بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu

Balasan dari menjaga Allah adalah balasan sesuai dengan amalan, siapa yang menjaga Allah dan batasan – batasan Allah maka ia akan dijaga oleh Allah Subhanahu wata’ala, jika kita meneliti para penghafal Al-Qur’an yang menjaga kitab Allah, menjaga Al-Qur’an dengan hafalan mereka maka jarang kita menemukan atau bahkan tidak ada penghafal Al-Qur’an yang terkena penyakit pikun dimasa tuanya, begitupula para ulama dan masyaikh karena mereka menjaga Allah sehingga semakin mereka berumur mereka semakin dicintai karena kebaikan yang mereka miliki semakin matang, ini penjagaan Allah Subhanahu wata’ala kepadanya

Jadi jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu, jaga Allah ketika masih muda dengan bersabar dalam keataatan maka Allah akan menjagamu dimasa tua, hamba yang menjaga Allah akan dijaga oleh Allah dari arah depannya dan dari arah belakangnya. Allah sengaja mengirim malaikat untuk menjaga hamba – hambanya dari segala keburukan, tetapi malaikat – malaikat yang menjaga hamba tersebut berdasarkan ketentuan dan takdir yang diturunkan oleh Allah. Ketika takdir harus turun ke hamba tersebut barulah malaikat menghindar darinya tetapi dalam kesehariannya ia senantasa dijaga oleh malaikat – malaikat Allah Subhanahu wata’ala, barangsiapa yang menjaga Allah maka Allah akan menjaganya bukan hanya dirinya tetapi juga kepada keluarganya dan hartanya sebagaimana kisah Khidir dan Musa ‘Alaihissalam ketika menegakkan dinding rumah anak yatim yang mana orang tua mereka meninggalkan warisan yang dipendam dibawah dinding tersebut, Khidir berkata:”Bapak dari kedua anak itu adalah orang yang sholeh”, ulama tafsir mengatakan bukan bapaknya secara langsung akan tetapi kakeknya, jadi jagalah Allah maka Allah akan menjaga keluarga kita sebagaimana diriwayatkan oleh salah seorang salaf ketika ia Qiyam diwaktu malam kemudian datang bisikan yang menyuruh ia untuk istrahat namun ia menambah terus sholatnya, ketika ia melihat wajah anaknya dia berkata:”Untukmu wahai anakku aku tambah ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala“, jadi menjaga Allah maka Allah akan menjaga kita dalam ibadah dan dalam ketaatan kepadanya.

Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu

Ini disebut dengan penjagaan Alla kepada hambanya secara khusus, jadi kebersamaan Allah kepada hambanya ada 2 yaitu secara khusus dan secara umum, kebersamaan Allah secara umum yaitu pengetahuan Allah kepada seluruh makhluk dan seluruh hambanya baik orang yang beriman maupun orang kafir bahkan daun yang jatuh dari pohon diketahui oleh Allah Subhanahu wata’ala, kemudian kebersamaan Allah secara khusus yaitu ketika Allah menolong hamba tersebut atau penjagaan Allah kepadanya berupa hidayah sebagaimana ketika Allah berkata kepada Musa dan Harun saat keduanya diutus oleh Allah untuk berdakwah kepada Fir’aun Allah berfirman:

قَالَ لَا تَخَافَا ۖ إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَىٰ

Allah berfirman:“Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat”. (QS. Thaha : 46).

Jadi ketika seorang hamba bersama dengan Allah maka jangan ia takut kepada apapun dan kepada siapapun, ketika kekasih Allah yaitu Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam merasakan kebersamaan Allah ketika dilempar dalam bara api beliau tidak khawatir dan takut sedikitpun, ketika beliau diatas udara kemudian datang jibril menawarkan bantuan beliau berkata:”Adapun kepadamu jibril aku tidak butuh, adapun kepada Allah “hasbiyallahu wani’mal wakil”, Allah menurunkan perintahnya kepada api:

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ

Kami berfirman:”Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim“.(QS. Al-Anbiya: 69).

Begitu pula  ketika Allah bersama dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam beliau dijaga oleh Allah ketika beliau diusir dari kota Makkah atau hijrah ke Madinah bersama dengan Abu Bakar as Shiddiq bersembunyi di gua tsur kemudian dikejar oleh orang – orang kafir dan orang – orang quraisy yang kata Abu Bakar as Shiddiq:“Ya Rasulullah andaikan salah seorang dari mereka melihat kaki kita maka mereka akan mendapati kita disini bersembunyi”, Rasulullah menenangkan Abu Bakar as Shiddiq dan berkata:”Apa pendapatmu wahai Abu Bakar jika seseorang berdua dan Allah ketiganya, jangan bersedih Allah bersama dengan kita”, ketika Rasulullah berkata kepada sahabatnya jangan bersedih sesungguhnya Allah bersama dengan kita dan akan menolong kita Allah kemudian menurunkan ketenangan dihati Abu Bakar as Shiddiq setelah dinasehati oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah

