amalan sholeh maka yang menjadi pekerjaan utama bagi kta adalah bagaimana kita bisa istiqamah dengan amalan – amalan sholeh tersebut sampai kematian menjemput kita.

2. Tingkatan Puasa Ramadhan

Bau mulut orang yang berpuasa lebih baik disisi Allah Subhanahu wata’ala dari bau minyak kasturi, Mengapa demikian karena bau mulut ini keluar karena ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Kita ingin diri kita dibulan suci ramadhan sama dibulan – bulan yang lain agar ketika kematian menjemput kita dalam keadaan seperti dibulan ramadhan.

Ulama kita membagi bahwasanya orang yang berpuasa itu ada beberapa tingkatan

  1. Yang paling rendah adalah puasanya orang – orang awam dia menahan lapar, menahan dahaga disiang hari namun masih terjatuh dalam perkara yang haram bahkan banyak yang puasa tidak sholat dan ini adalah puasa yang paling ringan

2. Puasa orang – orang khusus dari kalangan awam dia menjaga dirinya dari hal – hal yang diharamkan tetapi masih terjatuh dalam perkara – perkara yang tidak bermanfaat diantaranya menyibukkan diri dengan bola dibulan suci ramadhan

3. Puasanya orang – orang khusus menjaga diri dari yang haram dan meninggalkan yang tidak bermanfaat, menyibukkan diri dengan ibadah dibulan suci ramadhan.

4. Dan yang paling tinggi adalah dimana ia tidak berbuka sampai di akhirat dan inilah ramadhan sepanjang masa yang tidak berbuka kecuali dihari kiamat nanti dia mempuasakan matanya, penglihatannya, ia mempuasakan lisan dan pendengaranya dan seluruhnya karena  puasa ini adalah meraih derajat taqwa dimana dia merasa diawasi oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Kita tidak ingin hanya menjadi ramadhaniah kita mau menjadi rabbaniah salah seorang Syaikh mengatakan: “Jadilah hamba Allah yang Rabbani dan jangan menjadi hamba Ramadhani“. suatu ketika Abu Bakar As Shiddiq menenangkan para sahabat pada peristiwa meninggalnya Rasulullah beliau berkata: “Siapa yang menyembah Muhammad sungguh Muhammad telah meninggal dan siapa yang menyembah tuhannya Muhammad Allah maha hidup dan tidak akan mati”.

Inilah yang diinginkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dari kita dan ramadhan ini hadir untuk mengembalikan kita kepada Allah, ramadhan dihadirkan oleh Allah untuk mengembalikan kita kepada Allah untuk mensucikan diri kita dan memberihkan dosa – dosa kita agar hati kita kembali suci dan bersih, dibulan ramadhan inilah kesempatan bagi kita untuk kembali kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Allah Subhanahu wata’ala mewajibkan kepada kita untuk mengerjakan amalan – amalan sholeh terutama yang hukumnya wajib yang dengannya kita akan mendapatkan Al Mahabbah kecintaan dari Allah Subhanahu wata’ala.

3. Istiqamah Diatas Amalan Sholeh

Dalam hadist Qudsi

عَنْ أَبِـيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللّـهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : «إِنَّ اللهَ تَعَالَـى قَالَ : مَنْ عَادَى لِـيْ وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْـحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَـيَّ مِمَّـا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَـيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِيْ يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِيْ يَمْشِيْ بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِيْ لَأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِـيْ لَأُعِيْذَنَّهُ».

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman, ’Barangsiapa memusuhi wali-Ku, sungguh Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya. Dan jika ia meminta perlindungan kepadaku, Aku pasti melindunginya.’” (HR. Bukhari).

Kalau yang sunnah sudah dijaga apalagi yang wajib dan hal ini tentunya harus terus-menerus, Rasulullah terus dan tidak pernah terputus dalam mengerjakan amalan sholeh Berkata ‘Aisyah bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam kalau beliau mengerjakan amalan beliau meneguhkannya, menetapkannya bahkan sampai – sampai ketika beliau tertidur diwaktu malam atau sakit tidak sempat qiyamullail maka beliau sholat disiang hari 12 rakaat mengganti sholat diwaktu malam”.  Ini menunjukkan Rasulullah ingin membiasakan dirinya didalam kebaikan.

Ada seorang salaf yang datang dari jauh menggunakan kendaraan yang hadir dimajelis gurunya setiap hari dan ada libur 1 hari namun walaupun libur ia tetap datang ke majelis gurunya dia sholat, dzikir ditempat itu kemudian pulang ketika ditanya mengapa engkau datang dimajelis syaikh padahal tidak ada majelis pada hari ini, ia mengatakan:”Jangan sampai yang satu hari itu mencuri kebiasaan saya sehingga saya menjadi malas“, jadi beliau selalu satang sekalipun diwaktu libur.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sebaik-baik amalan yang dicintai oleh Allah adalah yang rutin walaupun sedikit”.

