بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Adapun hadist – hadist yang disebutkan dalam bab ini hadist yang pertama yang merupakan hadist yang ke 87. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

Bersegeralah melakukan amalan sholih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia”. (HR. Muslim no. 118).

Kita tidak tahu kapan kesempatan itu dicabut oleh Allah Subhanahu wata’ala dan ini senada dengan hadist Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallah ‘alaihi wasallam pernah menasehati seseorang:

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara, Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, Hidupmu sebelum datang matimu”. (HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya 4: 341. Al Hakim mengatakan bahwa hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari Muslim).

Kesempatan yang seperti ini hendaknya dipergunakan dengan sebaik – baiknya karena ada masanya akan dicabut oleh Allah Subhanahu wata’ala, jadi Rasulullah mengatakan:”Bersegerahlah kalian untuk mengerjakan amalan – amalan sholeh”, jangan zuhud dengan kebaikan sekecil apapun, kebaikan yang bisa kita lakukan maka segera lakukan dan kerjakan, jika misalkan kita melihat ada peluang untuk mengerjakan kebaikan sampai ketika kita bersendirian maka kerjakan yang bisa menghasilkan pahala yang begitu besar dan diantara ibadah dan amalan yang bisa kita kerjakan kapan pun dan dimanapun kita berada yang tidak memakan biaya, tidak memakan tempat dan tidak menguras tenaga adalah dzikrullah (berdzikir kepada Allah), sebagaimana sahabat pernah datang kepada Rasulullah dan berkata:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ بُسْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ أَعْرَابِيًّا قَالَ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ شَرَائِعَ الْإسْلَامِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ ، فَأَنْبِئْنِيْ مِنْهَا بِشَيْءٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ ؟ قَالَ : لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللهِ

Dari ‘Abdullah bin Busr Radhiyallahu anhu berkata:”Seorang Badui datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata:”Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat-syariat Islam sudah banyak pada kami. Beritahukanlah kepada kami sesuatu yang kami bisa berpegang teguh kepadanya?”, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Hendaklah lidahmu senantiasa berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla”. (HR. Ahmad dalam Musnad-nya (IV/188, 190); at-Tirmidzi (no. 3375)).

Dalam hadist yang lain Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

Dua kalimat yang ringan di lisan, namun berat dalam timbangan (amalan) dan dicintai oleh Ar-Rahman, yaitu subhanallahi wa bihamdih, subhanallahil ‘azhim (Maha Suci Allah, segala pujian untuk-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Mulia)”. (HR. Bukhari, no. 6682 dan Muslim, no. 2694).

Ini 2 perkataan yang ringan di lidah tapi sangat dicintai oleh Allah, begitupula dengan dzikir – dzikir yang lain yang telah kita sebutkan pada pertemuan yang lalu dimana setiap takbir adalah sedekah, setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, amalkan dzikir ini karena pada hakekatnya kita hidup didunia ini berdagang dengan Allah Subhanahu wata’ala adapun hasil dan buahnya akan diberikan ketika kita berada dikampung akhirat,

kemudian kata Rasulullah:”Sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap”. Maksudnya adalah sebelum datang fitnah yang menyibukkan kalian dari mengingat Allah Subhanahu wata’ala, dizaman ini kita diperhadapkan dengan banyak fitnah, fitnah memiliki makna yang banyak baik disebutkan oleh Allah Subhanahu wata’ala di dalam Al-Qur’an maupun dalam sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, jadi fitnah itu banyak macamnya dan banyak maknanya diantara makna dari fitnah adalah Al Ikhtibar, Al-Ittila (ujian) sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala dalam surah Al-Ankabut:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ , وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:”Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesu

ngguhnya Alloh mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”. (QS. Al-Ankabut: 2-3)

Fitnah juga mengandung As Syirk (Syirik kepada Allah), begitupula fitnah bermakna Al-Ma’asy wal Fawahiz, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

“Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kalian?” Mereka menjawab:“Benar, tetapi kalian mencelakakan diri kalian sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah, dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (setan) yang amat penipu”. (QS. Al-Hadid: 14)

Benar, tetapi kalian mencelakakan diri kalian sendiri dan menunggu (kehancuran kami”, maksudnya kalian menjatuhkan diri – diri kalian dalam kemaksiatan, kefasikan dan kemunafikan jadi fitnah adalah Al Ma’asy, fitnah juga mengandung arti hukuman, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan takutlah kalian terhadap fitnah (siksaan) yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah, bahwa Allah amat keras siksaan-Nya”. (QS. Al-Anfal: 25). fitnah juga bermakna:”Menyiksa dengan api”, Allah Subhanhau wata’ala berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata”. (QS. Al Ahzab :58).