Disini Nabi mengajarkan agar hati kita senantiasa bergantung semata – mata hanya kepadanya dalam segala kondisi dan urusan, dalam segala keadaan baik dalam keadaan susah maupun dalam keadaan senang ingatlah Allah Subhanahu wata’ala, jika meminta mintalah hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala, jangan meminta kepada yang tidak mampu memberikan kepadamu, ulama kita berkata haram hukumnya meminta kepada siapapun baik yang masih hidup apalagi yang telah meninggal dunia pada perkara-perkara yang tidak mampu dilakukan dan diberikan kecuali oleh Allah seperti misalnya memberi anak, menurunkan hujan dan hal – hal yang diluar kemampuan manusia ini tidak boleh diminta kecuali hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala, adapun ketika pada perkara – perkara yang mana manusia itu mampu memberikan bantuannya kepada kita maka dibolehkan sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala didalam Al-Qur’an:

مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْهَا ۖ وَمَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُنْ لَهُ كِفْلٌ مِنْهَا ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُقِيتًا

“Barangsiapa yang memberikan syafa’at yang baik, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. Dan barangsiapa memberi syafa’at yang buruk, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. An-Nisaa’: 85).

Walaupun hal itu mengurangi tingkat tawakkal dan Ubudiyah kepada Allah dan tidak ada dosa dialamnya Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah membaiat para sahabatnya atau beliau menyuruh sebagian sahabat membaiat beliau, sahabat berkata kepada Rasulullah:”Ya Rasulullah kami sudah membaiat anda”, akan tetapi Nabi mengatakan:”Baiat saya“, ketika ia bertanya:”Untuk apa Ya Rasulullah”, Rasulullah berkata:”Kalian membaiat saya untuk mentauhidkan Allah, tidak mempersekutukan Allah, mengerjakan sholat, mengeluarkan zakat dan jangan kalian meminta kepada siapapun dari manusia, jangan meminta apapun dari manusia”, disebutkan bahwa sahabat – sahabat yang membaiat Nabi pada kesempatan tersebut sampai ketika cambuknya jatuh dari tangannya yang mana saudaranya ada dibawah sedangkan ia bisa berkata kepada temannya:”Tolong ambilkan cambuk saya”, tetapi ia tidak mau melakukannya dan ia mengambilnya sendiri.

Mungkin ada yang berkata:Nabi membaiat para sahabat untuk tidak meminta tolong kepada siapapun sampai dalam urusan dunia tetapi mengapa di dalam sirah beliau memiliki banyak pembantu bahkan Anas bin Malik dipersembahkan oleh ibunya untuk membantu Rasulullah hingga kurang lebih 10 tahun, yaitu ketika Ummu Sulaim datang kepada Nabi dan berkata:”Ini pembantu kecil anda Anas bin Malik ambil dia”, dan sahabat yang lain adalah Ibnu Mas’ud yang bertanggung jawab menjaga siwaknya dan sandalnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Rabiah ibn Kaab Al-Aslami yang membantu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, Bilal ibn Rabah yang membantu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, jawaban dari para ulama adalah karena Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam membukakan pintu kebaikan untuk mereka sehingga mereka senang bersama dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam

Dalam beberapa kondisi dan keadaan Nabi mengurus dirinya sendiri tanpa meminta bantuan dari pembantunya sebagaimana kata ‘Aisyah:”Nabi Shallallahu ‘alahi wasallam senantiasa membantu keluarganya dirumah bahkan terkadang beliau sendiri menjahit bajunya dan memperbaiki sendiri sendalnya namun jika masuk waktu sholat seakan – akan beliau tidak mengenal kami, inilah ajaran yang sempurna dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan jibril berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:”Kemuliaan seorang muslim adalah qiyamullail dan kehormatannya ketika ia mampu berlepas diri dari manusia”, ini dalam urusan yang sifatnya pribadi adapun dalam sebuah lembaga atau organisasi dan seterusnya dimana ada atasan dan bawahan maka pimpinan harus memerintah, melarang, mengawasi, mengevaluasi.

Jadi, dalam urusan masalah pribadi selama kita mampu untuk berdiri sendiri maka ini paling dicintai oleh Allah Subhanahu wata’ala dan bukan aib jika kita meminta pertolongan kepada saudara kita tetapi dengan syarat dia mampu memberikan pertolongan itu adapun jika tidak mampu maka bisa terjatuh dalam perkara kesyirikan apalagi ketika sudah meninggal, jika ada masalah ia datang ke kuburan lalu menyembelih kambing atau ketika hampir tenggelam dilaut kemudian berseru dengan menyebut nama orang, misalnya:”Ya Abdul Qadir Jailani, Ya Husain dan semisalnya ini masuk dalam perkara kesyirikan karena orang yang ia sebut namanya tidak mampu melakukannya.

Wallahu a’lam Bish Showaab 

PART 1 DAN INI PART 2 :Riyadhussholihin “Muraqabatullah” Menjaga Allah Sesi 1

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.