4. Diantara buah dari rutin mengerjakan amalan – amalan sholeh:

  1. Seorang hamba akan senantiasa bergantung hatinya kepada Allah Subahnahu wata’ala

Hati yang senantiasa bergantung kepada Allah maka Allah akan memberikan kepadanya kekuatan, keistiqamahan dan benar benar hanya bertawakkal kepada Allah Subhanahu wata’ala. Siapa yang bertwakkal kepada Allah maka dicukupkan segala urusannya”,

Disinilah mengapa para ahli ilmu mensyariatkan atau menyebutkan tentang disyariatkannya yang disebut dengan dzikir – dzikir yang mutlaq dan dzikir yang muqayyad (yang terikat dengan waktu) seperti dzikir setelah sholat begtupula dengan dzikir keluar dari rumah atau dzikir – dzikir lain yang terikat dengan waktu). Agama islam adalah agama yang setiap aktifitasnya ada dzikirnya adapun yang mutlaq adalah dzikir yang tidak terikat yang bisa dilakukan kapan saja. Usahakan lisan kita senantiasa basah dengan dzikir kepada Allah Subhanahu wata’ala hikmahnya agar hati ini sennatiasa bergantung kepada Allah Subhanahu wata’ala. Dengan banyak berdzikir kepada Allah itu akan menentramkan hati – hati kita.

  1. Melatih jiwa dan diri kita untuk taat kepada Allah Subhanahu wata’ala

Seorang ulama berkata:”JIka jiwamu tidak engkau isi dengan keta’atan maka akan disibukkan dengan kemaksiatan dan kelalaian”, olehnya sibukkan diri dengan kebaikan Terus menerus mengerjakan amalan sholeh dengannya akan dinaungi oleh Allah dibawah arsynya dimana tidak ada naungan selain naungan Allah Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ: اْلإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دعته امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

Tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan ‘Arsy Allah Ta’ala dimana tidak ada naungan kecuali hanya naungan Allah Ta’ala. Yaitu:
1. Pemimpin yang adil
2. Pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah Ta’ala
3. Seorang yang hatinya senantiasa bergantung di masjid
4. Dua orang yang saling mencintai karena Allah Ta’ala. Mereka berkumpul karena Allah dan mereka pun berpisah juga karena Allah Ta’ala.
5. Seorang yang diajak wanita untuk berbuat yang tidak baik, dimana wanita tersebut memiliki kedudukan dan kecantikan, namun ia mampu mengucapkan, “Sungguh aku takut kepada Allah”.
6. Seorang yang bersedekah dan dia sembunyikan sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.
7. Seorang yang mengingat Allah dalam keadaan sendirian sehingga kedua matanya meneteskan air mata.

Pemuda yang tumbuh diatas ketaatan maksudanya adalah terus menerus bertambah ketaatannya, bertambah umur bertambah keta’atannya kepada Allah Subhanahu wata’ala

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَعْجَبُ مِنَ الشَّابِّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ

Sesungguhnya Allah Ta’ala benar-benar kagum terhadap seorang pemuda yang tidak memliki shabwah (kecenderungan memperturutkan hawa nafsu)”. (HR. Ahmad).

Seorang lelaki yang hatinya bergantung dengan masjid ini menunjukkan amalan yang ia kerjakan terus menerus rajin ke masjid, Jadi semua yang disebutkan dalam hadist ini yang mendapatkan naungan pada hari kiamat adalah amalan yang ia kerjakan terus menerus dan dia berusaha agar istiqamah dengan amalan tersebut.

  1. Dengan rutin mengerjakan amalan sholeh akan menghidari kita dari sifat kemunafikan dan diselamatkan dari api neraka

Dari anas, Rasululah bersabda:

عن أنس بن مالك ـ رضي الله عنه ـ قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الْأُولَى كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَتَانِ بَرَاءَةٌ مِنْ النَّارِ وَبَرَاءَةٌ مِنْ   النِّفَاقِ

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, ia mengatakan, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Barangsiapa yang shalat karena Allah selama 40 hari secara berjama’ah dengan mendapatkan Takbir pertama (takbiratul ihramnya imam), maka ditulis untuknya dua kebebasan, yaitu kebebasan dari api neraka dan kebebasan dari sifat kemunafikan.(HR. Tirmidzi, dihasankan oleh Syaikh Al Albani di kitab Shahih Al Jami’ II/1089, Al-Silsilah al-Shahihah: IV/629 dan VI/314).
  1. Kunci utama agar kita bisa istiqamah adalah dengan memperbanyak berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala jangan tinggalkan untuk senantiasa memperbanyak doa kita terutama dalam sujud-sujud kita. dan doa yang sering di ucapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah

Ummu Salamah meceritakan bahwa Rasulullah Shallahu’alaihi wasallam memperbanyak dalam do’anya:

اللَّهُمَّ مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Ya Allah, yang membolak balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agamamu”. (HR. Tirmidzi)

Dalam riwayat lain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam bersabda:

‎اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

Ya Allah yang memalingkan (membolak-balikkan) hati manusia, palingkanlah hati kami di atas ketaatan kepada-Mu“. (HR. Muslim (no. 2654))

Baca terus setiap saat kemudian bergaullah dengan orang – orang sholeh anjing ashhabulkahfi disebutkan dalam Al-Qur’an Karena berteman dengan orang – orang sholeh, dan perbanyak mengingat akhirat karena hal ini juga akan membanyu kita untuk istiqamah.

Wallahu A’lam Bish Showaab


Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Ahad, 16 Ramadhan 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.