بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dalam surah Ali Imran ayat ke 173, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”. (QS. Ali Imran : 173).

Dalam ayat ini di kisahkan tentang perang uhud, perang uhud kaum muslimin mengalami kekalahan dan ini merupakan sunnatullah, dalam perang ini paman Rasulullah meninggal dunia dan sahabat Mush’ab bin Umair juga meninggal dalam perang ini, dan sahabat yang lain banyak menjadi korban, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَلَا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ ۖ إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ ۖ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لَا يَرْجُونَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS. An-Nisaa : 104).

Kita mengharapkan pahala disisi Allah Subhanahu wata’ala, adapun orang – orang kafir mereka mengharapkan apa yang ada didunia ini,  Ustadz Harman Tajang mengisahkan:”Ketika kami berangkat ke palu dan berkurang logistik kami meminta kepada ikhwah untuk mentransfer dana untuk beli logistik dan mulai terbuka toko – toko, kami mendatangi pusat perbelanjaan grosir yang merupakan milik salah satu BUMN yang ada disana, dengan harga standar kami beli beras dan gula kemudian bertepatan dengan itu ada non muslim yang juga ikut belanja kebutuhan logistik mereka, ketika pelayan toko bertanya kepada kami berapa yang anda ingin beli:”Kami sebutkan kebutuhan kami”, dan ketika mereka yang ditanya berapa yang engkau beli, mereka berkata:”Sebanyak mungkin berapa yang kalian punya kami beli”, akhirnya semua beras dan gula mereka borong untuk dibagikan, hati saya waktu itu kecut namun saya langsung teringat dengan firman Allah Subhanahu wata’ala:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ فَسَيُنْفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُونَ ۗ وَالَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ جَهَنَّمَ يُحْشَرُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan”. (QS. Al-Anfal: 36).

Sedikit atau banyaknya yang kita keluarkan kepada saudara kita yang terkena musibah yang jadi pertanyaan adakah yang kita lakukan untuk saudara kita kaum muslimin padahal mereka berkerja siang dan malam.

Mereka non muslim juga melakukan penggalangan donasi, jika kita menangis mereka juga menangis, kita begadang mereka juga begadang, kalian letih mereka juga letih, tapi kalian mengharapkan ganjaran disisi Allah sedangkan mereka tidak mengharapkan apa – apa Ustadz Harman Tajang mengisahkan pengalamannya di Sudan:”Inilah yang membuat saya bertahan di Sudan ketika menuntut ilmu, telah ada bisikan untuk berpindah ke tempat yang lain atau pulang ke indonesia namun ketika saya melihat ada TKW atau TKI begitupula yang datang dari negara lain yang menjadi buruh di Sudan dengan menahan cuaca yang sangat panas, saya kemudian berkata:”Mereka mencari dunia bisa bersabar lalu mengapa saya mencari akhirat tidak bisa bersabar”.

Jika kita mengalami kepayaan dalam menghafal Al-Qur’an yaitu ketika baru duduk sejenak sudah mengeluh, ketahuilah para atlet yang bertanding di SEA Games, apalagi jika pertandingan telah dekat mereka tidak pernah tidur kecuali sedikit, 8 jam mereka berlatih demi untuk mendapatkan penghargaan dunia, lalu mengapa kita yang mengejar akhirat tidak rela begadang di malam hari menghafal Al-Qur’an, mengkaji agama Allah Subhanahu wata’ala, seharusnya kita yang semangat dalam berdakwah, berjuang dijalan Allah, menuntut ilmu, berbuat baik kepada orang lain, mengharapkan ganjaran disisi Allah, olehnya Allah berfirman:

وَلَا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ ۖ إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ ۖ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لَا يَرْجُونَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS. An-Nisaa : 104).

Mereka hanya menginginkan apa yang ada di dunia seperti: Pujian, Sum’ah, ketenaran dan seterusnya, padahal kita mengharapkan apa yang ada disisi Allah Subhanahu wata’ala.