Maksud fitnah disini adalah membunuhi, menyiksa, membakari orang – orang yang beriman dimana mereka digalikan Al Hudud (parit) karena mereka beriman kepada Allah,

Kemudian fitnah sebagaimana kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan ini jawaban dari Huzaifah ibnu Yaman ketika ditanya oleh Umar Radhiyallahu ‘anhu tentang fitnah, beliau berkata:“Ujian dan fitnah seorang lelaki itu adalah pada keluarganya, pada istrinya, pada hartanya, pada anak-anaknya tetapi dihapuskan oleh sholat 5 waktu”, namun Umar berkata:”Bukan tentang fitnah ini yang saya tanyakan tetapi fitnah yang besarnya seperti ombak yang menghantam”, kemudian kata Huzaifah ibnul Yaman Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya dibalik fitnah itu ada pintu, kemudian Umar bertanya:”Apakah pintu itu dibuka atau dipecahkan”, Huzaifah ibnul Yaman berkata:”Justru ia didobrak dan dipecahkan”, Umar kemudian berkata:”Jika demikian tidak bisa ditutup lagi setelah itu”, Umar tahu bahwasanya yang dimaksudkan dengan pintu fitnah itu adalah Umar ibnu Khattab adapun dipecahkannya dan didobraknya pintu itu yaitu ketika beliau terbunuh, dibunuh oleh Abu Luluah Al Majusi dan ini adalah awal fitnah yang menimpa kaum muslimin, olehnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh kita untuk memperbanyak amalan – amalan sholeh

Salah satu makna fitnah yang lain adalah Al Harj artinya banyak terjadi pembunuhan dimana – mana sampai –sampai yang membunuh dia tidak tahu mengapa ia membunuh mungkin dia menerima perintah dari atasannya atau dibayar, ia tidak perduli apa kasus dan masalahnya dan orang yang dibunuh juga tidak tahu apa sebabnya ia dibunuh.

Ketika seseorang istiqamah diatas ketaatan  dan ibadah kepada Allah ditengah fitnah yang menyerangnya maka inilah orang yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu wata’ala, termasuk fitnah yang kita lihat dizaman ini adalah dengan adanya teknologi yang kemudian menyita waktu – waktu kita, handphone, laptop, komputer yang kita miliki adalah fitnah yang menjadikan waktu kita habis untuk hal – hal yang tidak bermanfaat dan menjadikan kita lupa untuk menggiatkan diri beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala, olehnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kita dalam hadist ini:”Perbanyaklah amalan – amalan sholeh sebelum datang fitnah seperti malam yang gelap gulita”, bahkan puncak dari bahaya fitnah tersebut sebagaimana dijelaskan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam:”Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir”.

Yang dimaksudkan dalam hadist ini adalah keluar dari agama islam yang mulia ini dengan salah satu dari pembatal-pembatal keislaman, apa yang menjadi sebab tersebut dijelaskan oleh Rasulullah dalam lanjutan hadist:”Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia”, banyak orang yang menjual agamanya hanya untuk meraih kekuasaan, ada orang yang rela mengorbankan agamanya untuk menjilat dan mendapatkan sedikit dari keuntungan duniawiyah, Oleh karenanya dizaman ini adalah zaman dimana kita sangat butuh untuk kemudian memperbanyak doa kepada Allah agar kita diberikan keistiqamahan diatas jalan yang mulia ini, banyak fitnah yang bisa melanda kita termasuk fitnah dikalangan para pemuda yaitu fitnah wanita dan ini sangat berbahaya, sebagaimana dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

Aku tidak meninggalkan satu fitnah pun yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita”. (HR. Bukhari: 5096 dan  Muslim: 2740).

Hendaknya orang yang belum mampu menikah menjaga dirinya, menjaga kesuciannya yang disebut dengan Al-Iffah, berhati – hatilah dengan hubungan yang haram yang bisa mendatangkan kemurkaan Allah Subhanahu wata’ala khususnya dizaman yang sangat mudah seperti sekarang ini, dizaman ketika keluar dari pintu rumah kita melihat fitnah wanita tersebar dan kita bisa melihatnya dimana – mana, kita berusaha menghindarinya namun ia berusaha mendatangi kita, olehnya kita berlindung kepada Allah Subhanahu wata’ala, Nabi mengingatkan kita bahwasanya awal kehancuran Bani Israil disebabkan karena fitnah wanita, oleh karenanya para pemuda, para penuntut ilmu jaga diri dengan baik, banyak berdoa kepada Allah, sibukkan diri dengan hal – hal yang bermanfaat, tutup segala pintu fitnah yang bisa menjerumuskan karena syaithan ingin mengeluarkan kita dari kesucian kita, ingin mengeluarkan kita dari keistiqamahan kita, ingin mengeluarkan kita dari Iffah kita agar kita termasuk golongan mereka.

Wallahu a’lam Bish Showaab 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.