بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Wahai hamba-Ku, kalian semua asalnya telanjang, kecuali yang telah Aku beri pakaian, maka hendaklah kalian minta pakaian kepada-Ku, pasti Aku memberinya.

Allah menyandarkan antara makanan dan pakaian karena ini adalah 2 pokok kebutuhan bagi manusia, dalam Al-Qur’an Allah Subhanahu wata’ala menyebutkan kaffarah bagi orang yang menyelisihi sumpahnya.

لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَٰكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمُ الْأَيْمَانَ ۖ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ ۖ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ ۚ ذَٰلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ ۚ وَاحْفَظُوا أَيْمَانَكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya)”. (QS. Al-Maidah : 89).

Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat dosa di waktu siang dan malam, dan Aku mengampuni dosa-dosa itu semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku, pasti Aku mengampuni kalian.

Allah maha tahu kelemahan hamba – hambanya, disini Allah menggunakan fi’il mudhari yang menunjukkan terus menerus seperti itu, Allah Subhanahu wata’ala mengampuni semua dosa, ulama kita mengatakan:”Ayat yang paling menggembirakan di dalam Al-Qur’an yaitu firman Allah Subhanahu wata’ala:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (53) وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ (54

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az Zumar: 53-54).

Selama kita bertaubat dari dosa – dosa yang kita lakukan Allah selalu mengampunkannya sebanyak apapun selama kita menyesal sebagaimana syarat taubat yaitu, ikhlas, Berhenti dari dosa, menyesal, bertekad untuk tidak mengulanginya dan sebelum ditutup waktu taubat, dan ditambah dengan syarat yang ke enam jika dosa berkaitan dengan makhluk maka minta kehalalan darinya. Jadi Allah Subhanahu wata’ala senantiasa membukakan pintu taubatnya sampai terbit matahari dari sebelah barat atau sampai nyawa berada dikerongkongan.
Mintalah ampun kepada-Ku, pasti Aku mengampuni kalian”. Ini jaminan dari Allah Subhanahu wata’ala bahwasanya Allah pasti mengampuni dosa hambanya selama dia meminta ampun, kemudian perbanyak istighfar.

Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak akan dapat membinasakan-Ku dan kalian tak akan dapat memberikan manfaat kepada-Ku. Wahai hamba-Ku, kalau orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu bertaqwa seperti orang yang paling bertaqwa di antara kalian, tidak akan menambah kekuasaan-Ku sedikit pun. Jika orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu berhati jahat seperti orang yang paling jahat di antara kalian, tidak akan mengurangi kekuasaan-Ku sedikit pun juga.

Andaikan semua makluk dari kalangan jin dan manusia memiliki hati yang bertakwa seperti hati Muhammad, maka tidak akan menambah kekuasaan Allah sedikitpun, Allah maha kaya, Allah tidak butuh ibadah kita, oleh karenanya betapa sombongnya seseorang ketika diajak kepada kebaikan seakan dia terusik dan berkata:”Jangan urusi saya, urus dirimu sendiri”, padahal kita menginginkan agar dia menjadi orang yang baik, dan jika kita bermasa bodoh dengan mencukupkan kesholehan maka Allah bisa menurunkan azabnya secara merata karena tidak mengajak kepada kebaikan, Allah berfirman didalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan“. (QS. Al-Maidah : 105). Tidak akan membahayakan bagi orang muslim dari orang – orang yang tersesat selama orang muslim mendapatkan hidayah, Abu Bakar As Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu pernah berkhutbah dan berkata:”Boleh jadi ada diantara kalian yang membaca ayat ini (QS. Al-Maidah : 105),namun kalian memaminya dengan keliru, sesungguhnya saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“Barangsiapa yang melihat kemungkaran dan dia tidak berusaha untuk mengubahnya maka saya akan menurunkan azab secara merata”, sedikitpun Allah Subhanahu wata’ala tidak butuh ibadah dan ketakwaan kita, kita yang butuh kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Wahai hamba-Ku, jika orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin yang tinggal di bumi ini meminta kepada-Ku, lalu Aku memenuhi seluruh permintaan mereka, tidaklah hal itu mengurangi apa yang ada pada-Ku, kecuali sebagaimana sebatang jarum yang dimasukkan ke laut.

Andaikan seluruh bumi ini dihuni oleh orang – orang kafir, orang – orang fajir, orang – orang yang mempersekutukan Allah, sedikitpun tidak akan membahayakan Allah Subhanahu wata’ala oleh karenanya betapa sombongnya mereka yang berusaha menentang Allah Subhanahu wata’ala, menantang syariat Allah, mereka yang menentang Allah dan syariatnya telah mengumumkan perang kepada Allah, siapa yang mengumumkan perang kepada Allah maka tidak ada yang mampu menyelamatkannya. Boleh jadi Allah Subhanahu wata’ala memberikan tangguh kepada orang-orang yang dzalim, hartanya dilapangkan, diberikan kekuasaan, diberikan kesehatan tetapi jika tiba waktu Allah mengambilnya maka tidak ada yang mampu menyelamatkannya, mereka punya makar dan kami punya rencana kata Allah, Rasulullah bersabda:”Sesungguhnya Allah Azza Wajalla menangguhkan (mengulur-ulur) azabnya terhadap orang dzalim dan bila Dia mengazab-nya tidak akan luput (tidak akan di lepaskan lagi)”. (HR. Muslim) .

Seperti yang kita lihat sekarang ini, islam dan kaum muslimin diserang dari berbagai penjuru, oleh karena itu jangan sedih, Allah yang menjamin kemenangan untuk agamanya walaupun orang – orang kafir itu murka, walaupun orang – orang musrik tidak senang, walaupun orang – orang munafik itu benci dengan islam, Allah berfirman di dalam Al-Qur’an:

لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا ۚ وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan“. (QS. Ali ‘Imran 186). Orang – orang musrik, orang – orang kafir berusaha memadamkan cahaya Allah Subhanahu wata’ala, dan Allah akan menyempurnakan agamanya walaupun mereka membencinya dan tidak menginginkannya.

Wahai hamba-Ku, sesungguhnya inilah amal perbuatan kalian. Aku catat semuanya untuk kalian, kemudian Kami akan membalasnya.

Semua yang kita kerjakan tidak akan disia – siakan oleh Allah, sekecil apapun kita akan mendapatkannya disisi Allah Subhanahu wata’ala.

Maka barang siapa yang mendapatkan kebaikan, hendaklah bersyukur kepada Allah.

Orang yang mendapatkan kebaikan dia termasuk orang yang taat, rajin ke masjid, rajin ikut pengajian, rajin mengerjakan sunnah, hendaklah dia memuji Allah Subhanahu wata’ala jangan kemudian sombong dengan mengatakan ini adalah pengalaman saya, ini adalah hasil terbiyah saya, ini adalah hasil menuntut ilmu saya hendaklah ia mengembalikan keutamaan itu kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Dan barang siapa mendapatkan selain dari itu, maka janganlah sekali-kali ia menyalahkan kecuali dirinya sendiri

Allah tidak mendzalimi mereka, Allah telah menurunkan kitab, Allah Sudah mengutus para rasul, Allah Subhanahu wata’ala telah memberikan kepada kita wasail, Allah memberikan kepada kita akal yang bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, oleh karenanya kebaikan selalu disandarkan kepada Allah adapun keburukan tidak boleh disandarkan kecuali pada diri kita sendiri karena kita memilihkan diri kita untuk jauh dari Allah Subhanahu wata’ala

Wallahu a’lam Bish Showaab 


Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Kamis, 21 Rajab 1440 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.