بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Dalam surah Hud ayat ke 112, Allah berfirman:

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS. Hud : 112).

Dalam Surah Fussilat ayat 30 – 32, Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ
نُزُلًا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu, Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta, Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dalam Surah Al-Ahqaf ayat 13-14, Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. Al-Ahqaf : 13-14).

Ini beberapa ayat yang dijadikan muqaddimah oleh Imam Nawawi Rahimahullah tentang Istiqamah.

Istiqamah merupakan hal yang paling penting dalam kehidupan kita, Istiqamah yang dimaksud yaitu istiqamah dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala, dalam sholat berulang – ulang kita membaca firman Allah :

اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ

“(Ya Allah). Tunjukilah kami jalan yang lurus (shiratal mustaqim)”. (QS. Al-Fatihah : 6).

Jalan yang lurus yaitu jalan yang tidak ada kebengkokan didalamnya dan ini dijelaskkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau menjelaskan firman Allah yang terdapat dalam Surah Al-An’am:

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa”. (QS. Al-An’am : 153).

Ketika Rasulullah membaca ayat ini beliau membuat garis lurus dihadapan para sahabat sebagaimana dijelaskan dalam hadist,Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا ثُمَّ قَالَ هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ هَذِهِ سُبُلٌ قَالَ يَزِيدُ مُتَفَرِّقَةٌ عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ثُمَّ قَرَأَ إِنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membuat sebuah garis lurus bagi kami, lalu bersabda:”Ini adalah jalan Allah,” kemudian beliau membuat garis lain pada sisi kiri dan kanan garis tersebut, lalu bersabda:”Ini adalah jalan-jalan (yang banyak). Pada setiap jalan ada syaithan yang mengajak kepada jalan itu”. (HR. Ahmad I/435).

Jadi banyak jalan – jalan yang bisa mengeluarkan kita dari jalan yang lurus itu, oleh karenanya banyak orang yang tergelincir dengan berbagai sebab ada yang disebabkan karena dunia, ada yang disebabkan karena wanita, ada yang disebabkan karena harta, tahta bahkan ada yang disebabkan karena agama, Rasulullah bersabda dalam hadist:

عَنْ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ : مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِيْ غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِيْنِهِ

Dari Ka’ab bin Mâlik Radhiyallahu anhu ia berkata:”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:”Dua serigala yang lapar yang dilepas di tengah kumpulan kambing, tidak lebih merusak dibandingkan dengan sifat tamak manusia terhadap harta dan kedudukan yang sangat merusak agamanya”. (HR. At-Tirmidzi, no. 2376).

Tidaklah berbahaya dari pada kerakusan seseorang terhadap kedudukan, kemuliaan, ketenaran dalam agamanya, sampai seseorang yang dikenal mendakwahkan agama tidak lepas dari tipu daya syaithan, Imam Malik ketika didatangi utusan dari negeri yang sangat jauh dan membawa pertanyaan dari kaumnya dan beliau tidak menjawab kecuali hanya beberapa pertanyaan saja selebihnya beliau berkata:”Wallahu A’lam”, orang ini kemudian berkata:”Ya, Imam apa yang akan saya katakan kepada kaum saya ketika saya kembali kepada mereka.?”. orang ini melakukan perjalanan yang sangat jauh dan dibiayai oleh kaumnya hanya untuk mendapatkan jawaban dari Imam Malik namun kebanyakan dari pertanyaannya dijawab Wallahu A’lam saya tidak tahu.

Ini juga merupakan ujian dan tipuan, Imam Malik kemudian berkata:”Sampaikan kepada mereka Imam Malik bin Anas tidak tahu”, jadi ini adalah ujian dari Allah Subhanahu wata’ala,

Banyak jalan – jalan syaithan sampai seseorang yang melaksanakan ibadah tidak dilepas oleh syaithan, syaithan senantiasa meniupkan dalam hati seorang hamba Al Gurur, perasaan ujub, tertipu dengan ibadah yang ia kerjakan, oleh karena itu senantiasa kita meminta kepada Allah agar diberikan keistiqamahan diatas kebenaran. Syaithan berusaha untuk menggelincirkan anak cucu adam dari berbagai macam cara dari arah depan, belakang, kanan, kiri sampai ia tergelincir dari istiqamah, inilah mengapa setiap kali sholat kita membaca :

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7)

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”. (QS. Al Fatihah: 6-7).

