بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Allah Subhanahu wata’ala berfirman kepada Nabinya Yahya:”Ya Yahya terimalah Al Kitab biquwwah (kesungguhan)“, sesungguhnya Al-Qur’an adalah perkataan yang kokoh (jelas) bukan sesuatu yang merupakan permainan, Allah berkata kepada Nabinya:

 إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا

“Sesungguhnya Kami akan Menurunkan perkataan yang berat kepadamu”. (QS. Al-Muzzammil : 5).

Jadi agama ini kita diperintahkan untuk mengambilnya dengan kesungguhan, Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”. (QS. Al-Baqarah : 208).

  1. Dalam kebaikan kita diperintah untuk bercepat – cepat, sebagaimana yang disebutkan didalam Al-Qur’an ketika Allah menyebutkan tentang urusan akhirat maka kita diperintah untuk bercepat – cepat bahkan kita diperintah untuk berlomba – lomba, sebaliknya dalam urusan dunia kita diperintah untuk tidak tergesa – gesa, bahkan Allah Subhanahu wata’ala menyebutkan bahwasanya perseteruan atau perlombaan untuk mendapatkan dunia dan isinya dengan rakus untuk meraihnya adalah sumber malapetaka, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُور

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”. (QS. Al-Hadid : 20). 

Ketika harta melimpah di kota Bahrain yang diantarkan ke kota madinah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam senyum melihat para sahabat, beliau berkata:

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“Kalau begitu, bergembiralah dan berharaplah memperoleh sesuatu yang melapangkan diri kalian. Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan akan menimpa diri kalian. Akan tetapi, aku kahwatir jika dunia ini dibentangkan untuk kalian sebagaimana ia dibentangkan untuk orang-orang sebelum kalian sehingga kalian berlomba sebagaimana mereka berlomba, dan akhirnya kalian hancur sebagaimana mereka hancur”. (HR. Muslim (2961) dan al-Bukhari (6425), dan Ibnu Abi ad-Dunya dalam kitab tentang Zuhud hal. 73)

Salah satu diantara penyakit yang melanda sebagian dari kaum muslimin bahkan ikhwah yang multasim adalah menunda – nunda kebaikan, ini adalah penyakit yang berbahaya, betapa banyak kebaikan yang tidak jadi dilakukan atau dikerjakan karena sering ditunda, oleh karenanya Allah Subhanahu wata’ala mensifatkan para Nabi dan Rasul didalam Al-Qur’an:”Mereka adalah orang – orang yang berlomba – lomba dalam mengerjakan kebaikan, dan orang – orang yang senantiasa memberi dan hati – hati mereka itu dilanda rasa takut, sesungguhnya mereka akan kembali kepada tuhan mereka, mereka adalah orang – orang yang bercepat – cepat dalam melakukan kebaikan”. ‘Aisyah ketika membaca ayat ini beliau berkata kepada Rasulullah:”Ya Rasulullah, apakah mereka adalah orang yang meminum minuman keras atau yang melakukan perbuatan zina atau yang mencuri sehingga mereka merasa takut yang menghinggapi hati – hati mereka”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata:”Bukan demikian wahai putri Abu Bakar as Shiddiq namun mereka adalah orang – orang yang rajin sholat, rajin puasa, rajin zakat, rajin melakukan segala kebaikan namun mereka khawatir jangan sampai amalan mereka tidak diterima disisi Allah Subhanahu wata’ala”. Oleh karenanya ini adalah merupakan peringatan dari Allah Subhanahu wata’ala dan rasulnya, karena sesungguhnya modal utama kita adalah umur, jangan sampai ada umur kita yang berlalu tanpa kita isi dengan kebaikan, tanpa mengisi dengan hal – hal yang bisa mendekatkan kepada Allah Subhanahu wata’ala, jika saja penyesalan penghuni surga dihari kemudian adalah ketika sesaat waktunya didunia ia lewatkan dan tidak diisi dengan ketaatan, apalagi bagi mereka yang mengisi waktu – waktu mereka didunia dengan kemaksiatan kepada Allah Subhanahu wata’ala dan ada saatnya kesempatan ini akan dicabut oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Olehnya terkadang ada sebagian diantara kita memiliki cita – cita dalam kebaikan yang ia programkan, misalkan ia berkata:”Saya bersungguh-sungguh beribadah nanti ketika mencapai usia 40 tahun, atau ia berkata:”Nanti saya akan giat beribadah ketika telah tua, saya akan focus dan rajin ke Masjid dan mengaji ketika telah lanjut usia”, adapun dimasa mudanya ia terlena dengan kesehatannya, dengan kekuatannya padahal dia lupa bahwasanya umur ada ditangan Allah Subhanahu wata’ala,

2. Kebaikan yang rutin kita kerjakan dimasa tua harus dibiasakan sejak kita muda, jika saja diusia muda kita masih kuat dan masih sehat kemudian malas mengerjakan ketaatan dan ibadah kepada Allah apalagi jika kita tidak lagi memiliki kekuatan, itupun jika kita selalu mendapatkan hidayah sampai kita memasuki usia senja, jasad manusia bisa menua, rambut manusia bisa beruban, penglihatan manusia bisa berkurang, pendengaran manusia bisa melemah, kekuatan manusia bisa berkurang namun ketamakan dan kerakusan dirinya terhadap dunia tidak pernah berkurang dan melemah, itulah sifat manusia.

Oleh karenanya banyak manusia yang telah memasuki usia senja ia sakit namun pada hakekatnya ia tidak sakit, justru ia dihantui dengan banyak hal, dia takut dengan kematian yang ada didepan matanya, ia khawatir dengan penyakit yang menimpa dirinya dapat membuat ia meninggalkan dunia yang mana hatinya telah bergantung kepadanya, adapun orang yang hatinya bergantung kepada kehidupan akhirat maka ia akan berusaha untuk mengumpulkan bekal sebanyak – banyaknya, ketika ia masih berusia muda dan ketika dia masih sehat dan ketika usianya semakin lanjut maka ia akan semakin rindu berjumpa dengan Allah Subhanahu wata’ala.

Wallahu a’lam Bish Showaab 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.