بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Diantara ayat yang disampaikan oleh penulis dalam bab ini, firman Allah Subhanahu wata’ala yang terdapat dalam surah Al-Ahzab, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَٰذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ ۚ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا

“Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan”. (QS. Al-Ahzab : 22).

Al Ahzab jamak dari Hisib, Hisib yaitu golongan, sedangkan Al Ahzab adalah sekutu, ketika para sahabat dikepung oleh musuh di kota Madinah yang terjadi pada tahun ke 5 hijriyyah yang dikenal dengan perang ahzab atau biasa juga dikenal Al Ghaswat Al Khandaq dan ini merupakan usulan dari sahabat yang bernama Salman Al Farisi, sahabat Salman Al Farisi memberikan usul kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menggali parit atau khandaq dan ini menunjukkan pengalaman serta tajrubah dan apa yang dimiliki oleh ummat-ummat yang lain yang berkaitan dengan masalah – masalah duniawiyah, hal ini tidak mengapa untuk diambil oleh kaum muslimin, sebagaimana dalam atsar disebutkan:“Hikmah itu adalah sesuatu yang hilang dari orang – orang yang beriman, dimana saja ia mendapatkannya maka silahkan ia mengambilnya”, jadi Salman Al Farisi menyampaikan kepada Nabi bahwasanya kami di Persia jika ada perang maka cara kami untuk bertahan adalah dengan menggali parit, usulan beliau diterima oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Banyak perkara – perkara yang diambil oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang merupakan usulan para sahabat, seperti yang dilakukan oleh An-Najazi yang ada dinegeri Habasyah ketika mereka berkhutbah maka ia berdiri ditempat yang dikhususkan, hal ini kemudian disampaikan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga beliau juga membuat mimbar – mimbar yang merupakan pengalaman dari orang – orang Habasyah.

Sebelumnya Rasulullah ketika berkhutbah beliau bertelekan disebuah pelepah kurma, olehnya kisah yang masyur ketika para sahabat telah membuat mimbar untuk beliau, beliau berpindah ke mimbar tersebut untuk berkhutbah dan beliau mendengar suara seperti tangisan seorang bayi yang ternyata itu adalah kesedihan pelepah kurma yang selama ini dipegang oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau berkhutbah dulu, Nabi kemudian turun dan mengelusnya, ini diantara salah satu mu’jizat yang diperdengarkan oleh beliau dan Allah berfirman di dalam Al-Qur’an:

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ ۚ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ ۗ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun”. (QS. Al Israa’: 44).

Dalam perang ini (ahzab) pasukan sekutu yang terdiri dari kaum musyirikin yang ada dikota Makkah bersekutu dengan suku-suku dari kabilah – kabilah arabiyah seperti Ghatafan ditambah lagi dengan pengkhiatan suku kaum yahudi yang tinggal bersama dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di Madinah yang dikenal dengan Bani Quraidha, salah satu suku yang besar yang hidup berdampingan dengan kaum muslimin di Madinah, jadi ada 3 suku yang hidup berdampingan dengan kaum muslimin di Madinah diantaranya adalah Bani Qainuqa, Bani Nadhir, dan Bani Quraidha.

Pada awalnya mereka hidup berdampingan diatas sebuah perjanjian antara kaum muslimin dengan orang – orang yahudi namun pada akhirnya semuanya diusir oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam disebabkan karena mereka mengkhianati perjanjian mereka kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, termasuk dalam perang Al Ahzab pada saat – saat yang genting yang semestinya mereka bersama dengan Rasulullah menjaga kota Madinah dari serangan musuh, namun justru mereka berbalik arah dan menjadi sekutu bagi pasukan yang datang dari Makkah, Jadi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang bersama dengan para sahabat dikepung dari luar dan ditambah dengan pengkhiatan kaum yahudi dari dalam, olehnya Allah menggambarkan hal ini dalam surah Al Ahzab, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَاءَتْكُمْ جُنُودٌ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا وَجُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَكَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرًا (9) إِذْ جَاءُوكُمْ مِنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ الأبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَ ((10

“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan. (Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka”. (QS. Al-Ahzab : 9-10).

Jadi keimanan seseorang itu barulah teruji ketika diperhadapkan dengan fitnah, ketika ia diperhadapkan dengan musibah dan ujian dari Allah Subhanahu wata’ala, sama dalam kejadian ini Rasulullah mengetahui siapa orang – orang munafik setelah Allah menguji mereka,

Ketika Nabi menggali parit bersama dengan para sahabat ada sebuah batu yang sangat besar yang tidak bisa dipecahkan oleh seorang sahabat dengan kapak dan alat yang mereka miliki akhirnya sahabat melapor kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Nabi kemudian datang memukul batu besar itu ketika dipukul memerciklah sebuah api Rasulullah bertakbir, Allahu akbar telah diberikan kepadaku kunci pembendaharaan kaisar (Romawi), Allahu akbar telah diberikan kepadaku kunci pembendaharaan kisra (Persia), Allahu akbar telah diberikan kepadaku negeri Yaman, pada saat genting seperti itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan hal tersebut kepada para sahabat, dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan sampai – sampai Allah mengabadikan perkataan mereka, mereka berkata:”Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafiq dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata:“Allah dan rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya”.

Salah seorang dari mereka mengatakan:”Muhammad ini memberikan janji kepada para sahabatnya tentang penaklukan Romawi kemudian ditaklukkannya Persia dan Yaman sedangkan salah seorang diantara kalian atau kita mampu menunaikan hajatnya“. ini adalah perkataan orang yang tidak kuat keyakinannya, adapun orang yang beriman mereka mengatakan:”Ini yang telah Allah dan Rasulnya janjikan kepada kita bahwasanya kejayaan, keberhasilan tidak mungkin didapatkan kecuali setelah diuji”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah pernah ditanya:”Apakah seseorang itu diuji atau langsung diberikan kejayaan”, beliau berkata:”Tidak mungkin kejayaan diberikan oleh Allah sebelum diuji”, jadi para sahabat dan Nabi diuji dalam perang ini.

Lanjutan ayat sungguh:“Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan”.

Jadi orang yang beriman harus selalu yakin dengan pertolongan Allah Subhanahu wata’ala, didunia ini telah menjadi sunnatullah perseteruan antara yan hak dan yang bathil itu sampai pada hari kiamat, ini sunnatullah yang pasti akan terjadi dan ini ada maslahat yang di inginkan oleh Allah Subhanahu wata’ala. Mengapa Nabi Nuh ‘Alaihissalam tidak ada yang ikut kepada beliau kecuali sedikit, ini tidak lain karena ada hikmah yang Allah inginkan dibalik itu, Allah ingin menjadikan beliau bapak dari seluruh manusia yang kedua setelah Adam ‘Alaihissalam sehingga kaumnya ditenggelamkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dengan topan dan air bandang yang menghancurkan mereka sehingga setelah itu Allah menjadikan beliau sebagai bapak dari seluruh manusia dan Allah Subhanahu wata’ala ingin memilih siapa yang syahid dijalannya dan terbunuh.

Jadi janji Allah Subhanahu wata’ala adalah hak, terkadang kebathilan terlihat menguasai tetapi itu hanya sebentar saja karena ketika telah datang kebenaran ia akan meluluh lantahkan kebatilan, andaikan bukan perseteruan antara yang haq dan yang bathil  maka bumi akan menjadi rusak. Jadi orang yang beriman harus senantiasa keyakinan dan tawakkalnya semata – mata kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Wallahu a’lam Bish Showaab 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.