Dalam perang Uhud orang kafir datang ke kota Madinah menyerang kaum muslimin untuk membalas kekalahan mereka pada perang badar pada tahun ke 2 hijriyyah, ketika kaum muslimin sudah mulai kalah Abu Sufyan bersama dengan pasukannya kembali sehingga mereka menyesal mengapa tidak sekalian dihancurkan semua kaum muslimin pada waktu itu, mereka kembali mengumpulkan pasukan untuk datang ke Madinah dan berita kedatangan mereka sampai kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya mereka kembali mengumpulkan pasukan untuk menyerang kaum muslimin, Allah berfirman:

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”. (QS. Ali Imran : 173).

Namun hal itu tidaklah membuat Nabi dan para sahabat menjadi takut, justru keimanannya semakin bertambah, mereka berkata:”Hasbunallahu wani’mal wakil, Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”, doa ini juga dibaca oleh Ibrahim ‘Alaihissalam ketika beliau hendak di bakar dimana kayu bakar dikumpulkan selama satu bulan lamanya untuk menghancurkan Nabi Ibrahim, panasnya api jika ada burung yang lewat diatasnya maka ia akan jatuh terpanggang dan prajurit yang ditugaskan untuk melempar Ibrahim ke dalam api tidak mampu karena sangat panas, mereka kemudian membuat yang disebut dengan manjanik  (alat pelontar raksasa) untuk digunakan melempar Nabi Ibrahim ke dalam kobaran api yang sangat panas dari jarak yang sangat jauh.

Pada saat beliau dileparkan maka datanglah Jibril ‘Alaihissalam, seseorang ketika dalam kondisi terjepit seperti ketika tenggelam maka rumput pun akan ia pegang, jadi apa saja yang bisa ia raih maka ia raih untuk menyelamatkan dirinya, dalam kondisi yang sangat genting dan di depan Nabi Ibrahim ada api berkobar kemudian beliau dalam kondisi terikat maka datanglah Jibril menawarkan bantuan dan Jibril tidak turun kecuali perintah dari Allah Subhanahu wata’ala, Allah berfirman:

وَمَا نَتَنَزَّلُ إِلَّا بِأَمْرِ رَبِّكَ ۖ لَهُ مَا بَيْنَ أَيْدِينَا وَمَا خَلْفَنَا وَمَا بَيْنَ ذَٰلِكَ ۚ وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا

“Dan tidaklah kami (Jibril) turun, kecuali dengan perintah Tuhanmu. Kepunyaan-Nya-lah apa-apa yang ada di hadapan kita, apa-apa yang ada di belakang kita dan apa-apa yang ada di antara keduanya, dan tidaklah Tuhanmu lupa”. (QS. Maryam : 64).

Jibril berkata kepada Ibrahim:”Wahai Ibrahim ada yang bisa kami bantu”, andaikan Ibrahim berkata ia buka tali yang mengikatku, maka ia bisa melakukannya, namun Ibrahim berkata kepada Jibril:”Adapun kepada engkau Jibril aku tidak butuh bantuanmu, adapun kepada Allah dia yang lebih tahu kondisi dan keadaanku, hasbiyallahu ni’mal wakil”, belum selesai beliau mengucapkannya maka turun perintah dari Allah kepada api, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ

Kami berfirman:“Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”. (QS. Al -Anbiya: 69).

Jadi Allah tidak hanya menyuruh api menjadi dingin karena ada dingin yang membinasakan akan tetapi Allah juga berkata kesalaman Ibrahim, Tidak ada yang terbakar dari Ibrahim kecuali ikatan yang ada pada tubuh beliau, mengapa Allah tidak menurunkan hujan untuk memadamkan kobaran api tersebut, padahal Allah bisa menurunkan hujan untuk memadamkan api, mengapa justru Allah menyuruh api itu langsung menjadi dingin yang dzatnya adalah membakar kemudian berubah menjadi dingin, kata para ulama karena Ibrahim tidak menerima tawaran dari Jibril tetapi beliau langsung kepada Allah Subhanahu wata’ala sehingga Allah langsung menolong Ibrahim ‘Alaihissalam.

Wallahu a’lam Bish Showaab 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.