بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Dari Anas Radhiyallahu ‘anhu ia berkata:”Ada dua orang bersaudara pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam salah seorang dari keduanya itu datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang lainnya lagi bekerja mencari nafkah. Orang yang bekerja mencari nafkah ini mengadu kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai saudaranya yang menganggur itu lalu beliau
Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Boleh jadi engkau diberi rezeki oleh Allah itu adalah dengan sebab adanya saudaramu yang engkau beri pertolongan makan dan lain-lain itu
“. (HR. Tirmidzi dengan isnad shahih atas syarat Muslim)

Siapa yang membantu saudaranya, misalnya memberikan uang kepada anak yatim, membantu para penutut ilmu, membayarkan spp orang yang kurang mampu, membayarkan kuliah orang lain, membayarkan uang makannya maka Allah akan menambahkan rezeki kepadanya dan yakinlah sebagaimana hadist Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam diatas.

Dalam hadist lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَبْغُوْنِي الضُّعَفَاءَ،  فَإِنَّمَا  تُرْزَقُوْنَ  وَتُنْصَرُوْنَ بِضُعَفَائِكُمْ

“Carilah keridhaanku dengan berbuat baik kepada orang-orang lemah kalian, karena kalian diberi rezeki dan ditolong disebabkan orang-orang lemah kalian”. (Dishahihkan Al-Imam Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 779).

Oleh karenanya berungtunglah diantara kita jika dirumahnya ada orang lemah apalagi kedua orang tuanya yang sudah tua, jangan merasa repot sedikit pun mengurusi keduanya, jangan merasa berat karena merupakan peluang pahala yang sangat besar disisi Allah dan disitulah Allah menurunkan keberkahan dan rahmatnya.

Inilah bedanya islam dengan hitler, hitler dulu di zamannya jika ada orang yang sudah tua ia membunuhnya karena dianggap tidak produktif lagi dan hanya membebani negara, adapun islam tidak, justru islam kata Nabi:

إِنَّ مِنْ إِجْلَالِ اللهِ إِكْرَامَ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ وَحَامِلِ الْقُرْآنِ غَيْرَ الْغَالِي فِيْهِ وَالْجَافِي عَنْهُ وَإِكْرَامَ ذِي السُّلْطَانِ الْمُقْسِطِ

Sesungguhnya termasuk mengagungkan Allah adalah menghormati seorang muslim yang beruban (sudah tua), pembawa Al-Qur’an yang tidak berlebih-lebihan padanya (dengan melampaui batas) dan tidak menjauh (dari mengamalkan) Al-Qur’an tersebut, serta memuliakan penguasa yang adil”. (HR. Abu Dawud dan dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih At-Tarhib no. 92).

Ini adalah bentuk penghormatan kepada Allah dan menghormati pemimpin yang adil dan menghormati para penghafal Al-Qur’an dengan tidak berlebih – lebihan dan tidak mengabaikannya. Ini bentuk tawakkal dan keyakinan kita kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Wallahu a’lam Bish Showaab 


Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Senin, 04 Rajab 1440 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.