بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Setelah Rasulullah meyampaikan hal tersebut kepada para sahabat bahwa ada 70 ribu dari ummatnya yang dimasukkan ke dalam surga tanpa hisab dan tanpa azab, beliau berdiri dan masuk ke dalam rumahnya (ini beliau cerita kepada para sahabat dimasjid dimana masjid berdampingan dengan kamar beliau), beliau belum menjelaskan kepada mereka siapa 70.000 yang masuk surga tanpa hisab, akhirnya para sahabat penasaran dengan apa yang disampaikan oleh Rasulullah, dan salah satu uslub dalam mengajar adalah dengan membuat penasaran orang yang diajar, olehnya dalam mengajar tidak mengapa kita membuat penasaran orang yang kita ajar, setelah Rasulullah masuk ke dalam rumahnya, para sahabat kemudian saling berdiskusi diantara mereka dan menimbulkan keributan, diantara mereka ada yang berkata:”Boleh jadi 70.000 itu yang dimaksud oleh Nabi adalah sahabat – sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menemani beliau dalam berdakwah, dalam berjihad, dalam berjuang“, dan ini menunjukkan keutamaan para sahabat Nabi, Rasulullah bersabda:

لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِى ، فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ

Janganlah kalian mencela sahabatku. Seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas semisal gunung Uhud, maka itu tidak bisa menandingi satu mud infak sahabat, bahkan tidak pula separuhnya”. (HR. Bukhari no. 3673 dan Muslim no. 2540

Oleh karena itu jika ada kelompok yang mencela sahabat Nabi maka yakinlah bahwasanya itu adalah aliran sesat, jadi sahabat berkata:”Boleh jadi mereka adalah sahabat – sahabat Nabi”, Imam an Nawawi menyebutkan:”Tidak mengapa kita yang datang belakangan bercita – cita, berangan – angan (andaikan saya hidup dimasanya Rasulullah maka saya akan menjadi sahabat beliau)”, ucapan yang seperti ini tidak mengapa dan kita akan mendapatkan pahala dengan niat tersebut,

Sebagian sahabat ada diantara mereka berkata:”Boleh jadi yang terlahir sebagai seorang muslim), Rasulullah bersabda:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ

Setiap manusia yang lahir, mereka lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani”. (HR. Bukhari-Muslim)

Anak yang terlahir dalam keadaan islam atau terlahir dalam keadaan muslim kemudian ia meninggal dan menjaga keislamannya serta tidak pernah mempersekutukan Allah maka ia termasuk dalam golongan yang masuk ke dalam surga tanpa hisab dan tanpa azab, dan banyak pendapat yang lain,

Nabi kemudian keluar menjumpai mereka dan berkata:”Apa yang kalian bicarakan“, mereka kemudian mengabarkan kepada Nabi dengan berkata:”Ya Rasulullah anda telah menyebutkan 70.000 masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab, ini yang kami bicarakan, siapa gerangan mereka”, Rasulullah menyebutkan ciri – ciri mereka, mereka adalah orang –orang yang tidak pernah meruqiyah dan yang tidak meminta untuk diruqiyah, tidak bernasib sial dan mereka semata – mata hanya bertawakkal kepada Allah Subhanahu wata’ala”.   

Tidak pernah Meruqiyah

Dalam hadist diatas terdapat kata:”Mereka yang tidak pernah meruqiyah ini adalah lafadz dari Imam Muslim dan telah dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bahwasanya ini adalah kekeliruan dari rawi hadist jadi tambahan hadist tersebut tidak shahih, mengapa..? karena bertentangan dengan apa yang dilakukan oleh Nabi, bahkan Rasulullah ketika sakit diruqiyah oleh Jibril ‘Alaihissalam, dalam riwayat yang lain tidak disebutkan lafadz dari Muslim tersebut tetapi disebutkan:”Yang tidak berobat dengan system Al Kay”, oleh karenanya meruqiyah disyariatkan dan diantara hadist yang menjelaskan kebolehannya  Rasulullah bersabda:”Siapa yang mampu memberikan manfaat kepada saudaranya maka lakukan“, bahkan ketika Rasulullah masuk ke rumah ‘Aisyah, dia melihat ada seorang anak kecil yang memiliki tanda diwajahnya, beliau berkata:”Anak ini terkena ‘ain”, beliau berkata:”Ruqiyah dia”.