Jalan orang – orang yang engkau beri nikmat kepada mereka (dari golongan Nabi, Siddiqun, Syuhada dan orang – orang sholeh) bukan jalan orang – orang yang engkau murkai walaupun secara khusus ditafsirkan oleh Nabi adalah orang – orang yahudi tetapi yang memiliki sifat seperti mereka maka masuk dalam ayat ini, orang – orang yahudi dimurkai oleh Allah karena mereka mengetahui yang haq namun mereka menyembunyikannya dan mereka tidak mengikuti yang haq itu karena penyakit hasad dalam diri – diri mereka. Bukan jalannya orang – orang yang tersesat yang dimaksudkan adalah orang – orang nasrani yaitu orang yang giat dan rajin beribadah dengan semangat tetapi tidak diatas jalan yang haq, oleh karenanya dihari kemudian nanti ada diantara ummat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang diusir dari telaga haud Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika mereka mau mendekat untuk meminum telaga haudnya Nabi mereka diusir, Nabi kemudian berkata:”Ya Rabb, mereka adalah ummat ku, mereka adalah ummatku”. Allah berkata:”Engkau tidak tahu wahai Muhammad apa yang telah mereka perbuat dengan mengada adakan dalam urusan agama (perkara – perkara yang baru yang tidak pernah engkau bawa)”, jadi dia semangat untuk beribadah tetapi tidak diatas tuntunan manhaj Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga mereka dikatakan Ad dhallin (tersesat), Nabi kemudian berkata:”Sungguh celaka, sungguh celaka orang – orang yang mengada-adakan setelah kematian ku”.

Di dunia ini tidak terlepas dari 2 sifat entah seseorang tahu dan tidak mengikuti jalan yang haq atau melenceng disebabkan karena kejahilannya, olehnya diantara doa yang diajarkan oleh Nabi:

ﺍﻟﻠﻬُﻢَّ ﺃَﺭِﻧَﺎ ﺍﻟﺤَﻖَّ ﺣَﻘّﺎً ﻭَﺍﺭْﺯُﻗْﻨَﺎ ﺍﻟﺘِﺒَﺎﻋَﺔَ ﻭَﺃَﺭِﻧَﺎ ﺍﻟﺒَﺎﻃِﻞَ ﺑَﺎﻃِﻼً ﻭَﺍﺭْﺯُﻗْﻨَﺎ ﺍﺟْﺘِﻨَﺎﺑَﻪُ، .

“Allahumma arinal haqqo, haqqo, warzuqnattiba’ah, wa arinal batila, batila, warzuqnajtinabah.

“Ya Allah, tunjukkanlah yang haq itu sebagai haq, dan kurniakanlah kami kekuatan untuk mengikutinya (memerjuangkannya). Dan tunjukkanlah yang batil itu sebagai batil, dan kurniakanlah kami kekuatan untuk menjauhinya (menghapuskannya).”

Jadi ada orang yang tahu bahwasanya ini haq bahkan mungkin dia tahu ini wajib namun dia tunduk dihadapan hawa nafsunya atau tunduk dihadapan syaithan, misalnya disampaikan kepadanya hukum sholat berjama’ah wajib bagi kaum laki – laki yang tidak memiliki udzur kemudian dia berkata:”Ini berat bagi saya“, berarti orang ini tahu bahwasanya ini haq namun dia masih sulit untuk mengamalkannya. Apalagi jika kita berusaha untuk memberi hujjah tentang jenggot misalnya kita mengatakan kepadanya:”Memanjangkan jenggot dan mencukur kumis ini adalah perintah Nabi yang disunnahkan“, kemudian ia berkata:”Inikan cuma sunnah jika dikerjakan mendapatkan pahala jika tidak maka tidak ada dosa didalamnya“, padahal sunnah disini bukan berarti pemahaman dari sisi fiqiyah tetapi jalan dan petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Begitupula sebaliknya banyak orang yang tahu bahwasanya ini haram, ini tidak boleh, disampaikan  kepadanya  hujjah bahwasanya riba itu haram namun dia masih sulit untuk meninggalkannya, disampaikan kepadanya memanjangkan pakaian dibawah mata kaki itu haram namun dia mengatakan saya masih sulit, maka penolakan mereka dikhawatirkan ada kesombongan karena dalam hadist dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:,

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْر

Tidak masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan seberat zarrah dalam hatinya.Kemudian ada sahabat yang bertanya, “Ada orang yang suka memakai baju bagus, sandal yang bagus. Apakah termasuk kesombongan?”, Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan:

إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Allah itu indah menyukai sikap berhias. Sombong itu menolak kebenaran dengan takabbur dan merendahkan orang lain”. (HR. Muslim 275).

Wallahu a’lam Bish Showaab 


Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Senin, 25 Rajab 1440 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.