بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Adapun keburukan tidak boleh ia menyalahkan Allah karena keburukan tidak disandarkan kepada Allah,  orang yang beriman yakin dibalik keburukan yang terjadi ada kebaikan, dalam hadist Rasulullah bersabda:

Janganlah kalian mengira bahwasanya itu buruk bagi kalian bahkan itu baik bagi kalian”, banyak sesuatu yang terjadi membuat kita benci, olehnya Allah Subhanahu wata’ala telah sempurna mengajarkan kepada kita bagaimana beriman terhadap takdir bahkan sampai kepada yang buruk, boleh jadi sesuatu kita benci namun karena keimanan kepada takdir dan kita berbaik sangka kepada Allah sehingga Allah mengatakan:”Itu baik bagi kalian“, jadi orang yang beriman tidak pernah menyalahkan Allah bahkan ia berbaik sangka kepada Allah Subhanahu wata’ala inilah puncak keimanan terhadap takdir dan inilah puncak kelezatan hidup sebagaimana kata Ubadah ibn Shamit:”Engkau tidak akan pernah merasakan kelezatan hidup sampai engkau yakin bahwasanya apa yang telah ditentukan untuk mu tidak ada yang mampu menghalanginya dan apa yang bukan untuk mu tidak ada yang mampu untuk memberikannya”, kita berjalan sesuai takdir sambil memaksimalkan usaha kemudian libatkan Allah dalam segala urusan, berdoa kepadanya kemudian istikharah sebaik – baiknya karena siapa yang melibatkan Allah dalam setiap urusannya maka Allah tidak akan membiarkannya ketika ia mendapatkan masalah, ia tidak akan menyesal dengan istikharah yang ia telah lakukan.

Mungkin ada yang bertanya mengapa Allah menyebutkan di dalam hadist bahwa ketentuan Allah (takdir) tidak ditolak kecuali dengan doa, ini menunjukkan takdir masih bisa berubah, dalam hadist Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi”. (HR. Bukhari no. 5985 dan Muslim no. 2557).
Kita tahu umur dan ajal telah ditakdirkan atau ditentukan oleh Allah Subhanahu wata’ala apa maksud dari dipanjangkan, cara menjawab pertanyaan yang seperti ini adalah:
  1. Takdir terbagi dalam beberapa hal ada yang disebut dengan takdir Al Azali yang dituliskan sejak 50.000 tahun sebelum langit dan bumi diciptakan oleh Allah Subhanahu wata’ala, semua yang terjadi ada pada ilmunya Allah Subhanahu wata’ala.
  2. Takdir Al Umuri yaitu takdir bagi umur setiap manusia sebagaimana disebutkan beberapa point dalam hadist yaitu rezekinya, ajalnya, pekerjaannya, amalannya, bahagia dan sengsaranya.
  3. Takdir Hauli yaitu takdir yang ditentukan pada setiap tahunnya yaitu pada setiap bulan suci Ramadhan pada malam lailatul qadr, olehnya di malam lailatur qadr ditentukan pada tahun itu siapa yang meninggal, siapa yang sehat, siapa yang sakit bahkan siapa yang menunaikan ibadah haji dan umrah, inilah mengapa dimalam lailatul qadr kita diperintahkan untuk banyak berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala karena takdir tidak ditolak kecuali dengan doa, Rasulullah mengatakan:”Doa dan takdir itu sangat kuat bertemu dilangit, olehnya ketika berdoa jangan setengah – setengah tapi perkuat doa karena takdir itu kuat turunnya, Allah tidak menerima doa orang yang lalai, misalnya ketika ia berdoa sambil memalingkan wajahnya atau melihat apa yang berada disekelilingnya, begitupula ketika dalam doanya ia berkata:”Ya Allah ampunilah aku jika engkau mau”, oleh karena itu ketika berdoa ulang – ulangi doa kita dan perkuat.
  4. Takdir Yaumi, Allah mengubah atau menghapus ketetapannya dan menetapkan ketetapannya namun semua perubahan tersebut telah tertulis diummil kitab, Allah tahu kapan kita berdoa, Allah tahu kapan kita menyambung tali silaturrahim, takdir pada catatan malaikat, dalam catatan malaikat fulan umurnya 60 tahun dan malaikat tidak tahu bahwasanya ternyata telah tertulis disisi Allah telah berumur 60 tahun, fulan  menyambung tali silaturrahim ditambahkan 10 tahun umurnya oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Perkuat doa kepada Allah Subhanahu wata’ala dan minta yang terbaik agar Allah menakdirkan kebaikan kepada kita olehnya dalam doa istikharah kita mengatakan:

Dari Jabir bin Abdillah Radhiallahu’anhu, beliau berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يُعَلِّمُ أَصْحَابَهُ الاِسْتِخَارَةَ فِى الأُمُورِ كُلِّهَا ، كَمَا يُعَلِّمُ السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ يَقُولُ « إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِك وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ خَيْرٌ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – أَوْ قَالَ عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – فَاقْدُرْهُ لِى وَيَسِّرْهُ لِى ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – أَوْ قَالَ فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – فَاصْرِفْهُ عَنِّى وَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِى الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِى – قَالَ – وَيُسَمِّى حَاجَتَهُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajari para sahabatnya untuk shalat istikharah dalam setiap urusan, sebagaimana beliau mengajari surat dari Al-Quran. Beliau bersabda, “Jika kalian ingin melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua rakaat selain shalat fardhu, kemudian hendaklah ia berdoa:

“Ya Allah, sesungguhnya aku beristikharah pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak tahu. Engkaulah yang mengetahui perkara yang gaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, kehidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, kehidupan, dan akhir urusanku (atau jelek bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, dan palingkanlah aku darinya, dan takdirkanlah yang terbaik untukku apapun keadaannya dan jadikanlah aku ridha dengannya. Kemudian dia menyebut keinginanya”. (HR. Ahmad, Al-Bukhari, Ibn Hibban, Al-Baihaqi dan yang lainnya).

Banyak kita menjumpai orang menyalahkan takdir Allah, ketika di zaman Umar ada seorang pencuri dikirim ke mahkamah, Umar kemudian menetapkan bahwasanya orang ini dipotong tangannya karena tercapai syaratnya, ia mengatakan:”Ya Amirul Mukminin saya mencuri karena takdir Allah”, Umar mengatakan:”Dan saya memotong tanganmu juga karena takdir Allah”.

Pernah suatu ketika Umar membawa kaum muslimin ke Yaman tiba – tiba sebelum masuk ke daerah tersebut terdengar berita bahwasanya ada wabah atau penyakit thaun yang menyebar ditempat tersebut, akhirnya Umar tidak jadi masuk ke tempat tersebut, Abu Ubaidah ibn Jarrah mengatakan:”Kita tetap masuk ke tempat itu wahai amirul mukminin”, Umar mengatakan:”Tidak, ini bisa menyebabkan kebinasaan”, Abu Ubaidah mengatakan:”Anda lari dari takdir Allah wahai amirul mukminin”, Umar mengatakan:”Kita lari dari takdir Allah menuju ke takdir Allah yang lain”, disini Allah memberikan pilihan kepada kita.

Wallahu a’lam Bish Showaab 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.