Para sahabat berkata kepada Nabi:”Dahulu kami di zaman jahiliyah meruqiyah ya Rasulullah“,  Rasulullah  berkata kepada mereka:“Coba perlihatkan ruqiyah – ruqiyah kalian kepada saya”, tidak mengapa meruqiyah selama tidak ada kesyirikan didalamnya, Rasulullah ketika sakit atau terkena sihir beliau diruqiyah oleh Jibril ‘Alaihissalam bersama dengan mikail, dari sini maka turunlah surah perlindungan yaitu surah Al-Falaq, An Naas, Rasulullah disihir dengan 11 ikatan setiap kali jibril membaca sayat dalam surah Al Falaq terbuka ikatan pertama dan jika surah Al – Falaq dan An Naas digabung maka terdapat 11 ayat, setelah selasai dibaca Nabi kemudian berdiri seakan akan beliau tidak pernah sakit sebelumnya, jadi Rasulullah meruqiyah dan beliau juga diruqiyah yang menunjukkan kebolehan meruqiyah

Tidak Minta Ruqiyah

Potongan hadist ini shahih riwayatnya, meruqiyah diri sendiri dibolehkan dan tidak masuk dalam hadist ini, lalu bagaimana jika ada seorang anak yang memanggil peruqiyah untuk diruqiyah ibunya tanpa ibunya meminta, maka ini juga dibolehkan dan tidak masuk dalam hadist diatas, yang dimaksudkan adalah yang di minta secara langsung, walaupun para ulama mengatakan bahwasanya perkataan Rasulullah:”Tidak meminta ruqiyah adalah tidak menunjukkan diharamkannya dan berdosanya orang yang meminta untuk diruqiyah”, ini boleh dan disilahkan apalagi jika ia tidak lagi bersabar dengan penyakitnya, namun jika dia bisa bersabar dengan penyakitnya dan meruqiyah dirinya sendiri serta bertawakkal kepada Allah dan memperbanyak doa kepada Allah maka itu yang lebih afdhal sebagaiman kisah seorang wanita yang terkena kesurupan jin dizaman Rasulullah yang bernama Ummu Sufar yang datang kepada Rasulullah sambil berkata:”Saya kesurupan ya Rasulullah, tolong doakan saya agar saya disembuhkan oleh Allah”, Rasulullah berkata:”Jika engkau mau saya doakan engkau sembuh dan jika engkau mau bersabar saya menjamin engkau masuk surga”, wanita ini berkata:”Saya memilih bersabar ya Rasulullah”, ini adalah bentuk tawakkal wanita tersebut kepada Allah Subhanahu wata’ala dan ini pula amalan Abu Bakar as Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu, Abu Bakar ketika beliau sakit, orang – orang berkata:”Saya datangkan kepada anda dokter yang paling ahli”, beliau justru berkata:”Dokter itu yang mendatangkan penyakit untukku”, Jika tawakkal kita sudah seperti beliau kemudian kita tidak mengumpat dan marah maka silahkan bertawakkal kepada Allah namun jika nanti timbul marah dan tidak tahan dengan sakit yang kita miliki maka silahkan minta ruqiyah, ini tidak mengapa dan tidak ada dosa didalamnya serta tidak haram, namun boleh jadi keluar dari golongan yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab.

Tidak bernasib sial

Bernasib sial adalah bagian dari perkara kesyirikan, bernasib sial umumnya dilakukan dengan tanda – tanda, misalnya tiba – tiba ada burung hantu hinggap diatap rumahnya kemudian ia mengatakan:”Akan ada yang meninggal nanti di tempat ini”, ini namanya thatayyur, atau dengan suara burung gagak atau ketika ia hendak keluar dari rumah. Dahulu yang seperti ini menjadi kebiasaan arab jahiliyah dimana kata thatayyur dari kata thair yaitu burung sehingga ketika mereka hendak safar maka dilepaslah burung tersebut, jika burung itu terbang ke kanan maka ia melanjutkan perjalanan dan jika terbang kekiri maka ia tidak jadi berangkat, sama halnya di zaman sekarang jika ada orang yang menagih utang kemudian dijalan ia bertemu dengan orang buta ia kemudian pulang dan berkata:”Hari ini kita tidak akan dapat karena ketemu dengan orang buta”, ini beberapa yang disebut dengan thatayyur, olehnya jangan pernah berhenti dari semua amalan dan pekerjaan hanya karena melihat tanda – tanda yang seperti itu,

Ustadz Harman bercerita:”Saya pernah ke malengkeri mau ke Bulukumba dengan menaiki mobil umum (ini terjadi ketika saya masih di STIBA menimba ilmu), semua penumpang laki – laki dan satu perempuan yang duduk didepan, kemudian datang sopir mobil dan memberikan batu kecil kepada perempuan yang duduk didepan sambil berkata:”Ibu , pegang ini, jangan buang sebelum tiba di Bulukumba”, saya (Ustadz Harman) bertanya:” Apa itu..?, sopir mobil berkata:”Dia sendiri penumpang perempuan yang bisa mendatangkan celaka, olehnya dengan batu ini maka kita akan terhidar dari celaka”, ini bagian dari thatayyur atau bernasib sial, olehnya Rasulullah mengajarkan kepada kita doa:

اللَّهُمَّ لَا خَيْرَ إِلَّا خَيْرُكَ وَلَا طَيْرَ إِلَّا طَيْرُكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ

“(Ya Allah, tiada kebaikan melainkan kebaikan-Mu dan tiada kesialan kecuali yang telah Engkau takdirkan dan tiada tuhan yang disembah selain Engkau)”. (HR. Ahmad, No. Hadith : 6748)

Wallahu a’lam Bish Showaab 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.