بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Di dahulukan zakat dari pada puasa karena Allah menyebutnya didalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku”. (QS. Al-Baqarah : 43).

Ibnu Abbas berkata:”2 hal yang disandingkan oleh Allah”, bahkan beliau berkata:”Ada 3 pasang yang disandingkan oleh Allah antara yang satu dengan yang lain, Allah tidak menerima yang satu kecuali mengerjakan yang lainnya, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ مُعْرِضُونَ

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling”. (QS. Al-Baqarah :83). Ini 3 hal yang disandingkan oleh Allah Subhanahu wata’ala didalam Al-Qur’an

Abu bakar As Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu memerangi orang – orang yang tidak membayar zakat di zaman beliau, bukan hanya yang enggan membayar zakat akan tetapi juga beliau memerangi orang – orang yang murtad, ini diantara salah satu keistimewaan beliau. Ulama kita mengatakan:”Agama ini ditolong oleh 2 orang yaitu Abu Bakar As Shiddiq dan Ahmad bin Hanbal”, Ahmad bin Hambal ketika mempertahankan Al-Qur’an sebagai kalamullah dan bukan makhluk beliau dicambuk sampai beliau tidak sadarkan diri menghadapi siksaan untuk mempertahankan kebenaran.

Adapun Abu Bakar As Shiddiq beliau memerangi orang – orang yang tidak mau membayar zakat, mereka menolak membayar zakat karena menta’wil firman Allah Subhanahu wata’ala:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. At-Taubah : 103).

Mereka orang munafik yang enggan mambayar zakat berkata:”Nabi telah meninggal dan tidak ada lagi yang akan mendoakan kita sehingga tidak wajib lagi sekarang”, Abu Bakar As Shiddiq berkata:”Demi Allah saya akan memerangi orang yang berusaha memisahkan antara sholat dan zakat”, sebagian sahabat berkata kepada Abu Bakar As Shiddiq:” Bagaimana anda memerangi orang yang berkata:”Laa ialaha illallah”, beliau berkata:”Andaikan mereka menahanku dan mengikatku, dahulu mereka menunaikan dizaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam apakah agama ini masih berkurang sedangkan saya masih hidup”, Abu Bakar As Shiddiq memperjuangkan agama Allah Subhanahu wata’ala, ini salah satu diantara yang beliau perjuangkan karena mengeluarkan zakat merupakan rukun islam yang wajib adapun nishob dan syarat – syaratnya sebagaimana yang disebutkan dalam buku – buku fiqih dan hendaknya orang – orang yang diberikan kelapangan harta oleh Allah memperhatikan ini dengan baik, seperti petani yang memiliki sawah ia harus tahu tentang hukum dan syarat – syarat mengeluarkan zakat terutama ketika dia panen begitupula dengan para pedagang dan orang – orang kaya harus tahu dan banyak bertanya.

Ilmu ada yang sifatnya fardhu ‘ain dan fadhu kifayah, fardhu ‘ain wajib kita ketahui masing – masing diantara kita, seperti tauhid, aqidah, tata cara melaksanakan sholat, ada yang sifatnya fardhu kifayah seperti ilmu tentang menunaikan ibadah haji, ilmu tentang zakat, tetapi fardhu kifayah dapat berubah menjadi fardhu ‘ain jika amalan itu sampai kepada kita sehingga wajib kita mempelajarinya, seperti orang yang belum menikah atau jomblo, ketika masih sangat muda dan belum menikah maka belum wajib baginya mempelajari tentang masalah nikah, hukum – hukum pernikahan, adab – adab malam pertama, hal yang seperti ini belum wajib bagi seorang jomblo untuk ia mempelajarinya adapun jika waktunya tiba maka hukumnya menjadi wajib.

Allah Subhanahu wata’ala mengancam didalam Al-Qur’an orang yang tidak membayar zakat:

{وَلا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ}.

Dan jangan sekali-kali orang yang kikir dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya, mengira bahwa (kikir) itu baik bagi mereka, padahal (kikir) itu buruk bagi mereka. Harta yang mereka kikirkan itu akan dikalungkan (di lehernya) pada Hari Kiamat. Milik Allah-lah warisan (apa yang ada) di langit dan di bumi. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan”. (QS. Ali-Imran : 180).

Wallahu a’lam Bish Showaab 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.